LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
PENJELASAN


__ADS_3

Ridwan yang tengah kebingungan mencari buku diary nya kini sedang bingung sendiri, hingga akhirnya......


"ALVANNNNN!!!!!!!." suara Ridwan terdengar keras, sementara Adi yang mendengarnya sendiri hanya menelan ludahnya kasar karena sudah mengetahui jika Tuan nya kini sedang menatap nya tajam.


"Maaf Tuan, Tuan Alvan yang menyuruh saya untuk mengambil buku Tuan, saya siap di hukum." Adi menunduk lemah.


*Kau!! dahlah malas bahas, keluar dari sini." usir Ridwan terdengar sedikit gusar.


Ridwan mengambil gitar listrik di dekat nya dan segera dia menyiapkan sebuah lagu untuk ketenangan nya saat ini.


"Semoga masih ingat lagunya Bambang Tamvan." ucap Ridwan sambil menyetel gitar listrik nya.


Intro : Am G G Am


        Am G G Am (2x)


.


      Am                 Em


Berhembuslah engkau angin malam


     Am        Em


Bawa serta laguku


     Am              Em       Am


Mengitari bumi ini hingga jauh


.


    Am             Em


Akulah seorang petualang


        Am             Em


Yang mencari cinta sejati


       Am              Em         Am


Sampai mati aku akan tetap mencari


.


Int. Am  G  G  Am


.


      Am                  Em


Aku bagai biola yang tak berdawai


     Am                 Em


Bila tidak engkau lengkapi


    Am                Em          Am


Aku mohon agar engkau tinggal di sini


.


      Am             Em


Hamparan pasir putih menunggu


       Am             Em


Karang di lautan menangis


     Am               Em         Am


Bila aku tidak bisa melumpuhkanmu


.


Reff I:


 (Am-Bm) C         G


  Pe-luk erat tubuhku


         F        C


  sentuhlah jemariku


       Am                 G


  Rebahkan sayap sayap patahmu uuu


              C         G


  Dan terbanglah bersamaku


             F          C


  ‘tuk melintasi langit ke tujuh


    Am                    G


  Bawalah aku ke alam damaimu uuu


.


Musik : C  G  F  C


        Am  G


.

__ADS_1


      C         G


Peluk erat tubuhku


       F         C -Bm


sentuhlah jemariku


  Am                    G  -Am-Bm-C -Dm-Dm


Rebahkan sayap sayap patahmu


.


Reff II:


  Am-Bm  C         G


  Pe-luk erat tubuhku


         F        C


  sentuhlah jemariku


       Am                 G


  Rebahkan sayap sayap patahmu uuu


              C         G


  Dan terbanglah bersamaku


             F          C


  ‘tuk melintasi langit ke tujuh


    Am                    G


  Bawalah aku ke alam damaimu uu


.


Outro : Am  G G  Am


Sepasang mata menatap Ridwan yang tengah bernyanyi menyalurkan ungkapan hatinya.


"Lagunya bagus Mas, untuk siapa?." ucap gadis yang tengah berdiri di depan Ridwan.


"Untuk Othor, pengen lagu Bambang Tamvan." ketus Ridwan sambil tetap memainkan beberapa kunci gitar.


"Lho kok?..." ucapan Ridwan tercekat.


"Iya Mas, aku mau terbang bersamamu kok dan merebahkan sayap sayap patahmu dan saya sayap patahku untuk menjahit sayap sayap patah kita juga nantinya." sahut gadis itu bernama Tria.


"Sejak kapan pintar ngegombal?." ketus Ridwan.


"Sejak ketemu Mas Ridwan dan menjadi pujaan hati Mas Ridwan itu rasanya....." ucapan Tria terputus karena suara Alvan sedang bernyanyi dari luar ruangan Ridwan.


"Santai bro santai, yok aku kita nyanyi lagi, kita nyanyikan lagu siksa kubur, bagaimana?." sungut Alvan.


"Mana buku ku! kau ambil seenaknya sendiri." suara Ridwan mengancam.


