LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
JANJI UNTUK SI BULAN MARET? PART 2


__ADS_3

..........................❤️.........................


...Selamat datang di story tentang sebuah arti dari sebuah Cinta tak bertuan...


...Happy Reading dan mohon koreksi untuk penulisan....


...jangan lupa komentar untuk menjadi yang lebih baik lagi....


...Episode kali ini sangat panjang kembali jadi selamat menikmati dan terimakasih sudah mampir...


..........................❤️.........................


Aryani dan Alvan seperti dua insan yang seharusnya masih bersama tapi sayang Aryani mengkhianati seorang Alvan hanya untuk sebuah kepopuleran nya sendiri.


Padahal Alvan pun tak kalah populer, sudah 5 piala juara 1 katagori perorangan kelas D Karate dan 3 medali Emas untuk SMA Taruna Nusantara dan sisanya tentu Ridwan yang membawa 4 piala juara 1 perorangan kelas E dan 3 piala juara 2 tingkat Jawa Timur serta 7 medali emas.


Alvan dan Ridwan dua orang dari 12 atlet Karate SMA Taruna Nusantara yang mengikuti Setiap kejuaraan atau turnamen yang pulang membawa penghargaan dan membawa luka lebam yang begitu banyak nya.


Tapi hanya Ridwan yang di Kagumi begitu kaum hawa di sekolah tapi tak bergeming kecuali satu nama yang bisa dia mampu menjatuhkan hati yaitu Citari adik kelasnya di kelas 10 IPA 1.


FLASHBACK KE KEJUARAAN KARATE


"Mas Ridwan udah jangan di teruskan,itu luka di pelipis mas Ridwan" ujar Citari sambil mengompres pelipis Ridwan yang berdarah.


" biarkan Tari, Ridwan sudah perebutan juara 1 dan 2 pun dia gak bakal mundur karena ada bidadari nya di sini" sambil menimang medali emasnya di pamerkan ke Ridwan.


"siapa mas Alvan? tak bawa kesini anak nya kah?" sahut Citari polos.


" eh Van lambemu gak bocor gak isok?" emosi Ridwan.


" Halah Halah , aku wes dapat pialaku dan medali emas pula, mosok awakmu moleh gowo juara 2 wan wan, ndi Ridwan sing kuat kui?" ledek Alvan.


beberapa menit kemudian sebuah panggilan untuk acara puncak perebutan juara 1 dan 2 Se Jawa Timur pun berkumandang sangat keras.


"Dik Citari tak siap siap dulu ya" sambil memegang tangan dik Citari.


"wan anak e wong, ojok di baperi, awas modus (modal dusta)" kelakar Alvan.


Sementara itu panggilan pun berkumandang......


"kita panggil juara bertahan di sudut putih...... Rinaldi Firmansyah dari SMA 17 1945 Malang menantang Juara bertahan dari Gresik Ridwan Airlangga Cahyo dari SMA Taruna Nusantara, apakah Ridwan mampu menjatuhkan Rinaldi ataukah Ridwan akan menyerah, mari kita saksikan pertandingan puncak ini" suara panitia membahana di gedung pertandingan.


Orang tua Ridwan, pelatih Ridwan dan bahkan Citari merasa khawatir dengan kondisi Ridwan yang bertarung habis habis an.


"eh Wan sikil mu lho aboh(bengkak)" ujar Pak Mukti ayah Ridwan.


"besok sembuh yah hehehehehehe" lawak Ridwan.


"Ridwan yakin ingin bertanding? ini kamu teruskan masuk rumah sakit kamu nanti" cemas Mas Yogi pelatih Ridwan.


"masuk rumah sakit ya tinggal rawat inap mas, hehehehehehe" canda Ridwan.


"eh tengil Ndang siap siap, bawa medali emas dan piala itu, tak enteni Nang kene (tak tunggu di sini)" Alvan memberikan pelukan semangat.


" Van titip Citari, nek aku geblak (jatuh tak sadarkan diri) jangan bawa Citari ke rumah sakit, aku sayang Citari Van" bisik Ridwan ke Alvan.


