
...........................❤️.........................
Dear diary ku ingin bercerita
Semalam aku bermimpi
Bermimpi bertemu dengannya
Kan ku tulis semua cerita ini
Begitu senangnya hariku
Tenang saat kutatap matanya
Oh bahagia aku saat engkau
Menggenggam kedua tanganku
Berdetak deras jantungku tak berdaya
Lemah semua syaraf nadiku
Song by els warouw "Dear Diary"
...........................❤️.........................
Hampir tiga hari Ridwan terbarik lemah di ruang ICU tapi kini Ridwan sedikit menggerakkan jarinya pelan...
"Mas Adi panggil dokter segera!!" pinta Alvan.
"Alhamdulillah Mas Ridwan sudah sadar." pekik Tria yang di dampingi Mama Inah.
Keluarga Besar Ridwan, Alvan dan Tria kini sudah kembali ke Indonesia setelah menerima berita kecelakaan Ridwan, tapi sudah tiga Ridwan yang terbaring koma di ruang ICU hanya bisa di jenguk bergantian.
"Puas kau lihatnya Tria!" Alvan menunjuk kasar ke arah muka Tria.
"Maksudnya Kak Alvan apa?" Tria bertanya polos.
"Ridwan seperti ini karena kau, karena kau juga Wulan!" kini Alvan menunjuk Wulan yang berada di samping Ghani.
Semua terdiam mendengar ucapan Alvan, Ayah Mukti yang berusaha menolong calon mantu nya hanya terdiam begitu juga keluarga besar Wicaksono yang hanya mampu menatap Alvan sedikit terkejut sementara Iqbal ingin membela Tria dilarang Tantri.
Adi yang mengantarkan dokter masuk ke ruang ICU keluar dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa Mas Adi? Ridwan sudah sadar kan?" tanya Alvan sambil mengguncang bahu Adi.
"Tuan Ridwan......" ucapan Adi terputus.
"Maaf, ada yang bernama Citari di sini." ucap seorang suster menyela Adi.
Semua yang tengah berkumpul memandang Suster tersebut dengan tatapan nanar.
"Ada apa dengan anak saya suster?" Mama Inah maju ke arah suster.
"Pasien sudah sadar dan permintaan pasien hanya ingin bertemu dengan Citari karena pasien terkena Amnesia antrograde adalah Bentuk amnesia ini mengikuti trauma otak dan ditandai oleh ketidakmampuan untuk mengingat informasi baru. Pengalaman baru-baru ini dan ingatan jangka pendek hilang, tetapi penderita bisa mengingat kejadian dan peristiwa sebelum mengalami amnesia." ucap dokter yang tengah berdiri di samping suster tersebut.
"What!!! jangan bercanda dok, gak mungkin sahabat saya amnesia." ujar Alvan sambil menengok Ridwan yang tengah kebingungan menatap nya.
"Boleh kalian buktikan sendiri setelah pasien kita pindah ke ruang inap tapi jangan memaksakan untuk mengingat yang berat." timpal dokter tersebut.
Semua yang hadir hanya bisa menelan ludah kasar, Ridwan yang tengah berbaring itu telah dipindahkan ke ruang VVIP sementara kecemasan terlihat dari wajah Tria.
Alvan yang tengah berdiri di samping Ridwan pun merasakan benar adanya apa yang di jelaskan dokter tadi, sementara Tria yang menatap Ridwan merasa bersalah yang teramat besar.
"Kamu siapa? semuanya siapa ya? terus Citari mana?" ucap Ridwan membuyarkan lamunan semua orang.
"Wan, aku Alvan, kamu gak ingat sama sekali dengan kita semua?" tanya Alvan.
Ridwan yang mendapat pertanyaan dari Alvan hanya menggeleng lemah.
"Aku hanya ingat Citari, apakah kamu tahu siapa namaku?" tanya Ridwan.
"Wan!!! aku gak bercanda kampret!!!. teriak Alvan keras.
__ADS_1
Ridwan yang memandang dengan tatapan bingung hanya bisa menampilkan wajah nya super ketidaktahuan nya.
"Van, benar kata dokter, Ridwan tak ingat apapun." suara berat Ayah Mukti di iringi tepukan lembut ke bahu Alvan untuk menenangkan nya.
"Nama mu Ridwan, Ridwan Setya Mukti itu nama panjang mu, kenalkan saya Mukti dan ini Mama Inah, kami berdua orangtuamu, apa yang kamu ingat nak?" ucap Ayah Mukti kembali sambil menjabat tangan Ridwan DDI ikuti Mama Inah yang tengah terisak menangisi keadaan Ridwan.
"Ayah Mukti? Mama Inah? terus aku anak nya kalian berdua? aku tak ingat siapapun kecuali Citari" ucap Ridwan.
"Wan, gak usah bercanda lah, kau kebentur apa sih, Wan jawab!" suara Alvan kembali lantang.
"Kamu siapa? arrrggghhh......." teriak Ridwan kembali sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.
Dokter yang sedikit berlari pun menenangkan Ridwan dengan memberikan suntikan pereda nyeri, sementara semuanya beranjak keluar dari ruang VVIP menunggu dokter dan suster yang tengah memberi perawatan kembali untuk Ridwan.
"Van, Papa sama Ayah Wicaksono turut bersalah atas menimpa Ridwan tetapi nanti sore kita harus kembali ke Belanda karena urusan bisnis yang belum selesai, papa harap kamu mengerti." ujar papa Wicaksono memecahkan keheningan.
"Kalian selesai kan apa yang harus di selesaikan, bawa juga dia yang membuat Ridwan mengalami semuanya seperti ini!!!" tubuh Alvan merangsek maju ke arah Tria tapi dengan cepat Adi menahan tubuh Alvan yang terbakar emosi.
