
"Qin Yan." Ternyata Zhou Weisi dan Hulena. kebetulan mereka sedang membeli sesuatu, namun karena terjadi sesuatu di tempat itu. jadi mereka pergi memeriksa, siapa yang menyangka kalau mereka akan menemukan Qin Yan yang sudah berada dalam kondisi parah.
Qin Yan terus memuntahkan banyak darah, hingga cairan merah kental membanjiri lantai.
melihat itu, wajah Weisi Dan Hulena jadi khawatir. Mereka berdua langsung mengeluarkan kekuatan masing masing, berusaha menyembuhkan kondisi tubuh Qin Yan.
"Ukhuk ukhuk." Qin Yan tetap terbatuk, oleh karena itu petugas staf datang membawa segelas air yang sudah dilarutkan dengan obat herbal.
Dengan cepat, ia kemudian menuntun Qin Yan minum. Sementara cahaya emas dan cahaya hijau terus menyelimuti tubuhnya. Menyembuhkan luar dalam.
"Haah... hah.... hah..." Sampai akhirnya kondisi Qin Yan mulai membaik. Meskipun wajahnya masih pucat, keringat bercucuran dan masih menahan rasa sakit didadanya. Qin Yan akhirnya bisa tenang. Dengan dibantu Weisi dan Hulena, Qin Yan dibawa keruang privat khusus yang dipesan mereka.
"Kakak, tampaknya mereka masuk kedalam. Ayo kita ikuti!" Ketika melihat sosok Weisi yang merupakan kakak mereka, keempat gadis tersebut melangkah masuk mengikuti Weisi.
Pelan pelan, Qin Yan duduk di kursi yang sudah disediakan. Hulena jadi bergegas dibelakang Qin Yan. Kedua tangannya perlahan menyentuh punggung Qin Yan, dari situlah energi hijau mengalir dan mulai menghangatkan . Sementara Weisi datang menyentuh dadanya, mengalirkan energi emas dari dalam. Hingga rona wajah Qin Yan perlahan kembali pulih.
"Terima kasih." Senyum Qin Yan dengan tulus kepada mereka berdua. Weisi hanya menepuk pundaknya sebagai respon.
"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu saudaraku? Aku tidak pernah melihatmu selemah ini, apa ada masalah yang sedang membebanimu?" Tanya Weisi dengan alis berkerut, tapi Qin Yan hanya menggeleng pelan.
"Tidak apa apa." Perlahan, Qin Yan mengeluarkan beberapa exlicir dari cincin penyimpanannya. dari banyaknya botol pil, Qin Yan mengambil botol warna Kuning. Berisikan pil pemulihan jiwa.
tanpa ragu, Qin Yan menelan tiga pil sekaligus. Hingga membuat Weiqing dan Hulena jadi terkejut. Memakan tiga pil sekaligus merupakan tindakan yang bodoh. namun, mereka tak berani bertanya, karena Qin Yan jauh lebih tahu dari pada mereka. terlebih lagi, mereka tidak tahu apa penyebab Qin Yan tersiksa seperti itu.
"Haaaaaaah...." Qin Yan menggila nafas panjang, matanya perlahan tertutup. Energi mentalnya yang lemah kini bereaksi, berangsur angsur pulih.
Weisi dan Hulena hanya diam menyaksikan itu. Ingin rasanya mereka bertanya, apa yang terjadi sebenarnya. tapi tetap saja, mereka mengurungkan niat itu.
akhirnya pintu tiba-tiba dibuka, beberapa gadis masuk ke dalam. semuanya, berbalik kearah sana termasuk Qin Yan sendiri.
mata Qin Yan langsung terbelalak kaget, saat melihat salah satu gadis diantara mereka berempat. rambut biru muda menjuntai sampai ke pinggang, dikuncir kuda dengan tali pita kupu-kupu.
siapa yang menyangka kalau gadis itu ada di sini.
bahkan gadis tersebut juga terkejut melihat Qin Yan. keduanya saling bertatapan, dalam keterkejutan.
