LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Kompetisi membuat gulungan kondolisasi


__ADS_3

"Kenapa kau hanya diam disitu?" Qiu er heran melihat Qin Yan yang berdiri diam. Rasanya ia ingin menggali lubang dan bersembunyi disana. Ia sudah berusaha menahan sebisa mungkin ketika berada di situasi seperti ini.


Tak lama kemudian, Qin Yan berjalan mendekatinya. Anak itu berjongkok, membuat wajahnya memerah.


Apalagi ketika Qin Yan ingin melihat lebih jelas bekas memar itu. Qiu er lebih terlihat seperti mengangkang. Gadis itu hanya bisa pasrah sambil menggigit bibirnya karena malu.


"Qiu er. Kau....." Qin Yan bergumam, sementara Qiu er sudah salah paham dengan apa yang dipikirkan oleh Qin Yan. Salam benaknya, Qin Yan pasti akan mengucapkan "Kau sangat cantik Qiu er" Seperti yang dikatakan oleh orang lain. Tapi, entah kenapa dia memang ingin mendengarnya. Setidaknya, itulah yang dia inginkan dimasa lalu.


"Kau kuat sekali." Ucap Qin Yan dengan rasa kagum.


"Eh." Seolah olah terkejut dengan apa yang didengarnya, Qiu er menatap Qin Yan dengan bingung. Bagaimana tidak, perkataan Qin Yan tak terduga.


"Apa maksudmu?" Tanyanya. Menatap Qin Yan yang wajahnya sangat serius.


"Memar ini.... Bukan memar biasa. Ini adalah fluktuasi tubuh ilahi dimana pembuluh dari dari seluruh tubuhmu berpusat disini. Mengakibatkan darahnya membeku, dan akan berdenyut setiap saat ketika kau latihan atau sedang menggunakan kekuatan berlebih. Terlebih lagi, ini sangat mengganggu kultivasi. Denyutan ini akan mengakibatkan rasa dingin dan panas menjalar di seluruh tubuh. Karena memar ini bukan hanya mempengaruhi kakimu saja, tapi juga pembuluh darah, syaraf, otak, dan jantung. Bahkan tulangmu akan merasakan dingin sementara kulitmu akan merasakan panas."


Qiu er langsung tercengang. Bagaimana mungkin Qin Yan bisa menjelaskan semua masalah yang dialami dirinya?


"Ba-bagaima kau tahu semua itu?"


"Hm...?" Qin Yan berbalik menatapnya, kemudian mulai menjelaskan.


"Itu hal yang wajar, karena pada dasarnya semua orang yang mempunyai tubuh khusus akan merasakan hal yang sama. Sebenarnya bukan hanya kau yang mempunyai tubuh khusus, Tang Liu salah satu rekan timku juga memiliki tubuh khusus. Dan satu lagi yaitu Ling Qingzhu yang memiliki tubuh giok es."


"Oh, Jadi begitu." Qiu er mengangguk mengerti mendengarnya, siapa yang menyangka kalau Qin Yan akan mengetahui banyak hal seperti ini. Dia bukan lagi pengecut seperti yang dulu. Namun bagaimana pun juga, ia penasaran apa yang membuat Qin Yan jadi berubah.


Seketika Qiu er tersadar saat Qin Yan memanggilnya berkali kali.


"Tapi bukan itu intinya, kondisimu ini sudah sangat parah. Kalau saja kau menggunakan kekuatanmu berlebihan, kau bisa saja merasakan sakit yang luar biasa. Jadi, meskipun bisa dibilang kultivasimu sangat tinggi. Tapi kau tak bisa menggunakan kekuatanmu lebih dari 70%. Atau kau akan menderita nantinya. Namun, yang lebih mengerikan. Jika hal ini tidak ditangani dengan cepat, kau bisa mengalami kelumpuhan. Meskipun ini tak mempengaruhi Meridian dan kultivasi, tapi aku harus memberi taumu. Semakin kau berkultivasi, maka tubuh ilahimu semakin kuat. Dari luar kau akan menyadari, kultivasimu sangat cepat meningkat. Namun disaat bersamaan, tubuhmu lama kelamaan akan meledak karena tubuh ilahimu yang tak bisa dikendalikan."


