
"kenapa di penjara kamu berikan hal mesra ke dia ? Citari apa kamu tidak ingat aku dik?" Ridwan menahan emosinya dalam dalam.
Alvan hanya memandang Citari penuh amarah begitu juga Rino, Diky, Fahira dan Diah, semua seakan akan menyalahkan Citari apa yang dia perbuat ke Ridwan.
" Citari, kenapa kamu tidak bersikeras untuk mencari keberadaan mas Ridwan selama seminggu kemarin?" Diah duduk di samping Citari.
"aku sudah berusaha mencari informasi setelah kejadian mas Iqbal di tangkap polisi" Citari menangis sesenggukan.
"hah melalui Iqbal? lu gak salah meminta informasi orang yang menggantung kan Iqbal selama 3 tahun Citari?" Fahira hanya menggeleng kepala.
"bukan begitu Fahira, Diah kamu tau sendiri kan orang tua mas Ridwan juga diam saat aku temui" Citari menatap Ridwan lekat sangat lekat.
"Citari kamu tau Ndak aku menyuruh mereka semua tidak memberikan informasi saat aku di rawat di rumah sakit kemarin?" Ridwan menghapus air mata Citari.
" kenapa mas? kamu kok menyuruh mereka seperti itu? kamu tidak menghargai perasaan ku ke kamu mas Ridwan" menggenggam tangan Ridwan erat.
"menghargai Ridwan? ini yang kamu sebut menghargai Citari?" Alvan memberikan video rekaman sebelum penangkapan Iqbal.
" Van kenapa gak kamu kasihkan ke aku Van saat itu juga?" Ridwan menatap Alvan.
"Wan ingat posisi mu saat itu baru siuman dan sama saja aku bunuh kau saat itu juga Wan" Alvan menatap Ridwan dengan pesona persahabatan.
Ridwan menatap ke jendela kelas, dia menerawang jauh.
Ridwan bangkit dari duduknya dan menatap Citari yang dari tadi menangis sesenggukan, dalam jauh lubuk hatinya yang terdalam tak ingin menyakiti wanita.
" dik Citari aku balik ke kelas dulu, jaga kesehatan dan tetep jadi Citari yang aku kenal ya" senyum Ridwan pahit.
"kamu mau kemana mas Ridwan? biarkan aku kasih penjelasan dulu mas" Citari memohon ke Ridwan.
"Van hari ini temani ke polres Gresik ya, mau ketemu sama Iqbal" Ridwan menghembuskan nafas nya berat.
Alvan hanya melihat sahabatnya yang berlalu hanya bisa berfikir bagaimana caranya membalas kan dendam untuknya.
Citari hanya menangis melihat Ridwan berjalan menjauh darinya, Diah dan Fahira hanya bisa menenangkan dengan membelai rambutnya lembut.
"Diky nanti pulang sekolah kita ke polres ya, firasat ku tak enak" Rino menatap Diky memberi kode.
"pulang sekolah ya? okay bro tapi jangan lupa rokok dan kopi hehehehehehe" Diky sumringah.
Pelajaran hari itu di lewati Ridwan dengan penuh pertanyaan tentang penyerangan terhadap dirinya dan Alvan.
Salah Ridwan dan Alvan sampai dimana hingga di serang seperti itu.
Pelajaran pun berganti secepat mungkin dan Ridwan pun tetap sama hanya bisa melamun dan tidak mengikuti pelajaran dengan semestinya.
Bel pulang sekolah pun berbunyi membuyarkan lamunan Ridwan hingga dia berkemas untuk bersiap ke polres Gresik dengan Alvan.
"jadi ke polres Wan? kamu yakin? Aku sudah mengirimkan pengacara dan sidang Iqbal dan gank nya besok Senin dan ini hari Sabtu Wan"sambil berjalan di samping Ridwan.
"Uda atur aja, aku hanya ingin mencari alasan kenapa Iqbal menyerang ku Van" berlalu mengambil Motor sport nya di parkiran sekolah.
