LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)

LAST LOVE FOR WHOM? ( Cinta Terakhir Untuk Siapa?)
TAK TERBALAS


__ADS_3

...........................❤️.........................


" Cinta tanpa balas memang selalu perih, seharusnya tak memaksakan memiliki seseorang karena pada akhirnya dia hanya akan membalas setengah hati. Bukan seutuhnya kekasih yang menyejukkan jiwa" Khibban NurCahyo.


...........................❤️.........................


Ridwan sudah bersiap untuk keluar bersama Tria untuk menghabiskan waktu untuk saling mencintai, dia meneguk sedikit kopinya sambil menghisap rokok nya , Iqbal, Tantri, Ghani dan Rian pun sudah balik ke Gresik tanpa mau ikut nongkrong dengan Ridwan beserta Alvan.


" permisi Tuan Adi, nanti keluar saya di suruh ikut sama Bos Besar Iqbal jadi nanti naik mobil Alphard saja, saya pamit dulu." Adi bergegas mengeluarkan mobil Alphard yang tadi di gunakan ke kampus.


Ridwan pun mengangguk seakan faham perhatian dari Iqbal dan Alvan yang ingin melindungi nya dari kejadian apapun yang menerpa nya nantinya. Alvan yang sedari tadi sibuk membuat kopi di dapur pun duduk di samping Ridwan yang sedang asik dengan lamunan nya.


" Wan, rokok Wan, mikir opo toh?." Alvan meraih rokok Ridwan yang di samping cangkir kopinya.


" Van, tugas kuliah besok gak ada kan? terus kau ada tugas gak? jangan mentang-mentang orang tua kita kaya raya jangan seenaknya Van, ingat kita juga berkeluarga nantinya." Ridwan berceramah.


" Nggih Ustadz Ridwan, tugas ku sudah selesai barusan tuh ku kerjakan, mau kemana kita? Adi jadi ikut kan?." selidik Alvan.


* Jadi tapi Adi juga nanti ikut ke Mall? emang dia mau......Cantik kali dia Van......" ucapan Ridwan terputus melihat Tria berjalan ke arah nya.


Alvan melihat ke arah pandangan Ridwan dan matanya mengarah ke Ria yang berjalan di samping Tria.


" Cantik bener dia Wan, Terasa tegang nih Joni ku untuk segera menghalalkan dia, harus nikah dengan Ria, bidadari seperti itu tak boleh lepas." Alvan menelan savelinya.


" Otak kau macam aliran sungai keruh kalau suruh mikir nikah, yauda habiskan tuh kopi, kita berangkat." ajak Ridwan sambil menghisap rokoknya yang hampir habis.


" Tuan Ridwan permisi, kita mau kemana? nanti saya di minta untuk tetap mendampingi Tuan Ridwan dan Tuan Alvan juga untuk berbelanja di Tunjungan Plasa Surabaya." Adi menunduk memberi hormat.


" Mas Iqbal yang memberi instruksi kah Adi? kalau iya gak apa ikut aja tapi nanti kamu juga harus belanja kebutuhan mu dan aku yang nanggung semua, jangan menolak, awas kamu tolak!, faham?." tegas Ridwan.


" Siap Tuan, terimakasih banyak, silahkan masuk ke mobil karena Tuan Alvan, Nyonya Tria dan Nyonya Ria sudah menunggu di mobil." ajak Adi.


Ridwan berjalan ke arah kursi depan samping penumpang sehingga membuat Tria sedikit kesal karena ingin bermanja-manja dengan Ridwan.


" Sayang sama Ria saja dulu, tuh Alvan jangan kasih longgar dekati Ria, Adi belum faham Surabaya juga, tolong ngerti ya sayang." Ridwan menatap Tria yang ingin duduk di sebelahnya.


Adi pun segera menginjak gas mobilnya Ridwan untuk bergegas menuju Tunjungan Plasa Surabaya, sepanjang perjalanan Ridwan berbicara seputar bisnis yang di cita-citakan Adi untuk membantu keluarga Adi di Gresik.


