
...........................❤️.........................
Setelah kedua nya berbicara sangat dekat akhirnya Ridwan mengambil buku yang berisikan coretan puisi nya, mencoba mengingat semuanya secara perlahan.
Malam semakin larut tapi mata Ridwan enggan untuk menutup, masih di tatapnya dua cincin yang tengah dalam genggamannya sesekali menatap gadis yang tengah sibuk menyiapkan untuk segera beristirahat karena waktu sudah semakin malam.
"Masih jam setengah sembilan, kenapa harus bersiap untuk istirahat?" tanya Ridwan.
"Hanya menata saja Mas, lagi baca apa?" Tria menatap buku yang kini tengah di pegang Ridwan.
"Kenapa aku dulu begitu puitis?, apakah kamu tahu sebabnya?" datar Ridwan.
Tria hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ridwan, bagi dirinya Ridwan sudah puitis semenjak awal pertemuan mereka berdua.
"Puisi puisi itu pernah kamu tulis untuk Citari juga, bahkan ada beberapa foto saat Mas Ridwan juara Karate se-Jawa Bali lho." ungkap Tria.
"Hah? benar apa yang kamu katakan? kalau aku memang kejuaraan Karate kenapa aku lemah dengan perasaan untuk memiliki mu saat itu? kenapa aku tidak bisa tegas dengan perasaan ku?" Ridwan menatap lekat Tria.
"Tak bisa menyalahkan perasaan Mas tapi Tria hanya ingin Mas Ridwan berusaha dengan Tria untuk saling memiliki itu aja." pinta Tria.
"Karena apa? ada alasan khusus untuk memiliki mu?" Ridwan kembali bertanya sambil tersenyum.
"Karena kedua luka kita sama Mas Ridwan, kita berdua sama sama telah merasakan luka hati saat itu." ujar Tria sambil memberikan air mineral ke arah Ridwan.
"Oh gitu, terus apa kamu yakin jika aku bisa merubah diriku yang dulu menjadi pribadi yang baru untuk nantinya?" ujar Ridwan kemudian sedikit meneguk air mineral yang tengah terbuka.
Tria kembali tersenyum menjawab pertanyaan Ridwan, ada hal yang belum di ketahui Ridwan saat ini, tentang janji Wulan untuk Tria.
Ridwan kembali menatap kosong jendela ruang kamar inapnya tersebut, hatinya seakan berucap lirih tentang dirinya di masa lalu.
Jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh tapi Ridwan masih tetap mencoba mengingat semuanya.
"Tria, kalau capek istirahat saja, aku hanya ingin mencoba mengingat semuanya." ujar Ridwan sambil menatap Tria yang tengah memainkan hapenya.
"Mas Ridwan istirahat juga, gak mungkin juga harus mengingat serba instan kan?" Tria melangkah ke arah Ridwan.
"Tapi kedua cincin ini masih kucoba untuk mengingat semuanya dan juga kamu saat dulu."
"Istirahat Mas, yuk berbaring, jangan di pikir terus tentang dua cincin itu, masih ada hari dimana nantinya Mas Ridwan mampu mendapatkan jawaban semuanya, yang terpenting Mas Ridwan harus sehat terlebih dahulu." pinta Tria sambil mengambil dua cincin dari tangan Ridwan.
"Temani sini ya, aku janji gak bakal ngapa-ngapain kok." Ridwan menepuk kasur nya seolah memberikan kode untuk Tria.
"Tria di samping Mas Ridwan saja, yuk bubuk Mas, doa dulu sebelum tidur." Tria mengecup kening Ridwan.
Tria menarik selimut untuk menutupi tubuh Ridwan, tangan Ridwan segera menarik tangan Tria dan kemudian di genggamnya erat.
"Berjanjilah untuk membantu mengingatkan ingatanku seutuhnya." pinta Ridwan.
"Insyaallah Mas Ridwan, selamat istirahat." ujar Tria sambil membalas genggaman erat Ridwan.
Ridwan perlahan-lahan menutup matanya untuk segera beristirahat sementara Tria memandang wajah calon suaminya itu hanya tersenyum getir.
"Apa Tria pantas untuk mendampingi mu kelak Mas? apa kata Wulan nantinya? terlalu rumit masalah ini." lirih Tria sambil mengelus rambut Ridwan pelan.
Tria ikut terlelap di samping tubuh Ridwan, genggaman tangan nya tetap erat di tangan Ridwan.
.
.
.
.
.
.
.
Tria terbangun ketika mendengar alarm berbunyi dari handphone nya, segera dia menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu setelah itu menunaikan dua rakaat shubuh.
Ridwan terbangun juga setelah mendengar gemericik air dari arah kamar mandi.
"Jam berapa ini? kok sudah bangun dia?" selidik Ridwan.
__ADS_1
Tria yang telah selesai wudhu itu pun tersenyum manis ke arah Ridwan.
"Habis Tria shalat kita jalan jalan yuk Mas." ajak Tria sambil memakai mukena nya.
"Iya, jangan lupa doakan ingatanku sembuh ya." pinta Ridwan.
Tria mengangguk dan melaksanakan dua rakaat dengan khusyuk nya, Ridwan hanya memandang kagum ke arah Tria.
Ridwan mengambil air mineral yang tinggal setengah dan meminum nya habis sambil tak melepaskan tatapan matanya ke arah Tria.
"Cantik ternyata dia." batin Ridwan sambil tersenyum.
Tria yang telah selesai ibadah itu pun bergegas merapikan mukena dan sajadah nya.
Setelah semua rapi dia bergegas mengambil kursi roda untuk Ridwan dan meletakkan di samping ranjang Ridwan.
