LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Menguak fakta


__ADS_3

Qin yan dibawa hingga ia kembali kekamarnya sendiri. Namun sebelum masuk kekamar, ia tidak tenang. Suasana instana tampak begitu kacau, semua prajurit penjaga keluar dan bubar dari penjagaan masing masing. Qin yan akhirnya meminta Qian qian untuk membawanya keluar. Kebetulan juga, gadis itu tidak sabar untuk melihat keadaan diluar sana.


Rupanya suasana diluar sudah memanas. Ayahnya mengumpulkan semua prajurit, kesatria, tetua, hingga pendekar. Namun tidak ada raut wajah panik atau khawatir diekspresinya. Ia tetap tenang menginstruksikan semua para prajurit agar bisa mengendalikan keadaan. Meskipun begitu, kericuhan diluar benar benar sudah sangat kacau.


"Yang mulia! Kami mendapatkan lima mayat pelakunya." Salah seorang prajurit datang melapor, prajurit lain membawa mayat tersebut.


Ketika raja memeriksa mayat tersebut, wajahnya menjadi ngeri.


"Siapa yang bisa membuat mereka seperti ini. Kelima orang ini sudah berada ditahap Elder."


Qin yan hanya bersiul pura pura tidak mendengar, sementara Qian qian adiknya jadi menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. Bagaimana tidak, kelima mayat tersebut tewas dengan mengenaskan. Seolah olah kekuatan luar biasa yang telah membunuh mereka. Padahal Qin yan yang sudah melakukan itu.


"Coba periksa ketempat lainnya, kalian menemukan sesuatu atau tidak?" Berkata yang mulia lagi dengan nada suaranya yang curiga.


"Maaf yang mulia, kami tidak menemukan apapun. Hanya itulah yang kami dapatkan." Jawab prajuritnya.


"Yang mulia, mungkin kita harus mengindetifikasi mayat ini dulu." Salah satu tetuanya datang, diikuti dengan paman Ning dibelakang.


Ayah Qin yan masih memikirkan sesuatu, namun pada akhirnya ia mengangguk.


"Baiklah, kuserahkan masalah ini pada kalian." ia pun mempercayakan tugas mengawasi pada salah satu kesatrianya.


Ketika berjalan masuk, ia tiba tiba berhenti saat berhadapan dengan Qin yan didepan pintu. Jejak senyun terpancar diwajahnya saat melihat putranya yang sudah bisa bangkit kembali.


"Kau pulih yah, syukurlah." Senyum sang raja mengelus rambut Qin yan.


Dibawah elusannya, Qin yan hanya mengangguk. Dia juga melihat gadis yang ia abaikan saat berada dijurang goa ular terkutuk, Ning er.


"Ayah, aku ingin berbicara sesuatu denganmu." Tanya Qin yan serius, membuat semua orang jadi kaget.


"Um... pangeran, saat ini raja sedang sibuk. Kau beristrahatlah dulu sebentar, nanti baru kalian bicara." Penasehat raja pun maju dan berbicara dengan Qin yan untuk menggantikan raja.


"Ayah.." Tanpa menghiraukan penasehat itu, tatapan Qin yan masih tertuju pada ayahnya. Dengan ekspresi yang lemah.

__ADS_1


Raja pun hanya terbatuk pelan, ia juga tidak bisa apa apa. Melihat Qin yan ingin menyampaikan sesuatu, ia jadi tertarik mendengarnya.


"Jadi apa yang kau katakan?" Tanyanya lagi, namun Qin yan hanya diam. Mengisyaratkan pembicaraan ini hanya mereka berdua saja yang tahu. Tentu ia mengerti, kemudian membawa Qin yan keruang pribadi.


"Yang mulia, sepertinya kami datang diwaktu yang salah. Kami mohon undur diri dulu." Paman Ning datang memberi hormat pada ayah Qin yan.


"Kenapa terburu buru seperti itu, kita bisa menikmati teh bersama." Alis raja berkerut mendengarnya.


"Tidak usah repot repot yang mulia, mungkin di lain waktu kita bisa menikmatinya. Pangeran, kami juga senang anda sudah siuman. Sesekali, datanglah minum teh dikediaman kami. Kami akan menyambut anda dengan hangat, kami pamit dulu."


Qin yan juga menghormati mereka, kemudian mereka pun pergi mengundurkan diri dengan sopan, meninggalkan istana. Dilanjutkan dengan Qin yan mengikuti raja keruang pribadi.


Tidak lupa pula Qin yan juga menyuruh beberapa prajurit agar membawa kelima mayat ******* tersebut untuk dimasukan kedalam. Hingga ayahnya sendiri sampai bingung, apa yang mau Qin yan lakukan.


"Jadi nak, apa yang mau lakukan dengan ini?" Tanya ayahnya dengan heran.


"Lihatlah ini." Tanpa berbalik ke ayahnya pun Qin yan fokus mengulurkan tangannya keatas mayat itu.


Asap pun mengepul, jiwa mereka pun keluar dan membentuk sosok prajurit bayangan. Mata ayahnya saja sampai terbelalak ketika melihat proses itu. Ia sampai tidak habis pikir, bagaimana bisa Qin yan mempunyai kemampuan yang sungguh mengerikan ini.


Prajurit bayangan itu berlutut satu kaki, menjawab Qin yan dengan sopan.


"Raja dari kerajaan Kalise tuan, mereka mengirim kami dengan bantuan keluarga naga bersayap."


Jawaban itu juga membuat mata sang raja terbelalak. Sementara ekspresi Qin yan tetap tenang.


