
Kota Surga yang indah, ibukota kekaisaran Zhong Tian.
bukan hanya kota yang indah dan memukau, kota ini juga dijadikan tempat sebagai arena pertarungan para petarung yang datang dari berbagai kerajaan lainnya. sekitar 33 kerajaan berpastisipasi dalam turnamen ini. termasuk kerajaan sunmoon. kerajaan yang baru-baru ini sempat terkenal.
gerbang utara kekaisaran Zhong Tian. beberapa kereta melaju masuk melewati gerbang. kereta kereta tersebut kebanyakan mengangkut barang dan beberapa para bangsawan yang juga ingin menyaksikan kompetisi tersebut.
selain kereta yang di bawa oleh kuda, ada juga kereta terbang yang dikhususkan untuk mengangkut penumpang dari wilayah yang jauh. kereta ini dibawa oleh seekor beast penyu raksasa yang menggunakan keempat tangannya untuk terbang ke langit. sekitar 20 penumpang, mampu diangkut oleh penyu ini. tentunya beast tersebut tidak lepas dari pemiliknya yang sudah menjinakkannya lebih dulu.
Qin Yan dan yang lain, menetap di satu kamar. ada dua kamar dalam satu ruang angkut yang dibawa oleh penyu ini. baik itu pria atau wanita harus tinggal dalam satu kamar tersebut.
"Wah, lihat! kita sudah tiba di kekaisaran Zhong Tian." Hulena menunjuk ke depan, di mana terdapat kekaisaran Zhong Tian. Dan dibawah mereka terdapat kerajaan air.
"indahnya!!" Lin Fin juga tidak bisa menahan kekagumannya, namun tiba-tiba keningnya menyerngit saat melihat sebuah pulau melayang di atas langit. dengan di topang empat rantai raksasa sebagai penyangga pulau tersebut.
"ap-apa itu? apakah itu pulau?" Lin Fin tiba tiba bertanya dengan penasaran. Sementara Hulena disamping hanya menggelengkan kepala. mereka belum pernah berkunjung di kota yang sangat mempesona ini.
"Itu pulau permata surgawi. di sanalah istana Hamparan surga berada." Jawab Weisi singkat.
"Woaaah!!!" Semua orang berseru kagum, kecuali Qin yan, Xiu Xiu dan Xie Xie yang sudah pernah pergi ke sana.
"Lin Fin, ayo lihat di luar sana!!" Hulena langsung menarik tangan Lin Fin, kemudian membawanya ke teras, dimana seluruh pemandangan bisa disaksikan dari atas sana.
"astaga ini benar benar menakjubkan, aku belum pernah melihat kota seindah ini." sambil
menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, Hulena menggandeng lengan Lin Fin dengan mesra.
"hei!! sedang apa kalian di situ. itu tempat kami!!" tiba-tiba, di belakang. terdengar suara seorang pria yang membentak mereka berdua.
Sontak, Lin Fin dan Hulena jadi terkejut. mereka berbalik melihat ke belakang, ternyata seorang pria yang terlihat berumur 24 tahun sedang membawa dua wanita di kanan kirinya.
"Bos Run, Tampaknya sepasang sejoli ini tidak mengetahui tempat mereka. Najis sekali." Ucap wanita di bagian kanan dengan jijik melihat tampang Lin fin.
dengan bangganya, ia memalingkan wajah. padahal diam-diam wanita itu melirik Lin Fin. tak bisa ia pungkiri, kalau kharisma Lin Fin begitu menggoda. wajahnya yang tampan disertai dengan postur tubuhnya yang pas. tidak bengkak karena otot dan tidak terlalu kurus. membuat wanita itu tidak tahan untuk bersandiwara.
keperawakan Lin Fin jauh lebih baik daripada pria yang ia peluk. tubuhnya kurus dan kulitnya hitam, ditambah kepalanya yang botak. membuat alis Lin Fin menyerngit melihatnya.
"Huh, apa yang kau lihat dasar bodoh. tunggu apa lagi apa kau mau dipukuli!!" Bentak wanita berdandan menor dibagian kiri. watak mereka bertiga benar-benar sombong, hanya karena pria yang memeluk mereka itu sangat suka menghambur-hamburkan uang. mereka jadi sesuka hati menyombongkan diri di mana-mana.
"kau pikir kau siapa! kami duluan yang berada di tempat ini." Hulena tiba-tiba angkat bicara, ia menatap ketiga orang itu dengan tatapan tajam.
