
..........................❤️.........................
...Selamat datang di story tentang sebuah arti dari sebuah Cinta tak bertuan...
...Happy Reading dan mohon koreksi untuk penulisan....
...jangan lupa komentar untuk menjadi yang lebih baik lagi....
...Episode kali ini sangat panjang kembali jadi selamat menikmati dan terimakasih sudah mampir...
..........................❤️.........................
Tapi apakah Alvan semudah itu memaafkan Aryani yang jelas jelas membuatnya terluka karena dusta nya dan berbohong untuk menjaga hati Alvan?
Ahmad sudah bercerita banyak tentang tunangan dan akan menikah ketika akhir tahun 2013 dan Ridwan memberikan restu untuk menikah duluan meskipun Ridwan sendiri belum menikahi.
Hal itu membuat Ahmad sangat berterima kasih kepada kakaknya yaitu Ridwan sedang kan Ridwan hanya bergeming tanpa suara apapun dan terus memikirkan kata kata Aryani tadi untuk menjadi tunangan Alvan.
Sore berganti Maghrib begitu cepat dan Ridwan yang kecapekan berfikir harus tidur pulas di atas ranjang nya yang luas.
"Nak Ridwan bangun sudah Maghrib, katanya mau ke rumahnya nak Alvan" suara Bi Ida membangunkan Ridwan.
"hooaaammz jam berapa ini bi?" sambil melihat jam di dinding.
"jam 18.39 nak Ridwan,bajunya sudah saya siapkan nak Ridwan"
"mampus aku, makasih Bu, nanti Ridwan langsung berangkat ya bi, bilang ke mama ayah untuk tidak nunggu Ridwan ya bi" Ridwan berlari ke arah kamar mandi nya.
Ridwan meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya kemudian berganti dengan setelan jas dan kemeja formal serta tak lupa dasinya.
Ridwan langsung menuju motor sport nya dan melaju sangat kencang untuk menjemput kekasih nya Citari yang mungkin sudah menunggu Ridwan.
Sementara itu di rumah Ridwan semua bersiap siap untuk ke kediaman Pak Bima dan ibu Salamah, pak Bima dan ibu Salamah ada orang tua dari Alvan.
"Bi Ida Ridwan kemana? kok kamarnya kosong bi?" mama Inah memanggil bi Ida.
"maaf nyonya, nak Ridwan sudah berangkat barusan dan sepertinya tergesa-gesa tadi"
"Oh yauda makasih Bi, Kita berangkat dulu ya bi, Assalamualaikum wr wb" pamit mama Inah.
Ridwan telah berada di depan gang rumah Citari yang di berikan saat awal jadian dan Ridwan merasa sungkan kalau menjemput Citari di depan rumah nya langsung.
"Assalamualaikum wr wb halo, dik Citari ini aku sudah di depan gang rumah mu" Ridwan berbicara sambil menoleh kanan kiri.
"masuk aja mas, sebelah kiri ada rumah besar,Uda di tunggu mama ayah mas untuk pamit"
"aduh pamit ortumu langsung? yakin gak marah mereka? aku naik motor soalnya dik"
"gak apa mas, mereka tidak memandang kendaraan yang terpenting tanggung jawab yang mengajak anak nya keluar mas, tak tunggu ya mas Ridwan".
Ridwan pun menstater motornya yang memiliki suara knalpot yang sama persis dengan moto GP sehingga Ridwan merasa sungkan dengan penduduk sekitar rumah Citari.
Dan akhirnya Ridwan berhenti tepat di depan rumah besar yang bergaya Eropa, ada anak kecil yang berlari ke arah pintu gerbang dan membuka nya.
"pacarnya kak Citari ya? ayo masuk udah di tunggu mama di dalam, ayah masih shalat isya di masjid"
"eh waalaikumsalam wr wb, iya dik bentar mau jatuh helm" Ridwan ketar ketir perasaan nya gak enak.
"mas aku jaga motor nya ya, bagus motor nya pasti mahal nih" tiba tiba adik perempuan Citari nongol dan mengajak bersalaman.
"eh iya, makasih udah jaga motornya dik, Citari ada di dalam?"
"masuk aja mas, dah di tunggu"
Ridwan pun masuk dan mengucapkan salam, tiba tiba Citari keluar dengan sebuah setelan dress yang kompak warnanya dengan Ridwan.
"lho sama kan nduk dengan warna setelan nya mas Ridwan" seorang wanita memberikan senyuman ke arah Ridwan dan Citari.
"eh Tante, Ridwan mau ngajak Citari ke rumah Alvan boleh te?" sambil mencium punggung mama Citari.