"Qian yan, ini...." Ucap ayahnya dengan gagab, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Kebenaran ini mutlak ayah, mereka yang sudah kubangkitkan tak punya hak untuk berbohong. Semua yang kau dengar adalah kenyataan." Berkata Qin yan dengan tenang, melihat ayahnya hampir menganggap prajurit bayangan itu sebagai penipu.


Fakta itu terdengar ditelinga raja, membuatnya membeku tak percaya. Namun yang namanya raja bijak tidak lepas dari sifatnya yang tenang dan berpikir baik dan teliti sebelum bertindak. Ia menatap prajurit yang baru dilahirkan tersebut dengan serius.


"Jadi, bisakah kau memberitahukanku, apa rencana mereka?" Tanya raja dengan tenang.

__ADS_1


"Kami tidak tau pasti, yang penting. Kerajaan Kalise telah berhasil meraup beberapa keluarga bangsawan dikerajaan ini. Termasuk keluarga bersayap (Ning), dan keluarga Taring putih juga ikut dalam konpirasi ini."


Mata raja kembali terbelalak, napasnya tidak karuan dan berat. ia langsung meraih roh tersebut dengan penuh amarah. Keluarga Taring putih merupakan keluarga istri keduanya, ibunya Qian san, Huyan Xing lu.


"Jangan berbicara yang tidak tidak." Ucap raja dengan marah. Wajahnya merah, matanya melotot dan giginya di gertak dengan kuat. Prajurit yang diraih juga hendak menyerangnya. Namun Qin yan menghentikan mereka berdua.


"Ayah, prajurit bayangan yang baru lahir akan menyerang orang yang dia anggap bahaya. Lebih baik kita pikirkan ini dengan kepala dingin." Alis Qin yan juga berkerut memikirkannya. Rasa dihianati lebih parah dari pada kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Dihianati benar benar sangat menyakitkan, rasa ini akan memunculkan dendam yang amat dalam.


Ayah Qin yan langsung terjatuh lemah ditempat duduk, ia memegang dada kirinya yang kesakitan. Keringat bercucuran diwajahnya serta mata terbelalak tak percaya. Sungguh menyakitkan, Qin yan jadi bersimpati melihatnya. Ia pun berjongkok kearahnya, menatap dengan lembut.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan." Tanya Qin yan, ia tidak bisa menentukan jalan dari masalah ini sendiri. Karna ini berhubungan dengan ayahnya, dan ia tak ingin menyakiti perasaannya.


"Aku tidak tau, selama tidak ada bukti nyata. Mungkin aku tidak akan percaya." Jawab ayah Qin yan tak berdaya. Memang sulit untuk menghukum orang terdekat kita, namun penghianatan adalah sifat yang paling Qin yan tidak suka. Setidaknya mereka harus diberi pelajaran.


"Ayah, aku punya ide." Ia pun datang berbisik padanya.


Diluar, penasehat kerajaan mondar mandir didepan pintu dimana Qin yan dan ayahnya berdiskusi didalam. Ia tidak tau harus beralasan apa agar Qin yan dan ayahnya berhenti berdiskusi. Apalagi rencananya mereka hari ini yang hendak mencuri Qian qian tidak berhasil. Padahal mereka sudah mempersiapkan rencana itu dengan baik. Mereka kira Qin yan adalah pria yang lemah, jadi para prajurit yang lain menggunakan ledakan sebagai pengalihan. Dan yang lain akan mencuri Qian qian diam diam. Hanya saja, ia tidak menyangka Qin yan benar benar bisa melumpuhkan mereka semua. Kepalanya pusing tak kepalang, bagaimana ia harus menyusun rencana baru untuk menjalankan siasatnya.


Ketika ia sedang berpikir keras, Qin yan dan ayahnya keluar dari ruangan itu.


"Y-yang mulia." Penasehat itu berbungkuk dengan hormat, terdapat rasa gugub diwajahnya. Ia takut kalau raja sudah mengetahui semua konspirasi ini.


"Penatua Huyan, anda sudah menunggu disini. Baguslah, Qin yan tadi sedang membahas tentang pembangunan kediaman. Kau datang disini benar benar tepat. Aku tidak perlu mencarimu lagi. Kita akan menyelidiki siapa mereka, setelah itu barulah kita bahas tentang pembangunan itu denganmu."


Perkataan sang raja membuat penasehat jadi menghela napas lega. Diam diam ia tersenyum sinis pada saat ia membungkuk.


'Untunglah raja bodoh ini tidak mengetahui rencana kami, hahahaha..' Lama juga ia tertawa dalam hati, hingga raja sendiri pun memanggilnya baru ia sadar.


"Penatua Huyan. Apa kau dengar aku?" Panggil raja sekali lagi.


"Oh, yah. Tentu yang mulia." Jawab penasehat dengan sopan.


"Kalau begitu kau ikut aku." Raja pun pergi meninggalkan Qin yan diikuti dengan penasehat. Dari belakang, Qin yan menatap wajah penasehat itu yang sedang tersenyum jahat. Namun ia hanya menggelengkan kepalanya, layaknya sedang melihat orang naif.

__ADS_1


"Heeeeh... Dasar kecoak kecil. Aku akan melihat bagaimana pergerakanmu. Sampai akhirnya seluruh sekutu kalian akan keluar." Qin yan pun akhirnya pergi keluar, menuju kearah lahan yang ditunjukan oleh ayahnya. Tentunya ia juga diantar oleh si pedamping yang handal dalam urusan bisnis.


__ADS_2