__ADS_1
sepanjang perjalanan mereka berdua hanya di sibukkan dengan pikiran masing masing.
Sesampainya di polres mereka berdua mengisi buku kunjungan tamu dan pengacara untuk Ridwan sudah datang untuk mendampingi mereka berdua.
"om Gie tolong dampingi Ridwan ya, aku gak ikut masuk ke dalam" sambil menyerahkan sebuah map berkas kasusnya Iqbal.
"lho kenapa gak ikut Van? bukanya kamu ingin dampingi Ridwan menyelesaikan ini semua?" Om Gie keheranan dengan sikap Alvan.
"Om Gie mau lihat Alvan Mukuli Iqbal dan gank nya?" Alvan mulai tersulut emosi.
" Van ikut ke dalam yuk dampingi aku, please" Ridwan memohon setelah barang barang nya di periksa.
"yauda aku ikut Wan asal jangan halangi aku untuk mukul mereka semua untuk kau Wan" senyum jahat Alvan mengembang.
Ridwan cuman tersenyum melihat gelagat Alvan berkata seperti itu.
Hingga akhir nya mereka sampai di sebuah ruang besuk yang berisikan Iqbal dan gank nya serta beberapa aparat kepolisian yang menjaga untuk tetap kondusif.
"assalamualaikum wr wb Iqbal, gimana kabarnya?" Ridwan mengulurkan tangan nya.
beberapa polisi bersiap untuk kemungkinan terburuk jika ada penyerangan kembali oleh Iqbal karena posisi Iqbal tidak di borgol sesuai permintaan Ridwan.
"waalaikumsalam wr wb, Alhamdulillah baik Wan, kamu sendiri sudah sembuh?, aku minta maaf Wan, aku buta Wan" sambil berdiri memeluk Ridwan.
Alvan maju untuk bersiap menyerang dan polisi pun bersiap untuk kemungkinan terburuk kondisi Ridwan jika di pukul Iqbal.
Tetapi Ridwan dengan santainya memberikan kode untuk tetap pada posisi masing masing termasuk ke Alvan.
"aku mau dengarkan ceritamu kenapa bisa menyerang ku segitu hebatnya bal" Ridwan membukakan sebungkus rokok untuk Iqbal dan gank nya.
"baik tapi izin kan teman ku yang memukul kamu meminta maaf dulu Wan, woi boy minta maaf ke Ridwan segera" Iqbal membentak gank nya.
Setelah semua gank Iqbal meminta maaf ke Ridwan, Iqbal bercerita semuanya tanpa ada yang di tutupi sekecil pun.
**FLASHBACK IQBAL DENGAN CITARI.
"Citari kamu mau ngomong apa?" Iqbal menggenggam tangan Citari.
" mas Iqbal aku bahagia hari ini karena kemarin aku di tembak sama mas Ridwan, kamu kenal mas Ridwan yang dulu katanya pernah sekolah di SMP kita dulu?" Citari tersenyum manis.
"Ridwan? gak kenal tuh tapi selamat ya kamu Uda menemukan cinta yang kamu ingin kan" Iqbal tersenyum kecut**
"mas Iqbal mau cerita apa? apa mas Iqbal sudah menemukan cinta nya mas Iqbal?" tatap Citari serius.
"Aku sayang kamu Citari tapi maaf sudah di dahului Ridwan, akan ku rebut kamu kembali Citari dari tangan Ridwan" ungkap dalam hati Iqbal.
"lho kok melamun gitu sih mas, halo, mas Iqbal" membuyarkan lamunan Iqbal.
"eh aku mau cerita tentang pelajaran sekolah saja kok hehehehehehe" Iqbal tersenyum lepas.
" kan beda kelas kok tanya aku mas? apa ada ya pelajaran kelas 10 untuk kelas 12 ? " Citari bingung.
__ADS_1
"lha gimana toh, aku kan kelas 12 dan mau Ujian Nasional juga jadi pelajaran kelas 10 di ulang kembali Citari ku sayang" sambil mengelus pipi Citari.
