
...........................❤️.........................
Ridwan kembali tak sadar diri dan kini dokter pun kembali memberikan penanganan sebaik mungkin untuknya.
Sementara Alvan yang menatap Ria kekasihnya segera beranjak duduk di sampingnya.
"Siapa? kok gak di angkat?" tanya Alvan.
"Wulan, Mas Alvan tahu ini punya siapa?" tanya Ria balik sambil menyerahkan coretan pena tersebut.
"Oh ini, punya nya dia nih yang pingsan tapi dia hanya bisa menitipkan ke Tria saat sebelum keberangkatan nya dulu, kenapa?"
"Tria sebenarnya bingung untuk mendapatkan hati kak Ridwan karena Wulan juga sudah berjanji untuk merasakan sakit apa yang pernah di rasakan nya saat Tria merebut Dirga." Ria kini menatap Tria yang tengah membalas tatapan nya.
Iqbal yang mendengar perkataan Ria itupun menatap Tantri kekasihnya untuk mencari jawaban.
"Lakukan apa yang harus di lakukan beb, Ridwan sudah seperti adikmu sendiri juga bukan?" ujar Tantri sambil tersenyum ke arah Iqbal.
"Dengan cara? kamu tahu sendiri kan Ridwan keras kan." sahut Iqbal sambil meneguk air mineral.
"Menikah kan Tria dan Ridwan dengan segera, hanya jalan itu yang bisa di lakukan meskipun sedikit memaksa juga." sahut Tantri.
"Sebaiknya Wulan dan Lidia segera menjauh dari Ridwan dan Ridwan juga harus memiliki cinta Tria." Iqbal berucap sedatar mungkin.
Dokter pun selesai dengan tugas nya sementara suster kembali mengatur selang oksigen untuk di letakkan di kedua lubang hidung Ridwan.
"Untuk saat ini perkembangan dari pasien sangat pesat tapi saya takut akan emosional nya saat mengetahui keadaan sebenarnya." ujar dokter menerangkan diagnosa nya.
"Maksudnya dok?" Alvan kini berdiri berjalan ke arah dokter sambil menahan amarahnya.
"Benturan yang cukup keras waktu itu merekam semua masa lalu pasien tapi tugas kalian selaku orang terdekat nya harus memberikan ingatan itu kembali tapi usaha kan emosional pasien tidak memuncak, itu saja saat ini diagnosa saya, saya permisi, selamat sore." ujar dokter pamit keluar ruang rawat inap.
Semua kembali hening ketika mendengar perkataan dokter, Ridwan yang tengah berbaring tertidur pulas kini di temani Tria yang tengah menggenggam tangan Ridwan.
"Dirga, kamu ajak pulang Citari dan ungkapkan semuanya ke Wulan terlebih dahulu, tugas mu belum selesai karena cepat atau lambat semuanya akan Ridwan aakhiri dan kamu Citari, seumpama kau gak menggores luka hati Ridwan tak seperti ini nantinya, kau tak ubahnya dengan wanita murahan saat itu!" Alvan merangsek maju hendak menampar Citari tapi langsung di cegah Adi.
"Tuan Alvan, cukup, jangan sampai tangan Tuan kotor dengan perlakuan ke wanita, semua ada yang membalas." ucap Adi sambil menahan tubuh Alvan.
"Van, sudah, biarkan mereka berdua balik dan kamu juga harus menjaga sahabat mu nantinya dan tentu dengan kekasihnya yang sedikit bucin saat ini, tuh lihat dia." ujar Tantri sambil membalikkan tubuh Alvan untuk menatap Tria yang tengah memberikan perlakuan ke Ridwan.
Dirga dan Citari meminta maaf kembali dan mereka berdua pamit untuk undur diri.
Iqbal yang tengah memijat pelipisnya yang sedikit pening akhirnya menemukan jawaban untuk Ridwan nantinya.
Rasanya semua seperti sudah di setting secara terperinci tapi apakah mampu hati Ridwan tergerak untuk memiliki hati Tria?
"Adi, gua bisa minta satu permintaan ke lu?" pinta Iqbal sambil menatap Adi yang tengah berdiri di samping Alvan.
"Apapun Bos Iqbal asal tidak merugikan siapapun, apa yang harus saya lakukan?" tanya Adi.
"Jaga Ridwan dan Tria setelah ini pulang lah saat jam besuk pasien berakhir dan datang saat jam besuk pasie pagi hari tapi jangan terlalu sering karena kesehatan lu juga, paham? dan untuk adik ku Alvan bantu Ridwan untuk memiliki hati Tria tapi jangan lupa dengan kekasih mu Ria juga, paham Van?" ujar Iqbal sambil menatap Alvan dan Adi bergantian.