"mas Ridwan nyerah saja ya, gak apa kita dapat juara dua dan medali perak mas,asal mas Ridwan tetap ada buat SMA Taruna Nusantara" bujuk Citari.


Ridwan hanya tersenyum ke arah Citari dan dia melangkah pasti ke arena pertandingan puncak hari ini.


Ridwan melihat kelemahan Lawan nya di atas arena pertandingan dengan teliti sampai akhirnya wasit pun berteriak


"Mulai" teriak wasit.


Pukulan tendangan dari lawan Ridwan hanya mampu di tangkis dan tidak menembus Ridwan sampai menit 10 sebuah tendangan dari lawan Ridwan hampir menembus dada Ridwan.


Ridwan pun menangkap tendangan tersebut dan membatin.


"*** Iki tendangan macam apa kok hampir tembus"


tak habis pikir Ridwan langsung melemparkan lawan nya hingga terjatuh bagian kepala duluan.


Wasit pun berteriak.


"point 30 untuk Merah" sambil menunjuk Ridwan.


Ridwan pun menghampiri lawan nya dan membantu untuk berdiri sehingga lawannya berkata.


"kamu lawan ku tapi kenapa kamu membantu ku untuk bangkit?" agak marah lawannya


"20 menit kita lawan, jeda waktu kita sahabat" senyum Ridwan ke arah Lawan nya.


Ridwan tak pernah menjatuhkan lawan nya sekalipun menang dan bahkan Ridwan minta maaf atas pertandingan dengan lawan lawan nya.


pertandingan pun masih berlanjut dan mungkin pertandingan kali ini benar benar menguras pikiran dan energi Ridwan.


hingga akhirnya tendangan Ridwan mengarah ke kepala Lawan nya dan tendangan lawan nya pun masuk ke pelipis kepala nya yg masih berdarah.


kedua peserta pertandingan tersungkur bersama sama dan wasit pun berteriak.


"dalam hitungan mundur, 5 ,4 ,3 ,2" wasit menghentikan suaranya ketika Ridwan bangkit dan mengunci lawannya yang tersungkur lemas.


"prittttt 40 point merah 20 point putih" teriak wasit.


Ridwan pun terlentang sambil mulutnya mengeluarkan darah sambil mengangkat tangannya dan berteriak.


"osh aku menang" tangan nya mengepal kemudian jatuh.


Tim medis pun berlari ke arah dua peserta yang tak sadarkan diri dan beruntung Lawan nya Ridwan sudah bangun dan melihat Ridwan yang yang terlentang dia langsung memberika pertolongan untuk membuka baju pertandingan Ridwan dan berteriak.


"oksigen mana cepat!!!!!" sambil menahan kepala Ridwan agar tidak sejajar.


Tim sekolah Ridwan berhamburan ke arah Ridwan dan Alvan pun memeluk Ridwan sambil menangis.


"wan woi wan, ancuk Tangi o *** (ancuk bangun o ***" sambil memeluk Ridwan.


ambulan pun mengantar Ridwan untuk di rujuk ke rumah sakit membawa Ridwan untuk segera di rawat.


sampai di rumah sakit penuh dengan tim sekolah Ridwan dan tim lawan Ridwan.


tidak ada yang emosi sama sekalipun, mereka hanya berdoa di depan IGD dimana Ridwan di rawat intensif.


Citari datang dengan menggandeng ibu Ridwan dan bertanya ke Alvan.


"mas Alvan gimana kondisi mas Ridwan?" cemas Citari.


"dokter belum keluar dik, berdoa lah terus, Tante kuat ya demi Ridwan" sambil mencium tangan mama Ridwan.


dokter pun keluar sambil tersenyum mengembang dan melihat sedemikian ramainya ruang tunggu IGD RSUD Petrokimia Gresik.

__ADS_1


"Alhamdulillah pasien sudah siuman dan hanya pingsan kena tendangan di pelipis nya tadi" sambil menjabat tangan ayahnya Ridwan dan pelatih karate SMA Taruna Nusantara.


Hingga sembuh pun Ridwan belum berani menyatakan perasaannya ke Citari padahal Citari sudah memberikan rambu rambu menerima andaikan Ridwan menyatakan perasaannya ke Citari.


