
Iqbal memegang pelipis nya, mengurutnya pelan.
"Pusing Mas? Uda santai aja, wanita ****** seperti itu pantas dapat pelajaran dariku Mas Iqbal." cengir Tantri sambil menaik turunkan alisnya.
Tantri segera berjalan menuju Aryani yang sedang adu mulut dengan Alvan, sementara Tria yang tak mau ambil pusing pun segera masuk ke kamar inap Ridwan.
Ria yang mengetahui gerakan kakak nya tersebut segera menenangkan Alvan untuk menjauh dari Aryani.
Sementara Tria yang berjalan masuk ke kawar inap Ridwan kembali menatap lekat Citari yang tengah mencuri pandang ke arahnya.
"Ngapain sih dia lihat lihat?, Tria yakin pasti Mas Ridwan memilih dia daripada Tria." ucap Tria.
"Siapa yang bakal memilih nya? Aku? kalau aku memilih mu bagaimana?." balas Ridwan yang sedari tadi sudah berdiri di balik pintu.
Tria pun hanya bisa salah tingkah mendengar suara yang sangat di kenalnya.
"Mampus kau Tria." ucap Tria dalam hati.
Ridwan yang tengah berdiri di depan Tria segera menatap lekat kedua netra Tria sementara Adi yang paham akan tingkah laku Ridwan pun segera mundur beberapa langkah untuk memberikan waktu dan tempatnya bagi mereka berdua.
"Kok diam? siapa emangnya yang kamu maksud? Citari?." desak Ridwan.
"Eh, anu mas." Tria gugup salah tingkah.
"Anu? anu apa? sini ikut bentar." Ridwan menarik tangan Tria untuk mengikuti nya.
Sementara Adi segera keluar dari kamar inap Ridwan karena merasa keributan di luar semakin ramai terdengar.
"Tuan Ridwan saya undur diri dulu, jika butuh sesuatu panggil saya." Adi memberi hormat dan undur diri.
Adi segera melesat keluar kamar untuk mengamankan keributan yang tengah terjadi sementara Tria dan Ridwan saling terdiam serta saling curi pandang.
"Aku mau tanya, boleh?." Ridwan membuka suaranya.
"Silahkan Mas jika bisa ku jawab." singkat Tria.
"Benar kan jika Citari adalah orang yang pernah ku miliki tetapi tak bisa ku gapai? sementara Dirga adalah penyebab nya, benar begitu Tria?." Ridwan mencoba tenang.
"Mas Ridwan sudah tahu?." pendek Tria.
Ridwan hanya memberikan anggukan kepala sebagai jawabannya, dia menatap langit di luar kamar inapnya.
"Kamu percaya jika nantinya Wulan akan merusak kebahagiaan kita?." Ridwan menatap Tria sendu.
"Kita?, maksudnya Mas Ridwan?." tanya Tria tak mengerti.
"Ya kita, meskipun aku belum ingat semuanya masa laluku tetapi Mas Adi sudah cerita semuanya tentang masa laluku tetapi apakah benar jika Wulan masih menginginkan ku?." Ridwan tetap menatap jendela berusaha mencari ketenangan.
"Mas, jika Wulan memang menginginkan Mas Ridwan, Tria mundur saja tak apa apa." ujar Tria sambil menundukkan kepalanya.
"Aku masih bingung harus bagaimana, sementara tadi Mas Adi cerita jika kita sudah bertunangan, jadi cincin itu benar milik kita berdua? dan benar jika cincin itu yang membuat design nya aku Tria?." tatapan Ridwan mengarah ke netra Tria yang sedikit sembab
Ridwan menghembuskan nafas kasar nya, dia mengacak rambutnya kasar.
"Aku yang terlalu lembut ke hatiku, aku bahkan sulit memilih dan memutuskan saat itu, aku yang lemah Tria!."Ridwan bersiap mencabut infus di punggung tangan kirinya.
"Mas!! jangan melukai diri sendiri lagi, ku mohon Mas Ridwan." Tria memegang tangan Ridwan untuk menghentikan tindakan Ridwan.
"Seandainya kamu merasakan jadi aku sebentar saja, tak kan sanggup hatimu terima, sakit ini begitu parah Tria, aku tak pernah merasakan ketulusan cinta dari siapapun, maaf dan maaf." Ridwan memeluk Tria sangat dalam.
(Author nya ngelag gaes mendengar ucapan Ridwan seperti lirik lagu, yang tau lagunya komentar nya ya gaes ya.)
Pintu ruang kamar inap terbuka sementara Ridwan dan Tria saling menenangkan, Alvan dan Ria tersenyum menatap Ridwan dan Tria begitu juga Iqbal dan Tantri yang menghentikan langkahnya ketika di beri kode Alvan.
"Oh, mereka berdua, biarkan saja dulu, aku urus Aryani saja dulu, setelah itu kita sidang Aryani, Dirga dan Citari, Iqbal tolong jaga Aryani, Dirga dan Citari jangan sampai kabur dan lucuti senjata yang di bawa bodyguard nya Aryani, faham?." Iqbal memberikan instruksi ke Adi.
"Dengan senang hati Tuan Iqbal, saya permisi dulu." ucap Adi sopan.
__ADS_1
Adi segera bergegas memberi instruksi ke anak buahnya sementara Alvan, Ria, Iqbal dan Tantri masih menikmati pemandangan adegan Ridwan dan Tria berpelukan.
"Mas, udah ya, ada mereka tuh." Tria berbisik ke arah Ridwan.
"Ndak mau, bentar lagi Tria." rengek Ridwan.
