
..........................❤️.........................
...Selamat datang di story tentang sebuah arti dari sebuah Cinta tak bertuan...
...Happy Reading dan mohon koreksi untuk penulisan....
...jangan lupa komentar untuk menjadi yang lebih baik lagi....
...Episode kali ini sangat panjang kembali jadi selamat menikmati dan terimakasih sudah mampir...
..........................❤️.........................
Ruang BK menjadi saksi untuk Ridwan dan Citari yang mungkin salah satu dari mereka buta akan yang nama cinta.
Mungkin mereka, Ridwan,Alvan, Rino, Dicky, Diah, Fahira serta Citari yang berjalan ke ruang BK akan mendapatkan masalah yang besar dan mungkin ruang BK bagi sebagian siswa dan siswi merupakan ruangan yang menakutkan tetapi berbeda dengan Ridwan dan Alvan.
Mereka berdua santai menghadapi semua nya. bukan karena siswa yang telah mengharumkan nama sekolah dan bukan jagoan preman Sekolah juga.
"Selamat datang dan silahkan duduk kalian berlima" Bu Rafika menyuruh 6 orang anak itu duduk.
"makasih Bu" jawab mereka serentak.
"kalian ini semua udah gede tapi kok pada seperti anak kecil" Bu Rafika mengambil buku konseling.
" maaf Bu ini salah saya yang tidak bisa meredam emosi yang kena kuah soto Bu, padahal rasa kuah soto itu lezat Bu" Ridwan berusaha untuk membuka pembicaraan.
" Wan, koen gak salah *** (kamu gak salah ***)" bisik Alvan ke telinga Ridwan.
"Alvan jangan jadi kompor biar di jelaskan sama Ridwan, awalnya bagaimana Wan?, bentar bentar ini Ridwan yang juara umum Karate Se- Jawa Bali kemarin kan?" Bu Rafika sambil melihat Ridwan dengan seksama.
"Alhamdulillah iya Bu, tapi ini tadi saya yang emosional Bu, saya mohon maaf dan biarkan Alvan, Rino, Dicky, Fahira, Diah dan pacar saya Citari untuk kembali ke kelas" sambil memohon ke Bu Rafika.
Rino dan Diky tidak percaya apa yang di sampaikan Bu Rafika di depan mereka berdua.
Mereka berdua tidak percaya lawan yang di hadapi barusan juara karate SE Jawa Bali tetap mengaku bersalah padahal jelas biang keladinya dari Diah dan Fahira.
" Benar yang di ucapkan itu Alvan?" Bu Rafika menoleh ke Alvan.
Alvan melihat Ridwan sekejap dan raut wajah Ridwan seakan-akan memberikan tekanan agar tidak berkata sejujurnya ke Bu Rafika.
"Benar Bu, Ridwan yang lepas kontrol karena emosi nya meledak terkena jua soto, mungkin Ridwan PMS Bu Rafika" enteng Alvan.
Akan tetapi pak Sony dan pak Dhani muncul sambil membawa rekaman CCTV kantin sekolah.
"maaf Bu memotong, ini ada buktinya dan di sini yang tidak bersalah cuman Alvan saja" pak Sony memberikan rekaman tersebut ke Bu Rafika.
"Terimakasih bapak akan tetapi Ridwan mengaku dia bersalah atas semua ini" Bu Rafika memperhatikan rekaman kemudian menoleh ke Ridwan.
"Ridwan seperti itu karena ingin melindungi pacarnya Bu" Alvan menyela pembicaraan.
" Bu Rafika,pak Dhani dan pak Sony saya pribadi mohon maaf dan saya pribadi tidak cari muka untuk diri saya, saya bersalah atas semua ini" tegas Ridwan.
"berikan ibu satu alasan kenapa kamu bilang begitu" tatap Bu Rafika ke arah mata Ridwan.
"karena saya telah memberikan tendangan 360° ke arah Rino dan Dicky Bu dan itu tidak di ajarkan di Karate" tegas Ridwan.