"wan woi wan, Ridwan bin Mukti kau tersenyum sendiri kenapa?" membuyarkan lamunan Ridwan yang flashback ke turnamen yang hampir merenggut nyawa nya.


" wes mari urusanmu (sudah selesai urusanmu)?" selidik Ridwan.


" dah dan aku lapar *** menghadapi wanita bermuka 10" kelakar Alvan.


Hari demi hari pun terlewati oleh mereka berdua dengan latihan latihan yang ekstra keras demi membawa piala bergilir untuk Jawa timur dan mas Yogi pun pelatih mereka pun memberikan latihan ekstra sangat keras karena permintaan mereka berdua.


Mereka berdua seakan akan pertandingan kali ini sebuah pertandingan untuk memberikan kepercayaan bahwa murid kelas 12 masih pantas meraih prestasi dan mengharumkan nama sekolah mereka semua.


hingga akhirnya bulan Maret, bulan di mana pertandingan berlangsung dalam 3 hari lagi tetapi mereka berdua tetap santai tetapi serius.


Ridwan dan Alvan pun di panggil untuk menerima dispensasi libur karena pertandingan hampir mendekati.


"ini surat kalian dan besok silahkan ber istirahat di rumah" Ucap kepala sekolah menatap Ridwan dan Alvan.


"mohon maaf pak Sony, Saya dan Alvan tetap sekolah hingga setelah hari pertandingan pun saya tetap sekolah" tegas Ridwan.


"karena apa kamu bilang begitu Ridwan? ini saya beri libur untuk istirahat kalian menolak kenapa?" selidik pak Sony menatap Alvan dan Ridwan bergantian.


"maaf pak saya dan Ridwan hanya ingin tidak tertinggal pelajaran untuk Ujian Nasional saja, terimakasih" tegas Alvan.


"saya bangga dengan kalian berdua, silahkan libur atau masuk dan terimakasih telah membuat Sekolah kita di percaya untuk mewakili Jawa Timur dan itu pun dari kalian berdua" Senyum pak Sony ke arah Ridwan dan Alvan bergantian.


Alvan dan Ridwan keluar dari ruangan kepala sekolah dengan wajah bahagia dan mereka berdua pun mengikuti pelajaran kembali.


*catatan*


Mungkin kalian yang membaca cerita ini punya pikiran kalau anak yang memiliki prestasi di bidang non akademis tidak suka pelajaran kan? dan anak yang non akademis nya berkembang pesat belum tentu mereka malas di bidang pelajaran.


tiba-tiba seorang siswi berlari mengejar dan berteriak ke arah Ridwan dan Alvan yang sedang bersenda gurau dengan saling meninju bahu.


"mas Ridwan tunggu"


Alvan tau itu suara Citari dan paham yang di lakukan nya untuk memberikan waktu Ridwan berbicara dengan Citari.


"Wan tak tinggal dulu, selesai kan yang di belakang kita, ada yang manggil tuh" sambil melambaikan tangan ke arah Ridwan.


"eh *** malah di tinggal" gerutu Ridwan.


Citari pun menyusul Ridwan dan langsung mengajak nya duduk di kantin sambil memegang selembar surat.


" mas Ridwan ini artinya apa?" meletakkan surat di depan Ridwan.


"kamu mau ikut Ndak? kalau Ndak mau yauda tinggal Ndak ikut toh" sambil menyingkap rambut Citari untuk di selipkan ke belakang telinga Citari.


"apaan sih mas Ridwan, malu di liat kakak kelas tuh" wajah Citari bersemu merah.


"biar aja, kenapa? ada yang marah ke Citari?"


"mas Ridwan ingin Citari ikut untuk apa? nantinya malah jadi beban buat mas Ridwan"


"ada sesuatu yang ingin aku berikan setelah pertandingan itu" menatap mata Citari dengan Sendu.


" dih main rahasia rahasia segala" Citari tersipu malu.


" Uda ya ada pelajaran sejarah di kelas dik Citari, tak tinggal dulu, assalamu'alaikum wr wb" melambaikan tangan ke arah Citari.


