
Aku ada untuk mu
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawab ku selain hatiku
Dan ombak berseru
Di pantai ini kau slalu sendiri
Tak ada jejak ku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu akulah lautan
Ke mana kau selalu pulang
Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga menyinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin kutahu engkau ada
Memandangi mu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku
Andai engkau tahu
Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejak ku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
Memeluk pantai mu erat
Jingga di bahu mu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga menyinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada
Surabaya 11 Oktober 2010
Khibban NurCahyo
...........................β€οΈ.........................
"Oke kalau begitu Tria dan Ria akan berangkat setelah Ujian Nasional dan di sana akan tinggal dengan kita kan Ma karena Bapak Hadi serta Bunda Dewi juga harus ikut demi mengawal Tria dan Ria di sana, bagaimana? setuju?." tanya ayah Mukti sambil menatap bergantian ke arah Istrinya serta kedua orang tua Tria dan Ria.
Semua mengangguk setuju tetapi berbeda dengan Wulan dan Lidia yang sedari tadi memiliki pikiran untuk mendapatkan hati Ridwan yang ternyata masih sedikit menaruh hati nya untuk Tria.
Wulan yang sudah sedikit demi sedikit melupakan persahabatan dengan Tria pun berusaha mencuri pandang ke arah Ridwan, tapi Ridwan hanya cuek melihat hal itu.
Tria berusaha memahami Ridwan meskipun sakit yang dirasakannya ketika tahu Ridwan belum memiliki perasaan untuk nya.
"Wan, tak tunggu di atas, kita ngobrol mumpung orang tua kita lagi ngobrol juga." Alvan menarik tangan Ridwan.
"Ngapain? ngobrol apa? lelah aku Van, aku capek Van, kenapa aku gak bisa buka hati untuk Tria? kenapa harus masih ada nama Citari?, aku lelah Van." Ridwan memeluk sahabatnya itu.
"Wan, gak ada yang salah, kamu gak salah begitu juga hati mu, memang belum saat nya kamu sembuh saat ini tapi alangkah baiknya kamu ngobrol berdua dengan Tria ya." pinta Alvan.
Tria yang mendengar ucapan Ridwan hanya merasakan sakit teramat, sakit karena belum bisa menyembuhkan hati Ridwan yang terluka.
Bukan maksud Tria tak ingin mendustakan perasaannya ke Ridwan tapi Tria sudah sembuh dengan kasih sayang Ridwan berikan ke dirinya dan hatinya.
__ADS_1
"Mas Ridwan, benar kah Cinta tak dapat ditebak apa maunya hati dan Salahkah aku? Hanya tak bisa mendustai hati untuk mencintaimu Salahkah aku mas?." Tria memeluk Ridwan dari belakang.
"Bukan aku tak ingin cinta dari mu, Tapi aku takut menyakitimu Dan kini Ada yang hilang dari hatiku Letih memandang wajah hari Yang memanduku tuk mencintai mu" Ridwan membalas pelukan Tria dengan erat di iringi bulir bulir air mata nya.
Sementara Wulan yang melihat adegan Tria dan Ridwan hanya tersenyum simpul begitu juga Lidia ingin merebut hati Ridwan untuk menyembuhkan luka hati Ridwan yang terluka.
Ada senyum dari Wulan melihat Tria yang tak mampu menyembuhkan luka Ridwan yang begitu dalam.
Inginnya dia menyentuh hati Ridwan dengan memberi hatinya yang telah kini terguncang melihat senyum Ridwan dan menggetarkan jantungnya.
"Bentar, lu bukanya mantan Dirga juga? Tri Wulandari kan nama lu?." ucap Lidia membuyarkan lamunan Wulan.
"Udah tau gua kalau lu juga sepupunya Dirga dan adik lu juga si Yudi yang mengincar Tria kan? hahahahahahahahhaha emang lu yakin Yudi bisa mendapatkan Tria? liat tuh Tria sudah sembuh dari Dirga sepupu lu, lagian lu seperti nya suka dengan Ridwan juga ya? yakin kamu dengan usahamu ke dia?." ancam Wulan ke arah Lidia.
"Jangan sok hebat lu, bentar lagi ku singkirkan sahabat lu itu." Lidia mengancam balik.
"Jangan lupakan saya ya untuk saingan mu mendapatkan Ridwan." Wulan mengedipkan sebelah matanya.
Lidia dan Wulan kini saling menatap tajam hingga terlihat pertarungan sengit untuk mendapatkan hati Ridwan, sementara Ridwan sibuk menenggelamkan wajahnya dalam pangkuan Tria.