"yauda kalian semua keluar kecuali Ridwan, tanda tangan dulu di sini" Bu Rafika menuliskan semua nama mereka di buku konseling.
"iya Bu" jawab mereka serentak.
Setelah mereka semua tinggal Bu Rafika dan Ridwan yang berada di ruang BK.
Ridwan begitu tenang ketika semuanya sudah keluar untuk kembali ke kantin atau sekedar bercanda ria tapi tidak dengan Alvan.
Alvan berdiri persis di depan ruang BK dan untuk menemani Ridwan karena hanya dia sahabatnya dari dulu.
"sebentar Bu, masih ada Alvan di depan ruang BK, boleh saya menemui sebentar?" izin Ridwan.
"silahkan Ridwan"
Alvan memandang sahabat nya itu heran dan penuh tanda tanya serta memiliki pertanyaan yang bertubi-tubi.
" kau ngapain mengalah demi mereka? bukan kau di sakiti?" sambil meninju pelan bahu Ridwan.
"kamu balik ke kelas atau nunggu di kantin Van?"
"nunggu kamu keluar dari ruang ini Wan, itu saja"
"yauda terserah kamu saja Van" senyum Ridwan.
Ridwan kembali masuk dan tanpa di sadari Citari berlari kecil menghampiri nya.
"mas, biar aku aja yang bicara dengan Bu Rafika, ini bukan salahmu" Bulir air mata Citari jatuh.
" sudah tak apa,ini hanya ruang BK bukan ruang pesakitan kok dik" senyum Ridwan penuh arti.
Ridwan kembali melangkah kan kaki nya mantap untuk masuk ke ruang BK.
"langsung saja ibu bertanya ya Wan"
__ADS_1
"silahkan Bu Rafika dan saya siap menjawab semuanya"
"kenapa kamu melindungi mereka Wan?"
" saya tidak melindungi Bu, saya yang terbawa emosi"
" ini rekaman CCTV berkata lain Wan, Diah dan Fahira yang membuat kamu marah tapi kenapa kamu yang ingin mengakui kesalahan?, jujur ke saya"
"pertama Bu, saya tidak ingin cari muka dan menunjukkan kalau saya superhero"
"terus wan?"
"yang kedua, saya terbawa emosi dan Rino serta Diky tidak menyerang saya duluan tapi saya yang menyerang mereka sampai jatuh"
"hanya itu?, yakin hanya itu Wan?"
" yang paling penting Bu Rafika, saya tak ingin memiliki musuh di SMA Taruna Nusantara ini dan Citari alasannya kenapa saya melakukan ini"
"oh masalah asmara yang sedang berapi-api toh Wan"
"bukan hanya asmara Bu, saya sudah berjanji ke Citari untuk tetap meredam emosi saya di depan nya dan di depan orang banyak"
" bukan berarti karena kamu cinta dan sayang dengan Citari juga kan Wan?"
Ridwan tidak bisa menjawab, pertanyaan itu menjebak dia dalam sebuah Genosida terhadap dirinya sendiri.
Apakah Ridwan benar benar jatuh hatinya untuk Citari?
Kalau iya benar pujangga cinta bilang jika cinta dan sayang itu buta.
"Wan are you okay?" Bu Rafika menatap mata Ridwan.
"Bu , saya tak ingin masalah ini di menangkan saya karena saya sudah mengharumkan nama SMA ini Bu, saya hanya ingin Citari tidak menangis ketika saya memukul pacar temanya tadi Bu, hukum saya Bu jangan hukum mereka"
"Okay, hukuman mu nanti pulang sekolah hormat bendera selama 1 jam, sanggup Wan?" sambil membenahi buku Konseling.
" siap Bu Rafika, kalau sudah saya izin mau kembali ke kantin Bu" pinta Ridwan.
"silahkan dan terimakasih untuk kamu yang sudah besar hati memaafkan mereka semua" tersenyum melihat Ridwan.
Sementara di kantin sekolah.
" eh Diah tadi kenapa ya mas Ridwan tadi membela kita? padahal kita yang salah kan?" Fahira sambil mengaduk es teh nya.