Satu kelas pada ramai sendiri dengan ulah Rani selaku ketua kelas untuk mengumumkan agar memberikan dukungan langsung berangkat ke pulau Dewata semua untuk kelas 12 IPS.


"woy kita berangkat semua untuk dukung Ridwan dan Alvan, gimana? setuju? lagian kas kelas kita cukup untuk makan dan minum di sana" Provokasi Rani.


sementara itu Alvan dan Ridwan malah saling bertatapan dan bingung.


"Van kok malah gendeng Kabeh kancane kene Van" sambil tertawa.


" mata mu Wan kelas 12 IPS budal Kabeh auto ricuh gelanggang Kuta Bali Wan, tapi bau bau nya di setujui sama Waka Kesiswaan sisan ***"


" jelas kelas 11 IPS di ajak sisan Kabeh Van wkwkwkwkwkwkwkwk" tawa Ridwan lepas.


tiba tiba pak Dhani Waka Kesiswaan dan pak Sony kepala sekolah masuk kelas Ridwan dan Alvan dan geleng geleng melihat kelakuan anak IPS yang begitu ramai.


"ada pengumuman dari saya dan bapak kepala sekolah, mau dengarkan atau keluar dari kelas?" tegas pak Dhani.


"maaf pak" saut bersamaan satu kelas.


" 3 hari lagi teman kalian, Ridwan dan Alvan akan bertanding untuk kejuaraan tingkat Jawa Bali maka dari itu pihak sekolah tidak akan membawa suporter untuk memberikan dukungan kepada mereka berdua" tunjuk pak Dhani mengarah ke Ridwan dan Alvan.


"kita kurang biaya pak!" tegas Rani selaku ketua kelas.


"Alhamdulillah tidak cukup dana untuk membawa semua anak IPS kelas 11 dan 12" suara pak Sony membahana di kelas.


" Untuk kamu Rani dan Danu ikut saya ke kantor kepala sekolah sekarang" tegas Pak Dhani.


Ridwan dan Alvan tertunduk lemas karena berfikir mereka akan sepi tanpa dukungan siapapun, mereka berdua pun melihat Danu dan Rani beranjak dari kelas untuk ke ruang kepala sekolah.


SEMENTARA DI RUANG KEPALA SEKOLAH


"Danu dan Rani tau sebabnya saya panggil kalian berdua menghadap saya dan pak Dhani?" tegas pak Sony.


"tidak tau sebabnya bapak" jawab Danu dan Rani bersamaan.


"kita buat surprise untuk Ridwan dan Alvan" sambil memberikan kertas.


"maksudnya bapak bagaimana?" Rani keheranan.


"Data semua anak IPS dan ajak semua yang mau ikut untuk memberikan semangat ke Ridwan dan Alvan" tegas pak Dhani.


"saya sudah komunikasi dengan panitia untuk memberikan sebuah surprise untuk Ridwan dan Alvan ketika bertanding nanti" sambil memberikan arahan ke mereka berdua.


Setelah selesai mereka berdua mendata anak anak IPS dan memberikan informasi agar Ridwan dan Alvan jangan sampai tau.


sebuah pertemanan yang solid di kalangan anak IPS sehingga Ridwan dan Alvan hanya bisa pasrah dan terus berdoa.


..........................❤️.........................


Hari pertandingan pun datang dan bertepatan hari Minggu untuk pertandingan, Ridwan dan Alvan satu bis dengan orang tua mereka berdua dan tidak lupa ada pak Sony dan pak Dhani serta Mas Yogi pelatih karate SMA Taruna Nusantara serta Citari yang tersenyum ke arah Ridwan tetapi Citari duduk bersebelahan dengan Aryani mantan Alvan.


"lha Van di gowo tenan toh Aryani, piye Iki" guyon Ridwan.


" gak ngurus wes, pokok tanding besok, Ndang istirahat *** besok jam 8 pertandingan nya" tegas Alvan ke arah Ridwan.


Selama perjalanan mereka berdua istirahat begitu nyenyak nya tanpa beban tetapi ketegangan di wajah Citari semakin bertambah melihat banyak semua bis dari penjuru Pulau Jawa .