"Huh!" pria botak item tersebut langsung tertegun, melihat kecantikan alami milik Hulena. untuk beberapa saat, matanya tak bisa lepas dari pesona gadis itu. namun tatapannya dianggap jijik oleh Hulena, karena tatapan itu begitu cabul sampai-sampai air liur pria itu jadi menetes.
dengan cepat, pria itu melepaskan kedua wanita yang ia peluk. dengan percaya dirinya ia berjalan ke hadapan Hulena. menawarkan tangannya kepada gadis itu.
"halo cantik, perkenalkan namaku Run dong dari kerajaan Nesta." pria itu bahkan berlutut satu kaki di depan Hulena tanpa menghargai adanya Lin Fin disamping.
"Dasar brensek!!" dengan penuh amarah, Lin Fin langsung menendang pria itu dengan kasar.
"BOOOOMM" dinding pun hancur, dihantam pria tersebut. akibatnya, seluruh orang yang ada di dalam ruangan itu keluar. mereka sangat terkejut dengan apa yang terjadi.
"Ada apa ini!!!" teriak seorang pria kekar yang baru keluar dari ruangan yang rusak. dia sangat besar dan kulitnya pun juga hitam sama seperti pria botak yang ditendang tadi.
ketika melihat siapa yang ditendang, mata pria itu langsung terbelalak kaget.
"Pangeran!! apa yang terjadi denganmu? siapa yang berani menendangmu?" pria itu langsung datang menolongnya. teman-teman yang lain juga kaget melihat pemandangan itu.
"Astaga siapa yang berani melawan pangeran? apa dia ingin mati?"
"Bajingan!!!!, kau berani sekali menendang pangeran kami!!!" salah satu mereka langsung merundung Lin Fin dan Hulena.
"Heh! Merekalah yang datang mengganggu kami. Memangnya kami tak bisa membalas!!" Hulena menjawab dengan emosi.
"Itu tidak benar Kakak Cu!!, dialah yang pertama menganggu kami. Tanpa peringatan ia langsung menendang pangeran Run dong." wanita dari orang yang ditendang tadi, masih berdiri menahan keterjutannya. ia tak menyangka kalau Lin Fin benda-benda kuat. tapi ia berpikir kalau Lin Fin tidak akan punya jalan lagi, karena sudah berani menyinggung pangeran mereka. makanya ia segera menuduh Lin Fin yang tidak tidak.
"Itu benar kak, mereka yang tiba-tiba menendangku." timpal pangeran yang sudah dibantu berdiri.
"Dasar kau pria brensek!! Apa kau masih meminta tambah!!" Lin Fin mulai berteriak keras, menggertak mereka.
keributan tersebut juga memancing perhatian dari kelompok Qin Yan yang berada di samping kamar mereka. segera setelah keributan itu terjadi, mereka berbondong-bondong keluar untuk melihat lihat. ternyata salah satu teman mereka sedang terlibat dalam suatu pertengkaran.
melihat itu mereka juga tidak tinggal diam. Weisi hendak maju dan memukul mereka, namun Qin Yan menghentikannya terlebih dahulu.
"Bro, mari kita selesaikan masalah ini secara baik-baik." Berkata Qin Yan dengan pelan, ia memegang bahu pria bertubuh kekar tersebut dengan lembut.
"Apa yang kau bilang!! Hei, apa dia temanmu? dengarnya, temanmu telah menyerang salah satu dari kami. mau tidak mau masalah ini, kalian harus bertanggung jawab atas kelakuan
__ADS_1
kalian." pria itu balik menatap Qin Yan. namun seketika ia tiba-tiba tertegun ketika menyadari tatapan Qin Yan sangatlah dingin.
entah kenapa dia jadi gemetar ketika merasakan tatapan itu.
"Mari kita bicarakan ini baik-baik." setelah kalimat yang kedua. barulah pria itu merasakan rasa dingin menjalar dari bahunya lewat tangan Qin yan.
"Ka-kau... berani sekali kau menekanku!!" pria itu menatap tajam pada Qin Yan. meski ia takut tapi ia tak mau kehilangan image di depan teman-teman nya.
tiba-tiba penyu nya pun mendarat. tepat didepan gerbang kota Surga. Di saat itulah, pria tersebut mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri dari situasi mencekam ini.
"Huh! masalah ini akan kuingat. hari ini kalian akan ku beri kesempatan, tapi kalau kedepannya kita ketemu lagi. aku akan menghajar kalian semua." Pria kekar itu langsung pergi mengajak teman-temannya meninggalkan rombongan Qin Yan.
"Wah kakak Cu sangat hebat."
"Kau benar-benar keren!!" Para gadis di antara mereka memuji pria kekar tersebut. disusul dengan pangeran berkulit hitam di belakang.