"Oh itu sudah di Tria dan............bye bye, selamat berjuang Tria." Alvan berlari ke arah pintu keluar dan menguncinya dari luar.


Tria hanya memandang Ridwan dengan tersenyum tetapi Ridwan hanya melengos tanpa menjawab senyuman dari Tria.


"Mas? boleh bertanya?." tanya Tria.


"Hem." singkat Ridwan.


"Serius ya jawabannya tapi jangan ngambek gini lah." ucap Tria sambil tersenyum menatap intens manik mata Ridwan.


"Apa? mau apa?." ucap Ridwan sambil membakar rokoknya.


"Mas cemburu? cemburu sama Kak Nicho?." tanya Tria tanpa melepaskan manik matanya ke netra Ridwan.


"Pikir aja sendiri, ada apa kesini?." tanya Ridwan sambil meminum cappucino nya.


"Itu cappucino dari siapa?." selidik Ridwan.


"Dari Wulan, kenapa?." sungut Ridwan.


"Sini berikan! sudah berani minta di buatkan minuman sama cewek lain kamu Mas!!." Tria merebut cappucino dari tangan Ridwan.


"Eh eh eh, bentar bentar, kok marah?, mau mu apa sih?, bukankah kamu nyaman dengan Nicho?." sahut Ridwan merebut capuccino nya.


Tria menatap sendu manik mata Ridwan sementara Ridwan hanya menatap dengan seribu pertanyaan tentang Tria dan Nicho hingga akhirnya sebuah ketukan pintu dan masuk lah Wulan dengan Adi.


"Permisi, maaf Kak Ridwan ini ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani terkait pemasukan bulan ini dan ini untuk persetujuan terkait daftar belanja bulan depan." ucap Wulan sambil berdiri di samping Ridwan.


"Oh iya, saya lihat dan teliti dulu." ucap Ridwan sambil melengos dari Tria.


"Na na na na na ternyata ada yang marah, na na na na." Alvan menyanyi menyindir Tria.


Tria menatap tajam ke arah Wulan sementara Wulan yang di tatap Tria sahabat nya hanya tersenyum ramah.


"Santai Tria, ini masalah kerja bukan masalah hati karena aku sudah memiliki calon kok tapi jika kamu sia-sia kan Kak Ridwan, aku akan siap menerima nya." goda Wulan.


Tria hanya melengos mendengar ucapan Wulan, sementara Alvan memainkan petikan gitar.


"Tanda tangan Van, itu ada namamu juga." Ridwan melemparkan pulpen ke arah Alvan.


"Dasar tak peka, tuh calon istrimu lagi ngambek, yauda kita keluar Wulan karena sebentar lagi ada perang dunia 3." goda Alvan ke arah Ridwan.


Ruangan kembali senyap hanya terdengar dentingan jam, Ridwan


masih menatap ke arah luar jendela ruangan nya sementara Tria berjalan ke arah Ridwan.


"Nih dari Nicho, malas aku membukanya." Ridwan menaruh kotak pemberian dari Nicho.


Tria membuka kotak itu, sementara Ridwan yang tengah mengotak atik handphone nya hanya terlihat acuh dengan tindakan Tria.

__ADS_1


"Ini.... tak mungkin dia masih menyimpannya." ucap Tria tak percaya.


Ridwan menatap sebuah foto di mana Tria dan Nicho tengah berpelukan di depan kampusnya Imperial College London.


"Yang tidak bisa menjaga hati itu kamu atau aku? yang tidak bisa di percaya aku atau kamu?." sahut Ridwan dingin.


"Mas, percayalah aku hanya untuk mu, hanya hatiku memiliki mu." sahut Tria memegang tangan Ridwan.


"Jika ku jawab semua wanita sama saja apa terima? terus itu kenapa membalas pelukannya Nicho?." lirih Ridwan.


"Aku ceritakan semuanya Mas, tidak ada selain dirimu di hati ku." ucap Tria sambil mengecup tangan Ridwan.


