
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tak terbayangkan berjumpa dengan dirimu
Menjadi awal kisah kita berdua
Terlanjur jauh sudah ku jatuh hati padamu
Tanpa ku pikir lagi nyatanya ku salah
Mengapa tak katakan
Kau telah berdua
Mengapa berdusta
Tuk raih cintaku
Mestinya kau jujur padaku
Tulus padaku mungkin ku tak membalas
Ku tak mau berbagi cinta dengannya
Karena ku tak ingin ada yang terluka
Biarlah yang lalu menjadi
Sebuah rahasia indah kita berdua…
Dia yang pantas dapatkan cinta darimu
Karena dia yang pertama mencintaimu
Kini berakhir sudah kepada keputusanku
Meskipun itu perih ku rela kau pergi
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara derap langkah kaki terdengar mendekat ke arah ruang inap Ridwan, bukan dua kaki yang melangkah tetapi empat langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ruang inap Ridwan.
"Assalamualaikum wr wb Mas Ridwan, gimana kabarnya?." ucap seorang wanita yang di dampingi oleh laki lakinya.
Alvan pun menoleh ke arah sumber suara yang di kenal nya, sementara Tria menjatuhkan sendok yang di pegang nya karena menatap laki laki itu.
Ridwan menatap ke arah sumber suara wanita tersebut, sementara Alvan yang telah bersiap untuk mengusir kedua tamu itu bersiap menghubungi Adi dan beberapa bodyguard untuk membantunya.
Ya wanita itu Citari dan laki laki itu Dirga, dua masa lalu yang pernah hadir dalam hidup Ridwan dan Tria tetapi saat ini Ridwan tak mengingat siapa itu Citari.
__ADS_1
Bayangan kenangan Tria seakan muncul kembali saat Dirga muncul di depannya akan tetapi Ridwan dengan wajah polosnya dia menatap lekat Citari yang berjalan ke arah nya.
"Mau apa kalian berdua?." ujar Alvan menghentikan langkah Citari.
"Mau jenguk Mas Ridwan sekalian mau ngasih undangan pernikahan ku dengan Dirga." enteng Citari.
Ridwan menatap Tria setelah mendengar nama Dirga sambil tersenyum dia menatap lembut wajah Tria yang seakan-akan ketakutan.
"Sudah itu masa lalu mu, tak ada yang perlu di takuti juga kan." lembut Ridwan.
"Aku takut Mas Ridwan, masih trauma dengan perlakuan nya ke aku dulu." Tria sedikit terisak.
Ridwan menggenggam tangan Tria, mencoba memberikan ketenangan meskipun hanya sebatas genggaman tangan.
"Minggir Mas Alvan, ini anak masih sama saja seperti dulu." ucap Citari sambil terus melangkah ke arah Ridwan.
"Cepat lakukan yang perlu kamu lakukan! lekas pergi dari sini!." tegas Alvan.
"Van sudah, biarkan dia ngomong, oh ini yang namanya Dirga, Ridwan......" ucap Ridwan sambil mengulurkan tangan nya untuk mengajak berjabat tangan.
"Dirga, gimana kesehatan nya Mas?." ucap Dirga ramah.
"Alhamdulillah baik, oh ya ini siapa nama nya calon mu?." sahut Ridwan sambil tetap menggenggam tangan Tria.
Citari yang mendengar ucapan Ridwan pun terbelalak kaget sementara Dirga pun menatap heran ke arah Tria seakan mencari jawaban atas kondisi Ridwan.
"Kamu lupa nama ku Mas Ridwan? kamu kena benturan apa sih?." ketus Citari.
"Dia masa lalu mu Wan, dia yang bernama Citari, dia yang pernah menyakiti mu saat dulu." ucap Alvan datar.
"Citari? masa lalu ku? coba ceritakan Van." pinta Ridwan.
"Malas sekali cerita dia, karena ulah dia dan Dirga hingga kamu masuk rumah sakit dua kali dulu." ketus Alvan sambil menatap sinis ke arah Citari dan Dirga.
"Benar itu Tria? saat ini tak ada yang ku percaya hanya kamu yang ku percaya Tria." ucap Ridwan sambil menatap dingin ke arah Tria.
Ruangan kembali sunyi seakan merestui pertemuan dua insan yang dulu saling mengenal, Citari dan Dirga seakan menjadi bagian rahasia indah yang pernah di miliki oleh Ridwan dan Tria.
Author yang gemas pun bernyanyi untuk mereka berempat yang berjudul............
Jadi Aku Sebentar Saja
Telah lama kau tinggalkan ku
Sempat sia-siakan aku
Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli
__ADS_1
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah
Pergi jauh titipkan perih
Tak sedikitpun peduli
Seandainya kamu merasakan
Jadi aku sebentar saja
Takkan sanggup hatimu terima
Sakit ini begitu parah
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.