LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
AWAL SEGALANYA


__ADS_3

...........................❤️.........................


Ketulusan Cinta


Cinta hadir tanpa di panggil.


Hadirnya membuat semua insan serasa ingin memilih cinta.


Memiliki nya terasa indah jika tanpa harus meminta.


Terkadang harus menghantui segala yang datang.


Untuk memilih ketidak tauhan di saat kesalahan datang.


Jika pernah menyakiti apakah cinta akan melupakan semuanya?


Meninggal kan hati untuk di gores dengan berdusta.


Percuma cinta jika tanpa ketulusan yang datang .


Surabaya 14 Januari 2011


...........................❤️.........................


Ridwan melangkah dalam lorong kampus yang cukup ramai, sesekali menatap cincin yang tengah melingkar di jari kiri manisnya, dia tersenyum kecil mengingat sebuah surat dari Tria untuk membuka hatinya untuk siapapun.


"Apakah mungkin aku bisa mempertahankan pertunangan ini Tria?" desisnya pelan.


Sudah hampir dua hari rasanya Ridwan di tinggal Tria untuk kuliah di luar negeri, terasa jauh rasanya seperti tak memeliki sebuah kekuatan untuk melanjutkan kehidupan nya.


"Maaf Tuan Ridwan, mobil nya di parkiran sebelah barat, jalan ini menuju parkiran timur." Adi menghadang Ridwan yang berjalan penuh lamunan.


"Oh iya, Wulan sudah di mobil? terus Alvan juga ikut?." Ridwan berbalik arah sambil membakar rokok.


"Sudah daritadi Tuan, jika tidak keberatan mungkin Tuan Ridwan bisa cerita ke saya karena Tuan Ridwan seperti mencari sebuah jawaban." ujar Adi sambil.berjalan di samping Ridwan.


"Makasih Mas Adi, nanti mungkin bisa ku ceritakan semuanya, aku percaya juga ke kamu mas Adi." Ridwan tersenyum ke arah Adi.


Ridwan kembali menghisap rokok nya dalam dalam sambil memikirkan apa yang di minta Tria dalam surat itu, sempat menghubungi Tria untuk menanyakan maksud surat tersebut tapi Tria hanya menjawab "Aku kan datang jika hatimu sembuh".


Alvan yang sengaja hanya diam duduk di belakang dengan Wulan kini melihat sahabatnya itu sedang di tengah konflik batin yang di rasakan nya.


"Waras Wan?, tumben sekali kau diam tanpa kata." Alvan membuka suaranya.


"Ngirit ngomong aja, mau? eh kau di antar siapa kesini? bukannya mas Adi daritadi di sini?." balas Ridwan sambil menunjukkan rokoknya.


"Di antar Mas Iqbal yang kebetulan lagi mau foto prewedding, Nanti aja merokok nya Wan, ada cewek soalnya, Mas Adi pulang kan wulan dulu, baru kota capcus ya." Alvan memberi arahan ke Adi yang langsung di jawab dengan anggukan.


Wulan cengo mendengar perkataan Alvan yang menginginkan dirinya untuk pulang tapi hatinya ingin mengikuti kemanapun Ridwan pergi.


Jalanan tampak sedikit ramai tapi tak membuat Ridwan terus memandangi cincin pertunangan nya dengan Tria, dia masih mencari tahu kenapa keluarga besar nya dan keluarga besar Alvan juga ikut, apakah ini sebuah ujian hati untuk Ridwan?.


Mobil pun telah sampai di depan rumah Tria, Wulan yang sebenarnya ingin mengikuti Ridwan hanya terlihat pasrah turun dari mobil tersebut.


...........................❤️.........................


Ridwan memicingkan matanya ketika melihat nama Cafe tersebut, ingin rasanya dia merubah nama cafe itu tapi apa daya itu kemauan dar Adi.


"Gimana Wan? bagus namanya? Cafe RIALDI singkatan dari Ridwan Alvan dan Adi." Alvan tersenyum jahat sambil meminta paksa rokok Ridwan.


"Asal kau bahagia Van, semuanya sudah siap kan? terus nanti malam kan mulai di buka serta jangan lupa live musik nya juga." pinta Ridwan ke arah Alvan dan Adi.


Ketiga nya bergegas untuk masuk karena setelah itu mereka akan menyaksikan secara langsung bagaimana karyawan nya yang bekerja di sana nantinya, mata Ridwan menatap lekat seorang cowok yang dulu pernah di temui nya.


"Mas Prika? bener ini mas Prika?." Ridwan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Lho kamu, kita ketemu lagi, dunia memang sempit ternyata, apa ada urusan di sini....." Prika mencoba mengingat nama Ridwan.


