
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tertutup sudah pintu pintu hatiku
Yang pernah dibuka waktu hanya untukmu
Kini kau pergi dari hidupku
Ku harus relakanmu walau aku tak mau
Berjuta warna pelangi di dalam hati
Sejenak luluh bergeming menjauh pergi
Tak ada lagi cahaya suci
Semua nada beranjak aku terdiam sepi
Dengarlah matahariku suara tangisanku
Ku bersedih karna panah cinta menusuk jantungku
Ucapkan matahariku puisi tentang hidupku
Tentangku yang tak mampu menaklukkan waktu
Berjuta warna pelangi di dalam hati
Sejenak luluh bergeming menjauh pergi
Tak ada lagi cahaya suci
Semua nada beranjak aku terdiam sepi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lagu terdengar samar samar di kamar inap Ridwan, hanya Tria yang masih bertahan menunggu Ridwan kembali sadar, Tria menatap sendu kekasih sekaligus tunangan nya itu.
"Sampai kapan kamu harus begini Mas?." lirih Tria sambil mengusap lembut rambut Ridwan.
Ridwan yang tengah terbaring pun sedikit terusik dengan belaian lembut Tria.
"Mana yang lainya?, kamu sendirian?." ucap Ridwan sambil berusaha duduk.
"Sudah pulang mereka semua, Mas mau makan?."
"Ndak lapar, boleh tanya? tapi jangan kamu tutupi, bisa?." pinta Ridwan.
Tria pun tersenyum sambil menatap wajah Ridwan, dia seakan tau pertanyaan Ridwan.
"Apa yang mau di tanyakan Mas?" lembut Tria mencoba tenang.
__ADS_1
"Tahu tentang Dirga? siapa dia sebenarnya?." ucap Ridwan penuh tanda tanya.
"Dirga? yakin mau dengar tentang nya Mas?." Tria kembali bertanya.
"Ya." singkat Ridwan.
"Meskipun sakit?." Tria kembali bertanya singkat.
"Sakit? untuk? untuk ku?." balas Ridwan.
"Yauda, aku akan ceritakan semuanya ke Mas." sahut Tria sambil menghirup nafas berat.
Hampir dua jam Tria menceritakan tentang Dirga, tentang masa lalunya dengan Dirga, sementara Ridwan yang hanya menjadi pendengar terlihat menganggukkan kepala seakan mengingat semua nya.
"Sudah kan Mas? lagian sudah tak ada hubungannya aku dengan Dirga Mas." ucap Tria sambil menata selimut Ridwan.
"Berarti cincin kita itu beneran cincin tunangan?." sahut Ridwan segera.
"Istirahat lah Mas, masih ada waktu juga untuk mengingat semuanya kembali." ucap Tria berusaha tegar.
Suasana kembali hening di ruangan rawat inap, hanya terdengar dentingan jam yang saling mengisi kehampaan antara dua insan yang sedang saling memandang.
Ridwan di satu sisi yang telah menemukan potongan potongan puing ingatan nya kembali menghembuskan nafas beratnya.
"Aku sudah ingat tentang kamu, meski ingatanku kembali tetapi kenapa ada hati yang mengganjal Tria, bantu aku menemukan nya, apakah kamu mau?." ucap Ridwan sambil menatap sendu Tria.
"Insyaallah Mas, sekarang Mas Ridwan makan buah dulu ya." ucap Tria sambil mengupas buah apel untuk Ridwan.
"Nanti saja, aku boleh mendengar kan kamu bernyanyi Tria? ku dengar dari Alvan kamu bisa menyanyi juga." Ridwan tersenyum ke arah Tria.
Tria menatap lekat Ridwan sambil bersiap-siap untuk menyanyikan sebuah lagu yang mewakili perasaan nya saat ini.
Cinta.
Menatap jalan yang menjauh
Tentukan arah yang ku mau
Tempatkan aku pada satu
Peristiwa yang membuat hati lara
Di dekat engkau aku tenang
Sendu matamu penuh tanya
Misteri hidup akan kah menghilang
Dan bahagia di akhir cerita
Cinta tegarkan hatiku
__ADS_1
Tak mau sesuatu merenggut engkau
Naluriku berkata
Tak ingin terulang lagi
Kehilangan cinta hati
Bagai raga tak bernyawa
Aku junjung petuahmu
Cintai dia yang mencintaiku
Hati yang dulu berlayar
Kini telah menepi
Bukankah hidup kita
Akhirnya harus bahagia
Alvan dan Ria yang sudah datang hanya tersenyum melihat kedua insan yang mencoba untuk saling menyembuhkan.
"Liat adik mu menyanyi ingin rasanya ku dengar kan suara merdu mu juga sayang." rayu Alvan.
"Sudah jangan gombal, sudah tau suaraku fals tiada tandingannya ngapain juga harus nyanyi sih." rajuk Ria.
"Menyanyi lah di atas ranjang bersama ku kelak sayang ketika kita sudah halal dunia dan akhirat." goda Alvan.
Ria yang mendengar ucapan Alvan segera mencubit gemas pinggang kekasihnya.
"Aaaww, untung yang di cubit pinggang, bagaimana kalau yang bawah?." Alvan memasang wajah mesum nya sambil menaik turun kan alisnya.
Tria yang telah selesai bernyanyi pun tersadar akan ada kakaknya, Ridwan pun menatap ke arah suara yang berasal dari pintu.
"Ngapain di situ?, masuk sini." suara bariton Ridwan menyadarkan Alvan dan Ria yang saling tertawa.
"Sudah bangun? enak kan di jaga bidadari yang bisa nyanyi pula hahahaha." tawa Alvan.
"Diam! Tuh anak memang kembar sama Tria?." tanya Ridwan sambil menatap tajam ke arah Ria.
"pikir aja sendiri, dah tau wajah mirip gitu, nih makan." Alvan menyodorkan sebuah makanan mirip takoyaki.
Ridwan menerima dengan tersenyum sambil menatap Tria untuk memberi kode agar di suapi, sementara Tria yang mengerti kemauan Ridwan segera mengangguk sambil membuka bungkusan yang berisi takoyaki.
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke arah ruang inap Ridwan, bukan dua kaki yang melangkah tetapi empat langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ruang inap Ridwan.
"Assalamualaikum wr wb Mas Ridwan, gimana kabarnya?." ucap seorang wanita yang di dampingi oleh laki lakinya.
Alvan pun menoleh ke arah sumber suara yang di kenal nya, sementara Tria menjatuhkan sendok yang di pegang nya karena menatap laki laki itu.
__ADS_1
Siapakah wanita dan laki laki itu? apakah mampu luka hati Ridwan mengering dan sembuh?
Entahlah.....