Sementara itu Alvan sudah berbincang dengan Iqbal untuk mengurus bisnis Adi di Surabaya dan akhirnya Iqbal memberikan dana yang lumayan cukup besar untuk Adi nantinya.
Tria dan Ridwan kini saling menatap untuk menghabiskan waktu yang semakin hari semakin sedikit untuk bertemu nantinya.
"Ku berikan cinta untuk mu sayang ku, seindah nya bunga sakura tak kan seindah cinta masa lalu mu mas." Tria mengusap lembut kepala Ridwan.
"Tapi kenapa aku masih sulit membuka hati mu untuk ku ya?." tanya Ridwan.
"Kamu perlu bukti apalagi mas? Mas Ridwan, aku yakin kok jika kita jodoh kita kan bersatu seperti Rangga dan Cinta di film AADC 2." sahut Tria.
"Eh onta Arab, tuh temen Tria dan Lidia lagi adu mulut tuh, lagian kau juga bikin baper anak orang tapi kau sendiri belum sembuh tuh luka hati." Alvan menonyor kepala Ridwan yang tengah di atas pangkuan Tria.
"Biar saja, lagian tumben kau ngurus tuh anak, gimana Adi? sudah mau buat bisnis nya?." selidik Ridwan sambil mengajak Tria untuk memisahkan Wulan dan Lidia.
"Sudah beres, besok kita urus bersama, tuh liat ada ancaman di balik tatapan mereka berdua, jangan jangan kau di perebutkan dua orang tuh." selidik Alvan.
"Eh cumi Arab, diem kau, ngomong terus tak ikat tuh mulut, diem! faham kau kata kata diam?!." ancam Ridwan.
Wulan yang masih menatap tajam Lidia kini merubah tampilan wajah menjadi manis di hadapan Tria dan Ridwan.
Lidia yang mengerti bahwa Wulan merubah tampilan wajah nya hanya mendengus kesal.
Tria yang sudah duduk di samping Wulan menatap Lidia dengan senyuman ramah untuk Lidia dan Vita.
"Kak Lidia dan kak Vita kan namanya? satu kampus dengan Mas Ridwan? oh ya Uda habis tuh minuman nya, mau lagi kak?." Tria menawarkan minuman.
"Boleh, lu kan temennya Yudi ya? Yudi masih sering ngejar kamu juga tuh." Lidia memanasi Ridwan.
"Masih tunangan kan? belum menikah kan? kalau sudah menikah pun masih bisa cerai juga kan." sarkas Lidia.
"Bagaimana Nona Lidia?, mau mati sekarang atau gua cicil untuk merasakan sakit di tubuh lu? jangan coba coba mendekati Tuan Ridwan dan Tuan Alvan kalau tidak mau pisau ini menancap di muka lu." Seringai Adi sambil menempelkan pisau di wajah Lidia.
"Adi, sudah biarkan dia berbicara, tuh ada adiknya menyusul nya, mari kita sambut dengan meriah." Iqbal mengeluarkan pistol Magnum nya.
Sementara seluruh orang tua mereka semua sudah berada di ruang makan untuk beramah tamah.
Iqbal yang mendengar ucapan Lidia yang begitu berani hanya memberikan kode ke Tantri untuk sabar menahan emosi.
Sementara Yudi dan Danis telah datang dan masuk ke rumah Ridwan, entah alasan apa mereka berdua datang ke sarang penyamun.
"Assalamualaikum wr wb, selamat pagi Bos Besar Iqbal, bagaimana keadaan Bos? sehat?." Yudi mengulur kan tangannya untuk menjabat Iqbal.
"Tuh bawa pulang kakak Lu, ada apa kemari?." pendek Iqbal.
"gini Bos, saya mau melaporkan, saya telah di serang tiga orang yang mengaku kenal Bos Besar Iqbal." ujar Yudi sambil menatap Ridwan dan Tria yang tengah bermesraan.
"Oh siapa mereka bertiga? duduk!." Iqbal kini sudah mengeluarkan senjata mengarahkan ke arah Yudi.
"Ampun Bos Besar Iqbal, mereka bertiga di belakang Bos Besar Iqbal." Yudi ketakutan.
"Oh Ridwan, Alvan dan Adi? Lu kesini mau memukul mereka bertiga? atau merebut Tria dari Ridwan?." Iqbal bersiap menarik pelatuk pistol nya.
"Jujur Bos Besar Iqbal, saya masih mencintai Tria begitu juga Kak Lidia masih menaruh hati untuk Ridwan." Yudi berjalan ke arah Ridwan untuk segera memukul nya.
