LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Nenek peramal masa depan


__ADS_3

Ratu Medusa pun menghela napas panjang mendengar pertanyaan Qin yan.



"Itu adalah aturan leluhur kami." Ucapnya dengan alis berkerut.


"Aturan?"


"Ya. Jaman dahulu kelompok kami terdiri dari dua fraksi yang terbagi atas kekuatan masing masing. Yang satu fraksi kami, fraksi yang lahir dengan nama otomatis menjadi Wu gui. Nama ini ditandai dengan kekuatan kutukan yang bisa membuat makhluk hidup menjadi patung batu. Sementara fraksi kedua yaitu sang peramal, yakni Wu hong. Dari lima ribu tahun yang lalu. Hanya ada satu keturunan Wu hong, dia adalah tangan kananku yang kulempar tadi." Jelas Medusa panjang lebar.


"Ooh.. Tapi kenapa harus nama yang sama. Kan kalian bisa saja menjadikan nama itu sebagai perbedaan kalian. Jika begini bagaimana kau akan memanggil mereka?" Tanya Qin yan lagi membuat ratu Medusa menjadi bingung.


"Kau bocah, tidak bisakah kau diam sedikit. Ini bukan urusanmu! Sekarang katakan dulu padaku, mau apa kau datang kesini?" Ratu Medusa pun datang melilitnya kembali, kali ini lilitannya lebih erat.


"He-hei... aku datang disini dengan baik baik, setidaknya perlakukan sebagai tamu yang sopan... Ukh.." Rasanya Qin yan tidak bisa lagi bernafas. Namun perkataannya kembali berhasil membuat ratu Medusa melunak.


"Baiklah, aku tidak akan melilitmu lagi. Tapi katakan sekarang mengapa kau datang kesini." Ia kembali dan melipat tangannya didada.


Qin yan pun terdiam sejenak, lalu menyerahkan buku yang dia ambil dari goa asral pada Medusa.


"Apa maksudnya ini?" Tanya ratu Medusa yang tidak mengerti.


"Disitu dijelaskan tentang dewa yang mulia kalian." Jawab Qin yan tenang, jawaban itu pula membuat mata ratu Medusa jadi terbelalak. Namun sedetik kemudian ia menutup matanya sambil menghela napas pelan. Melempar buku itu kembali pada Qin yan.


"Percuma kau bertanya pada kami, kami tidak tau apa apa. Silahkan pergi." Ia pun langsung berbalik meninggalkan Qin yan.


"Eh tunggu.." Qin yan pun mulai mengejarnya.


"Hei, kenapa kau tiba tiba pergi begitu. Ka-kami hanya eeeeeh..." Kaki Qin yan tersandung, tubuhnya langsung terarah ke ratu Medusa dimana ia mengejarnya.


"Bocah sudah kubilang kan, cepat per...."


"Bruk"


Ketika ratu Medusa berbalik, matanya langsung membesar melihat Qin yan terjun kearahnya. Saat berikutnya, mereka pun terjatuh saling berhadapan. Medusa dibawah dan Qin yan diatas. Mata mereka saling bertatapan, untuk pertama kalinya. Ratu Meduga menjadi gugub menatap mata manusia.


"Hei... Bi-bisakah kau bangun.." Berbalik ratu Medusa dengan wajah memerah, entah kenapa jantungnya berdegub sangat kencang.


Qin yan pun sadar atas apa yang ia lakukan. Ia pun bangkit seraya duduk didepannya. Kali ini ia menatap ratu Medusa penuh harap. Karna ia harus lakukan ini, Neidan adalah salah satu hewan kuno yang harus ia dapatkan. Untuk keperluannya dimasa depan.


Medusa pun hanya menghela napas lega, ia pun berdiri menuju kebawah. Sementara Qin yan kaget, ingin bertanya mau kemana. Tapi wanita berbicara duluan.

__ADS_1


"Cepat ikut aku." Ucap Medusa dengan datar.


Qin yan pun pergi mengikutinya, ia dibawa sampai kekuil yang satu sambil memikul patung Xing yun yang membatu.


"Inilah dewa kami."


Ia pun ditunjukan dengan sosok ular raksasa berkepala delapan. Masing masing mempunyai elemen berbeda di atas kristal kepalanya.


