
Sebulan sudah berlalu, Ridwan dan Tria semakin dekat tetapi belum ada komitmen untuk segera mengikat hubungan mereka menjadi ikatan suci pernikahan.
"Dik, maaf ya." ucap Ridwan membuka percakapan.
"Maaf kenapa lagi sih Mas? dari kemarin selalu minta maaf, ujung ujungnya meminta maaf belum bisa menikahi ku kan?." balas Tria.
"Hehehehehe, karena...." ucapan Ridwan terputus karena jari telunjuk Tria sudah tepat di depan bibir Ridwan.
"Mas Ridwan sembuh total dulu, biarkan seperti air yang mengalir Mas." ucap Tria.
Mama Inah dan Ayah Mukti yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua hanya menggeleng pelan, terlebih Mama Inah yang segera menginginkan Tria menjadi menantunya.
"Sudah habis Ridwan? sampai kapan mau di suapi terus?." suara ayah membuyarkan keduanya yang saling menatap.
"Eh, Mama Ayah, sejak kapan datang? nih tinggal sesuap." ucap Ridwan tergopoh-gopoh.
"Uda suapi aja Tria biar cepat tau rasanya memiliki istri seperti mu kelak." sahut Mama Inah sambil membelai kerudung Tria.
"Iya Tan...." ucapan Tria terputus karena tatapan Mama Inah tajam ke arahnya.
"Panggil saja Mama, paham?." dengus Mama Inah sebal.
"Eh Iya Ma, Mama Ayah sudah makan? tak hangatkan dulu makanan nya." ucap Tria tersipu malu.
"Biar bibi aja yang menyiapkan, kamu temani Ridwan untuk jalan jalan ya, sudah bisa bawa mobil kan kamu?." tanya Ayah Mukti.
"Sudah yah, yauda siap siap sana dik." sahut Ridwan sambil menatap Tria yang sedang bercakap-cakap dengan Mama nya.
Ridwan yang menyadari tingkah laku kekasih nya yang belum lama dikenalnya setelah pasca kecelakaan itu hanya ikut tersenyum.
Mama Inah dan Ayah Mukti segera menuju ruang makan sementara Tria mengekor di belakang mereka berdua, sementara Ridwan segera berganti pakaian untuk sekedar jalan jalan.
"Bagaimana keadaan tuh anak? sudah mau membuka hati untuk mu nduk?." ucap Mama Inah sambil mengambil nasi untuk suaminya.
"Biar saja Ma, Tria akan terus membuat Mas Ridwan nyaman saja dulu, entah Mas Ridwan sudah mantap dengan Tria atau tidak biar hatinya Mas Ridwan yang menentukan selebihnya Allah SWT." ucap Tria optimis.
"Tuh anak begonya setengah mati, kamu yang sabar nduk." sahut Ayah Mukti menimpali.
__ADS_1
"Past Yah, pasti Tria akan selalu sabar kok, Ma nanti aku kemana?." sahut Ridwan yang sedari tadi mendengar percakapan kedua orangtuanya dan Tria.
"Nanti ajak ke kafe nya Adi saja, masih ingat jalan ke sana kan?." selidik Mama Inah.
"Tak tahu lah, Dik nanti bantu lagi ya, hehehehehehe." cengir Ridwan.
Tria hanya mengangguk untuk memberi jawaban singkat, Tria menatap senyuman Ridwan saat bersenda gurau dengan kedua orang tuanya.
Ridwan segera mengeluarkan mobil sport nya dan dari teras rumah terlihat Tria dan kedua orangtuanya lagi bersiap untuk mengantarkan Tria menemani Ridwan ke cafe Adi.
"Sudah? seat belt sudah di pasang?." ucap Ridwan menyelidik.
"Nih uda kak, yuk jalan." ucap Tria.
Ridwan menatap dalam manik manik mata Tria, ada perasaan kagum dan rasa ingin memiliki nya.
"Mas? kenapa bengong? ada yang salah dengan Tria?." ucap Tria sambil mengedarkan pandangannya ke bajunya.
Tak ada jawaban dari Ridwan hanya tersenyum menatap Tria, Ridwan kembali menatap lurus ke depan.