" Adi, tawaran ku bagaimana? kalau ma buat Cafe kita cari tempat nya dan kamu sendiri juga gak mau kuliah seperti Rian dan Ghani sementara adik adik mu butuh pendidikan juga kan? bagaimana?." Ridwan menawarkan ide nya ke Adi.


" Maaf Tuan Ridwan, Adi sebenarnya ingin membuat bisnis tapi nanti ngembalikan nya bingung Tuan, jadi saya pikir matang matang terlebih dahulu." Adi tetap fokus menyetir.


" Woi Adi, kalau kau gak mau bisnis terus apa kau tega adik mu sampai lulus SMP saja? aku juga bantu Ridwan dan kita sama sama membantu, ingat Di kau keluarga besar Mukti dan Wicaksono juga jangan tolak atau kita baku hantam aja." Alvan sedikit menyulut emosi Adi.


"Mas Adi, ikuti apa yang di sarankan mas Ridwan dan mas Alvan, nanti kita akan promosikan ke teman sekolah kita dan kita bantu juga kok, benar begitu Kak Ria?." Tria mencari jawaban di wajah kakaknya itu dan Ria pun mengangguk setuju.


Adi pun tersenyum mengingat kebaikan dari keluarga besar Mukti dan Wicaksono yang selalu membantu nya dan keluarga nya. Ridwan dan Alvan tau kalau Adi ingin memiliki usaha Cafe dan Tradisional Food itu pun segera berbicara dengan keluarga besar masing-masing dan Alhamdulillah nya mereka semua mendukung dan bersiap membantu mewujudkan cita cita Adi.


" Terimakasih banyak Tuan Ridwan, Tuan Alvan dan Nyonya Tria, saya akan mencari tempat untuk mengembangkan usaha saya tanpa Tuan Ridwan dan Tuan Alvan ikut mencari tempat nya karena nanti akan kelelahan." ujar Adi sopan.


" Uda kita berdua ikut dan sekalian kita hunting tempat bersama kalau kamu sendirian nanti di culik gimana hayo?." seringai Alvan.


" Lucu juga kau Tokek tempur, gini aja Di, kita cari bersama nanti sepulang dari belanja karena besok ternyata gak ada jam kuliah aku, gimana? oke kamu setuju, kamu luar biasa." ucap Ridwan sambil mengacungkan dua ibu jarinya ke arah Adi.

__ADS_1


Adi pun hanya tersenyum melihat kelakuan Tuan nya tersebut sambil fokus menyetir menuju pusat pembelanjaan yang sudah di atur Alvan.


" Sudah sampai Tuan dan Nona, saya ikut turun untuk mendampingi kalian semua." ucap Adi sambil mempersiapkan pistol Magnum pemberian dari Iqbal serta surat surat legalitas kepemilikan senjata api.


" Ngapain bawa itu? yakin gak apa sama satpam?." selidik Alvan.


" Aman Tuan karena surat izin kepemilikan senjata api ini dari partner Tuan Mukti dan Tuan Wicaksono jadi satpam pun mengetahui nya." ucap Adi sambil memasukkan peluru tajam ke pistol nya.


" Isi peluru hampa aja, jangan peluru tajam, ingat kita belanja bukan baku hantam Adi." Ridwan memberikan saran.


Adi pun mengangguk setuju dan segera dia memasukkan peluru hampa ke dalam pistol nya sementara itu Tria dan Ria sudah berjalan terlebih dahulu karena ada penjual Ice cream di depan pintu masuk.


Ridwan berusaha menyusul nya bersama Alvan tapi ada cowok yang berbicara merah dengan Tria dan Ria.


" Eh Tria sayang, kok di sini? kita jodoh ya bisa di sini bersama an, mau Ice cream? sini ku belikan rasa strawbery kan?." ujar Yudi sambil menatap lembut Tria.


" Dih siapa mau berjodoh dengan mu, aku kesini sama tunangan ku tau gak sih kamu?." protes Tria sambil menampik tangan Yudi yang berusaha memegang pipi Tria.


Adi yang mengerti keadaan Tria pun langsung bergegas berlari menuju Tria di ikuti Ridwan dan Alvan yang khawatir jika Adi akan emosi ke cowok tersebut.