FLASHBACK ON


Lalu lintas di London terlihat sedikit padat, Tria segera berjalan memasuki cafe di mana dia berjanji meluruskan semuanya ke Nicho.


Tria menatap jam yang melingkar di tangan nya sebentar melirik wallpaper di handphone nya yang terpampang jelas wajah Ridwan.


"Assalamualaikum wr wb, sudah nunggu lama dik?." sapa Nicho sambil tersenyum ke arah Tria.


""Waalaikumsalam wr wb, bentar ya Kak ada telfon dari Bunda, bentar Tria angkat dulu."


Bunda: assalamualaikum wr wb, nduk malam ini pulang ke Indonesia, Ridwan kecelakaan dan dia *amnesia hanya memegang sebuah buku .


Tria: waalaikumsalam wr wb, Mas Ridwan kecelakaan Bun? hah amnesia? iya Bun habis ini Tria bersiap untuk terbang ke Indonesia, Uda dulu Bun Tria mau nyelesaikan urusan dengan Kak Nicho.


Bunda: jangan sembrono, Ridwan sudah mencintai mu karena dalam buku itu dia menatap foto mu terus, yauda hati hati assalamualaikum wr wb.


Tria: waalaikumsalam wr wb*.


Nicho yang mendengar nama Ridwan hatinya risau, sementara Tria segera membenahi duduk nya di hadapan Nicho.


"Kak, langsung saja, Tria tak ada perasaan apapun ke Kak Nicho selain sebagai kakak bukan sebagai kekasih." Tria menatap lekat dan tegas ke arah Nicho.


"Tapi dik, tapi kenapa kamu selalu menerima bunga dariku setiap saat?." ucap Nicho menggenggam tangan Tria.


"Oh itu dari kak Nicho, kenapa harus memakai nama samaran? kakak tau? Tria sudah bertunangan dengan Mas Ridwan." ujar Tria sambil menunjukkan cincin pertunangan di jarinya.


"Apakah Ridwan berarti buat mu? apakah janjimu dulu menunggu ku hanya bualan? aku mencintaimu Tria." Nicho mencoba membelai lembut pipi Tria.


"Kak, maaf dan maaf Tria hanya menganggap Kak Nicho sebagai kakak nya Tria dan tak lebih, ucapan Tria dulu hanya sebatas anak kecil yang belum baligh." Tria menepis tangan Nicho.


"Sebegitu kah Ridwan untuk mu? jika itu mau mu yauda Kakak berdoa untuk kamu, sini peluk kakak." ucap Nicho sambil meminta pelukan ke arah Tria.


Tria yang tengah berpelukan seakan tak tahu ada kamera yang mengambil photo nya tengah berpelukan dengan Nicho.


Sementara Nicho dalam hatinya berusaha tegar meskipun dia melakukan rencana ke depannya untuk menjauh kan Tria dengan Ridwan.


FLASHBACK OFF


"Gitu Mas ceritanya, Mas Ridwan sudah percaya?." tanya Tria sambil menggenggam tangan Ridwan erat.


Ridwan yang menyesap rokok nya kasar hanya menggeleng lemah, sekali di menyesap kopinya yang tinggal dikit.


"Mas, Mas Ridwan jawab dong, Tria sudah jatuh hati sama Mas Ridwan." suara Tria sedikit memaksa.


"Tak tahu, entahlah tapi kalau aku mau percaya kamu ya gak tau lagi asalkan satu syarat nya." ucap Ridwan sambil menatap tegas Tria.


"Apa syaratnya Mas?." tanya Tria polos.


Ridwan sambil tersenyum mengangguk dan berjalan ke arah Tria sambil melonggarkan kemeja nya serta membuka dua kancing kemeja nya.


"Mas, jangan bilang syarat nya......" Tria terlihat pucat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ridwan mau ngapain ya gaes? ada yang bisa menebak? tetap ikuti alur cerita last Love For Whom ya gaes.


__ADS_2