
Tria kembali menunduk lebih dalam, dia belum seratus persen yakin jika Ridwan memang menginginkan menikah dengan nya tetapi hati kecilnya selalu bilang bersedia untuk menjadi istri Ridwan.
"Iya Mas Ridwan, Tria mau, sekarang fokus menyetir dulu saja ya." pinta Tria memohon ke Ridwan untuk kembali fokus menyetir kembali.
"Akhirnya mau juga, yauda setelah ini kita persiapkan semuanya, besok aku ke rumah mu membawa ayah mama untuk melamar mu." ucap Ridwan sambil tersenyum mengembang.
"Hah besok? apa gak terlalu cepat Mas? apa Mas Ridwan gak ingin kita pacaran dulu gitu?." ujar Tria memancing iman Ridwan.
"Tria, aku sudah ingat semuanya, kalau pacaran dulu kita gak tau kedepannya hubungan kita kan?." Ridwan bertanya balik.
"Lho, bukan kah setelah menikah pun banyak godaan nya ya Mas?." timpal Tria gak mau kalah.
"Ya itu bergantung kita, bergantung aku dan kamu, kalau di antara kita tidak membuka pintu untuk kehadiran orang ketiga ya aman aman saja, benar kan?." kini Ridwan menghentikan mobilnya untuk bercengkrama dengan Tria.
"Mas Ridwan yakin menikah dengan Tria? meskipun nanti kita long distance relationship setelah menikah pun?." wajah Tria menatap serius ke arah Ridwan.
"Tiga bulan setelah pernikahan kamu boleh melanjutkan kuliah mu, bisa Tria?."
"Bisa saja sih tapi Tria mau tanya, jawab jujur."
"Iya tanyakan saja."
"Kenapa Mas Ridwan yakin dengan Tria? kenapa bukan menjajaki hati Tria dulu? pernikahan itu sakral lho Mas dalam Agama maupun Negara."
__ADS_1
"Ya, aku sangat yakin meskipun kondisinya bagaimana pun, besok aku buktikan kesungguhan ku untuk menikahi mu Tria." ucap Ridwan mantapkan hati nya.
Pagi beranjak siang, Ridwan yang tengah menunggu ayah dan mamanya untuk berbicara tentang acara lamaran nya untuk Tria pun mondar mandir sambil mencoba mencari bahasa yang tepat.
"Tuan Ridwan ada yang bisa di bantu?." ucap Adi yang dari tadi menatap Ridwan mondar mandir.
"Kata kata dan kalimat yang tepat untuk meminta ke-dua orangtuaku untuk melamar Tria." balas Ridwan sambil membakar rokoknya.
"Itu mudah sekali Tuan Ridwan."
"Bagaimana caranya? contoh kalimatnya?." gusar Ridwan.
Ayah Mukti dan Mama Inah yang sedari tadi menatap Ridwan dari jauh hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku anaknya yang di landa asmara itu.
"Maaf Tuan muda, saya tinggal, silahkan bicara dengan Tuan Besar, saya pamit dahulu Tuan Mukti dan Nyonya Inah." ucap Adi sambil memberikan hormat.
Ridwan terpaku mendengar ucapan Adi yang mengucapkan nama ayah dan mama nya, hatinya berdebar kencang, kalut dan cemas tentunya.
"Silahkan, oh ini yang mau melamar Tria, kapan mau di lamar kan Tria nya mas?." ucap Ayah Mukti santai.
"Besok, dan dua hari lagi menikah, bisa yah? bisa kan ma?." Ridwan merubah sikap dan sifatnya menjadi anak kecil.
"Hahahahahahahaha sama seperti Ridwan kecil dulu, persis tidak berubah, baiklah bersiap lah untuk menikah tapi jika kau menyakiti Tria maka bersiaplah burung kau ayah potong." suara ayah Mukti tegas sambil menatap ke arah Ridwan penuh kengerian.
__ADS_1
Ridwan hanya mengangguk setuju sambil membayangkan juniornya di patahkan oleh ayah nya sendiri.
"Yauda, Ma yuk kita persiapkan buat pernikahan anak pertama kita yang manja nya luar biasa ini." ajak Ayah Mukti ke Mama Inah.
"Oke Ayah, Besok setelah lamaran kita ke butik untuk mengambil semua baju nya ya nak, jaga kondisi kesehatan mu juga, biar Ayah dan Mama yang urus semuanya." ujar Mama Inah sambil membelai lembut rambut Ridwan.
"Makasih Mama, Ridwan sayang Mama." ucap Ridwan sambil memeluk Mama nya.
"Mau ngapain? Uda gede ngapain peluk istri orang? sana istirahat." usir ayahnya.
Ridwan hanya melongo menatap ayah nya seakan tak percaya, kedua orangtuanya segera melesat menyiapkan semuanya.
Ridwan memandang wallpaper handphone nya yang terpampang wajah manis Tria.
"Semoga kamu terakhir bagi ku Tria." lirih Ridwan.
Rumah besar Ridwan yang biasanya sepi kini pun tampak ramai dan sibuk untuk persiapan besok acara lamaran Ridwan dan Tria.
Alvan yang baru datang di rumah Ridwan kini hanya memasang wajah bingung nya.
"Permisi Bi, ini ada apa ya kok ramai dan sibuk sekali?."tanya Alvan ke salah satu asisten rumah tangga di rumah itu.
"Oh den Ridwan besok melakukan lamaran ke Nona Tria den, permisi saya harus mempersiapkan acara besok." Panin asisten rumah tangga itu.
__ADS_1
"Hah? secepat itu Ridwan melamar Tria?." lirih Alvan sambil menatap ke arah foto Ridwan.