" peduli amat yang penting tidak kena skor dari BK" Diah melengos.
"eh Diah sayangku jangan gitu, Mas Ridwan gak salah sebenarnya kok" Rino mengelus kepala Diah.
"eh cunguk, kau tau Citari nangis karena apa?" sahut Diky.
"tak tau lah emang kita dukun" Diah dan Fahira bersamaan.
Alvan Ridwan dan Citari berjalan menuju kantin bersamaan.
Ridwan sudah menggenggam tangan Citari sebagai bentuk permintaan maafnya dan tak perduli omongan siswa siswi yang di lalui nya.
serasa dunia milik mereka berdua yang lainya ngebon di dunia.
" eh curut, jadi obat nyamuk ***" gerutu Alvan mendahului Ridwan.
"serah lu Van yang penting setelah ini jelasin masalah kau dengan Aryani ke Citari" sambil menatap Citari.
"yayayayayayayaya, eh yakin kita kesini?" Alvan menghentikan langkahnya.
"udah yakin aku,dah diam aja kamu" Ridwan berlalu menghampiri Diah, Fahira, Diky dan Rino.
Sementara 4 orang anak itu ketar ketir melihat Ridwan datang sambil menatap mereka berempat.
siswa siswi yang berada di kantin langsung bubar semua melihat Ridwan datang, entah karena takut atau ingin melihat pertarungan selanjutnya.
"Diky dan Rino, aku minta maaf, ada yang sakit di badan kalian?" menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"eh mas Ridwan, kita mau minta maaf juga" Diky menjabat erat tangan Ridwan di susul Rino.
"maaf ya mas Ridwan dan terimakasih untuk membela kita di ruang BK tadi" Rino memberikan ruang untuk Ridwan duduk.
Ridwan hanya membalas tersenyum ke arah mereka berdua.
"gini saja, untuk Diah dan Fahira kalian dengarkan penjelasan Alvan kenapa Citari tadi nangis di depan kalian dan mungkin menyebutkan nama Aryani kan" sambil menatap tajam ke arah Diah dan Fahira.
mereka semua menatap Alvan dan Alvan langsung mengambil duduk di sebelah Ridwan.
"Citari tadi Aryani itu tengkar sama saya dan Ridwan melerai untuk menenangkan Aryani dan saya, makasih Diky" Alvan mengaduk es teh yang di berikan Diky.
"Kalian berdua, Diah dan Fahira tau masalah Aryani? dan kenapa saya menenangkan Aryani?" Ridwan menatap tajam mereka berdua.
"karena Aryani di tolak mas Alvan kah?" Citari langsung menjawab.
Alvan mendengar itu langsung terbatuk-batuk dan tertawa terbahak-bahak sambil menatap Ridwan.
__ADS_1
Ridwan pun hanya tersenyum sambil berbisik lirih ke Citari.
"Aryani mau memberikan kehormatan nya untuk Alvan demi cintanya Alvan ke Aryani sayang ku Citari" sambil membenarkan rambut nya Citari ke belakang telinganya.
"hah serius?, sebegitu binal nya dia kah mas Ridwan?" Citari mengeluarkan suara keras nya.
" cunguk kau Wan malah di sebarkan aib nya *** lah" Alvan merengut wajahnya.
"masih cinta kah kau Van?" Ridwan tertawa.
sementara Diky, Rino, Diah dan Fahira hanya melongo melihat kata kata Citari.
Aryani dan Alvan menjalin kasih hampir satu setengah tahun tetapi Aryani selalu selingkuh di belakang Alvan dan sialnya Ridwan yang selalu memergoki Aryani.
"untuk kejadian tadi Uda clear-kan ya Diky, Rino, Diah dan Fahira" Ridwan menatap mereka satu persatu.
"jadi yang cengeng itu Citari dan kita mengartikan hanya sepenggal saja ternyata" Diky menoleh ke Citari di susul Rino, Diah dan Fahira.
"jangan di sentuh Citari, urusan nya malah panjang nanti kalian" Alvan mengaduk kuah soto ayam di depannya.
