LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Zue er dan Shinzui


__ADS_3

"Bajingan tak punya malu! Bisa bisanya dia bilang setara. Aaarrgghh.....!! Bajingan kau Weiqing!!"


Beribu ribu kutukan Qin Yan lontarkan saat berjalan pulang. ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin ia masuk dalam tipuan pak tua itu.


"sialan, dia bilang ingin memberikan aku kejutan. Ternyata kejutannya adalah ini." Memikirkan itu membuat Qin Yan makin emosi. Namun tak lama kemudian ia menggelengkan kepala, berusaha menenangkan diri.


"Mengapa aku masih memikirkannya. Aku harus tenang. Bagaimana pun semuanya terjadi tiba tiba tanpa aku duga. Lebih aku cepat pulang dan membuat persiapan. Sekarang aku tak bisa bergantung pada kekuatan lagi. Aku hanya bisa berharap trik dan keterampilan bisa mengalahkan opini pak tua itu." Dengan langkah yang cepat, Qin Yan berharap agar ia bisa pulang ke teman-temannya dengan cepat.


semua ucapannya, tidak sengaja didengar oleh seorang gadis yang tengah bersantai di atas balkon bangunan. dari seperti yang dilihat, rambut pirang emas panjang menjuntai. sepasang mata ungu menyala, menatap dingin ke arah pemandangan kota. sembari menikmati teh yang ada di atas meja.


"Nona Zue er?"


merasa namanya dipanggil, gadis itu pun berbalik. wajahnya kian makin malas ketika melihat orang yang sama mendatanginya setiap waktu.


"sebenarnya apa maumu Gu Yimbing. aku bilang aku hanya ingin sendiri. kenapa kau selalu menggangguku." ucapkan gadis itu dengan nada dingin.


sementara pria dibelakangnya hanya berdiri diam berusaha menahan amarahnya.


'kenapa nona selalu bersikap dingin kepada ku. padahal kami teman masa kecil dan dia tidak pernah memperlakukanku seperti itu. sebenarnya sejak kapan....' pria itu mengepalkan kedua tangannya. ia berusaha tetap tenang. bagaimanapun ujian ini akan ia lalui sampai hari pertunangan tiba. saat itu ia akan memiliki gadis ini sepenuhnya.


"Nona Zue er, aku ingin mendiskusikan tentang rencana tim kita denganmu." ucap pria itu dengan sopan, padahal ia adalah ketua dari tim ini. tapi kenapa seorang ketua harus menurunkan harga dirinya kepada salah satu anggota. meskipun Zue er adalah wakil ketua, tapi dia tidak seharusnya bersikap seperti ini kan.


"Hmph.... diskusi rencana tim, bukankah kau ketua tim ini. Kenapa harus memanggilku, kaukan bisa urus sendiri." Mendengar jawaban gadis itu lagi, membuat pria tersebut membeku. Matanya langsung membesar dalam keterkejutan. Tangannya gemetar hingga ia sendiri tak bisa menahannya.


"Zue er!! Apa sebenarnya yang kau katakan! Kenapa kau seperti ini? Apa salahku sebenarnya selama ini?" Wajah pria itu jadi memerah padam, gadis itu telah mencampakkannya dan ia benar benar tidak terima. Namun, ia sadar. Kalau gadis itu tidak menghiraukannya. Ia malah memperhatikan sesuatu yang lain.


Saat itu pria tersebut menyadari, sia sia saja kalau ia berkotek kotek disini. Siapa yang akan mendengarkannya.


"Zue er! Jangan lupa, kalau ayahku adalah raja dari kerajaan Wan shou. Meskipun kakekmu adalah master dari Sekte Gunung Es bersalju. Tapi dia tidak mungkin mengingkari janjinya, aku akan mengingat hari ini." Pria itu langsung beranjak pergi, saat gadis itu tidak memperhatikannya. Ia benar benar tidak bisa mengontrol kemarahannya kali ini, sampai sampai mengucapkan hal seperti itu pada gadis pujaannya.