"Kakak Cu, kenapa kau tidak mengajar mereka?" bisik pangeran itu dengan tak senang.
"jangan dulu Run dong. ini bukan waktu yang tepat, kita akan menghajar mereka nanti"
mendengar jawaban itu, pangeran tersebut tak bisa apa-apa. meski ia juga tak rela meninggalkan rombongan Qin yan, tapi tanpa dukungan teman-temannya dia juga tak berani maju. oleh karena itu ia hanya mendengus sombong dan berjalan pergi mengikuti mereka.
"Hh...!!!" Lin Fin tiba-tiba bergerak, hendak mengejar mereka. namun, dihentikan oleh Qin Yan.
"tak usah mengejar mereka." Qin Yan menarik tangannya.
"tapi ini masalah harga diri seorang pria Qin yan." Lin Fin tetap bersikeras untuk menghajar mereka. namun Qin Yan juga bersikeras menghentikannya.
"aku tahu, tapi cobalah tahan itu. kita tidak boleh membuat keributan. kita urus mereka nanti, tapi untuk hari ini jangan menarik perhatian." Qin Yan mencoba menenangkannya, Hulena juga membantu di samping. mengatakan kalau apa yang dikatakan Qin yan memang benar.
setelah memperhatikan kondisi, akhirnya Lin Fin mengangguk. ia melihat banyaknya orang yang mulai memasuki kota ini, tampak begitu ramai. makanya kalau terjadi keributan pasti akan menarik perhatian.
Qin Yan kemudian menunjuk ke atas, di mana ada seorang pria berkumis tipis berdiri di atas bangunan perumahan.
"coba lihat itu."
teman-temannya mengarakan pandangan diarah yang ditunjukkan Qin yan.
"siapa dia?" tanya Lin Fin dengan mata menyipit.
"dia adalah pengawas yang ditugaskan khusus untuk mengawasi semua pendatang." Jawab Weisi sambil turun dari kereta. Diikui dengan yang lainnya.
Weisi pun langsung menjelaskan.
"sebulan yang lalu, di hari ulang tahun adikku. seseorang membuat kekacauan. membuat perayaan tersebut jadi berantakan."
"Woooaahh!!! siapa yang berani membuat kekacauan di hari ulang tahun putra sang legenda. ditambah lagi bukankah ini wilayah kekuasaan sekte hamparan surga?" Lin Fin langsung tersentak kaget. penasaran dengan orang yang membuat kekacauan tersebut, ia berbalik pada Weisi yang juga berbalik melirik Qin Yan.
seketika itu, semua orang mengangguk mengerti. Jadi begitu rupanya, ternyata semua itu tidak lain adalah Qin Yan sendiri. Jadi, bukan hal yang mengejutkan lagi jika berita seperti itu berkaitan dengannya. Lin Fin yang tadinya nampak bersemangat, kini terdiam. Menatap Qin Yan, ia jadi mengerti alasan Qin yan melarang nya membuat keributan. Ternyata dia tak ingin diekspos begitu cepat yah.
"jadi, bisa dibilang. pengawas itu sebenarnya secara khusus memata-matai Qin Yan yah." Huang er maju sambil melipat tangannya didada. Melirik Qin yan yang hanya terdiam.
"ya kira-kira seperti itu." Weisi pun melambaikan tangan.
"baiklah, sampai disini saja kalau begitu. Qin yan kami pergi dulu. Kita berpisah disini, nanti kita akan bertemu diarena." ia pun pergi disusul dengan Huang er dan Hulena.
Qin Yan dan teman-temannya menyaksikan kepergian mereka, yang masuk duluan ke dalam. setelah itu, Qin Yan pun menoleh ke teman-teman di belakang.
"ayo kita masuk juga."
mereka pun tanpa ragu memasuki gerbang.
di sana sudah banyak sekali orang orang yang datang. kebanyakan memakai seragam tersendiri hingga terlihat seperti sebuah kelompok. Namun sebenarnya mereka adalah para murid murid dari akademi berbagai kerajaan. termasuk kelompok Qin yan, mereka juga memakai seragam akademi. Pakaian putih dengan dilengkapi rambu emas sebagai pelengkap. Nampak terlihat elegan, dan memberikan kesan kepada semua orang.
"Hei hei, dari mana mereka? aku baru lihat, apakah mereka dari akademi baru?"
"entahlah, aku juga belum pernah melihat mereka. tapi yang pasti, mereka pasti dari akademi baru."
ketika rombongan Qin Yan melewati jalan yang yang dipenuhi kerumunan orang-orang. semua menatap mereka, dalam sekejap Qin yan dan yang lain menjadi pusat perhatian.