"Ayo Mas, mumpung masih pagi, udara pagi bagus untuk kesehatan mas Ridwan juga." ajak Tria sambil membimbing Ridwan untuk segera duduk di kursi roda untuknya.
"Makasih, oh ya aku mau tanya boleh?" ujar Ridwan setelah duduk di atas kursi roda.
"Apa Mas?, mungkin bisa tak bantu jawab." jawab Tria sambil meraih air mineral untuk di bawanya.
"Tadi malam aku bermimpi, bertemu dengan Tri Wulandari, apakah kamu mengenal nya Tria?" ucap Ridwan sambil menatap manik manik Tria.
Wajah Tria berubah seketika saat mendengar nama sahabat nya, apakah dia akan berbohong untuk kebaikan Ridwan?
Tria masih diam belum bisa menjawab pertanyaan Ridwan, pandangan nya kosong, hingga.....
"Tria? kamu baik baik saja kan?" Ridwan membuyarkan lamunan Tria.
"Ehm Tri Wulandari ya Mas? kenapa Mas Ridwan bisa bermimpi tentang nya?" Tria balik bertanya.
"Lho kok balik bertanya? emang sih aku mimpi dia berkata kalau aku hanya milik nya dan dia juga berkata jika kamu telah merebut kekasihnya dulu, apa itu benar?" Ridwan menyelidik wajah Tria.
"Itu hanya bunga mimpi Mas, tak ada hubungannya dengan hubungan kita, memang Wulan sahabat Tria kok." sahut Tria suaranya sedikit bergetar.
Ridwan yang mendengar ucapan Tria segera mengangguk kepalanya yang tak gatal.
Aneh batin Ridwan, kenapa dia bisa bermimpi tentang Wulan dan ada hubungan apa dengan Tria di masa lalunya.
Samar samar dari kejauhan seorang gadis berjalan ke arahnya, semakin mendekat ke arah Ridwan dan Tria yang sedang bersenda gurau.
Tria yang menyadari bahwa ada yang datang dari arah berlawanan pun segera mengalihkan pandangannya untuk menatap dari arah gadis yang berjalan ke arahnya.
"Wulan?" desis pelan Tria.
Ridwan yang tengah menatap Tria segera mengikuti arah pandangan Tria.
Ridwan menepuk pelan tangan Tria yang berada di atas bahunya hingga membuat Tria sedikit terkejut.
"Ada apa? kok sepertinya kamu ketakutan?" Ridwan menilisik wajah Tria.
"Itu Wulan Mas, kok tumben pagi pagi sudah datang berkunjung ya?" Tria sedikit memastikan jawaban nya tak mengundang Ridwan curiga.
"Hah? Wulan? jadi benar mimpiku tadi malam, lumayan cantik juga dia." Ridwan berucap jujur di samping Tria yang tengah membuka kan air mineral untuknya.
"Iya memang cantik kok, aku saja kalah cantik nya dengan nya Mas, nih minum dulu Mas." ujar Tria sambil memberikan sebotol air mineral ke arah Ridwan.
Benar saja Wulan yang tengah berjalan ke arah mereka berdua segera menghambur kan pelukan ke arah Ridwan.
Ridwan yang merasa tak kenal pun segera mendorong lemah tubuh Wulan yang tengah memeluknya.
"Siapa? Anda siapa main peluk seenaknya?" ketus Ridwan.
"Ini aku Mas Ridwan, aku Wulan kekasih mu." sahut Wulan riang.
"Hah? kekasih ku?, maaf, saya sudah bertunangan dengan Tria." tegas Ridwan.
Pandangan Wulan beralih menatap tajam Tria yang sedikit tersenyum ke arah Wulan.
Ada perasaan tidak suka di hati Wulan ketika Ridwan mengatakan bahwa Tria tunangan Ridwan, hanya milik Ridwan.
Perasaan benci Wulan ke Tria pun muncul hingga akhirnya dia menyiapkan rencana untuk merebut Ridwan dari Tria.
"Oh jadi Lu sudah meracuni Mas Ridwan?, emangnya Lu belum cerita kalau Lu dulu meninggalkan Mas Ridwan untuk mengejar Danis ke luar negeri?" culas Wulan sambil meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Maksudnya apa kamu bilang gitu Wulan!, kamu gak berhak bilang itu di depan Mas Ridwan!, Mas Ridwan masih dalam tahap pemulihan!, pergi dari sini atau Tria panggil keamanan untuk mengusir mu dari sini!" ancam Tria tak mau kalah.
Ridwan yang mendengar ucapan Wulan mengerenyitkan dahinya seakan-akan mengingat nama Danis.
Sementara keributan tengah terjadi antara Wulan dengan Tria, Alvan dan Adi tengah berlari kecil untuk melerai mereka berdua.
"Mas Adi, telfon Mas Iqbal segera!" pinta Alvan sambil memberikan ponselnya ke Adi.
Alvan yang telah sampai di antara Wulan dan Tria pun segera mendorong kursi roda Ridwan untuk menjauh sambil memberi isyarat ke Ridwan untuk tetap diam.
Kini Ridwan kembali ke kamar inapnya di susul oleh Tria dan Wulan yang sedari tadi masih adu mulut.
Adi yang ingin menengahi perdebatan mereka berdua hanya bisa menunggu Bos Besar nya datang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apakah Ridwan terpengaruh dengan perkataan Wulan tentang Tria? mampukah Ridwan mengingat semuanya meskipun nantinya menelan pahit kembali?
.
.
.
...........................❤️.........................
terimakasih untuk semua pembaca, kunjungi juga ya novel terbaru berjudul CINTA UNTUK SENJA, tetap stay on terus ya, jangan lupa vote ya 😊
..........................❤️.........................
__ADS_1
Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.