"Kakak." tiga gadis lainnya menyapa Weisi, siapa juga kalau bukan Zhou Shinzui dan adiknya Zhou Ling er, sementara gadis yang berambut pink, dia adalah putri dari kekaisaran Busur Surgawi, Di Fu yi.
Zhou Shinzui hendak menyapa Qin Yan, namun iya sedikit menyerngit saat melihat tatapan anak itu mengarah pada gadis yang masih berdiri didepan pintu.
"Oh, Qiu er. kenapa cuma berdiri disana. Mari duduk di sampingku." Panggil Shinzui dengan ramah.
setelah itu keduanya pun tersadar, gadis itu perlahan berjalan dan duduk disamping Zhou Shinzui. Tatapan Qin Yan selalu mengikutinya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Shinzui dengan senyuman. Tapi tatapannya menusuk kearah Qin Yan, karena anak itu sedari tadi selalu mengabaikannya.
"Kami teman sekelas." Qin Yan dan Qiu er menjawab bersama sama. Hal tersebut membuat wajah Qiu er berasap karena cemberut. Ia langsung memalingkan wajah kesamping, sepertinya tak ingin melihat wajah Qin Yan.
"Hei hei, kenapa kau tidak bilang padaku Qiu er. Kalau dia berasal dari kota yang sama denganmu. Berarti selama ini kalau sengaja mendengarkan ceritaku dan sengaja meledeku yah?" Shinzui menatap Qiu er dengan wajah cemberut. Ia cukup iri melihat Qiu er yang mengenal Qin Yan. Terlebih lagi, sepertinya hubungan mereka cukup dekat.
"Kau selalu menceritakanku?" Qin Yan langsung bertanya setelah ia mendengar kalau gadis ini ternyata selalu menggosipkannya.
"Hmm... Apa! Um.. Memangnya kenapa? Hmph...!" Shinzui langsung gugub ketika ia keceplosan dan Qin Yan tidak sengaja mendengarnya. Tapi, kenapa juga ia gugub ketika berada didepan anak ini? apa yang terjadi dengannya, memikirkan kesalahan itu membuat Shinzui jadi kesal. iya langsung menyilangkan tangannya di dada, sembari menjulurkan lidah kearah Qin Yan.
Weisi dan Ling er yang melihat itu jadi melongo, apa yang terjadi pada saudari mereka. namun mereka melihat reaksi Qin Yan yang biasa saja, sepertinya Qin Yan kurang tertarik dengan Shinzui. padahal, tidak terhitung jumlahnya pria yang datang menyatakan cintanya pada gadis itu. semuanya ditolak. tapi sekarang, justru Shinzui yang diabaikan. Mereka takut, dengan kepribadian Shinzui yang cukup berdarah panas, dia tidak akan membiarkan Qin Yan hidup tenang menjalani aktivitasnya.
merasa kalau iya sudah berlama-lama di tempat ini, Qin Yan menarik kembali botol-botol exlicir ke dalam cincin penyimpanannya. setelah itu dia langsung berdiri, berpamitan pulang.
"Tuan Zhou Weisi, Hulena, Nona Ling er, nona Shinzui, tuan putri Di Fu yi, Qiu er. sepertinya aku tidak bisa berlama-lama disini, waktu sudah lama dan aku harus kembali." Qin Yan sedikit membungkuk hormat kepada mereka, semua orang di depannya ini bukanlah anak muda biasa. makanya ia juga harus bersikap sopan kepada mereka.
__ADS_1
"Ta-tapi, bukankah kau datang ke sini untuk mengikuti pelelangan? bukankah pelelangannya yang belum selesai, kenapa kau buru buru pulang?" Shinzui berkata dengan alis berkerut. Dalam suaranya, Sepertinya Shinzui tak ingin Qin Yan pergi.