Qiu er terdiam dengan mata yang besar ketika mendengarkan Qin Yan.


"Benarkah itu?" Meskipun apa yang dikatakan Qin Yan terdengar mengerikan, tapi mau tidak mau ia juga kurang percaya. Bagaimana pun Qin Yan seumuran dengannya, mana mungkin ia mempunyai pengetahuan seperti itu hingga membuat kesimpulan hanya dengan melihat kondisinya. Bahkan masternya saja tidak tahu soal ini.


"Yah, itu terserah kau percaya atau tidak." Qin Yan memalingkan wajah dengan kesal, kemudian ujung dua jarinya langsung memercikan energi biru seperti api.


"Apa itu?" Tanya Qiu er lagi.


"Ini teknik Daoyin. Aku akan menanganinya sekarang." Qin Yan langsung menuju kememar tersebut. namun, sebelum jarinya menyentuh kulit Qiu er. Ia tiba tiba dihentikan oleh gadis itu.


"Apa lagi?" Tanya Qin Yan dengan tatapan kesal.


"Kau tidak mengada ngada kan? Bisa saja kau mengambil keuntungan dariku." Tatap Qiu er dengan tatapan curiga.


"Cih, baiklah nona. Terserah kau saja, kurasa percuma kalau kau tidak percaya. Yah, sepertinya tugasku telah selesai." Qin Yan membatalkan apa yang ia lakukan. Kemudian mengeluarkan beberapa item dari cincin penyimpanannya.


"Ini, berikan pada Qin ruo. Kurasa dia membutuhkannya, dan tiga item itu milikmu. Kau akan harus membukanya ketika kembali kepenginapanmu. Rasanya sia sia aku mendapatkannya setelah bertengkar dengan Shinzui waktu itu." Qin Yan pun berdiri, berbalik dan hendak pergi ketempat lain.


"Hei hei! Tunggu, kau bilang akan menyembuhkanmu kan? Hei! Kenapa kau tinggal pergi, hah!" Ucap Qiu er dengan tak senang.


"Hm...? Bukannya kau tak percaya? Yah percuma saja, bukan?." Qin Yan terap tidak berhenti, perlahan lahan ia menjauh. Meninggalkan gadis itu sendiri.


"Ka-kau.... kembali kau! Hei, baiklah kalau begitu. Akan kutarik ucapanku tadi! Hei..!!!" Karena Qin Yan tidak berhenti, entah kenapa Qiu er langsung menjadi panik. Matanya tanpa sadar memerah, ingin sekali ia menangis.


"Kumohon! Kembali Qin Yan!!" Teriaknya ketika Qin yan perlahan lahan menghilang. Setelah itu, barulah Qiu er membeku. Tangisannya tak bisa ditahan lagi. Ia hanya bisa menangis dengan kepala dibenamkan kelutut.


"Dasar brensek, setelah datang kau pergi begitu saja. Kau sama seperti dulu, taukah kau? Seberapa menderitanya aku selama ini." Qiu er sedikit sesenggukan, dan menyeka air matanya beberapa kali.

__ADS_1


"Makanya, kalau kau bilang dari tadi. Mungkin prosesnya akan mudah."


Tiba tiba Qiu er membeku, saat mengangkat kepalanya. Ia sudah melihat Qin Yan berada didepannya, sedang meracik pil dan obat.


"Ka-kau...." Belum lagi, ia selesai. Qin Yan sudah memberikan segelas ramuan.