"Wan, nikah aja daripada kamu hanya bisa berpelukan tanpa bisa menggoyang Tria." suara Alvan sedikit keras.
"Mengganggu aja kau, lho kok ada Mas Iqbal, sejak kapan kalian di situ?." tanya Ridwan polos.
"Sejak kamu berpelukan dengan Tria, lucu juga kau Wan, seperti anak kecil di pelukan Tria." kelakar Iqbal.
"Gimana Dik? enak di peluk Ridwan? hangat kan ya?." Tantri menaik turunkan alisnya menggoda Tria.
"Ish ish apa sih Kak Tantri, sudah makan kalian semua?." tanya Tria mengalihkan pembicaraan.
"Belum." jawab mereka kompak.
"Wan, Adi sudah cerita semuanya? kamu sudah ingat semuanya?." tanya Alvan tanpa basa-basi.
Ridwan mengangguk mantap sambil melirik ke arah Tria, dia memberi kode ke Alvan untuk segera mendekat ke arahnya.
"Kebiasaan mereka berdua memberi kode untuk hal yang mencurigakan." timpal Iqbal di ikuti tawa Ria dan Tantri.
Ridwan yang berbisik memberikan sebuah informasi jika dia sudah ingat semuanya.
"Sudah siap kamu dengan semuanya Wan? kalau siap biar clear juga nih masalah, aku heran kenapa kamu masih ada yang syirik, tampan juga enggak apa yang di perebutkan dari kamu?." omel Alvan.
Iqbal yang mendengar ucapan Alvan segera menelfon Adi untuk membawa masuk Aryani, Dirga dan Citari.
Ridwan kembali menarik tangan Tria untuk duduk di sampingnya tepat di atas ranjang nya.
"Ridwan!! belum muhrim, lepas Tria!." tegas Tantri.
"Tria lho menerima dengan suka hati ngapain. kau sewot? wlek." ejek Ridwan sambil menjulurkan lidahnya.
"Awas kau selingkuhi Tria habis tuh badan kau, paham kau?." ancam Tantri.
"Wokeh kakak Tantri." jawab Ridwan sambil memberikan jempol ke arah Tantri.
Adi pun mengetuk pintu rawat inap yang di buka oleh Alvan, Adi masuk di ikuti Aryani, Citari dan Dirga.
"Kalian buat keributan di sini, ku pastikan pulang hanya tinggal nama saja kalian!, paham kalian!." tegas Adi sambil menodongkan pistol nya ke arah Aryani, Dirga dan Citari bergantian.
"Mas Adi, biarkan mereka berbicara dulu, sini pistol nya." pinta Ridwan.
Adi pun segera memberikan pistolnya ke Ridwan dan Ridwan pun dengan cepat mengeluarkan semua amunisi yang ada di dalam pistol tersebut.
Aryani, Dirga dan Citari masuk ke kamar inap Ridwan, mereka bertiga berjalan seperti terdakwa yang bersiap menerima apapun keputusan dari Ridwan.
"Citari? Dirga? sebelumnya aku berterimakasih ke kalian, sangat berterimakasih karena apa? karena kalian aku sadar bahwa tak ada cewek dan hati yang sempurna untuk di jaga, dan alasan apapun kalian bertiga kesini, aku terima kasih." ucap Ridwan membuka suasana yang terlihat canggung.
"Mas Ridwan, Citari juga meminta maaf saat dulu sering menyakiti hati Mas Ridwan, ini semua rencana Wulan juga." suara Citari bergetar.
Ridwan yang mendengar suara itu hanya tersenyum sebagai jawaban.
"Dirga, semoga kamu bisa mengerti arti perjuangan mu mendapatkan cinta nya Citari, lupakan Wulan, dia sekarang urusan ku, dan untuk kalian semua yang berada di sini, Ridwan akan segera menikah dengan Tria meskipun nanti aku akan mencoba mencari arti cinta terakhir untuk siapa." ucap Ridwan sambil menoleh ke arah Alvan, Iqbal, Tantri, Ria dan Tria bergantian.
Tria yang mengerti ucapan Ridwan segera menunduk, dia mengerti arti ucapan Ridwan, Ridwan masih butuh kesembuhan bagi masa lalunya.
"Untuk Citari, ini buat kamu, tadi aku menuliskan untukmu, terimakasih atas masa lalu nya." Ridwan menyodorkan sebuah surat berisikan sebuah lagu.
................
Bunga terakhir
Kaulah yang pertama
__ADS_1
Menjadi cinta tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga seluruh cintaku untuknya
Bunga terakhir
Ku persembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir
Menjadi satu kenangan yang tersimpan
Takkan pernah hilang 'tuk selamanya
Betapa cinta ini
Sungguh berarti tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih 'ku telah pergi selamanya
................
Citari membaca dan mengangguk mengerti arti perpisahan nya dengan Ridwan, masa lalunya dengan Ridwan sudah berakhir.
Kini Aryani yang bersiap menerima pertanyaan dari Ridwan, Ridwan yang menodong kan pistol milik Adi ke arah Aryani.
"Ternyata kamu masih ada, kamu bagian masa lalunya Alvan sahabat ku kan? bersiaplah pergi ke akhirat.....klick." Ridwan menarik revolver milik Adi dan bersiap melepaskan timah panas ke arah Aryani.
Semua tak mampu bergerak, Aryani berkeringat dingin menatap pistol di tangan Ridwan mengarah tepat ke jantung nya.
"Selamat tinggal Aryani.........." ucap Ridwan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apakah Aryani menjadi korban dari kemarahan Ridwan? apakah Aryani tetap hidup nantinya?.
__ADS_1