'Sial, aku tadi terlalu berlebihan.' Tepat ketika ia hendak kembali, ia mendapati beberapa orang telah menunggu didepan pintu. Ada dua orang, satu kaki laki dan satu perempuan. Dan perempuan itu adalah kakak dari Zue er.


"Nona Shinzui, ada ada anda datang kesini?" Pria itu langsung bersikap sopan.


"Apakah Zue er ada didalam?" Tanya gadis berambut hitam tersebut. Sangat berbeda dengan kepribadian gadis yang bernama Zue er. Gadis ini terlihat lebih dewasa dan sikapnya menunjukan kemandirian.


"Ya. Nona. Anda bisa masuk." Jawab pria itu dengan sopan. Ia juga melirik seorang pria tampan yang disamping gadis itu.


"Di fengyan tunggulah sebentar." Pria tersebut disuruh menunggu, ia mempunyai rambut pink menjuntai. Memakai pakaian bangsawan, ia tampak menawan jika dilihat dari dekat. Namun, terlihat jelas kalau ekspresi pria itu tidak senang saat ia disuruh menunggu.


"Nona Shinzui, bisakah aku ikut denganmu." Tatap pria itu dengan mata memohon, membuat Gu Yimbing jadi mendengus jijik. Namun, ternyata gadis itu mengijinkannya. Membuatnya sadar, kalau perbedaan sifat dari kedua gadis itu sangat mencolok. Bahkan dia nampak iri, kenapa sifat Zue er juga tidak seperti itu. Saat berikutnya ia pun hanya bisa menahan kekesalannya, saat pria berambut pink tersebut tersenyum sinis padanya.


Saat mereka memasuki ruangan, tidak ada Zue er ditempat. Shinzui langsung memanggil Gu Yimbing. Ketiganya nampak bingung, namun yang ada mereka hanya mendengar. Ada seseorang yang tengah bertengkar dibawah sana. Ternyata seorang pria bodoh tengah bertengkar hebat dengan seekor kucing. Pertengkaran itu terlihat sangat serius.


"Kucing ini..... Apa kucing ini sengaja memperburuk keadaanku setelah aku mengalami hal buruk." Berkata Qin Yan mengusap bekas cakar diwajahnya. Beberapa saat yang lalu, ketika tadi ia berjalan pulang. Kucing ini tiba tiba datang menerkamnya tanpa sebab. Kemarahan dan rasa frustasi yang seharusnya Qin Yan lampiaskan dengan cara mengutuk Weiqing beribu kali, kini tanpa sadar tertuju pada seekor kucing imut didepannya. Namun Qin Yan menyadari mengapa kucing ini marah padanya.


"Hei, kau marah karena aku menghina dan mengutuk Weiqing yah?" Tanya Qin Yan untuk memastikan. Namun, kucing itu hanya menjilati tangannya. Karena tanggapan kucing itu diam, Qin Yan tanpa sadar melanjutkan.

__ADS_1


"Yah, kurasa itu sudah sepantasnya ia dapatkan. Siapa suruh ia bertingkah semena mena padaku. Sekarang aku tidak bisa mengikuti kompetisi alkhemis, Aaarghh....!!" Qin Yan memegang kepalanya sendiri.


"Eh.!" Tiba tiba ia terbengong sendiri. Menyadari apa yang sudah ia lakukan.


"Sial, kenapa aku berbicara pada seekor kucing. Aku pikir aku sudah gila sekarang." Qin Yan merasa frustasi atas yang dialaminya hari ini. Bahkan ia berteriak dan bertingkah seperti orang idiot. Ia pun menghela napas, berusaha menenangkan dirinya.