"Paham Mas, yauda Mas Adi balik atau gimana?" Alvan kini bertanya ke Adi yang tengah mengangguk ke arah Iqbal.
"Saya ikut Tuan Alvan saja, kita ke cafe dulu saja melihat kondisi Cafe juga Tuan." pinta Adi.
"Oh ide bagus tuh, sayang yuk ke Cafe nanti malam tidur di rumah saja nunggu aku pulang ya." Alvan memasang wajah mesum nya.
"Lu apa apain adik gua, gua hajar masa depan lu biar mampus lu, jangan aneh aneh sama adik gua sebelum lu menikahi nya, faham lu?" ancam Tantri sambil mengepalkan tangannya ke arah Alvan.
"Duh gagal maning, yauda yuk balik, Tria kau titip apa? biar tak bawakan nanti." Alvan menunggu jawaban Tria.
Tria yang tenga menggenggam tangan Ridwan hanya tersenyum dan menjawab....
"Bawakan baju ganti dan mukenah ya Kak Alvan terus sama camilan serta makanan juga tapi nanti ajak Kak Ria juga ya, makasih ya." ucap Tria sambil tetap menggenggam tangan Ridwan.
Alvan mengangguk setuju dan mengajak semuanya untuk bergegas meninggalkan Tria menemani Ridwan.
Terbesit pikiran Alvan untuk membawa sesuatu untuk membantu ingatan Ridwan kembali.
Tria kini terpejam sambil tetap menggenggam tangan Ridwan erat sangat erat, entah kenapa rasanya dia tak ingin melepaskan dari Ridwan untuk jatuh kepelukan wanita lainya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Waktu berganti senja yang tengah menyapa dua insan yang kini sudah saling menatap satu sama lain.
Bibir Ridwan terkatup erat memandang tangan Tria yang tengah menggenggam nya erat
Kejadian siang tadi membuat hati nya sedikit terpukul mengingat masa lalu nya dengan Tria, lamunan nya menatap Tria seakan menjawab semua sedikit demi sedikit masa lalunya.
"Ehmm, maaf, bisa minta tolong? saya haus." Ridwan menunjuk sebotol air mineral di samping nakas nya.
"Eh maaf Mas, bentar tak ambil kan yang baru saja, tunggu ya." ucap Tria sambil berjalan ke arah kresek yang berisikan air mineral dan berbagai macam camilan.
Ridwan kembali menatap ke arah cincin yang melingkar di jari manis Tria, dia menelan ludahnya kasar.
"Mas, nih minumnya, pelan pelan kalau minum baca basmallah dulu sebelum minum." pinta Tria sambil memberikan air mineral yang telah di ruang ke gelas.
*glek
glek
glek*
Suara air mineral yang turun melewati kerongkongan Ridwan terdengar sedikit kasar sambil tetap menatap cincin yang tengah melingkar di jari manis Tria.
"Makasih, saya boleh lihat cincin yang anda kenakan itu?" pinta Ridwan tetap memakai bahasa formal nya.
"Ini? oh ya sebentar ya Mas." ucap Tria sambil menaruh gelas.
"nih mas, mau camilan Mas?" Tria menyerahkan cincin yang telah di lepas ke arah Ridwan sambil menawarkan camilan.
Ridwan menggeleng lemah dan tetap menatap tajam cincin tersebut hingga membuatnya sedikit tersentak.
"Ridwan Setya Mukti?, lambang ini? goresan ini?" lirih Ridwan sambil memegang kepalanya.
"Mas? Tria panggilkan dokter ya?" Tria segera beranjak pergi untuk memanggil dokter setelah menatap Ridwan yang tengah memegang kepalanya.
"Tunggu, saya baik baik saja, cincin yang ada namanya Tria Ifadah Dewi mana? boleh saya lihat?" pinta Ridwan kemudian.
__ADS_1
Tria berhenti dan membalikkan badannya untuk mengikuti permintaan Ridwan, dengan segera dia mengambil cincin dari kotak cincin yang tersimpan rapi berlapis kain beludru yang halus.
Tria melangkah menuju Ridwan yang tengah menatap nya dengan sendu persis langit saat senja yang menjanjikan sebuah keindahan.
"Kotak ini? cincin ini kenapa ada goresan sama dengan cincin mu?, apa benar kita sudah bertunangan dan merencanakan menikah nantinya?" tanya Ridwan sambil menempelkan cincin itu bersebelahan hingga menghasilkan sebuah tulisan.