"lho *** wes pesen disik an raimu ( lho *** sudah pesan duluan kamu)" tinju Ridwan lemah .
"mas Ridwan sudah saya pesan kan nih pakai ceker dan ampela ati" Diky memberikan semangkuk soto ayam.
"nih uangnya Diky dan beli untuk kalian juga, dik Citari mau?" sambil menyuapkan sendok mengarah ke Citari.
"mau mas, ak ....." mulut Citari bersiap untuk suapan dari Ridwan.
"eits nanti aja kalau sudah di pelaminan, sekarang makan sendiri sana" sambil membatalkan suapan untuk Citari.
"tau ah mas Ridwan, sebel aku lho" jiwit an Citari tepat mengenai pinggang Ridwan.
"ancuk loro tenan wan jiwit an e arek wedok *** Van (ancuk Sakit beneran cubitan nya anak perempuan ***)" Ridwan meringis kesakitan.
"salahmu sendiri, betina kok di goda, makan tuh jiwitan nya wan wan" Alvan hanya meneruskan makanya.
Mungkin Citari tersenyum lepas ketika sudah tau permasalahan nya tentang Aryani dengan Alvan.
Citari terus melihat Ridwan sambil memakan semangkuk soto ayam dan seringkali melihat ke arah Ridwan sambil malu malu.
sementara itu Diky, Rino,Diah dan Fahira pamit untuk meninggalkan kantin.
" eh Citari duluan ya, lagian Diky dan Rino sudah mau persiapan untuk masuk kelas juga" Diah dan Fahira serentak.
"makasih dan terimakasih banyak mas Ridwan atas semuanya, saya yakin mas Ridwan tadi sangat berjiwa besar untuk kita" Diky tersenyum ke arah Ridwan.
"pesan ku satu, kita semua kawan dan saudara itu saja Diky, ada apa apa calling aku ae ya" Ridwan menatap Diky dan Rino.
"siap senior" memberi hormat bersamaan ke arah Ridwan dan Alvan.
Sementara itu Citari terus memandangi Ridwan tanpa henti dan tersenyum sendiri hingga Alvan jijik melihatnya.
"eh Wan nomor rumah sakit jiwa masih ada kan?" Alvan sambil menatap Ridwan.
"buat apa? mau telfon untuk apa?"
"tuh depan lu Wan" sambil memutar kan kepala Ridwan menghadap ke lawan bicaranya.
Citari tetap tersenyum meskipun Ridwan melihat ke arahnya.
Sementara Ridwan membalas senyuman Citari dan menekan hidung Citari.
"jangan senyum senyum sendiri nanti gila lho dik"
"aku bahagia liat kamu mas Ridwan"
" iya aku juga tapi jangan gini, di kira kamu gila lho"
"iya aku gila mencintai mu mas Ridwan"
Alvan tersedak es teh manis sampai hidungnya mengeluarkan cairan es teh itu kembali.
" bocah edan tenan Gusti" Alvan mengelap hidung nya.
"sehat Van?" Ridwan mengambil tisu tambahan.
"sehat kok Wan, sehat matamu kui" gerutu Alvan.
Awal untuk kisah cinta Ridwan dan Citari saat masa masa SMA hingga akhirnya kedua nya tidak menyadari akan ada yang menjebak mereka berdua.
Citari hanya ingin Ridwan itu saja tetapi Ridwan pun banyak yang suka di sekolah nya tidak hanya Citari tetapi hampir semua siswi yang selalu bertemu dengannya melempar senyum ke arah Ridwan.
Sementara Alvan sudah seringkali mengatakan ke Ridwan untuk selalu berhati-hati karena saat ini Ridwan dan Citari banyak yang menginginkan mereka berdua untuk berpisah.
Itu semua karena pemberitaan dari Aryani ke Alvan semuanya.
..........................❤️.........................
...jangan lupa komentarnya untuk membangun dan kritik nya juga, terimakasih dan tunggu kelanjutannya ya karena cerita ini bagaikan puzzle yang berantakan....
__ADS_1
..........................❤️.........................