"Aku harus cepat pulang. Sebentar malam juga ada pertemuan. Aku harus mempersiapkan diri, setelah itu mari kita beri pelajaran untuk si pak tua itu." Qin Yan menghentakkan kakinya, hendak pergi meninggalkan tempat itu.


namun, belum tahu juga ia melangkah. kucing itu langsung menerkam lagi.


"Hei sialan kau!!! Apa yang kau lakukan!! Hei!!!"


"Ngeong!!!"


"Bruk bruk bruk"


pertengkaran terjadi sekali lagi. hal tersebut menarik perhatian banyak orang. semuanya terganga. Termasuk Shinzui dan dua pria disampingnya.


"Astaga, bukankah itu nona Zue er?" Berkata Di fengyan diatas sana. Dengan cepat Gu yimbing hendak turun untuk menengahi mereka, sekaligus memberi pelajaran untuk Qin Yan. Namun Shinzui menghentikannya.


"Pppfftt....." Kedua pria itu terkejut, melihat Shinzui menutupi mulutnya sambil menahan tawa. Ia memperhatikan Qin Yan tersebut yang berguling diatas sana, bersama kucing itu.


"Fufufu...." Tidak lama kemudian, ia tidak bisa menahan tawanya lagi. Air matanya bahkan keluar, dan berusaha memegang perutnya. Di fengyan dan Gu Yimbing bingung, apa sebenarnya yang menarik dari anak itu. Namun dilihat dari nona Shinzui yang terhibur, membuat kedua pria itu jadi memerah malu. Gadis itu terlihat begitu menawan ketika ia tersenyum. Namun hal itu membuat mereka iri, Shinzui yang biasanya tegas dan bijaksana ternyata mempunyai sisi layaknya gadis lain.


'Sial, kenapa anak tidak tau malu itu bisa menarik perhatian nona?' Batin Gu Yimbing dengan tangan terkepal. Pasalnya bukan hanya nona Shin zui, tapi Zue er juga ikut tertarik. Dan juga, melihat gadis itu yang bertarung, membuat Gu Yimbing khawatir.


Mendengar itu, Shinzui menggelengkan.


"Tidak perlu, kau pikir Zue er selemah itu? Mana mungkin ia akan terluka, bahkan mungkin ia bisa mengakhiri anak itu. Satu satunya hal yang membuatnya begitu lama, mungkin ia juga sedang mengatasi kebosanannya."


Di fengyan dan Gu Yimbing jadi tidak tenang mendengarnya. Ada perasaan iri didalam hati mereka, bertahun tahun mereka berusaha mendapatkan perhatian seorang bidadari ini. Namun sama sekali tidak di mendapat perhatian. Tapi, sekarang anak konyol itu menarik perhatian mereka berdua? Apa mereka juga harus bertingkah seperti orang bodoh agar kedua gadis ini tertarik? Tapi, bagaimana dengan harga diri mereka. Mereka adalah pangeran dari kerajaan masing masing, jadi sudah sepantasnya mereka bersikap bijaksana selayaknya pangeran.


'Sial.' Di fengyan hanya memegang dahinya, ia tidak mengerti sama sekali.


Wajar saja, bagi mereka yang tidak tau. Mereka akan berpikir, kalau anak yang bertengkar disana adalah orang idiot. Namun, hal yang mereka tidak tau kalau yang bertengkar disana adalah sosok yang mereka idamkan.


Biasanya semakin mereka terkenal maka mereka akan semakin sombong dan arogan. Bahkan cenderung menjaga status dan image, tidak bertingkah konyol seperti itu.


Namun Qin Yan benar benar berbeda, dia sama sekali tidak berubah sejak pertama kali Shinzui bertemu dengannya. Anak polos dan jujur, namun begitu misterius dan lebih licik dari siapapun. Bahkan kemampuannya melebihi semua orang, setidaknya orang yang pernah ia lihat.