"Janji suci untuk kamu dan aku menjadi kita"
Ridwan kembali merasakan potongan ingatannya, meskipun samar tapi Ridwan berusaha untuk menahan rasa sakit yang tengah menjalar di kepalanya.
"Mas, jangan di paksa, Tria hanya ingin Mas Ridwan sembuh." lirih Tria sambil menggenggam tangan Ridwan yang tengah mengamati cincin tersebut.
"Tolong bantu saya untuk mengingat semuanya, siapapun anda tolong bantu saya." pinta Ridwan bernada sendu.
Tria mengangguk dan menatap Ridwan dengan penuh perhatian, kedua insan kembali beradu pandang dekat hingga semakin dekat.
Kening mereka bertemu dan saling menempel, hembusan nafas Ridwan memburu seakan ingin memberikan ciuman untuk Tria begitu juga Tria yang tak menolak untuk melakukan nya.......
"Sehidup semati Di dalam suka dan duka Hingga nafasku berhenti Sungguh mati aku cinta Cinta yang begitu hebat rasanya....... ehhhmmmm salah masuk kita sayang." ucapan Alvan membubarkan adegan yang tengah berlangsung antara Tria dan Ridwan.
Tria segera beranjak untuk menyambut mereka bertiga yang tengah datang tiba tiba persis jelangkung yang datang tak diundang pulang tak di antar.
Tangan Ridwan menarik kembali Tria untuk tetap di dekatnya hingga membuat wajah Tria merah merona.
"Mas, ada mereka, maaf." ucap lirih Tria.
Alvan, Ria dan Adi yang merasa datang tak tepat hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat wajah Tria yang merah merona.
"Wan, maaf mengganggu acara enak enak mu, nih mau main gitar?" tanya Alvan sambil mengambil gitar akustik dari tangan Adi.
"Nama mu siapa? mereka berdua siapa?" tanya Ridwan sambil menatap bergantian ke arah Ria, Alvan dan Adi.
"Astaghfirullah Gusti, aku Alvan Wicaksono sahabat mu, ini Ria Ifadah Dewi kakak kembarnya Tria dan ini Mas Adi sahabat kamu juga." Alvan berujar sangat gemas sambil bersiap menonyor kepala Ridwan tapi langsung di hadang Tria.
Adi pun segera berjalan ke arah Ridwan.....
"Tuan Ridwan, saya Adi, Tuan Ridwan ingin makan? biar Nona Tria yang menyiapkan." tangan Adi menggenggam erat tangan Ridwan.
"Ridwan, kenapa saya di panggil Tuan? apa saya Tuan mu?" tanya Ridwan polos.
"Sssttttt stop Wan, bahasa mu terlalu formal, Mas Adi jangan panggil Ridwan dengan Tuan dulu faham?" pinta Alvan sambil menenteng gitar akustik.
"Anda bisa main gitar? coba mainkan untuk saya." pinta Ridwan.
"Hei kadal gurun sahara, gak ada kata saya anda, adanya kamu aku gua lu, paham ente kadal gurun?" Alvan melotot gemas ke arah Ridwan.
Semua tertawa mendengar ucapan Alvan yang tengah sedikit becanda dengan Ridwan, sementara Ridwan yang sedikit bingung mencoba berfikir.
"Maaf nama saya......" ucapan Ridwan terpotong karena jari telunjuk Alvan menempel di bibirnya.
"Sssstttt stop bilang saya anda, kau pakai anda saya, tak kepruk ndas mu tenan Wan." Alvan menaruh jari telunjuk ke arah bibir Ridwan yang menirukan adegan di film film.
Tria dan Ria yang melihat adegan dua sahabat itu hanya tertawa riuh karena mereka lebih mirip sepasang kekasih, Ridwan yang masih loading otaknya hanya mengangguk menyetujui ucapan Alvan.
"Nih gitar, kamu dulu bisa main gitar, coba main kan." Alvan menyerahkan gitar ke arah Ridwan.
Ridwan menerima gitar sambil mengusap lembut setiap senar yang berbaris rapi setiap alurnya.
Tangannya merespon naluri hatinya untuk mengingat sebuah lagu era tahun 2007 an dari sebuah musisi yang belum di ingat betul oleh Ridwan, hingga akhirnya dia memainkan gitar dan bernyanyi sebuah lagu yang dulu pernah di nyanyikan untuk seseorang yang kini berada di depanny, ya dia lah Tria.