"Tadi katanya jangan menarik perhatian. tapi apa sekarang, kita berjalan saja dan sudah menjadi pusat perhatian." Lin Fin bergumam pelan dengan penuh keringat. Dimana yang salah, sebenarnya apa yang membuat mereka jadi pusat perhatian begini.
"Sstt... Diamlah saja, kita ini baru pertama kali datang kesini. Jadi sudah sewajarnya mereka memperhatikan kita." Qin Yan menenangkannya, ia tetap tenang berjalan kedepan dengan wajah acuh tak acuh.
"Brak" Namun siapa sangka kalau seseorang tiba tiba menabraknya.
__ADS_1
"Hei!! kau punya mata tidak!!" bentak seorang pria berumur 24 tahun. Dahinya diikat kain dan ia memakai seragam hitam polos.
jelas sekali, kalau orang inilah yang sengaja menabrak Qin yan. Namun ia sama sekali tidak merasa bersalah, malah merundung orang lain sebagai gantinya.
"kalian dari akademi baru yah?" tetap pria itu merendahkan.
"Yah." balas Qin yan dengan tatapan dingin.
"Oh, benarkah. pantas saja kau tak punya sopan santun saat berbicara denganku. kau bahkan menatapku terang-terangan, mau melawanku hah? tampaknya kau harus diajari tata krama dulu yah baru bisa mengerti dan menghormati seniormu di sini." pria itu pun maju dan menatap Qin Yan dari dekat, matanya melotot dan melihat ke bawah karena jarak tinggi Qin Yan sedikit lebih pendek darinya.
apa yang pria itu lakukan, menarik banyak perhatian orang orang di sana. mereka berkumpul, dan mengerumuni kedua belah pihak.
"Itu Shin Cheng dari kerajaan Black Metal. sepertinya murid dari akademi baru itu akan diberi pelajaran."
"Yan itu bagus sekali, ini terlihat sangat menarik. tontonan bagus di sore hari ini."
mereka semua mulai berbisik-bisik satu sama lain, ada yang tertawa, mencibir, bahkan menghina terang-terangan pada kelompok rombongan Qin Yan.
tentunya hal itu membuat Lin Fin dan yang lainnya merasa tidak terima. mereka ingin bertindak namun sekali lagi Qin yan memberi kode agar tetap tenang dan tidak terprovokasi.
Qin yan balik menatap pria di depannya, sudah sewajarnya hal ini terjadi. setiap orang kerap akan mencari masalah hanya untuk memenuhi hasrat kesombongan mereka. Mereka hanya ingin menjadi pusat perhatian. Namun Qin Yan sudah muak dengan hal yang seperti itu. ia pun mencibir dengan pelan.
"atas dasar apa kamu menyebut dirimu sebagai senior kami."
mata pria itu langsung terbelalak ketika mendengarnya, sebuah palu besi muncul tanganku pria itu.
"Kurang ajar!! mati saja kau!!" tanpa ragu ia mengangkat palu itu, hendak menyerang Qin yan. namun tiba-tiba sebuah percikkan api jatuh di tengah mereka. membuat pria itu refleks mundur ke belakang.
"Apa kalian lakukan di sana!!" teriak seorang gadis yang berdiri di atas bangunan, memakai ceongsam merah dibalut kain hitam. keperawakannya seksi dan menggoda, kecantikannya menarik perhatian semua orang termasuk Qin yan sendiri. ditambah dengan sebuah penjepit rambut yang berlapiskan bulu burung phoenix. membuat penampilan gadis itu semakin sempurna saja.
"Peri api, Tang xinglian. itu benar-benar dia, ya Tuhan ternyata rumor selama ini benar. kecantikan peri api memang tidak ada bandingannya." semua orang langsung menatap gadis itu dengan mata berbinar seperti melihat seorang idola. termasuk pria yang memegang palu di depan Qin yan.
"siapa dia?" tanya Qin Yan dengan bingung. Hal itu membuat pria didepannya jadi terkejut.
"A-apa! kau benar-benar tidak tahu siapa dia? Dia itu Tang xinglian dari kerajaan Dandun. dia termasuk dalam jajaran 10 Dewi tercantik di dunia ini."
"Ooooohh..... begitu." Qin Yan mengangguk mengerti seperti orang idiot. padahal dia tidak sadar kalau gadis bernama Tang xinglian tersebut selalu memperhatikannya.