" mas, aku jaga hati buat mas Ridwan jangan buat baper lagi lah, cukup aku hampir 3 tahun aku menunggumu untuk menyatakan cinta ke aku mas Iqbal" Citari menggerutu.
Iqbal hanya lemas Citari berbicara seperti itu karena hari ini lah Iqbal ingin mengungkapkan rasa itu ke Citari, ya hari ini Iqbal ingin mengukir nama Citari, hanya nama Citari untuk nya.
Melihat Citari yang tersenyum dan selalu bercerita tentang Ridwan membuat hati Iqbal panas dan ingin menghancurkan Ridwan.
"Oh seperti itu toh bal, tak kira serius masalahnya ternyata biasa saja" Ridwan mengambil permen karet dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Gundul mu biasa saja Wan, Dia hampir membunuh kau curut" suara bariton Alvan menggelegar keras.
" hei hei santai Van belum selesai semuanya Iqbal cerita, ingat cinta itu buta dan sayang itu buta jadi biarkan dia cerita, paham kau curut?" Sambil memberikan Permen ke Alvan.
"hei bal untung ada Ridwan,kalau kagak ada gua hajar kau sampai mampus di sini" tunjuk ke arah Iqbal.
"Van kendalikan emosi nanti aku emosi juga, faham Van?" Ridwan menatap lekat ke arah Alvan.
Dengan tenang Ridwan kembali ke hadapan Iqbal sambil membakar kan rokok untuk Iqbal.
"makasih Wan dan orang tua ku pun tak ingin sebenarnya sampai masuk penjara seperti ini" Iqbal menatap kosong ke arah ruangan penjara.
"insyaallah nanti tak urus agar kamu bisa sekolah dan nanti jelaskan saat persidangan ya, pasti aku datang dan memberikan sesuatu yang lebih untukmu" senyum Ridwan ke arah Iqbal.
"aku sudah pasrah Wan dan terimakasih telah membesuk ku di sini meskipun aku yang sangat bersalah ke kamu dan Alvan" sambil memeluk Ridwan.
"sudah bal, nanti waktu persidangan kita bertemu lagi ya, aku mau pamit pulang dulu, assalamualaikum wr wb" menjabat tangan Ridwan.
"Waalaikumsalam wr wb makasih beneran Wan" membalas jabatan tangan Ridwan.
"pak polisi biarkan rokoknya di nikmati mereka ya dan titip untuk tidak menekan mereka semua" sambil menjabat tangan 4 polisi disertai angguk an oleh polisi tersebut.
Ridwan pun keluar dari ruangan tersebut dengan hati yang hancur, dia menangis dengan menutup mukanya dan menjauh dari Alvan.
Sementara Alvan yang mengetahui sahabat nya menangis hanya membiarkan dari jauh karena dia memberikan waktu untuk Ridwan sendiri.
"Van, Om Gie tinggal dulu dan seperti nya besok Senin Ridwan harus hadir karena mengingat besok persidangan final Van" pamit Om Gie ke Alvan.
"oh iya om Gie, makasih ya" menjabat tangan Om Gie.
Sementara Ridwan menangis, Alvan menghampiri sahabat nya dan entah apa yang mereka bicarakan berdua membuat Ridwan tertawa dan saling bergurau.
"Wan besok Senin dampingi aku ya" Ridwan membuka suaranya.
"oke lah curut tapi jangan nangis lagi ***, percuma juara 1 Jawa Bali tapi kok nangis" sambil meninju bahu Ridwan pelan.
Ridwan tidak menggubris omongan Alvan dan hanya bersiap siap untuk kembali ke rumah dan menuangkan emosi nya di ruangan olahraga nya.
Ridwan tak habis pikir kenapa Citari memberikan ruang untuk cowok lain, apakah ada yang kurang dari dirinya Alvan?
Apakah semua wanita sama seperti itu kah?
__ADS_1