Tentunya itu bukan hanya sekedar mendengar isu dari orang lain. Tapi dia menyaksikannya sendiri, saat semua ahli tahap raja hampir mati memasuki sebuah tempat berbahaya. Tapi dia bahkan bisa masuk dengan tingkatannya yang hanya berada ditingkat Elit. Betapa tercengannya semua orang saat itu, termasuk dirinya sendiri. Dia hanya terdiam ketika menyaksikan itu dibelakang orang orang.


Bukan hanya itu, dia banyak mendengar cerita tentang Qin Yan dari ayahnya. Bahkan ibunya juga ikut mengagumi anak itu, tapi bagaimana jika orang seluar biasa itu malah berbuat konyol tanpa malu didepan banyak orang. Benar benar tidak terduga kan. Shinzui hanya tersenyum menggelengkan kepala saat menonton itu.


Berbeda dengan Qing Zhu disana, ia terdiam. Wajahnya memerah karena malu, ia gugub sekali melihat itu.


'Kenapa dia begitu bodoh?' Lama kelamaan wajahnya ikut berasap.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian.


Qin Yan terbaring lemah, banyak sekali bekas cakaran diwajahnya. Sekarang tampangnya seperti orang yang sangat menyedihkan. Berbeda dengan kucing imut disampingnya, ia begitu santai menjilati cakarnya.


"A-aku menyerah, kucing manis. Aku harus kembali, sumpah! Teman temanku menungguku." Qin Yan perlahan berdiri, namun melihat kucing itu yang kembali menampilkan cakarnya membuat Qin Yan terdiam. Rasa kesalnya kembali lagi.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya!" Bentak Qin Yan lagi, namun ia lebih terdiam saat melihat isyarat kucing itu. Tentunya ia langsung mengerti.


Dia ingin Qin Yan meminta maaf atas apa yang ia ucapkan tadi.


"Baiklah baiklah, wahai kucing yang hebat. Terimalah permintaan maaf ku ini." Qin Yan berlagak seperti seorang hamba yang setia. berlutut bahkan bersujud seperti memuja dewa. Padahal kucing itu hanya memintanya meminta maaf. Tapi dia tidak memintanya terlalu berlebihan seperti ini. Hal itu membuatnya terdiam, apakah pria didepannya ini tidak memperhatikan martabat dan harga diri? Terlebih lagi, banyak sekali orang yang menonton. Apakah Qin Yan sama sekali tidak mempunyai rasa malu?


Tentunya bukan hanya dia yang terdiam, bahkan Qing Zhu yang tengah menonton juga menggigil, ia benar benar tak tahan melihat hal itu. Dengan cepat ia hendak berbalik pulang. Namun tiba tiba Shue Bing er mencibir disampingnya.


"Astaga memalukan sekali pria itu." Ucap gadis itu sambil menutupi mulutnya. Diam diam ia tertawa kecil menyaksikan apa yang terjadi. Inilah salah satu sampah yang ada di turnamen kali ini. Qin Yan mungkin akan menjadi bulan bulanan banyak orang. Karena saking memalukannya, gadis itu sampai melirik Qing Zhu yang nampak tidak perduli.


"Qing Zhu, bagaimana pria itu menurutmu?" Dia mencoba bertanya. Namun, ekspresi Qing Zhu dingin dan tenang.


"Aku tidak tau." Tanpa berbicara banyak, ia langsung melesat meninggalkan tempat itu. Membuat Shue Bing er heran melihatnya, namun setelah ia pergi. Barulah ia menggelengkan kepala menatap Qin Yan dengan jijik.


"Bagaimana bisa Qing Zhu tertarik dengan pria seperti itu. Apakah selera Qing zhu benar benar serendah ini?" Ia benar benar tak bisa mengekspresikan bagaimana pendapatnya saat ini. Yang bisa ia rasakan, kalau Qin Yan benar benar sampah yang nyata.