"Lu buat ramai di sini, pecah pala lu, asal lu tahu, mereka bertiga saudara saya dan Tria adalah adik ipar saya, jangan lu sentuh dia atau nama lu terukir di batu nisan, faham lu." ancam Iqbal.
"Mas Iqbal, biarkan Yudi duduk dan mengeluarkan semua kata hatinya nya, sabar mas Iqbal juga mau menikah juga." Ridwan melindungi Yudi dari pistol Magnum milik Iqbal.
"Gua salut sama lu Wan, jangan terlalu baik sama orang juga, ingat Dirga kakaknya pernah merebut kekasih mu bahkan merenggut kesucian Citari." Iqbal memasukkan pistol Magnum milik nya.
"Sudah tahu aku mas, biarkan saja itu Dirga, lagian Dirga sudah menjadi pribadi yang baik juga kok, duduk Yudi dan silahkan ngomongin apa kata hatimu jangan di pendam gak baik buat kesehatan." Ridwan mempersilakan Yudi untuk duduk.
Yudi yang mendapatkan angin segar segera menuju samping Tria untuk segera merapat kan ke tubuh Tria.
Tapi Adi dengan cepat mengeluarkan pistol nya untuk mengancam Yudi pindah dari tempat duduk nya.
Alvan yang melihat itu hanya terkekeh geli sambil memberikan kode ke penjaga pintu gerbang untuk mengunci pintu gerbang.
"Tria, apakah kamu yakin dengan pilihan mu untuk bertunangan dengannya? apa kurang ku untuk mu?." Yudi membuka suara nya.
__ADS_1
"Wah berani bener kau bilang seperti itu di depan tunangannya." sahut Alvan.
"Masih bertunangan kan? meskipun menikah nanti gua pasti akan semakin nekat untuk memiliki Tria, jangan mentang-mentang lu sahabat Ridwan ingin membela nya." tegas Yudi.
"Yudi!! sudah berapa kali aku tak ingin bersamamu! aku tak ingin mencintaimu lebih dari apapun!! aku hanya ingin tenang bersama Mas Ridwan." tegas Tria.
"Oh Karena Ridwan kaya dan punya segalanya sehingga kau menolak gua Tria? asal lu tahu kalau keluarga gua ......." Yudi tak melanjutkan kata katanya karena melihat Ayah Mukti berada di belakang Tria dan Ridwan.
"Karena apa nak Yudi? apa karena keluarga mu sudah bekerja sama dengan saya dan Bapak Wicaksono sahabat saya?, Adi dan Iqbal tolong urus ya untuk rencana pembatalan kerjasama dengan keluarga besar nya yaitu keluarga besar Rahardjo, faham Iqbal dan Adi?." tegas Ayah Mukti kemudian di ikuti anggukan Adi dan Iqbal.
"Kan sudah ku bilang Yud, Kamu sih ngeyel mau merebut Tria, sudah tahu kalau Ridwan itu anak nya pak Mukti kok ngeyel kau, mau tetap ngejar Tria?." tanya Alvan.
"Selama janur kuning belum melengkung dan ijab Kabul sudah di ucapkan pun pasti gua perjuangin Tria untuk gua." tegas Yudi.
"Apa lu bilang?!! Lu merebut Nona Tria dari Tuan Ridwan? jangan harap kau hidup setelah ini !!!!." merangsek maju ke arah Yudi dan berhasil memberikan pukulan telak untuk Yudi.
"Adi!!! hentikan!!! Kalau kamu berjuang untuk Tria saya akan berjuang untuk Tria meskipun hati kecilku masih takut akan melangkah untuk percaya kembali dengan kasih sayang dan cinta dari seorang wanita." tegas Ridwan.
Ridwan kini menatap tajam ke arah Yudi yang seakan akan ingin memukul nya saat itu juga demi mendapatkan Tria.
Sementara itu Wulan dan Lidia yang menatap takjub seorang Adi yang melindungi Ridwan, Alvan dan Iqbal dengan sepenuh hati dan jiwanya hanya bisa menelan ludah.
Rencana apa yang akan di lakukan Lidia untuk merebut Ridwan?
Rencana apa yang akan di lakukan Wulan untuk merebut Ridwan?
Apakah Yudi mampu mendapatkan Tria meski nyawa taruhannya kelak?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
penasaran kan? hhehehehehe, jangan lupa like dan vote nya ya, hadiah juga boleh kok hehehehehehe.
...........................β€οΈ.........................
terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak ππππππ.
..........................β€οΈ.........................
__ADS_1
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, heheheheheheπππ.