Tentu saja Qin Yan mengerti itu, namun situasinya sekarang berbeda. Dia sudah menikah, dan tidak boleh menebar cinta sembarangan seperti tahun kemarin. Dan itupun, apakah dia pantas jika dia bersama mereka. Jika mereka tahu kalau Qin Yan sudah menikah, itu pasti akan menyakiti hati gadis ini.
Sekarang, semuanya tidak bisa ditentukan. Qin Yan mulai menjaga jarak, tapi untuk wanitanya di kehidupan sebelumnya, ia tentu akan mengejarnya.
ketika Qin Yan tahu, kalau Shinzui ini tertarik padanya. Hal itu pun membuat Qin Yan menggelengkan kepala dengan pelan.
"Nona Shinzui, aku tidak tau kalau ada pelelangan. Aku hanya datang kesini untuk menyelamatkan diri, dari orang yang ingin membunuhku."
Semuanya langsung terdiam. Termasuk Weisi, jadi itu alasannya dia tersiksa tadi. Tapi siapa? Dilihat dari betapa menderitanya Qin Yan, membuatnya sadar. Orang yang bisa membuat Qin Yan seperti itu bukanlah orang biasa.
Shinzui pun hanya menghela napas kecewa saat menatap punggung Qin Yan yang menjauh. Suasana hatinya berubah menjadi sedih.
Tapi ia melihat Qin Yan berhenti sejenak. entah kenapa ia jadi sedikit degdegan. Apakah Qin Yan akan kembali lagi, apakah dia berubah pikiran? Tapi kenapa ia berharap, ini tidak seperti biasanya. Mungkin karena baru diabaikan pertama kali saat terbiasa mengabaikan semua pria. jadi ia tidak terlalu terbiasa. ternyata inilah rasanya diabaikan.
Qin Yan berbalik menatap Weisi.
"Weisi, bisakah kau menemaniku?" Tanyanya dengan penuh harap. Qin Yan agak khawatir jika dia pulang sendiri. Sekarang ia tidak bisa memanggil prajurit bayangan. Dan tubuhnya juga lemah, ditambah lagi ia butuh istirahat.
Weisi langsung berdiri. Melihat kondisi dan ekspresi anak itu, ia tampaknya sedang membutuhkan bantuannya.
Weisi kemudian menawarkan punggungnya. Menyuruhnya untuk naik.
"Naiklah."
Qin Yan yang melihat itu hanya tersenyum. Tidak alasan baginya untuk menolak, mengingat tubuhnya yang masih belum pulih. Tanpa ragu Qin Yan pun naik.
"Terima kasih." Ucapnya dengan tulus.
"Cih, jangan berkata begitu. Apa kau tidak menganggapku saudara hah?"
Disela sela perjalanan, Weisi yang terus diam kini tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Qin Yan, kau tadi bertemu dengan Shinzui. Dia tampaknya tertarik padamu. Bagaimana menurutmu, bukankah Shinzui gadis yang lumayan baik?" Senyum Weisi, mempertanyakan pendapat Qin Yan. Sebenarnya ia berencana untuk menjodohkan mereka berdua. Melihat seberapa baiknya kepribadian anak ini. Weisi jadi cukup bersemangat. Tapi, anehnya setelah beberapa saat, tidak ada tanggapan apapun dari anak itu. Hanya kesunyian, bahkan orang dipunggungya tidak bergerak sedikit pun.
"Qin Yan, kau mendengarkan ku?"
"...…..."
Weisi langsung terdiam, ketika mendapati Qin Yan yang sudah tertidur.
'Sial sekali, dia sudah tidur rupanya. Jadi tadi aku berbicara sendiri?' Ia langsung menghela napas kesal, dan semakin mempercepat langkahnya menuju kepenginapan.
Saat itu Qin Yan membuka matanya perlahan, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Ia tak mau membahas masalah itu, makanya Qin Yan pura pura tertidur.