Tanpa basa basi lagi, ia langsung melesat. Kembali kepenginapan mereka.


apa yang mereka rasakan, sama seperti orang-orang yang menonton. semuanya memandang Qin Yan dengan jijik. ada yang mencibir, menghina, mengejek atau menggunjing. semua kata-kata kotor dilontarkan saat melihat pria rendah di depan mereka.


entah kenapa, semua kelakuan orang-orang itu, membuat si kucing manis tersebut tidak senang. iya langsung mengeram dan menggeretak mereka semua, hingga orang-orang bingung dan mengira kalau kucing itu sudah menjadi gila. karena itulah kemarahan dan kekesalannya semakin menjadi-jadi. kucing itu mau tidak mau menyalahkan Qin Yan atas apa yang orang orang itu pikirkan.


disaat kucing itu hendak menerkam Qin Yan lagi. Zhou Shinzui langsung menghentikannya. ia tersenyum ramah kepada Qin yan.


"baiklah kurasa permainannya sudah selesai. Qin Yan, apa kau mau menemaniku meminum teh?"


ketika Shinzui menyebut nama Qin Yan, semua orang langsung terdiam. terkejut dan tercengang. benarkah anak menyedihkan di depan mereka ini adalah Qin Yan? tapi mereka semua menepis kebenaran itu. bagaimana mungkin Qin yan yang terkenal hebat dan luar biasa itu bisa ada di depan mereka dalam keadaan begitu menyedihkan. sampai-sampai tak ada lagi yang bisa mereka katakan selain menyebut kalau anak itu adalah pecundang yang tak punya harga diri lagi.


"Haaah, kau dengar apa yang dikatakan nona? apa aku salah dengar, apa nona sendiri yang salah bicara. masa orang seperti itu adalah Qin yan? sangat tidak mungkin." seseorang berbicara sambil menggelengkan kepalanya.


"itu benar, mungkin nona Shinzui salah orang. aku tidak pernah membayangkan kalau Qin Yan


adalah orang ini. lebih baik aku mati daripada mengakuinya, jangankan mirip. membandingkannya saja rasanya sesuatu penghinaan yang sangat besar bagi si legenda Qin yan." semua orang berusaha menahan tawa mereka.


karena reaksi mereka yang ditujukan benar-benar berlawanan dari apa yang diharapkan. membuat wajah Shinzui langsung menghitam. gadis itu langsung menyuruh mereka semua pergi dari tempat itu. angin berhembus dan tatapan mematikan membuat mereka tak berani bergidik bahkan membantah perkataan nya.


Alih alih mengucapkan terima kasih, Qin Yan malah memanfaatkan situasi itu untuk pergi diam diam. baginya ia sudah lelah berurusan dengan mereka. apalagi harga diri gadis itu sangat tinggi, pasti mereka tidak akan terima jika ditolak mentah-mentah. jangankan orang yang ditolak. orang orang sekitar nya saja akan membencinya jika dia berani mempermalukan dewi mereka di depan umum. itu sama saja, menimbulkan masalah yang tidak perlu.


"Eh, di mana dia? kenapa dia tiba-tiba menghilang?" Shinzui mencari keberadaan Qin Yan, ia cukup kecewa ketika menyadari anak itu secara terang-terangan menghindarinya. betapa kesalnya, bahkan Gu Yimbing dan Di fengyan cukup emosi ketika melihat kelakuan anak itu.


"tidak apa nona, anak itu benar-benar kurang ajar. kami akan menghajar nya jika kami bertemu dengannya nanti." mereka berdua bersikap loyal dan sok perduli, demi menarik perhatian kedua gadis itu. namun apa yang mereka dapatkan, bahkan mereka tidak pernah menyangka kalau apa yang mereka katakan akan mendapat tatapan tajam dari kedua gadis itu. apakah perkataan mereka terdengar salah? hingga kedua gadis itu menjadi marah dibuatnya.

__ADS_1


Gu Yimbing ingin bertanya apa alasannya, namun kedua gadis tersebut langsung pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2