SEHIDUP SEMATI
by Ari Lasso
Setengah mati aku
Tergila gila kepada dirimu
Yang pernah aku temui hu hu
Aku tak kan peduli
Apapun pasti akan kuhadapi
Kamu harus menjadi milikku
Wanita sejati
Yang baik seperti kamu
Yang mau mencintai aku
Apa adanya oh
Sehidup semati
Di dalam suka dan duka
Hingga nafasku berhenti
Sungguh mati aku cinta
Cinta yang begitu hebat rasanya
Akan kurelakan seluruh jiwaku
Hidup dan matiku untukmu
Wanita sejati
Yang baik seperti kamu
Yang mau mencintai aku
Apa adanya oh
Sehidup semati
Di dalam suka dan duka
Sehidup semati
Di dalam suka dan duka
Hingga nafasku berhenti
Sungguh mati aku cinta
Semua bertepuk tangan setelah Ridwan bernyanyi serta bermain gitar layaknya penyanyi nya langsung, Tria yang memandang Ridwan yang mengakhiri lagu berasa sedikit demi sedikit ingatan Ridwan kembali.
"Mas Ridwan tahu lagu itu untuk siapa?" tanya Tria.
"Saya......." ucapan Ridwan kembali terpotong kembali saat Alvan tengah meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya.
"Aku sedikit ingat, lagu itu untuk seseorang wanita cantik yang memakai hijab dan memakai setelan merah maroon tapi aku lupa nama dan samar wajahnya." Ridwan kembali memegang kepalanya merasakan sakit kembali menyerang.
"Adi cepat panggil dokter!!" perintah Alvan sambil menatap Ridwan.
"Jangan, biarkan aku merasakan ingatanku kembali, kalian mau menceritakan semuanya?" ucap Ridwan sambil memegang kepalanya.
Alvan tersenyum lebar, Tria pun segera membantu Ridwan untuk kembali bersandar di ranjang nya.
"Kamu masih kuat seperti dulu Wan, kamu gak pernah merasakan sakit, kalau mau mu mengingat semuanya tapi jangan terlalu di paksa, faham kau nyet?" ledek Alvan.
__ADS_1
Ridwan pun mengangguk setuju meskipun merasakan sakit di bagian kepalanya tapi dia tahan untuk mencoba mengingat semuanya.
Alvan pun menceritakan persahabatan nya dengan Ridwan sejak duduk di taman kanak-kanak hingga saat ini, tak terkecuali memperkenalkan Adi yang datang di kehidupan mereka berdua karena permasalahan dengan Citari saat dulu.
Adi yang mendengar cerita Alvan hanya mengangguk membenarkan dan meminta maaf kembali, Alvan juga menceritakan kebaikan Adi dan Iqbal sedetail mungkin.
Guratan wajah Ridwan kembali cerah mendengar cerita dari Alvan tentang masa lalunya tentang kebaikan keluarga nya bahkan pertemuan dengan Tria hingga menceritakan bahwa Ridwan sendiri yang meminta Tria untuk menjadi istrinya nantinya.
Waktu semakin berputar, hingga malam menyapa mereka semua yang tengah bercerita untuk membantu ingatan Ridwan kembali tanpa di kurangi sedikit pun meskipun menyinggung tindakan Tria yang meninggalkan Ridwan untuk kuliah keluar negeri.
Ridwan tersenyum mendengar semua cerita dari Alvan, dia tersenyum kecil saat mendengar cerita kekonyolan nya saat SMP hingga saat ini sesekali menatap Tria yang nantinya akan mendapatkan pertanyaan dari Ridwan.
"Wan, jam besuk sudah selesai, Mas Adi mau nginap sini kah?" Alvan menatap ke arah Adi yang tengah asik mengunyah coklat.
"Biar Mas Adi istirahat, biar calon istriku yang dulu kabur menjaga ku, aku ingin bertanya semuanya tentang hubungan ku dengan nya." sahut Ridwan yang memotong Adi untuk membatalkan ucapan nya.
"Oh ngunu, Wan asal kamu tahu, Tria itu baik tapi kamu yang belum bisa memiliki hatinya saat itu, itu dulu Wan dan sekarang kamu harus bisa memiliki hatinya Tria karena Tria sudah memiliki hatimu bahkan kamu sudah mencium bibirnya saat itu kan." ucap Alvan sambil menaik turunkan alisnya menggoda Ridwan dan Tria.
"Ish Kak Alvan!!! tak bilang kan Kak Tantri ntar, aku juga pernah melihat kalian berdua......" ucapan Tria terpotong karena mulutnya sudah di bungkam oleh Ria.