"silahkan,titip Citari ya,dia udah gede tapi masih seperti anak kecil"
"iya te, saya berangkat dulu ya te, assalamualaikum wr wb"
"waalaikumsalam wr wb hati hati nak, Citari jangan buat kekasih mu sakit hati lagi karena ulah mu, faham nduk?" sambil mengelus pipi Citari yang memakai blus on tipis.
Ridwan memberikan helm yang di bawa nya dan memasang kan ke Citari sambil tersenyum ke arahnya.
"Uda siap berangkat?" Ridwan membantu Citari naik ke moto sport nya.
"Uda mas, gak usah ngebut takud aku" pinta Citari.
Ridwan hanya tersenyum nakal dan setelah keluar dari gang rumah Citari dia menarik gas dan melaju sangat kencang hingga sebuah tangan merangkul lembut di pinggang Ridwan.
Sementara itu Ridwan hanya tersenyum di balik helm nya dan semakin cepat dia menarik gas motornya semakin erat pula Citari memeluknya.
"dik Uda sampai nih, gak mau turun?" sambil menggenggam tangan Citari.
"huft kenapa bawa motornya kencang? nanti pulang tak naik taksi aja" Citari cemberut.
"hahahaha kok marah, bukanya memang harus cepat sampai ya dik" sambil membenarkan jas dan setelan nya.
__ADS_1
Ridwan menatap Citari dan tiba tiba.
"kamu cantik malam ini Citari" mencium kening Citari.
"hei mas, tempat ramai lho, ada yang berantakan kah mas" sambil menatap
Ridwan.
"Ndak ada dik,cuman hatiku yang berantakan melihat kamu yang cantik malam ini" senyum Ridwan menggenggam tangan Citari.
Ridwan dan Citari berjalan sambil menggandeng tangan Citari erat, Tiba tiba dia melihat sebuah mobil yang dia sangat mengenal nya.
"Itu kan mobil ayah mama, ngapain juga di sini? apakah benar Alvan bertunangan?, lha kok mobil pak Darin juga di sini berarti itu benar?"
"mas Ridwan kenapa ngomong sendiri? ada apa mas?" Citari melihat ke arah mata yang di tuju Ridwan.
"yuk masuk aja dik, seperti nya ada yang gak beres nih" tatap Citari mantap untuk menggandeng nya erat.
Acara pun di mulai dan semua nya sudah bersiap siap untuk mengikuti dengan bahagia, termasuk Ridwan dan Citari yang duduk berdua di tempat VVIP khusus 2 orang.
Keluarga besar Alvan pun berada di panggung tepat di sampingnya keluarga besar Aryani, sementara itu Ridwan tidak melihat dimana Alvan dan Aryani batang hidungnya.
Suara pembawa acara membuyarkan Ridwan yang melakukan pencarian terhadap Alvan.
"Selamat malam hadirin semua, Tiba saatnya acara yang di tunggu tunggu, untuk saudara Alvan harap memasuki panggung dan saudari Aryani harap memasuki panggung juga.
Alvan melangkah sambil menoleh ke arah Ridwan, tiba tiba mic di rebut oleh Alvan, kemudian dia berbicara.
"Sebelum saya bertukar cincin dengan kekasih saya Aryani saya ingin memanggil sahabat saya yang paling sangat berharga di dunia dan akhirat kelak, Ridwan dan Dik Citari harap mendampingi saya untuk bertukar cincin, terima kasih" suara Alvan membahana.
sementara itu Ridwan menunjukkan ekspresi untuk meyakinkan apakah perlu ke depan mendampingi Alvan untuk tukar cincin?
"woy curut Ridwan sini kau, tak sikat kau kalau nolak" suara Alvan kembali menggema di mic.
Ridwan dengan mantap untuk mengajak Citari maju, Alvan pun tersenyum penuh kemenangan karena di acara itu pula ada orang tuanya Ridwan juga untuk lebih mengenal Citari nantinya.
"eh curut kenapa kau seperti ini, yakin kau?" Ridwan berbisik ke arah Alvan.
"nanti aja aku ceritakan semuanya ini berhubungan dengan Iqbal dan Citari tetap tak tau" Alvan berbisik di telinga Ridwan.
"oke, awas kau menghilang tanpa jejak lagi kau" ancam Ridwan.
Citari berdiri di samping Aryani untuk mendampingi acara tukar cincin atau bisa disebut pertunangan.
Acara berjalan begitu khidmat dan lancar sehingga Citari terbawa suasana dengan yang di hadapi nya tersebut.