" Lepaskan Nyonya Tria, atau ku pecah kan kepala lu, cklelck.." ujar Adi bersamaan dengan pistol nya mengarah ke pelipis kepala cowok tersebut.


" Sayang kamu gak apa-apa? Dia siapa? Adi lepas pistol nya." Ridwan memeluk Tria.


" Dia Yudi yang aku ceritakan, sebelahnya Danis yang kapan hari memukul mu mas Ridwan." Tria memeluk erat tubuh Ridwan.


Sementara dari jauh Lidia melihat Ridwan di peluk cewek membuat hatinya terbakar cemburu yang sangat hebat hingga akhirnya....


plllllaaaaakk ( tamparan mengarah pipi Tria)


" Kau apakan tunangan ku? kau tau kan jika kau bermain main dengan ku nantinya kamu akan tahu akibat nya, ppppllaaaakkk....." Ridwan menampar keras pipi Lidia.


Alvan yang melihat itu pun segera melerai mereka semua dan menghampiri Ridwan yang masih terbakar emosi.


" Wan, itu perempuan Wan jangan asal nampar juga kalau perlu nih pisau." ujar Alvan sambil memberikan pisau mainannya.


" Gak lucu Van, biar dia tau juga rasanya di tampar, dan kamu Yudi, kamu yang namanya Yudi? asal kamu tau Tria sudah bertunangan dengan ku kalau kau mau dia langkahi mayat ku dulu." ujar Ridwan sambil memegang kera baju Yudi.


Sementara Danis yang ketakutan melihat Adi ternyata anak buah Bos Besar Iqbal pun segera mundur jauh tapi sayang dia tertangkap anak buah Adi yang berada di sekitar Tunjungan Plasa Surabaya tersebut.


" Mas Ridwan sudah mas, sabar mas, lepas dia mas, Tria mohon lepas mas." rengek Tria.


" Kalian semua ikut saya keluar dari gedung ini dan kalian jalan ke Cafe itu segera." ujar Alvan sambil menggenggam Ria untuk tidak ikut emosi.


Mereka semua berjalan ke arah Cafe depan Tunjungan Plasa Surabaya, Adi segera memboking tempat tersebut untuk kenyamanan berkomunikasi dan menyelesaikan masalah agar tidak terdengar Bos Besar Iqbal, karena dia tahu bahwa Yudi dan Danis adalah anak buah yang di cerita kan Ghani dan Rian.


Ridwan segera memesan kan semua beserta Snack untuk camilan saat berbincang nantinya, akan tetapi Pelayan Cafe tersebut menolak untuk di bayar.


" Maaf Tuan Ridwan ya ini? selamat datang Tuan Ridwan di cafe Mukti dan Inah, saya antar kan pesanan Tuan Ridwan segera." ujar pelayan cafe tersebut.


" Hah ini cafenya ayah dan mama? seja kapan mereka buka Cafe di sini? tanpa pemberitahuan pula." Ridwan mencari jawaban ke arah pelayan Cafe tersebut.


" Alhamdulillah sudah berjalan tiga tahun Tuan, Tuan segera duduk saja." pelayan Cafe terlihat cekatan dalam kerjanya.

__ADS_1


Ridwan pun segera keluar dan melihat logo Cafe tersebut sambil berbicara dengan ayahnya tentang Cafe tersebut, hingga akhirnya dia tersenyum karena dia terlalu sibuk dengan dunia cinta nya hingga tak hafal berapa banyak Cafe yang di dirikan ayahnya tersebut.


Ridwan melangkah ke arah Adi yang masih menodong kan pistol ke arah Yudi dan melihat ketegangan Lidia di depan Tria tunangannya.


" Adi, taruh pistolnya, kalian semua sudah makan? aku sudah pesan makanan untuk semua dan gak usah sungkan serta beranggapan saya menyogok untuk berdamai." Ridwan duduk di sebelah Tria sambil mengarahkan pandangannya ke pipi Tria yang terlihat merah setelah di tampar Lidia.


" Baik Tuan Ridwan, Awas Lu buat onar, gua bikin mampus di hadapan Bos Besar Iqbal, jangan ganggu Nyonya Tria, faham Lu!!." hardik Adi sambil menonyor kan pistolnya ke pelipis Yudi.