"Maaf Tuan Alvan, tak baik emosi, kita semua harus mengembalikan ingatan Tuan Ridwan, biar keputusan di ambil Tuan Besar Mukti dan Nyonya Besar Inah." pinta Adi sambil menenangkan Alvan.
Alvan yang kini tengah di tenangkan Adi dan Iqbal hanya menurut karena bagaimanapun kedua orangtuanya mengajar kan menghormati orang yang lebih tua darinya untuk memberi kebaikan sementara Iqbal yang menatap Tria mengajak nya berbicara dengan Tantri serta Ria tanpa mengajak Alvan yang tengah bersama Adi.
Tria pun hanya menurut dengan ajakan Iqbal, dia kini bertatapan dengan Wulan yang tengah menatap nya dengan tatapan sinis.
"Jangan lupa janjimu untuk melepas orang yang kamu sayangi karena kamu harus perlu merasakan apa itu kehilangan orang yang kamu sayangi Tria dan jangan lupa ada Lidia juga yang siap merebut dia darimu." ucap Wulan tersenyum sinis.
"Aku akan terima semuanya asal persahabatan kita kembali Wulan dan aku akan mundur dari Mas Ridwan." ucap Tria datar.
Iqbal yang mendengar ucapan Tria langsung memberi kode ke Tantri untuk segera menarik Tria dengan segera untuk berbicara dengan nya segera.
Kini mereka kembali bertemu Alvan dengan Adi di sebuah teras minimarket sementara keluarga besarnya serta keluarga besar Ridwan serta Tria bersiap untuk kembali berangkat ke Belanda untuk menyelesaikan urusan bisnis yang tertunda.
"Mau minum apa dik?" tanya Tantri sambil membuyarkan lamunan Tria.
"Air mineral aja Kak sama coklat ya Kak." pinta Tria.
Tantri pun mengajak Ria untuk masuk kedalam minimarket untuk membeli beberapa camilan untuk mereka semua, Iqbal memberi kode ke Adi dan Alvan untuk mendekat ke arahnya.
"Oke semua di sini merasa bersalah tanpa terkecuali, gua harap lu gak usah balik kuliah ke luar negeri Tria, lu dampingi Ridwan dan sama sama kasih perhatian untuk nya, paham lu Tria?" ucap Iqbal sambil menghembuskan asap rokoknya.
"Kamu gak enak sama Wulan? karena dulu kamu merebut Dirga dari Wulan kan? terus kau ingin Ridwan sahabat ku semakin sakit?, gila kau Tria!" hardik Alvan.
"Van diem!!!, nih rokok dulu biar tenang tuh otak lu, Adi lu suruh Wulan, Ghani dan Rian untuk kembali kerja di Cafe." ujar Iqbal sambil menyodorkan rokok ke arah Alvan kemudian menoleh ke Adi.
"Siap Bos tapi apa saya perlu ke sini lagi?" tanya Adi.
"Ya jelaslah, karena lu yang jaga Ridwan dengan Alvan serta Tria nanti malam, nih buat beli rokok ." Iqbal mengeluarkan selembar uang seratus ribu untuk Adi.
"Siap Bos, titip Tuan Alvan dulu Bos takutnya dia bikin onar, saya pergi dulu, assalamualaikum wr wb." ucap Adi untuk menghindari Alvan yang tengah menatapnya tajam.
Adi pun melenggang pergi ke dalam ruang sakit sementara Iqbal kembali menatap tajam ke arah Tria.
"Tria, tak seharusnya sahabat kau beri segalanya tapi kenapa kamu memberi surat itu untuk Ridwan?" Iqbal kembali bersuara dengan berat.
"Karena dia bodoh mas Iqbal! karena dia hanya ingin melukai Ridwan!! asal kau tahu, Ridwan sering bertanya alasan mu menitipkan dia ke sahabat mu Wulan, kau pikir hati itu bisa di titipkan!" umpat Alvan sambil menunjuk Tria dengan sebatang rokok.
"Alvan!!, lu bisa diem kagak!!! biarkan dia bercerita semuanya, gua di sini ingin mengetahui alasannya melakukan seperti itu, lu seperti itu lagi gua hajar mampus lu." ancam Iqbal.
Tantri yang sedari tadi hanya bisa menatap heran ke arah Alvan yang akhir-akhir ini terlalu emosional hanya bisa menyuruh Ria untuk menenangkan Alvan.
Tria yang menunduk pasrah hanya bisa berucap....
"Karena dulu saat Dirga dekat dengan ku dan hampir memperkosa ku saat itu hanya ada Wulan yang tengah menyelamatkan ku kemudian Kak Tantri menghajar habis-habisan Dirga dan Wulan berucap suatu saat kamu harus merasakan sakit itu Tria karena Dirga telah merenggut kesucian ku dan dia menyelamatkan aku hanya ingin merasakan sakit di tinggal orang yang telah dekat dengan ku." ucap Tria sambil terisak.
"B*jingan Dirga!!!! gua habisi lu sebentar lagi!" ucap Tantri.
Iqbal menenangkan Tantri yang tengah emosi sementara Alvan yang mendengar ucapan Tria merasa curiga dengan perjanjian Tria dengan Wulan.
"Kamu masih suci kan? terus motif Wulan hanya ingin membalas kan dendam sakit hatinya? tapi kenapa kamu masih bersahabat dengan dia?" suara Alvan sedikit melunak.
"Karena.................."
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca, kunjungi juga ya novel terbaru berjudul CINTA UNTUK SENJA, tetap stay on terus ya.
..........................❤️.........................
__ADS_1
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.