"maaf dengan nyonya Citari?" seorang pelayan membuyarkan lamunan nya.
" nyonya Citari di panggil di meja Tuan Mukti dan Nyonya Besar Inah, mari saya antar"
"Biar saya saja mas yang mengantarkan Citari ke ayah dan mama" Ridwan memegang pundak Citari.
"hah, ngapain ketemu mama ayah mu mas? aku jelek lho mas" Citari merajuk.
"Uda ikut aja, tuh mama Uda melambaikan tangan ke kamu, masa kamu nolak sayang?" sambil mencium pipi Citari.
"ih mas tempat ramai lho, di lihat orang tua mu juga lho itu" wajah Citari memerah.
Ridwan menggandeng mantap Citari untuk mempertemukan dengan kedua orang tua nya.
"assalamualaikum wr wb Tuan Besar bapak Mukti dan Nyonya Besar ibu Inah, ini Citari kekasih hatinya anakmu yang tampan" Ridwan mencium tangan mama ayahnya di susul dengan Citari.
"kumat, Ridwan kumat, ayah biasa aja gak usah sebut tuan besar kenapa? suruh duduk pinggir Mama mu kekasih mu" Ayah Mukti memberikan kursi ke arah Ridwan.
Citari dan Mama Inah pun bercengkrama di ikuti canda tawa Ridwan dan Ahmad adiknya hingga tiba tiba Alvan datang ke arah keluarga besar Ridwan yang lagi bercengkrama.
"permisi Om Tante mau menculik Ridwan bentar ya, mau ngobrol sebentar" Alvan mencium tangan pak Mukti dan Mama Inah.
"selamat ya Nak Alvan, jangan lama lama nanti Citari merasa sendiri kalau gak ada Ridwan" ujar Mama Inah.
"30 menit Tante, penting soalnya, eh curut Citari pacarmu tak pinjam ya" sambil menoleh ke arah Citari.
"eh iya mas, jangan lama lama ya" pinta Citari.
"iya iya, bawel amat sih anak, hahahaha" tawa Alvan di susul tawa Ahmad adik Ridwan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Alvan membawa Ridwan jauh dari tempat pesta nya dan itu membuat curiga Ridwan di tambah dengan Alvan mengeluarkan rokok di bajunya dan kemudian membakar nya.
"sejak kapan merokok kau curut?" Ridwan mencoba mengambil rokok sebatang untuk dirinya.
"sejak kau masuk rumah sakit dan Iqbal di cium Citari, tuh Iqbal Uda datang dan jangan emosi Wan karena aku juga ikut emosi kalau kau emosi" Alvan menatap wajah Ridwan.
Iqbal berjalan menuju mereka berdua, kali ini dia di dampingi oleh aparat kepolisian karena dia bebas bersyarat.
Iqbal menyalami Ridwan dan Alvan dan meminta maaf kesekian kalinya di depan mereka.
"Wan , Van aku minta maaf sekali lagi dan terimakasih untuk kebesaran hati mu untuk membebaskan aku" menatap Ridwan.
"duduk dulu Bal, ada yang harus di bahas secepatnya juga" pinta Alvan.
"oh iya Van tapi sebelum saya bercerita saya minta maaf karena Citari melakukan hal yang tidak kamu ingin kan dan itu bukan permintaan saya Wan" ucap Iqbal dengan tegas.
"ini ada kaitannya dengan Aryani kan Bal?" sahut Ridwan penuh tanda tanya.
"Iya benar Wan, saya ceritakan semuanya sekarang dan jangan di skip" pinta Iqbal.
Ridwan dan Alvan mengangguk untuk meyakinkan Iqbal.
Iqbal pun mulai bercerita sambil menghisap rokok yang di sediakan Alvan.
"Sejak Aku masuk penjara karena ulahku, orang tua ku yang juga orang tua Aryani melakukan hal apapun untuk membebaskan ku tapi ternyata itu tidak bisa dan semudah itu karena kunci dari kejadian itu Ridwan dan yang kedua Alvan, Sementara aku setelah melakukan tindakan hina itu demi Allah Ridwan sudah tidak memiliki perasaan apapun ke Citari karena aku bodoh melukai mu hanya untuk seorang cewek, Citari bolak balik ke Polres hanya mencari keberadaan mu tetapi oleh Alvan di larang karena tidak ingin Citari menangis dan membenciku Wan, di balik keras kepalanya Alvan dan kamu ternyata aku akui kamu orang dan anak yang mampu mengendalikan emosi dan diri kalian" Iqbal mencabut rokok lagi untuk di bakar.