Yudi, Danis, Vita dan Lidia pun menelan savelinya kasar melihat bahwa Ridwan dan Alvan bukan dari keluarga yang biasa saja, tetapi penampilan Ridwan yang sederhana mampu menutupi semua yang di milikinya.


" Wan, Cafe mu nih, pasti belum tau kan haahahahaahaahaha." Alvan mencair kan suasana yang mencekam.


" Udah kita bahas saja jalan keluarnya Van, oh ya Yudi saya Ridwan dan kamu Danis kan yang kapan hari memukul ku di sekolah kan? katanya kamu mau minta bantuan Mas Iqbal kan? kalau semisal Mas Iqbal tau yang mukul saya adalah kamu dan Yudi berusaha merebut Tria dari saya? kalian berdua siap untuk tinggal nama di muka bumi?." Ridwan menjelaskan sedetail nya.


" Apa?!! Lu pukul Tuan Ridwan?!! cari mati Lu anak muda!!." Adi melayang kan pukulan nya tapi segera di tangkap Alvan.


" Adi sudah!, Ridwan sudah memaafkan juga, kalian berdua tau? kalau Mas Iqbal itu siapa?." Alvan menatap Yudi dan Danis berganti an.


" Maaf mas Adi kita tidak tau dan Bos Besar Iqbal siapanya lu emang? jangan sok kenal lu dengan Bos Besar Iqbal." lancang Danis.


Bbbbuuuuuaaaakzzzzzzz ...( pukulan Adi mengenai perut Danis sangat keras)


" Lu yang benar kalau ngomong!!!, Bos Besar Iqbal itu kakak kandungnya Tuan Alvan dan kakak angkat dari Tuan Ridwan, ngomong di atur dikit tuh mulut!." Adi kembali melayang kan pukulan ke perut Danis.


" Adi!!! berhenti!!! kau pukul dia buat apa? sudah!!! kita bahas ini semuanya!, kamu Lidia ada pertanyaan?." Ridwan menatap Lidia.


Lidia dan Vita yang sedari tadi masuk perangkap Ridwan karena berusaha memisahkan Tria dari Ridwan pun hanya menunduk malu.


" Wan, Aku minta maaf kalau dia tunangan mu, maaf Dik jika aku berusaha memiliki hati Ridwan." Lidia memohon ke Tria.


" Kak, jangan gitu, sudah kita maafkan semuanya, Yudi itu adiknya kakak kan? Yudi, saya sudah kubilang kan jangan ganggu saya untuk jadi pacarmu karena apa kita hanya teman, selepas Dirga memilih Citari untuk pasangan nya saya di lamar Mas Ridwan yang dulu juga mantan Citari tapi kini kita saling memiliki bukan begitu mas Ridwan?." Tria bergelayut manja ke lengan Ridwan.


" Jadi Dirga itu mantan mu? dan Citari tunangannya mantan Ridwan?." Lidia terperanjat seakan tak percaya.


" ya benar itu, dan kamu Lidia kita teman saja jangan berharap lebih, jangan berharap kita saling memiliki juga karena aku ingin tenang memiliki satu hati untuk selamanya dan maaf cintamu ke aku tak kan pernah terbalaskan, maaf dan maaf karena aku sudah sayang ke Tria." Ridwan mengecup kening Tria di depan Lidia.


Hal tersebut membuat Yudi emosi dan akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Tria sementara Lidia menatap Ridwan sambil mengangguk sendu di ikuti bulir air mata nya terjatuh.


Cinta Lidia memiliki Ridwan kini terhalang tembok pertunangan dengan Tria hingga dia sedikit sesak memikirkan itu semua.


apakah benar cintanya itu tak terbalas?


.


.


.


...........................❤️.........................


...terimakasih untuk semua pembaca,tetap ikuti puzzle cerita cinta berjudul LAST LOVE FOR WHOM? thank you very much reader, tinggal kan jejak 🙏🙏🙏🙏😊😊....


..........................❤️.........................

__ADS_1


Nb: yuk vote kakak semuanya dan komentar nya dong agar semangat lagi author nya, hehehehehehe😀😀😀.


__ADS_2