"Minumlah, mungkin ini akan sangat sakit untukmu. Obat ini akan mengurangi rasa sakitmu. Yah, setidaknya kau menderita dulu sebelum benar benar sembuh total."


"Ini bukan racun atau semacamnya kan?" Qiu er menerima ragu ragu. Membuat Qin Yan menggigil dengan super kesal.


"Jadi kau ingin aku mengobatimu atau tidak?" Tatap Qin Yan dengan mata yang tajam.


"Y-ya... Baiklah kalau begitu." Dalam pikiran Qiu er, minuman ini mengandung ramuan yang mungkin akan membuatnya lemas. Hingga Qin Yan dengan leluasa memanfaatkan tubuhnya. Toh, Qin Yan sudah berubah kan. Tapi, ia menepis itu. Dengan pelan, ia meminum airnya sampai habis. Namun belum lama kemudian ia langsung menyemburkannya tepat kewajah Qin Yan.


"Apa ini! Kenapa pahit sekali. Puih!" Wajahnya menjadi jelek sambil membersihkan lidahnya. Disaat ia sibuk dengan urusannya sendiri, Qin Yan mengusap wajahnya yang basah. Bahkan airnya memercik hingga kepakaiannya. Melihat tingkah gadis itu, Qin Yan hanya menggelengkan kepala sambil menghela napas.


"Terserah kau saja, jangan menjelaskan aku nantinya."


Qin Yan perlahan merebahkan kaki gadis itu. Lalu ia dengan pelan memijit memarnya sedikit demi sedikit.


"AAAAAAAAAAAHHHGG.....!!!"


Seperti yang diduga, gadis itu menjerit keras. Rasanya seperti orang yang mau mati.


"Kan sudah kubilang." Ucap Qin yan, terdapat nada mengejek dalam perkataanya.


Ternyata gadis itu, tidak menyerah begitu saja. Qin Yan kira, Qiu er akan menghentikannya. Rupanya gadis itu malah menggertak gigi. Sebuah tekad yang dalam terpaut diwajahnya . Hal itu membuat Qin Yan terharu. Ia pun tersenyum tipis, kemudian melanjutkan tindakan dengan serius dan hati hati.


Jeritan jeritan menyakitkan terdengar, namun hutan tetaplah hening. Karena tempat tersebut jauh dari pemukiman. Makanya tidak seorang pun yang mendengarnya. Qin Yan tetap memijit memar gadis tersebut, meskipun Qiu er menjerit dengan keras.


Gadis itu menangis, memeluk Qin Yan dengan tubuh menggigil. Ia bahkan menggigit bahu Qin Yan hingga berdarah karena saking sakitnya.


Perlahan, ia mengikat paha gadis itu dengan lilitan perban. Lalu kembali memakaikan kaus penutup kakinya. Setelah semuanya selesai, ia langsung membawa gadis itu pulang.


********


"Tok tok tok." Terlihat Qin ruo sedang mengetuk pintu Qiu er.


"Aneh, biasanya ia membuka pintunya sekali ketuk." Alis gadis itu berkerut ketika tidak mendapat tanggapan dari orang yang ada didalam.


'Apa dia masih tidur? Padahal, pagi ini adalah kompetisi membuat gulungan kondolisasi.' Karena penasaran, ia membuka pintu tersebut. Ternyata benar saja, Qiu er tengah tidur nyenyak ditempat tidurnya. Gadis itu terlihat begitu lelah.


Karena tak ingin mengganggu, ia pun meninggalkannya.


Namun, berbeda dengan Wang Ochun. Salah satu rekan tim mereka yang berasal dari keluarga Wang. Setelah kepergian Qin ruo. Pria itu diam diam menyelinap kedalam kamar Qiu er.


Karena wajah Qiu er sangat cantik, pria tersebut tak bisa menahan untuk menelan air liurnya.