'Neidan.' Mata Qin yan membesar menatap ular itu. Bagaimana bisa sosok Neidan bisa menyasar disini. Ia pun perlahan mendekati patung itu, Medusa pun tidak menghentikannya. Disaat Qin yan hendak menyentuh patung itu, ia tiba tiba disambut oleh nenek ular yang sudah rentah tak bertulang. Duduk disamping patung itu.


"Wahai manusia, kau datang juga rupanya." Berkata nenek itu dengan susah payah.


Qin yan pun berbalik menatap nenek ular itu, sementara Medusa mendekatinya.


"Itu adalah adalah nenek moyang kami dari fraksi Wu hong. Umurnya sudah lima ribu tahun."


"Apa!" Terkejut Qin yan mendengarnya, lima ribu tahun? Ia tidak bisa membayangkan umur nenek ini setara dengannya.


"Ta-tapi... umur nenek ini lima ribu tahun. Tapi kenapa aku tidak merasakan kultivasi apapun?"


Mendengar perkataan Qin yan, Medusa menghela napas pelan, menatap nenek itu dengan alis berkerut.


"Fraksi Wu hong tidak bisa berkultivasi. Namun mempunyai kemampuan langka, yakni meramal masa depan dan melihat takdir seseorang. Mereka susah berkembang biak, namun umur mereka begitu panjang."


"Apa dia ingin melihat takdirku?" Tanya Qin yan pada Medusa.


"Sepertinya begitu." Medusa pun mengangguk. Namun ia heran dengan tingkah Qin yan yang hanya mengabaikannya. Dan malah menuju ke patung dewa ular tersebut.


"Hei, bocah! Leluhur kami memanggil anda. Mengapa kau tidak sopan, seharusnya kau bersyukur karna kami memperlakukanmu dengan sopan." Salah satu tetua ular datang menunjuk Qin yan dengan wajah marah. Sama halnya dengan tetua itu yang tidak senang padanya. Qin yan pun juga berbalik dan menatapnya dengan tajam.


"Aku tidak pernah sudi jika harus diperiksa takdirku." Ucap Qin yan dengan napas berat.


"Ka-kau... yang mulia ratu, bagaimana anda bisa mempersilahkan orang kurang ajar ini?"


Alis ratu Medusa juga berkerut, menatap Qin yan. Tapi ia tidak tau harus berkata apa. Anak ini terlalu keras kepala.


"Anak manusia, tidak ada yang tidak bisa kulihat masa depannya. Kau berani menghinaku, maka aku tidak akan memberitahukan takdirmu."


Qin yan tetap mengabaikan ocehan wanita tua itu. Meskipun ia sadar, kalau nenek ular itu mulai memasuki ingatannya.


Ya. Nenek itu sudah menyelidiki takdir dan nasib Qin yan setelah ia berbicara. Pertama tama ia akan memeriksa masa lalu anak ini agar bisa mengetahui kelemahannya, lalu memeriksa masa depannya sesuai tata cara. Namun masa lalu Qin yan begitu dalam layaknya jurang tanpa batas. Nenek itu terus masuk kedalam sampai akhirnya tidak bisa keluar. Keringat memenuhi wajah nenek itu, semua orang bisa melihatnya jelas kalau nenek itu makin pucat.

__ADS_1


'Apa ini? Apa yang terjadi sebenarnya?' Nenek itu ingin sekali keluar dari jurang ingatan Qin yan. Tiba tiba ia menemukan setitik cahaya diatas, dan tanpa pikir panjang ia menuju kearah cahaya itu. Diluar cahaya, ia dibawah kesuatu medan luas yang tak pernah ia pikirkan. Jutaan prajurit bayangan berkumpul memenuhi lahan itu seperti semut. Ada seorang pemimpin didekatnya. Seseorang yang tidak bisa ia lihat sosoknya. Hanya sesosok asura dengan tiga tubuh yang bergabung. Keenam tangannya memegang masing masing pedang. Sekali sosok itu kembali menatapnya, ia kaget bukan main. Ketakutan serta penyesalan karena kesombongannya membuatnya bodoh akan kemampuan yang ia miliki. Ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.


"I-ijinkan aku... bebas..." Air mata nenek itu mengalir deras dengan penuh ketakutan. Namun ia dapatkan hanyalah tatapan dingin dari sosok itu sampai akhirnya roh nenek itu yang telah merasuki kesadaran Qin yan kini menghilang menjadi debu.


Nenek itu langsung tewas seketika.


"Eh?" Terkejut Qin yan melihatnya, nenek itu ular itu mati dengan mulut terbuka seperti habis diberi penghakiman.


