
Kembali kesituasi Qin yan.
Setelah membuka kunci, rupanya ada sebuah dinding penghalang yang dibuat khusus oleh Asral. Dari tadi, Qin yan dan Medusa terus menerus berusaha menghancurkan dinding itu.
"Apakah kau tidak makan tadi pagi atau bagaimana sebenarnya. Kenapa menghancurkan dinding saja kau tidak bisa." Berkata Qin yan dengan malas melihat ratu Medusa yang dari tadi tidak bisa menghancurkan dinding penghalang pintu masuk.
"BUKH" Ratu Medusa terhenti pada serangan yang terakhir kali. Tangannya tertelan oleh dinding penghalang, namun tubuhnya menggigil karena perkataan Qin yan yang terlalu menusuk hati. Ia menggertakan gigi berkali kali, saat berusaha menghancurkan dinding yang begitu keras ini. Ditambah lagi dengan perkataan anak itu, rasanya ia tidak tahan lagi.
Seluruh dinding sudah dipenuhi bekas pukulan dimana mana, hanya saja anehnya tidak pernah pecah. Betapa memalukannya saat ia gagal memecahkannya didepan Qin yan. Apalagi anak itu makin memperparah emosinya padahal ia sendiri tidak mempunyai jalur energi. Tapi masih mempunyai harga diri untuk mengejeknya.
'Anak sialan, aku pasti akan membunuhmu setelah ini.' Keringat disertai urat muncul diwajahnya. Diam diam ia melirik kebelakang, dimana Qin yan hanya duduk santai menontonnya.
"Kenapa kau diam saja disana, kita tidak punya banyak waktu. Nanti kalau Asral datang bisa berbahaya." Tegur Qin yan lagi hingga membuatnya jadi menggertakan gigi sekali lagi.
"Anak itu taunya hanya menyuruh saja, kenapa dia tidak turun tangan saja. Agar ia tahu betapa kerasnya dinding ini." Ratu Medusa mengoceh sendiri, namun ia melampiaskan kekesalannya pada dinding didepan.
"Bukh. Bukh. Bukh. Bukh"
"Hah hah hah" Kini ia sendiri sudah kehabisan tenaga, keringat bercucuran diseluruh tubuhnya.
"Astaga, kalau kau memukul tanpa arah seperti itu memang tidak akan bisa memecahkannya. Serang lah disatu arah titik yang sama berkali kali. Kau ini, umurmu sudah lebih seratus tahun. Tapi pekerjaan anak ingusan saja kau tidak bisa."
Perkataan Qin yan membuat ratu Medusa menghembuskan napasnya dengan berat. Layaknya banteng yang sudah mencapai puncak tekanan tinggi. Wajahnya menjadi merah padam. Ia pun langsung berbalik kearah Qin yan dengan penuh emosi.
"Sialan! Kalau kau memang bisa melakukannya, kenapa tidak melakukannya sendiri! Kau pikir itu semudah bicaramu hah! Kau bilang menyerang disatu titik yang sama, maksudmu seperti ini?"
"Bukh, Bukh, Bukh, bububububukh" Ratu Medusa memukul dinding itu dengan kecepatan tinggi disatu titik yang sama. Hingga dinding terlihat membentuk sebuah lorong. Bahkan Qin yan sendiri saja jadi menelan ludahnya sendiri disertai keringat bercucuran.
'Sedikit lagi, dia benar benar akan menghancurkannya. Eh!' Qin yan yang tengah mengangguminya kini terkejut melihat Medusa berbalik kearahnya dengan kemarahan yang intens.
"Apa kau pikir aku bodoh hah! Kau selalu mempermainkanku dari tadi. Kalau kau mau menghancurkannya, pergilah serang sendiri! Biar kau tahu seperti apa rasanya." Ia tiba tiba menodongkan tongkatnya keleher Qin yan yang dialiri energi kuat.
'Ppfftt... padahal tinggal satu pukulan lagi. Wanita ini otaknya buntu yah.' Qin yan hampir tertawa melihat ekspresi wanita ini yang seperti babi kelayapan.
"Apa yang kau tertawakan hah!" Mata Medusa langsung melotot, dengan hawa membunuh tinggi ingin membunuh Qin yan. Kini kesabaran sudah habis setelah dipermainkan berkali kali.
