
"Apa syaratnya Mas?." tanya Tria polos.
Ridwan sambil tersenyum mengangguk dan berjalan ke arah Tria sambil melonggarkan kemeja nya serta membuka dua kancing kemeja nya.
"Mas, jangan bilang syarat nya......" Tria terlihat pucat.
"Kenapa? bukan kah aku juga bakal menikah i mu? apa kamu keberatan jika aku meminta hak ku sekarang?." tubuh Ridwan merangsek maju ke tubuh Tria.
"Tapi kewajiban mu untuk menghalalkan ku belum Mas! jangan seperti ini!." wajah Tria merona merah menahan malu dan marah sekaligus.
"Hem, jadi menikah mu dulu? baru merasakan yang enak enak?." Ridwan mengendorkan pelukannya dari tubuh Tria.
"Hah? enak enak? maksudnya?." polos Tria.
"Ya enak enak gitu, polos sekali kau atau jangan jangan kamu pernah ya?." selidik Ridwan sambil menaik turunkan alisnya.
"Gak jelas banget nih Mas Ridwan, masih mau nikah ndak sama Tria?." cemberut Tria.
"Ndak tau masih penasaran dengan tuh Kakak mu, siapa sih dia? ada hubungannya apa dengan mu dulu?." selidik Ridwan.
"Yaelah ini orang malah gak percaya, dia hanya seorang Kakak bagiku Mas, tak ada spesial juga darinya." perjelas Tria.
"Oh begitu, kamu menarik ternyata, banyak cowok yang menaruh hati dengan mu termasuk aku, setelah menikah kamu tetap ke London? Meneruskan apa yang harus di teruskan? Apakah kita harus long distance relationship Tria?." ucap Ridwan pesimis.
"Menarik tidak nya diriku hanya satu hati saat ini serta selamanya untuk Mas Ridwan dan aku tetap akan melanjutkan kuliah ku di Inggris." sahut Tria tersenyum ke arah Ridwan.
"Berarti aku lanjutkan kuliah ku di sini dan meneruskan perusahaan dari ayah juga, aku hanya takut ketika long distance relationship nantinya." suara Ridwan terdengar pesimis kembali.
"Apa yang Mas Ridwan takutkan? Aku bisa jaga diri Mas, ada yang Mas Ridwan sembunyikan dariku?." selidik Tria.
"Aku hanya takut kehilangan apa yang harus ku jaga nantinya karena di Inggris ada yang menunggu ku untuk membalas dendam pada keluarga ku Tria dan nantinya berdampak ke kamu juga." Ridwan terlihat khawatir.
"Kita hadapi bersama Mas, jangan menghindari dari permasalahan, aku sudah tahu kalau Ayah Mukti memang banyak yang memusuhi di bisnis nya, Mas Ridwan sebagai calon pemimpin perusahaan Mukti Group harus kuat juga dong, jangan lemah." ucap Tria memberi semangat.
"Menikah lah dengan ku Tria karena ku yakin kamu adalah Last Love For Me." sahut Ridwan menatap lekat Tria.
Tria tersenyum mendengar ajakan menikah dengan Ridwan, sementara di luar ruangan Alvan dan Adi sedang berdebat untuk melindungi Ridwan dan Tria nantinya.
"Adi setelah Ridwan menikah, dia akan muncul dari masa lalu keluarga Mukti, apa kamu siap nantinya? Karena dulu Ridwan pernah di jodohkan saat kecil tapi sayang sekali, Ayah Mukti mengetahui kebusukan keluarga mereka." sengit Alvan.
"Saya pribadi akan mengawal Tuan Ridwan dan Tuan Alvan dengan nyawa saya karena Tuan Iqbal sudah memberikan informasi ini Tuan tetapi apakah Nona Tria akan tetap di Inggris? Jika benar tetap melanjutkan di Inggris maka nanti yang di serang....." ucapan Adi terputus karena menatap orang asing yang memasuki cafenya.
Alvan pun mengikuti pandangan Adi, netra nya seakan mewaspadai apa yang akan terjadi.
"Biar dulu aja Adi, dia hanya membeli kopi juga sepertinya, oh ya kamu sudah tahu tentang Nicho? Apakah pantas kita menaruh curiga ke dia?." tanya Alvan.
Adi hanya menghela nafas panjang dan sedikit membuang nafas teratur, sebentar lagi semua akan berubah 180° ketika Ridwan sudah menikah.........
"Kalian berdua masih di sini?, aku mau keluar dulu, empat hari lagi aku dan Tria menikah." ucap Ridwan sambil mengambil rokok milik Adi.
"Yauda, Adi temani Ridwan dan Tria, jangan lengah." pesan Alvan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Empat hari berlalu dengan cepat, kini Ridwan menatap bayangan nya di pantulan kaca.
"Setelah ini, apa yang akan terjadi lagi?." ucapnya sambil membenarkan letak dasinya.
Sementara di kamar pengantin terlihat kesibukan MUA merias Tria dengan cekatan.
"Lho, Eike cuman moles aja cyin, emang dari sononya sudah cantik, pasti laki lu klepek klepek melihat riasan Eike." ujar perias tulang lunak itu.
"Sudah sudah, ini mau ijab, kapan selesainya menantu saya selesai kalau bertengkar terus gini." ucap Mama Inah menengahi Tria dan perias.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
Ridwan melangkah mantap menuju ruang tengah untuk melaksanakan ijab qobul nya, Alvan mendampingi nya sambil terus memberikan semangat.
"Tenang Wan, nanti malam akan beres kok." cengir Alvan.
"Nanti malam? emang ngapain?." Ridwan menoleh ke Alvan.
"Belah duren." singkat Alvan.
"Hah? duren? perasaan aku gak pesan duren deh." polos Ridwan.
"Dasar polos, sudah sana segera Ijab Qabul." Alvan mendorong tubuh Ridwan untuk segera duduk di depan penghulu dan mertuanya.
"Bagaimana nak Ridwan sudah siap?." suara penghulu menyadarkan Ridwan yang tengah mencari Tria.
"Maaf, Tria mana?." tanya Ridwan.
"Ijab Qabul dulu sana!." tegas Alvan menarik tangan Ridwan.
Acara pernikahan Ridwan dengan Tria terlihat meriah, banyak kolega bisnis yang datang untuk memberikan selamat untuk Ridwan dan Tria.
"Saya nikah dan kawin kan saudara Ridwan bin Mukti dengan saudari Tria Ifadah Dewi binti Hadi dengan maskawin seperangkat alat shalat dan sepuluh gram emas di bayar tunai!." suara tegas penghulu sembari menghentak genggaman tangan Ridwan.
"saya terima nikah dan kawinya Tria Ifadah Dewi dengan maskawin dibayar tunai!."
"Bagaimana sah saudara saudara?." tanya penghulu.
"Sssssaaaaaahhhhh." ucap serentak semua tamu.
"Alhamdulillah, bawa mempelai wanita kesini Tuan Hadi." ucap Ayah Mukti.
Ridwan menatap kedatangan Tria yang memakai pakaian pengantin dengan anggun dan cantik di matanya, hatinya berdebar mengingat cinta hatinya berakhir di Tria Ifadah Dewi.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
END