"Lu punya mulut jaga, gua sama Alvan hanya sebatas ciuman tak lebih faham? bisa bisa calon suami gua habis di hajar Kak Tantri ntar, faham lu!!" ancam Ria dan di ikuti angguk an Tria.
"Yauda Tuan Ridwan, saya, Tuan Alvan dan Nona Ria pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung telfon saya atau Tuan Alvan, kita pulang dulu assalamualaikum wr wb." Adi menjabat tangan Ridwan dan mengatupkan tangan saat pamit ke Tria.
"Waalaikumsalam wr wb, Mas Ridwan di sini saja dulu, Tria mengantarkan mereka semua sampai ke bawah ya." Tria melangkah menyusul Ria, Adi dan Alvan yang tengah keluar dari ruang inapnya.
Ridwan kembali mengingat cerita Alvan tentang hubungannya dengan Tria sambil menggenggam erat kedua cincin pertunangan nya.
Ridwan merasa kan ingin buang air kecil, dia menekan tombol panggilan untuk memanggil suster.
"Ada yang bisa saya bantu?" suster itu sudah berdiri di samping Ridwan.
"Minta tolong sus, saya mau ke kamar mandi." pinta Ridwan.
"Baik, mari saya antar." suster memapah Ridwan sambil membawakan tabung infus nya.
Tria yang telah datang pun segera memberi kan beberapa camilan untuk suster yang berjaga malam itu.
"Sus, ini buat camilan malam ya, makasih sudah membantu." ujjar Tria sambil memberikan satu kresek hampir penuh berisikan camilan untuk suster yang berjaga malam itu.
"Wah terimakasih banyak Nona, kita doakan yang terbaik untuk hubungan Nona dan Mas nya ya." ucap suster sambil tersenyum bahagia.
"Amin, yauda suster biar saya saja yang memapah Mas Ridwan." pinta Tria sambil memapah tubuh Ridwan.
Tria yang telah memapah Ridwan kembali ke tempat tidurnya, dia tersenyum sambil mengusap rambut Ridwan lembut.
"Mas, Tria sholat dulu ya, setelah itu ngobrol lagi, Tria tahu kok kalau Mas Ridwan ingin mendapatkan jawaban semuanya kan." pinta Tria untuk mengambil air wudhu bersiap untuk beribadah shalat isya.
Ridwan mengangguk, netra nya tak pernah lepas dari wanita nya yang tadi di cerita kan oleh Alvan sebagai tunangan nya.
Ridwan menatap lekat wajah manis yang terpancar dari Tria yang tengah berdoa bermunajat, hingga lamunan nya buyar karena Tria menatap balik Ridwan.
"Ada yang salah Mas? mau camilan apa?" ujar Tria sambil membereskan mukena nya.
"Ada nya apa itu aja, sini aku mau tanya." pinta Ridwan.
Tria pun mengambil satu kresek penuh camilan ke arah Ridwan, netra nya menatap Ridwan penuh makna.
"Kamu kenapa pergi tanpa kejelasan? apa artinya kamu kalau tidak ada aku saat itu?" tanya Ridwan lirih.
"Tria ngin memiliki Mas Ridwan tanpa ada ganjalan hati dari Mas Ridwan dan Tria akui itu kesalahan fatal Mas." suara lirih Tria meluncur datar.
"Tiba tiba engkau ada Mas Ridwan, kemudian engkau hadir dalam hatiku Mas laksana kerdil ku memeluk untuk memiliki mu Mas." ucaap Tria kemudian.
"Barangkali aku salah, aku hanya menutupi rasa gelisah saat itu, tapi bantu aku memiliki hatimu karena di bawah langit biru saat ini aku bersumpah diriku dulu berbeda dengan sekarang, bantu aku memiliki mu dan hatimu." pinta Tria.
Ridwan mengusap lembut wajah Tria, mencoba untuk mencari jawaban tentang perasaan saat dulu dan untuk masa depan nantinya.
Bibir Ridwan maju perlahan tapi Tria tak bisa menolak tindakan Ridwan yang mengalir.
"Bersama mu aku senang, aku lah yang pantas kamu cintai Tria." lirih Ridwan seraya membatalkan ciumannya untuk Tria.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Esok belum tentu menjadi lebih baik tapi Ridwan tak akan mensia-siakan lembaran barunya untuk mengungkap alasan Tria meninggalkan untuk kuliah keluar negeri saat itu.
Apakah Ridwan berhasil memiliki hati Tria?
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca, kunjungi juga ya novel terbaru berjudul CINTA UNTUK SENJA, tetap stay on terus ya, jangan lupa vote ya 😊
..........................❤️.........................
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.
__ADS_1