"Baiklah baiklah, jika seperti itu yang kau mau. Maka aku akan melakukannya." Qin yan sengaja menjawabnya dengan cepat, sehingga ratu Medusa tidak jadi membunuhnya. Dengan kesempatan itu ia jadi bisa keluar dan pergi menuju dinding penghalang untuk menghindari tekanannya. Jalannya begitu santai hingga ratu Medusa saja jadi terbengong.
__ADS_1
"Perhatikan ini baik baik." Ditangan kanan Qin yan tercipta rasenggan kecil.
"Cih, memangnya apa gunanya itu." Ratu Medusa membuang muka sambil melipat tangannya di dada. Kali ini ia akan melihat sendiri kekesalan anak ini, sehingga ia bisa menertawainya.
Qin yan menarik tangannya, pandangannya tertuju pada bekas serangan ratu Medusa. Senyum licik terpancar diwajahnya.
'Lihat saja, kau pasti akan menyesal karena telah menghinaku tadi.' Pikir Medusa dengan wajah senyuman licik pula, ia tidak sabar menanti apa yang akan terjadi.
"BOOOMMM" Debu pun langsung bertebaran, disaat Qin yan melancarkan serangannya. Dengan penasaran ratu Medusa menggunakan kekuatannya untuk menghilangkan debu yang menghalangi pemandangan mata demi melihat hasilnya.
"Hah!!" Matanya langsung merosot seperti mau keluar, mulutnya terbuka seperti bocah ingusan. Menatap dinding yang hancur akibat serangan Qin yan.
'Di-dia....' Ratu Medusa membeku tak mau menerima kenyataan kalau ia benar benar sudah kalah dengan anak ini.
"Bagaimana? Kau puas sekarang?" Berkata Qin yan dengan ejekan saat menatap Medusa yang tengah melongo.
'Wanita ini goblok sekali.' Qin yan menggelengkan kepala sambil menahan tawa. Kemudian masuk kedalam ruangan tersebut.
"Hei, tadi kau mengambil sisaku bukan.?" Medusa mulai menyusulnya, bertanya dengan alis berkerut.
"Ya, bisa dibilang seperti itu. Tapi aku tidak yakin kalau kau bisa memecahkannya." Jawab Qin yan. Mendengar itu, ratu Medusa yang hendak mengejeknya balik kini terdiam seribu bahasa.
'Rasanya aku akan selalu kalah jika berdebat dengan anak ini. Apakah memang ada seorang jenius dalam segala hal?' Ratu Medusa menatap Qin yan lagi, namun kini ia tidak mengatakan apapun. Itu akan percuma karena ejekannya akan berbalik padanya.
"SWOSH" Belum sempat Qin yan bertindak, dia sudah dihantam oleh Asral sampai menembus ruangan lain.
"Uhk.. Uhuk uhuk" Tubuh Qin yan sepenuhnya menggigil, rasanya seluruh badannya mengalami kerusakan. Bukan main, musuh yang menyerangnya sudah berada di puncak tingkat Semigod.
"Heeeehh! Anak sialan, aku baru berurusan dengan Elfes beberapa saat. Tapi kau sudah membuat masalah sejauh ini. Dari awal seharusnya aku membunuhmu saja dasar pembawa masalah!" Asral mengangkat tangannya yang dipenuhi cakar, energinya membuat tubuh Qin yan melayang.
'Sial, tubuhku tidak bisa begerak.' Qin yan menggertakan giginya yang dialiri darah. Matanya langsung membesar saat tubuhnya tiba tiba tertarik dan menuju cakar Asral yang tajam.
"BOOMM" Namun Asral sendiri terpental akibat serangan dadakan dari Medusa. Beruntung Qin yan sendiri tidak jadi mati ditangannya.
"Gadis kecil, lebih baik kau jangan ikut campur." Berkata Asral dengan marah, kedua tangannya mengandung percikan energi kegelapan yang kuat. Menatap tajam pada ratu Medusa yang tengah waspada. Energi kuat juga mengalir ditongkatnya, energi kental mengandung elemen api.