Ridwan menatap serius ke arah Iqbal tanpa menoleh sedikit pun.
"Alvan menemui ku di penjara dan bertemu dengan Aryani saat itu, Aryani dan Alvan
sama sama putus sebenarnya tetapi karena Mamaku Wan yang ingin memiliki menantu seperti Alvan meminta dengan sangat ke aku untuk berbicara dengan Alvan tanpa sepengetahuan mu Wan, Alvan saat itu menawarkan kerjasama dengan dalih perjodohan ini hanya pura pura karena Aryani sudah cinta mati ke kekasih nya dari Yogyakarta tapi Aryani tidak keberatan untuk bertunangan dengan Alvan dengan dalih untuk aku bebas dari penjara sehingga Alvan mencari pengacara untuk membantu meringankan hukuman ku di penjara tetapi Allah SWT berkehendak lain Wan,kamu yang memberikan amnesti untuk aku dan Alvan sudah cerita semuanya kalau dia dan pengacara nya tidak ikut campur dalam amnesti mu tetapi mama ku meminta untuk perjodohan ini dilaksanakan Wan, sampai sini kau paham Wan?" Iqbal menatap tajam Ridwan yang daritadi mencerna dia cerita.
"jadi ini pura pura Van?, sudah kamu pikirkan nanti betapa kecewanya mamanya Aryani dan Iqbal nanti?" Ridwan menggeleng kan kepala
"gini Wan, Aryani dan Alvan sebenarnya masih sama sama cinta tapi ada sesuatu hal yang tidak bisa di terima Alvan dari Aryani Wan" Iqbal memberikan sebuah foto.
"edan ***, adik mu berani melakukan itu bal?" Ridwan setengah berteriak.
"iya dan dia hamil 2 bulan dan itu bukan anak dari Alvan" Iqbal mengangguk lemas.
"Wan aku sudah pernah cerita kan tentang Aryani pernah ke hotel sama seorang laki laki tetapi kamu menganggap itu hanya gurauan ku belaka, aku sebenarnya masih mencintainya Wan tapi cintanya membuat dia buta hingga melakukan hal itu sebelum menikah" Alvan menghapus air matanya.
"Bal, mama mu sudah tau kalau Aryani hamil?" Ridwan menyelidik.
"semua anggota keluarga belum tau sama sekali Wan dan ini pasti akan menurunkan harga diri keluarga besar ku nantinya" Iqbal mengambil rokok lagi.
"terus rencana kalian berdua apa? dan aku bisa membantu apa untuk melepaskan Aryani dari Alvan?" Ridwan menawarkan diri.
"ujian kita kan tinggal satu bulan lagi? sementara Ujian tahun ini aku harus lulus dan selama menunggu ujian aku akan cari anak yang menghamili adik ku di Yogya,kalian mau ikut?" menawarkan ke Ridwan dan Alvan.
"Hem gimana ya Bal soalnya kalau kita bolos malah nanti gak lulus lagi kau pea" gerutu Ridwan.
"eh iya ya,terus gimana Wan Van?" Iqbal bingung.
Selama 3 menit mereka berfikir tiba tiba Ridwan dan Iqbal bersamaan berteriak.
"nah gin saja" Ridwan dan Iqbal bersamaan.
"hei salah satu dulu gantian ***" Alvan memijat pelipis kepalanya.
"kamu dulu Wan mungkin nanti aku bisa menambah kan" Iqbal membakar rokok nya kembali.
Ridwan berbicara tentang rencananya untuk mencari cowok yang menghamili Aryani sedemikian detailnya hingga tiba tiba Citari datang dan memeluk Ridwan dari belakang.
"sayang sudah malam, ngapain di sini?" bisik Citari di belakang nya.
"ini ngobrol sama mereka" sambil menunjuk kedepan.
"siapa? hanya bangku kosong, antar kan aku pulang dulu ya, udah jam 10 besok sekolah lagi" rengek Citari.
"eh kok ilang mereka berdua,kemana mereka sih?" gerutu Ridwan dalam hati.
"yauda yuk kita pulang tapi pamit ke ayah mama dulu yuk" mencium kening Citari.
Hape Ridwan bergetar dan Ridwan membuka sebuah pesan dengan hati hati, pesan itu dari Alvan yang isinya, "aku menghilang dengan Iqbal agar Citari tidak curiga jadi sepurane nek ngilang tanpa jejak".
Ridwan hanya menghela nafas panjang dan semuanya hampir terbuka cerita ini semua.
..........................❤️.........................
...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....
..........................❤️.........................
__ADS_1