Akhirnya mereka pun sampai, Weisi mengetuk pintu dan Lin Fin lah yang membukanya. Tampaknya dia sedang berjaga malam, melihat Qin Yan yang berada dipunggung Weisi dalam keadaan tak sadar, membuatnya cukup terkejut. Ia kira Qin Yan pingsan dan Weisi yang membantunya pulang.
"Tenang saja, dia hanya kelelahan. Aku kembali dulu." Weisi kemudian beranjak pergi.
"Saudaraku, kenapa tidak masuk dulu. Akan kusiapkan teh untukmu?" Lin Fin ingin Weisi tinggal dan berbincang bincang sebentar. Namun tampaknya, Weisi tak punya waktu untuk itu. Mendengar tawaran Lin Fin, pria itu hanya menggelengkan kepala dengan permohonan maaf.
"Terima kasih Lin Fin, tapi aku buru buru. Masih ada yang harus kukerjakan, mungkin lain kali saja." Sejenak, ia memandangi Qin Yan disamping Lin Fin. Setelah itu, ia pun pergi menjauh.
Ketika Weisi sudah terlihat jauh, Qin Yan akhirnya membuka mata. Ia pun melepaskan diri dari bantuan Lin Fin.
"Qin yan, kau sudah bangun. Mari ku antar kau kekamar." Meskipun ia bingung, namun Lin Fin tetap dengan senang hati mengantar Qin Yan, setelah itu ia kembali menikmati permainan caturnya bersama Jung Kyun.
"Istrahatlah, Bukankah besok pertandingannya akan dimulai? Sebaiknya kalian mempersiapkan diri dan mental kalian. Jangan terlalu bergadang, kalian akan kantuk saat berada di arena." Qin Yan berkata didepan pintunya.
__ADS_1
keduanya langsung mengangguk, dan memberi hormat.
"Siap bos."
Melihat kelakuan teman temannya, membuat Qin Yan hanya tertawa pelan. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya.
Perlahan Qin Yan merebahkan diri, memandangi langit langit. Tanpa sadar ia mengingat sosok mengerikan yang menekannya. Sosok itu sangat jelas, dan Qin Yan tahu siapa sosok itu. Ia tak pernah menyangka, betapa seriusnya masalah ini.
Dengan cepat ia terbangun, tangannya terangkat.
"Z, tolong hubungi Jin kei dan Yao Chen. Mereka harus datang kesini." Karena harus menghemat energi, Qin Yan terpaksa meminta Z untuk masalah ini.
..."Siap tuan."...
Tidak lama kemudian, dimensi gate terbuka. Dua orang pria masuk kedalamnya.
"Ada apa? Kenapa kau sampai memanggil kami?" Tanya Yao Chen sambil melipat tangan didada. Ia duduk dikursi dekat tempat tidur, sementara Jin kei memilih untuk berdiri.
"Aku menemukan petunjuk baru, faktanya masalah ini bukan masalah sepele. Jadi, aku butuh bantuan kalian."
Ucapan Qin Yan membuat Jin kei dan Yao Chen saling memandang. Kemudian mereka berdua mengangguk pada anak itu.
"Apa yang kau dapat?."
Qin Yan pun mengelus dagunya sendiri, pandangannya terarah kedepan dengan wajah yang serius.
"Sekarang sosok itu sudah terlihat jelas. Dia adalah salah satu klan Magicstal."
"Klan Magicstal?" Jin kei dan Yao Chen saling berpandangan sekali lagi.
"Jika itu benar klan Magicstal, berarti sasaran mereka adalah beast yang ada di dunia ini. Karna setahuku, klan itu mempunyai kemampuan dalam mengontrol Beast." Usul Jin kei.
Sementara Qin Yan hanya terdiam mendengar itu. Ia berpikir keras, sebenarnya apa yang terjadi. Jin kei dan Yao Chen menyadari keresahan anak itu. Makanya mereka bertanya ada apa sebenarnya.