Tang Xinglian, gadis populer yang cukup menarik perhatian pada turnamen sebelumnya. banyak sekali pangeran-pangeran yang berusaha menarik perhatiannya, bahkan tidak sedikit pria yang mengajaknya berkencan. namun itu semua ia tolak mentah-mentah.
sebagai seorang idola, Tang xinglian menetapkan standar tinggi bagi para pria yang ingin mendapatkannya. yakni dengan cara mengalahkannya dengan pertarungan satu lawan satu. karena tantangan tersebut, nama Tang xinglian terkenal dikalangan pria. meskipun dia tidak menepati tiga juara teratas. tetapi sampai saat ini belum ada pria yang bisa mengalahkannya.
tapi sekarang, ia benar-benar tak menyangka. ada seorang pria yang tidak mengetahui dirinya. dengan geram, ia menunjuk Qin yan dengan tatapan tajam.
"idiot!!, dari kerajaan mana kau?" tanya gadis itu, seketika semua orang berbalik menatap Qin Yan. ada yang menatapnya iri, karena gadis cantik seperti Tang xinglian tertarik dengan anak idiot dari kerajaan yang tidak diketahui.
Qin yan hanya diam, tak menjawab apapun. tidak lama kemudian gadis itu mendekat, dan mereka saling berhadapan.
"Hai." Lin Fin menyapanya di samping, tapi gadis itu tidak menghiraukannya. tatapannya masih tertuju pada Qin Yan yang bertingkah seperti orang bodoh. ya setidaknya dari sudut pandang gadis itu.
"katakan padaku, kau dari kerajaan mana?." ia menunjuk dan hampir mengenai mata Qin Yan. sementara satu tangan yang lain berada di pinggang.
"Sunmoom." jawab Qin yan singkat, semua orang terkejut mendengarnya termasuk gadis itu.
"Ka-kau dari kerajaan sunmoon?" gadis itu berkata terbata-bata.
"Ya."
"Astaga!!! benarkah mereka dari kerajaan itu.??" semua orang mulai berbisik-bisik sekali lagi siapa sangka murid yang baru mereka lihat ini ternyata dari kerajaan yang terkenal baru-baru ini.
"bukankah disana ada anak legenda bernama Qin yan? dia pasti ada di salah satu mereka." entah siapa yang bicara, tiba-tiba tatapan mereka tertuju kepada Qin Yan sendiri. siapa lagi kalau bukan orang yang paling depan, itu adalah orang yang paling kuat.
entah kenapa rasanya Qin yan sama sekali tidak enak dipandang seperti itu.
"Hihihi.... asumsi mereka benar-benar tepat." Lin Fin berusaha menahan tawa di samping. hal tersebut membuat wajah gadis di depan Qin yan jadi memerah malu. tapi ia benar-benar tak percaya kalau orang di hadapannya ini adalah Qin yan.
"Hmph... kau kira aku akan percaya padamu. kau adalah salah satu dari sekian banyak orang yang menganggap dirinya sendiri sebagai seorang Qin yan. kau pikir itu bagus, dengan itu kau akan menarik perhatian banyak gadis? Dengar yah, jangan salahkan aku jika kau tidak akan disukai banyak orang. Bagiku orang seperti itu adalah orang yang paling menjijikan." tanpa ragu, gadis ini langsung melontarkan kata kata penghinaan kepada Qin Yan. Padahal Qin Yan tidak tahu apa yang ia lakukan pada gadis ini hingga ia jadi semarah itu. Semua orang juga tertawa lucu melihatnya dipermalukan.
Setelah puas, gadis itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Apa yang terjadi dengannya?" Qin Yan memiringkan kepala menatap kepergian gadis itu.
"Apakah kita harus menghajarnya master!" Bisik Xiu Xiu disamping. Ia tak terima melihat masternya dipermalukan. Namun sekali lagi, Qin Yan hanya menggeleng.
"Mulai sekarang, jangan panggil aku Qin Yan, tapi Qian Yan." Setelah menimbang nimbang, akhirnya Qin Yan mengambil keputusan. Kalau dia ikut turnamen dengan menggunakan nama lamanya, ia pasti akan menjadi pusat perhatian. Toh nama Qian Yan juga bukan nama palsu.
__ADS_1
Mendengar itu, semuanya jadi mengangguk. meskipun mereka juga bersimpati dengan Qin Yan dan ingin menampar gadis tadi. Tentunya mereka takkan berbuat sembarangan tanpa seijin ketua mereka.
"Baiklah, mari kita menuju pendaftaran." Mereka pun akhirnya mengikuti Qin Yan yang pergi kearah depan.