"dik Citari kenapa kok pucat? sakit?" sambil mengusap wajah Citari.

__ADS_1


"lawan mas Ridwan dan mas Alvan cuman sedikit tapi badan mereka kekar kekar" ujar Citari sambil menggigit jari jarinya.


Ridwan dan Alvan langsung tertawa lepas, mereka berdua hanya ingin fokus dan tidak tegang.


Akhirnya pertandingan final terjadi dengan puncak pertandingan Alvan bertemu dengan wakil Jawa tengah di kelas D serta Ridwan bertemu Wakil dari Bali.


mereka berdua tak sadar akan pemadaman lampu yang di tujukan untuk mereka berdua yang lagi berdiri bersama mas Yogi di samping mereka berdua.


hingga akhirnya lampu sorot mengarah ke arah Ridwan dan Alvan bersamaan dengan suara lagu dan mereka berdua tau kalau itu lagu kebanggaan SMA Taruna Nusantara.


Di tribun penonton sekitar 289 siswa SMA Taruna Nusantara bernyanyi dan memberikan semangat ke mereka berdua.


Ridwan dan Alvan menghadap ke arah tribun yang menyanyi untuk mereka berdua, air mata Ridwan dan Alvan mengalir.


"kalian berdua sudah sangat hebat hingga ke puncak pertandingan, teman teman kalian ingin memberikan semua semangat nya untuk kalian berdua, kalian berjuang ya" senyum mas Yogi ke arah Ridwan dan Alvan.


Ridwan dan Alvan mengangguk dan melambaikan tangan ke arah teman teman neraka sambil berteriak mereka berdua.


"makasih kawan, makasih kawan" teriak Ridwan dan Alvan bersamaan.


Pertandingan pun di mulai dengan segitu ketatnya karena pertandingan final tak ada yang ingin mengalah bukan?


sementara di tribun pendukung SMA Taruna Nusantara sambil terus memberikan dukungan


"bantai bantai bantai lawan mu bantai lawan mu sekarang juga" anarkis memang tapi usah di tanya karena apa mereka semua seperti itu hingga pendukung dari Bali terdiam tanpa bahasa.


Alvan bisa di katakan menang unggul di atas lawannya Karena Alvan sudah tau pergerakan lawan nya berbeda dengan Ridwan karena lawan nya berasal dari atlet Karate untuk PON Indonesia, sehingga Ridwan harus mengeluarkan semua yang dia miliki.


hingga akhirnya tendangan 360° Ridwan masuk tepat ke arah Dada lawan nya hingga lawan nya terjatuh.


"point 50 untuk sudut merah" teriak wasit sambil menunjuk Ridwan.


Ridwan bermaksud membantu dan menolong lawan nya karena wasit ke meja juri untuk memberikan informasi untuk kemenangan Ridwan.


tetapi lawan Ridwan tidak terima dengan tendangan Ridwan tadi sehingga dia bangkit dan menendang Ridwan tepat di pelipis kepalanya yang cidera.


Wasit pun berlari dan memberikan gerakan yang mengisyaratkan bahwa lawan Ridwan perwakilan dari Bali langsung diskualifikasi.


Mas Yogi pun berlari melihat Ridwan terjatuh tak sadarkan diri, begitu juga Citari dan Tribun penonton SMA Taruna Nusantara bernyanyi ricuh tapi berkat pak Dhani mereka berhenti.


Alvan yang sudah menang dan mengetahui Ridwan di tendang tepat di pelipis kanan marah dan menghampiri lawan Ridwan.


"kau ya, lawan gua kalau berani, itu posisi nya sudah di luar pertandingan ******,dasar **** sini kau" berusaha melepaskan rangkulan Aryani.


"maaf mas tidak sengaja tadi saya emosi" lawan Ridwan ciut melihat Alvan yang murka.


"dasar biadab kau, laknat kau" sambil mengacungkan jari tengah nya.


Ridwan yang mengeluarkan darah dari pelipisnya dan hidungnya pun bangkit sempoyongan menghampiri lawannya.