"Siung" Dengan cepat serangan Asral langsung melesat. Medusa menggunakan kekuatannya untuk menangkis. Namun kekuatannya jauh lebih besar hingga ia sendiri terpental sampai kedinding yang berlawanan dengan Qin yan.
"Bhuargh" Darah segar langsung mengalir keluar dari mulut wanita itu. Ia ingin bergerak namun tak bisa apa apa.
__ADS_1
"Siung siung" Beberapa batang besi langsung tertancap didada kanan dan dada kirinya. Tepat dijantung hingga membuat ratu Medusa sendiri jadi tidak bernyawa lagi.
Ia tewas ditempat.
Tidak lama kemudian, mulut wanita itu terbuka lebar dan akhirnya ular merah keluar dari dalam tubuhnya.
"Seperti yang kuduga dari klan Medusa, nyawa kalian ada di tempat tinggal kalian rupanya." Besi besi Asral mulai menyerang ular itu. Namun dengan gesitnya, ular itu mampu menghindari. Sampai akhirnya berhasil melilit tubuh Asral sendiri.
"Medusa, ini adalah peringatan terakhirmu. Setahuku ratu ular hanya bisa berganti tubuh sekali saja. Jangan salahkan aku jika aku benar benar membunuhmu disini."
Rupanya perkataan Asral hanya diabaikan, mulut ular itu yang biasanya mengeluarkan lidah. Kini terbuka lebar dan sosok cantik ratu Medusa kembali terlihat dan akhirnya keluar dari dalam.
"Aku tidak perduli, karna tugasku adalah mengurungmu kembali!" Tangan wanita itu dipenuhi cakar tajam beraliran api. Hendak menyerang Asral, namun Asral sendiri mencekik lehernya.
"Sudah kubilang kan, jangan menggagguku." Genggamannya begitu kuat, hingga ratu Medusa yang berusaha melepaskan diri tak berdaya sedikit pun.
"Kratak!" Hingga akhirnya tulang leher ratu Medusa pun patah dan mayatnya terjatuh dilantai.
Ekspresi Qin yan benar benar tidak bisa dibayangkan lagi, ia ingin lari namun tak bisa bergerak. Sampai akhirnya tubuhnya melayang sekali lagi, dan tertarik ketangan setan tersebut.
"Gleb" Tubuh Qin yan mengejang beberapa kali, hingga akhirnya membeku. Darah menetes kelantai begitu banyak, bahkan matanya tidak berkedip lagi. Tangan Asral berhasil menembus tengah dada Qin yan. Kristal warna pemberian ayahnya juga tergelinding diatas lantai.
"Hoooh, jadi kau sudah memegang kuncinya rupanya." Asral melepaskan tubuh Qin yan, kemudian mengambil kristal itu.
"Benar benar menyusahkan." Ia pun berjalan kearah altar yang ada ditengah ruangan itu, meninggalkan mereka sepenuhnya.
Sementara mayat Qin yan kebetulan berhadapan dengan mayat Medusa yang juga sudah membeku dengan mata terbelalak. Tidak lama Asral meninggalkan mereka, mata Medusa berkedip disertai mata Qin yan. Namun Qin yan sendiri menyuruhnya untuk diam agar tidak ketahuan.
"Huh!" Asral tiba tiba terhenti, ia berbalik sejenak pada mereka berdua. Menatap Qin yan dan Medusa dengan curiga.
"Mungkin cuma persaanku saja." Ia pun kembali berjalan meninggalkan mereka. Sampai akhirnya kontak mereka benar benar terputus dimana Asral tidsk bisa merasakan mereka lagi.
"Ukhuk ukhuk" Qin yan berbalik, rasa sakit yang begitu menyakitkan benar benar terasa ditubuhnya. Tubuhnya benar benar mati rasa dan tak bisa bergerak lagi.
'Kyubi!!! Kyuki!!!.' Panggil Qin yan susah payah, ia benar benar butuh energi mereka.
'Baj*ngan setelah ini jangan harap kalian bisa memakai kekuatannya kalian sendiri.' Qin yan menggertakan gigi sambil menahan rasa sakit.
__ADS_1
********
Oke jangan lupa untuk like, komen dan vote yah. Supaya updetnya lebih banyak.