'Ini sebabnya aku melarangmu mendeteksi takdirku. Guruku saja hampir mati saat mendeksinya, kau pikir itu main main.?' Meskipun dimata luar Qin yan tampak terkejut, tapi sebenarnya ia sudah menduganya. Nenek itu begitu sombong dengan kekuatan yang ia miliki. Memang, para kultivator peramal itu sangat ditakuti. Bahkan jika itu dewa sage sendiri. Namun untuk seseorang yang bahkan tidak mempunyai kultivasi, itu sama saja dengan bunuh diri.


"Hei, apa yang kau lakukan dengan leluhur kami?" Tunjuk keturunan nenek tersebut, Wu hong.


Qin yan sendiri hanya diam, pura pura tidak tau. Toh dia juga tidak melakukan apa apa, niatnya hanya ingin memeriksa patung Neidan. Kenapa hal terduga ini bisa terjadi?


"Di-dia... Sudah membunuh nenek Wu hong." Tetua kedua mulai menuduh Qin yan yang tidak tidak.


Lalu tetua yang ketiga datang memeriksa nenek itu. Dan sudah dipastikan, nenek itu bahkan tidak bisa bernapas lagi.


"Nenek, dia sudah mati." Berkata tetua itu dengan pelan, lalu menatap Qin yan dengan penuh kebencian.


"Kurang ajar! Akan kubunuh kau yang sudah membunuh nenek Wu hong." Tetua itu langsung menerkam Qin yan. Namun ditangkis oleh Jin kei yang tiba tiba datang.


"Hentikan!" Teriak Medusa mendinginkan suasana tersebut. Ia juga marah, meskipun ia tahu Qin yan tidak berbuat apa apa. Namun nenek itu mati karena Qin yan, maka tidak ada lagi argumen yang bisa menghilangkan tuduhan itu.


"Pergi kalian!" Teriak Medusa dengan keras, menunjuk Qin yan dengan berat hati. Ia hanya ingin Qin yan pergi dari desanya ini. Padahal hal ini tidak akan terjadi jika anak itu tidak ada disini.


Matanya menatap Qin yan dengan penuh kesedihan, hal itu membuat Qin yan hanya bisa terdiam. Ia bisa merasakan kemarahan serta kesedihan yang tidak menentu. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung menarik Jin kei. Patung Xing yun juga tiba tiba berubah menjadi manusia atas ijin Ratu Medusa.


"Ap-apa yang terjadi!" Berkata Xing yun dengan kaget ketika ia sadar. Namun belum juga ia bergerak, Qin yan langsung menutup mulutnya. Menyeretnya pergi keluar dari kuil tersebut dengan wajah yang gelap.


"Yang mulia, kenapa kita tidak bunuh saja mereka!" Teriak tetua satu dengan penuh kemarahan. Karena neneknya mati, maka kebenciannya juga menjadi jadi. Melihat Qin yan yang lolos dan pergi menjauhi mereka, ia makin tidak percaya pada ratu Medusa. Bukan hanya kebenciannya pada manusia, namun kini ia mulai membenci Medusa karena membela manusia.


"Diam." Wajah Medusa juga hitam, ia menatap tetua itu yang berani berbicara kasar dan berteriak padanya. Hingga membuat wajah tetua itu menjadi ungu, kemarahan memenuhi otaknya. Tampaknya mulai saat ini ia akan mulai membangkang pada ratu Medusa.


"Ukhuk Ukhuk" Tiba tiba nenek itu kembali terbatuk sebentar, rupanya ia mempunyai teknik rahasia untuk lolos dari tekanan alam sadar Qin yan. Meskipun pada akhirnya ia tetap akan mati, namun setidaknya ia masih mempunyai waktu untuk bernapas.


"Ra-tu Me-du-sa." Panggilnya dengan terbata bata.


Ratu Medusa pun langsung menuju kearahnya, menggenggam tangan nenek itu yang tampak lemah. Ia berbicara sesuatu padanya yang tak bisa didengar oleh siapa pun. Mata ratu Medusa terbelalak ketika mendengarkannya. Setelah itu, nenek pun sepenuhnya menghilang dari hadapan mereka. Dalam keterkejutannya, ratu Medusa menyimpulkan satu masalah yang harus ia hadapi.


"Qin yan!" Ucapnya.

__ADS_1



__ADS_2