"tidak apa apa kan kamu?,maaf tadi kalau membuat mu emosi kawan" peluk Ridwan hingga Ridwan jatuh pingsan kembali.


Hingga akhirnya Ridwan di larikan ke rumah sakit daerah Kuta Bali untuk mendapatkan perawatan medis secepatnya.


Citari nangis di pelukan Aryani dan Alvan pun merangkul pak Dhani sambil menangis sementara teman teman Ridwan di kondisikan oleh pak Sony kepala sekolah untuk segera kembali ke Gresik karena takut akan menyerang pendukung dari Bali.


"mas Ridwan ini kah hadiah yang kamu berikan?" usap lembut kepala Ridwan yang yang di balut perban.


"maaf mbak, biar istirahat dulu pasien nya dan tidak ada cidera serius" suster menenangkan Citari.


Lama Ridwan terpejam hingga akhirnya di siuman.


"suster saya sudah sehat kembali, izin kan saya kembali ke pertandingan" rayu Ridwan.


"sebentar lagi selesai observasi nya dan mohon untuk tenang"


detik,menit dan jam pun berganti hingga pengumuman kejuaraan dan penutupan kejuaraan mau di umum kan.


hadir semua penonton di tribun berisikan murid murid SMA Taruna Nusantara yang tadi tidak jadi pulang demi melihat serah terima piala.


Pembawa acara pun memanggil semua atlit karate hingga akhirnya pemanggilan nama Ridwan dan Alvan yang di nantikan.


"kita panggil juara Umum untuk Jawa timur........... Ridwan dan Alvan....."


Alvan memapah tubuh Ridwan yang lemah dan Ridwan tidak mau memaki kursi roda.


"duluan jalan Van,aku ada urusan bentar" sambil memeluk Alvan.


"jijik *** kau peluk, rencana mu kamu lakukan sekarang?yakin dia terima kamu?" kelakar Alvan yang merapikan setelah baju karate ya lengkap dengan sabuk coklat nya.


"urusan belakang di terima atau tidaknya, kamu jalan duluan" sahut Ridwan.


sementara itu Ridwan berbicara ke pembawa acara untuk melakukan hal yang spesial untuk seseorang.


Ridwan menghampiri Citari dan meminta izin kedua orang tuanya untuk menyatakan perasaannya ke Citari.


"mas Ridwan sudah di panggil lho kenapa belum maju?" tanya Citari.


"temani aku ke depan, aku gak bisa jalan sendiri dik Citari" sambil menggenggam tangan Citari.


mereka berdua pun berjalan beriringan dan sampai akhirnya ketua pelaksana kejuaraan pun memberikan medali emas dan piala bergilir ke Alvan dan Ridwan.


setelah itu Ridwan meminta mic dan bersimpuh di hadapan Citari dengan di saksikan ribuan penonton yang berada di gelanggang olahraga tersebut.


"mas Ridwan apa apaan sih" Citari tersipu malu.


" dik di Citari aku menyampaikan perasaan ke kamu, aku suka kamu dik" sambil menatap Citari penuh harap.


Teriakan dari segala penonton serta teriakan pendukung dari SMA Taruna Nusantara pun bersautan.


"maksudnya mas Ridwan?" jawab Citari polos.


"aku ingin kamu jadi kekasih ku dik Citari" sambil memegang kembali tangan Citari.


"mas Ridwan aku malu,ini satu Jawa Bali lho melihat" wajah Citari seperti kepiting rebus.


" mas tanya ke kamu, mau kah kamu jadi kekasihku?" tanya Ridwan sekali lagi.


sementara itu Alvan gemas dengan cara Ridwan yang tak pernah bisa to the point ke cewek, hingga akhirnya Alvan maju.


"dik Citari kamu mau jadi pacarnya Ridwan?" sambil menatap tajam ke Ridwan.


"maaf dik, membuat kamu khawatir dan maukah kamu jadi kekasihku? Ridwan bersimpuh di depan Citari.


"Citari mau mas" sambil mengecup Ridwan


..........................❤️.........................


...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....

__ADS_1


..........................❤️.........................


__ADS_2