Sesampainya di cafe Adi sudah menunggu Alvan dan Ria yang sedang membantu Adi di cafe tersebut.
"Noh pemilik saham cafe dah datang." Alvan menghisap rokok nya dalam dalam.
"Minta Van, gimana Mas Adi? apa yang bisa Ridwan bantu?." ucap Ridwan sambil membakar rokok nya.
"Jangan banyak-banyak merokoknya Mas, Mas Ridwan harus pilih dulu, paham?." ucap Tria sambil berjalan melewati Ridwan dan Alvan.
Alvan yang merasa bersalah pun segera mematikan rokok nya segera tetapi Ridwan hanya mengangguk setuju ucapan Tria.
"Maaf Tuan Ridwan mau pesan apa?." Adi menawarkan menu untuk Ridwan.
Ridwan yang menatap daftar menu hanya menggeleng pelan, Tria yang tengah duduk dengan Ria kakaknya pun menghampiri Ridwan yang tengah kebingungan.
"Ini aja Mas, mungkin bisa membuat mu sedikit suka." ucap Tria sambil menunjuk tulisan Coffe latte.
"Hem oke oke, ini satu Mas Adi, kok kamu menunjuk Coffe Latte? ada apa dengan menu itu?." selidik Ridwan menatap Tria.
__ADS_1
"Karena itu kesukaan mu Mas, Mas Ridwan suka meminum nya sambil terus membuat puisi puisi dulunya, itu sih katanya Mas Alvan." jelas Tria sambil menatap Alvan untuk setuju dengan ucapannya.
Alvan hanya ikut mengangguk, sementara Adi yang sudah datang dengan secangkir Coffe Latte pun menghidangkan di depan Ridwan.
"Kok baunya nih kopi pernah ku ingat ya? Alvan dan Mas Adi bisa ngobrol di dalam ruangan itu?." pinta Ridwan sambil membawa cangkir berisikan Coffe Latte nya.
Adi dan Alvan hanya mengangguk setuju, Ridwan melangkah ke arah ruangan sebagai kantor pribadinya dengan Adi.
"Silahkan duduk di sana Tuan Ridwan." pinta Adi sambil menunjuk sebuah meja kebesaran.
Ridwan pun menatap heran beberapa foto yang berbingkai di meja nya, ada fotonya dengan Tria saat tukar cincin dan beberapa foto prewedding dengan Tria juga.
"Van, Mas Adi, ini benar aku dengan Tria di foto ini?." suara Ridwan bergetar.
"Menurut mu? liat tuh tanggal nya, seharusnya kau dan Tria sudah menikah bengek, kalau bukan karena...." ucap Alvan ketus menghentikan ucapannya.
Ridwan hanya menatap fotonya dalam diam dan mencoba mengingat semuanya.
"Tolong ceritakan apa benar Tria tunangan ku." datar Ridwan.
Adi dan Alvan saling berpandangan, Alvan memberi kode ke Adi untuk mengambil sesuatu barang untuk Ridwan.
"Mohon maaf Tuan Ridwan, ini buktinya jika Tuan dan Nona Tria sudah bertunangan." ujar Adi sambil memberikan sebuah kotak yang berisikan liontin yang berbentuk setengah hati.
"Ini setengah hatinya dimana?." tanya Ridwan.
"Di Tria, karena kamu kecelakaan kalung itu aku sembunyikan dan buka tuh foto yang mungkin bisa memiliki keindahan mu seutuhnya Wan." Alvan membakar rokoknya di ikuti dengan Adi.
Ridwan terpaku menatap semua foto yang tengah di lihat nya, ada rasa sesak di dadanya dan sedikit terenyuh melihat foto Tria yang tengah tersenyum ke arah nya.
"Maaf Tria, aku pikir kamu orang asing buatku." lirih Ridwan.
Alvan dan Adi hanya menghela nafas panjang mendengar lirihan Ridwan yang tengah melihat semua foto di album, Alvan mengambil handphone nya untuk mengetik pesan ke seseorang.
"Dia bakal mengingat mu seutuhnya, tunggu tanggal mainnya." isi dari pesan Alvan.
Sementara Adi hanya menatap handphone nya yang tengah menunggu balasan dari seseorang yang telah di sukai saat ini.
__ADS_1