"Ridwan mas, sedikit liat liat saja kok di sini kan Bos nya mas Adi." balas Ridwan sambil tersenyum ke arah Adi.


"Oh jadi Bos Adi itu namanya Rialdi toh, maaf Bos, izin kan saya bekerja untuk Bos Adi." ucap Prika sambil memberikan hormat.


"Semangat kerjanya, ini cafe bukan milik saya kok tapi penyumbang besarnya Tuan Ridwan dan Tuan Alvan saya hanya mengembangkan keinginan saya untuk membuka Cafe ini." jelas Adi sambil tersenyum ke arah Prika.


"Jadi Ridwan dan Alvan itu pemilik nya? ok siap saya tidak akan mengecewakan kalian bertiga." ujar Prika dengan keyakinan tinggi.

__ADS_1


Sementara Alvan dan Ridwan berbicara tentang dekorasi tambahan nantinya sebuah ketukan pintu terdengar.


tok


tok


tok


"Tuan Ridwan dan Tuan Alvan, Ghani dan Rian sudah sampai juga untuk kasir nya masih dalam perjalanan." suara Adi dari balik pintu.


"Masuk aja mas, ini juga ruangan kita bukan ruangan saya dan Alvan saja." Ridwan sedikit berteriak.


"Terimakasih banyak Tuan Ridwan dan Tuan Alvan, kebaikan Tuan akan selalu saya jaga dan bisa kita mulai untuk menguji beberapa menu yang sudah kita sepakati untuk Cafe ini Tuan?." tanya Adi.


"Tentu dan kamu harus jadi pencicip nya juga, jangan menolak atau di hajar Alvan nanti hehehehehehe." Ridwan menatap Alvan sedikit memaksa tertawa.


Adi pun segera mempersilahkan Prika, Ghani dan Rian untuk memasak beberapa menu yang menjadi andalan Cafe tersebut.


Ghani yang sudah banyak belajar tentang kopi segera menyiapkan hidangan tentang kopi sementara Rian dan Prika yang sudah banyak belajar tentang makanan dan minuman segera membuat hidangan yang sudah di sediakan olahannya.


Ridwan yang sedari tadi menatap dari layar CCTV dapur begitu kagum melihat mereka bertiga bekerjasama untuk membuat sebuah hidangan yang tentu nantinya akan di cicipnya nanti.


"Uda tau maksud Tria Wan?" Alvan membuka percakapan.


"Sedikit banyak sudah tapi apa yakin dia dengan Wulan? bukan kah Wulan dulu juga mantan Dirga? terus aku di suruh membuka hati gitu? apalagi Lidia juga sering hubungi aku." Ridwan menyerahkan handphone nya untuk Alvan.


"Ya gimana lagi, seperti nya hatimu harus sembuh dulu Wan, kasihan Tria jika nanti kamu masih memikirkan Citari juga kan."


"Lha kalau aku nanti punya perasaan lebih ke Wulan atau Lidia? sama saja bohong ***." umpat Ridwan kesal.


"Tria tau itu tapi dia tidak ingin melihat Wulan sahabat nya yang dulu pernah di sakiti nya."


"Karena Tria merebut Dirga? gitu?, secara Tria gak mau menyembuhkan luka hati ku kenapa harus merelakan aku membuka hati? kau jadi aku capek Van." lirih Ridwan.


Adi yang sedari menyimak pembicaraan dua Bos Besar nya hanya menunggu untuk di perbolehkan berbicara.


"Mas Adi ada saran untuk Ridwan?" Alvan melemparkan pertanyaan ke arah Adi.


"Maaf sebelumnya Tuan Ridwan, boleh saya berbicara?." Adi meminta persetujuan.


"Silahkan mas karena kamu juga tahu sendiri bagaimana Wulan dan Lidia mendekat semakin liar nya kan." Ridwan kembali menghisap rokoknya.


"Jadi intinya aku harus membuka hati untuk sembuh, gitu?" Ridwan kembali bertanya.


"Lebih tepatnya Tuan Ridwan merasakan pengalaman hati untuk pernikahan Tuan Ridwan nanti dengan Nona Tria." jelas Adi.


Alvan yang mendengar ucapan Adi pun tersenyum seakan mengerti maksud isi surat dari Tria, sementara Ridwan yang mendengar ucapan Adi itu pun hanya mengangguk untuk membenarkan.


Setelah berbincang kini telah siap semua hidangan untuk di cicipi oleh Ridwan, Alvan dan Adi.