"Ini aneh, jelas sekali kalau bangsal iblis yang menyerang kami di kehidupan dulu berasal dari klan Yimo. Tapi kenapa bisa klan Magicstal yang menampakan diri. Ini semakin membingungkan saja." Gumam Qin Yan mendesah pelan. Apakah sejarah tiba tiba bergeser karena penonjolan dirinya. Jelas ini sangat melenceng dari sejarah dikehidupan lalu.
Tapi tiba tiba ia teringat satu petunjuk.
"Oh, aku baru ingat. Klan Yimo adalah bawahan klan Magicstal." Ia pun mengangguk mengerti.
Yao Chen juga akhirnya paham. Tapi ia hanya bereaksi dengan malas. Bagaimana pun ia mempunyai kekuatan yang besar. Jika dia mau, dia bisa saja datang menghadapi orang itu. Hanya saja, betapa sialnya. Kumpulan manusia didunia ini malah menyegel tempat ia berdiam diri. Hingga ia tak bisa bergerak dengan leluasa. Ditambah lagi, meskipun dia sangat kuat. Namun makhluk berakal mempunyai banyak cara untuk meruntuhkannya. Oleh karena itu, beast ditakdirkan menjadi piaraan manusia seberapa kuat pun mereka.
"Jadi begitu. Berarti semuanya masuk akal. Kau seharusnya sudah tahu banyak tentang klan itu. Jadi kau pun pasti tau bagaimana cara mengatasinya." Ujar Jin Kei, menatap Qin Yan dengan senyuman tipis.
"Tentu saja. Aku sudah memikirkan rencana setelah ini. Makhluk seperti mereka tidak pantas menetap didunia ini." Ekspresi Qin Yan kini jauh lebih serius dibandingkan yang tadi. Kebencian serta dendam mendalam mengalir dalam pikirannya akibat insiden waktu itu. Kini Qin Yan punya kesempatan untuk membalas mereka. Tapi saat ini ia tidak bisa melakukan apapun. Bisa dibilang ia belum punya kualifikasi untuk melawan sosok itu. Dengan kondisi tubuhnya, ia belum bisa melakukan apa apa. Makanya ia meminta bantuan para sekte tadi malam, tapi sayangnya dia malah dirundung.
"Jadi, apakah kau mau kami menemanimu malam ini." Yao Chen langsung tahu apa yang dipikirkan anak itu. Tatapannya mengarah pada bahkan pusar perut Qin Yan. Melihat itu, wajahnya kemudian berubah menjadi suram.
"Tampaknya begitu. Sebenarnya aku ingin meminta kalian untuk membuatkanku kertas pola prasasti tingkat menengah yang biasa aku gunakan ketika bertarung." Qin Yan tersenyum canggung menatap mereka berdua. Apalagi melihat wajah Yao Chen yang semakin suram, Jin kei berusaha menenangkannya .
"Kenapa mereka begitu menindasmu seperti ini?" Mata Yao Chen menunjukan kemarahan dan niat membunuh.
"Ayolah, aku tidak apa apa." Qin Yan menggelengkan kepala, menghindari kemarahan pria itu.
"Oh, iya. Aku ingin istirahat dulu. Kalian boleh kembali besok pagi." Tanpa membuang waktu, Qin Yan pun berbaring ditempat tidurnya. Tenang dan akhirnya ia pun tertidur lelap.
"Sial, anak ini selalu bertindak bodoh. Taukah kamu, dulu sifatnya tidak seperti ini. Entah kenapa dia bisa berubah hanya karena kembali kemasa lalu." Yao Chen berjalan kearah meja dengan perasaan kesal. Menolak rangkulan Jin kei disamping.
"Sudahlah Rubah Tua, kita lebih baik melaksanakan apa yang ia mau. Kondisinya tidak begitu baik, makanya ia meminta batuan kita." Jin kei hanya duduk didepan meja, mengeluarkan kuas serta kertas. Siap membuat puluhan kertas pola. Ia tidak lagi memperdulikan suasana hati Yao Chen.
__ADS_1