'Hehehe... kau hanyalah anak dari pedagang kecil. Tidak lama kemudian, kau pasti akan menjadi miliku." Pria itu tersenyum licik. Perlahan, ia ingin menyentuh gadis itu. Namun ia terhenti karena melihat sepucuk surat yang terselip disela bajunya.


Wang Ochun perlahan mengambil, dan dengan pelan membaca isi kertasnya.


"Jangan beritahu siapapun apa yang kita lakukan semalam. Datanglah setiap tiga hari, diwaktu yang sama. aku akan membantu memijitmu lagi."


Setelah membaca pesan itu, mata pria tersebut langsung memerah karena emosi. Tangannya gemetar sampai akhirnya kertas tersebut terbakar menjadi abu.


"Siapa orang yang diam diam berhubungan dengan Qiu er. Aku harus menyelidiki ini, setelah kudapatkan. Akan kubunuh pria itu." Karena melihat Qiu er yang gelisah, ia cepat cepat keluar dari kamar tersebut.

__ADS_1


********


Aula asosiasi Kondolisasi.


Tempat tersebut telah ramai dipenuhi orang. Mereka adalah para master kondolisasi dari kerajaan berbeda. Sekitar 40 orang, jenius kondolisasi diusia muda berkumpul untuk membuktikan kemahiran mereka.


"Hm.... tahun ini lebih banyak dari yang diperkirakan." Seorang kakek tua duduk disebuah meja panjang. Didepan semua para master kondolisasi yang berkumpul.


"Sepertinya banyak wajah wajah baru. Mereka pasti para pemula. Huh.....!!" Kakek tua tersebut terkejut melihat seorang anak muda memakai topeng berdiri diantara semua orang.


"Apa ada aturan memakai topeng seperti itu?" Tanyanya dengan bingung, ia berbalik pada pria tua satunya disamping.


"Yah, kurasa tidak. Tapi, bukankah tidak ada aturan yang melarang memakai topeng?" Jawab temannya tersebut, hingga kakek tua itu hanya terdiam. Ia mengelus janggutnya, tatapannya tertuju pada pemuda bertopeng.


'Apa apaan anak itu.' Tentu saja ia bingung. Biasanya anak muda yang dianugerahi gelar master kondolisasi akan cenderung lebih sering arogan dan sombong. Mereka suka memamerkan kemampuan mereka, apalagi soal status dan kedudukan. Biasanya mereka gunakan untuk mencari perhatian seorang gadis.


Tapi, seorang anak bertopeng? Siapa pun pasti tahu, kalau dia sedang menyembunyikan identitasnya. Apakah dia takut orang orang akan mengekspos jati dirinya lalu menjadi bahan lelucon. Begitulah yang dipikirkan oleh kakek itu.


'Seperti yang kuduga, hal seperti ini memang memancing perhatian banyak orang. Yah, setidaknya identitas ku tidak akan diketahui?' Qin Yan duduk disalah satu meja, meja yang sudah disediakan untuk para master ketika berkompetisi. Karena ia memakai topeng, semua orang memandanginya dengan aneh. Bahkan tidak sedikit orang yang mencibirnya.


"Permisi, bolehkan aku duduk disini?" Tiba tiba seorang gadis menghampirinya. Gadis itu memiliki rambut panjang. Matanya hijau dan jernih. Dan tatapannya sangat manis apalagi saat tersenyum.


"Silahkan saja." Qin Yan mengangguk pelan kemudian berbalik. Ia tidak banyak berbicara. Beberapa waktu menunggu kompetisi dimulai, Qin Yan hanya memperhatikan beberapa orang disekitarnya. Tapi ia tidak banyak berbicara dan diam seperti biasa .


Tiba tiba seseorang menepuk punggungnya, ternyata gadis disampingnya yang melakukannya.


"Um.... Kau berasal dari kerajaan mana?" Tanya gadis itu dengan gugub. Ia menatap Qin Yan dengan penasaran.