Mereka pun segera keluar dari ruangan dan menghampiri semua hidangan yang telah siap itu.


"Wuih coffelate nih, siapa yang buat?" Ridwan menatap secangkir coffelate di hadapannya.


"Gua Wan yang buat tapi sedikit kental karena memang aslinya sedikit kental." Ghani tersenyum ke arah Ridwan.


Ridwan segera menyesap coffelate untuknya sementara Alvan yang menatap Ghani sedikit bingung karena memberikan sebuah hidangan mini tart coffe.


"Ini tart? atau kue? atau dessert? atau camilan?" ujar Alvan sambil memutar-mutar piring yang berisikan coffe tart di depannya.


"Itu namanya Mini coffe tart Van, base nya coffe dan enak untuk buat camilan." Ghani menerangkan kembali.


Alvan sedikit bingung ketika merasakan sedikit gigitan dari mini tart itu sambil menaik turun kan bibirnya kemudian berucap "Wan enak nih".


Adi yang menatap Ridwan dan Alvan yang senang karena hidangan nya terlihat sangat pas dengan cita rasanya kembali menatap Rian dan Prika di depan nya.


"Oke, Rian dan Prika ya namamu? bikin hidangan apa ini?" tanya Adi.


"Ini tak kasih nama cake ubi manis yang bahan dasarnya ubi ungu yang sudah manis dasarnya serta bisa di nikmati dengan coffelate dan ini kentang dengan sedikit krispi di luar lembut di dalam karena sedikit saya isi dengan keju mozzarella." Prika menyampaikan hidangan nya.


"Enak juga, Tuan Ridwan coba nih cocok dengan coffelate yang tidak terlalu manis." Adi memberikan kesempatan Ridwan untuk mencicipi.


"kalau ini apa Rian? kok sepertinya tidak asing di mata saya." Adi sedikit menatap dekat kehidangan dari buatan Rian.


"Gua menyebut nya, steak di masak medium rare dengan sedikit base dari garlic dan bumbu rahasia dari gua." Rian sedikit bangga.

__ADS_1


"Wan, beli hotpot ya untuk hidangan steak." Alvan menatap Ridwan sambil menyantap daging steak.


"Hotpot? hotplate Van, kau bicara salah lagi tak ketak kau." ketus Ridwan sambil menyantap irisan daging steak.


"enak semuanya ternyata tapi ada satu pertanyaan buat kalian bertiga, kalian siap?." Ridwan kembali membuka suaranya.


"Kita semua siap Wan, apapun pertanyaan itu." sahut Prika mewakili Ghani dan Rian.


"Oke jadi gini, yang pertama Cafe ini buka dari jam 09.00 pagi dan tutup jam 21.00 malam, untuk mess sudah dalam tahap pembangunan jadi silahkan nanti untuk menginap di mess saja, paham? dan yang kedua kalian siap bekerja dua belas jam setiap hari? atau saya menambah personil baru? karena hidangan kalian semua ini enak dan saya inginnya pertama kali adanya shift tapi berhubung kalian memiliki skill yang sangat luar biasa apa kalian siap tidak ada shift? dengan bayaran perbulan 2.8 juta?."tanya Ridwan.


"Kalau gua pribadi itu sudah banyak Wan, tapi kalau boleh tambah personil saja karena nantinya harus ada yang menyajikan juga." sahut Ghani yang di ikuti anggukan dari Rian dan Prika.


"Kalau itu sudah ada Ghan, yang penting kalian bertiga itu siap Ndak tanpa ada shift?." Ridwan kembali bertanya.


"Siap dan kita harus bekerjasama juga untuk Cafe Rialdi ini." sahut Prika dengan penuh semangat.


Ridwan tersenyum bangga mendengar ucapan tersebut sementara Alvan dan Adi yang sudah menghabiskan semua hidangan menatap tajam ke arah pintu yang sudah terbuka dan berdiri dua cewek yang di kenalnya.


"Lidia, Wulan kenapa di sini?" Alvan membuka suaranya.


Ridwan yang mendengar nama tersebut langsung menoleh ke arah pintu Cafe tersebut sambil mengamati dua cewek yang sedang berebut untuk memeluk nya.


Prika yang kini kembali bertemu dengan Lidia kini semakin menghindar sementara Ghani dan Rian yang menatap kedua cewek itu hanya sekedar mengagumi karena mereka berdua terlihat berebut untuk memeluk Ridwan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


...........................❤️.........................


terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak 🙏🙏🙏🙏😊😊.

__ADS_1


..........................❤️.........................


Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.


__ADS_2