"Kurasa itu tidak penting nona. Memangnya apa alasanku memakai topeng?" Qin Yan menjawab acuh tak acuh. Kembali tenang, membuat gadis itu tersenyum canggung.


"Hei! Berani beraninya kau mengabaikan nona Song Huan! Apakah kau bosan hidup!" Tiba tiba seorang pria langsung mendatangi Qin Yan dengan wajah marah. Pria itu tinggi, dan mempunyai luka diwajahnya. Memberi kesan mengintimidasi.


"Jing Hao, sudah jangan buat keributan. Tidakkah kau lihat, banyak orang yang melihat?" Gadis itu berdiri menghentikan pria itu. Meskipun ia juga diabaikan, namun gadis tersebut tidak tersinggung sedikit pun.


Akhirnya pria tersebut diam, ia berencana kembali ketempat duduknya. Sejenak, ia berhenti didepan Qin Yan.


"Jika kau mengabaikan nona Song Huan lagi. Berarti kau telah mencari masalah denganku. Aku Jing Hao dari kerajaan Vermillion akan menghancurkanmu." Bisiknya, ia kemudian kembali ketempat duduknya


Semua orang melihat Qin Yan yang hanya terdiam. Mulai mencibir.


"Ternyata hanya pengecut. Sok memakai topeng, tapi tidak mempunyai nyali."


"Yah, mungkin dia takut. Kalau kita melihat wajahnya, kita mungkin akan menghinanya atas seberapa buruk wajah pria itu."


Terlihat beberapa orang kasat kusut membicarakan Qin Yan dengan buruk. Bahkan tidak sedikit bagi mereka yang diam diam tertawa.


Pria yang tadi membentak Qin Yan, tersenyum tipis. Terdapat rasa puas dihatinya. Namun, ia berusaha menyembunyikan itu karena gadis disamping Qin Yan melototi nya sepanjang waktu. Baginya, mencari muka didepan gadis pujaannya adalah hal yang harus ia lakukan.


Namun apa yang ia dapatkan. Ternyata gadis itu malah menyalahkannya atas apa yang terjadi. Gadis itu malah berbalik pada Qin Yan dan meminta maaf.


"Jangan hiraukan apa orang katakan. Namaku Song Huan. Aku berasal dari kerajaan Angin barat. Pria yang tadi memarahimu berasal dari kerajaan Vermillion. Dia memang sudah biasa seperti itu, jadi jangan terlalu mengambil hati."


Qin Yan hanya mengangguk pelan mendengarnya. Setelah itu ia kembali diam. Meskipun diabaikan, gadis itu tetap ceria, ia malah berusaha mengajak Qin Yan berbicara karena sifat Qin yan membuatnya makin penasaran. Berbeda dengan sifat orang lain yang selalu membuat kekacauan demi mencari muka.


Tidak lama kemudian, orang orang langsung riuh karena kedatangan dua peserta lainnya. Ketika Qin Yan berbalik, ternyata Weisi dan Qiu er yang berada didepan pintu. Berjalan masuk kedalam. Keduanya tampak biasa saja, namun reaksi semua orang benar benar berlebihan. Bagaimana tidak, Weisi adalah putra dari sang legenda. Tidak ada gadis yang tidak jatuh hati padanya, dan pastinya semua orang berusaha mendapatkan perhatian anak itu.


Melihat kedatangan mereka, seorang tetua pun berdehem.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang sudah waktunya kompetisi dimulai. Aku harap, kalian jenius master muda yang berbakat tidak melakukan kecurangan dalam kompetisi ini. Karena kami akan selalu mengawasi kalian. Kami adalah master kondolisasi tier God dari kerajaan Zhong Tian dan kerajaan Busur Surgawi."


Qin Yan memperhatikan mereka. Ada Empat orang yang berada didepan sana. Masing masing mempunyai aura yang dominan. Apalagi, salah satu tetua selalu memperhatikannya.


__ADS_2