LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Serangan mendadak


__ADS_3

Dua minggu kemudian...


"Jadi bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya sang ayah pada tabib yang sedang mengobati Qin yan.



"Maaf yang mulia raja, tubuh pangeran saat ini begitu lemah. Tidak tau kapan dia akan bangun." Berkata sang tabib sambil menggelengkan kepala tak berdaya. Membuat raut wajah sang ayah menjadi lebih sedih lagi.


"Ini semua salahku. Aku tidak seharusnya mengirimnya kesana yang penuh bahaya. Karena warisan leluhur itu, aku hampir mengorbankan nyawa anakku sendiri. Kalau saja aku tau ini, aku tidak akan membiarkannya." Ayah Qin yan memegang dahinya sendiri dengan pusing.


Dua minggu sebelumnya, Qin yan dan Jia ya pulang dalam keadaan penuh luka. Diantar oleh Qian san dan pendampingnya. Anehnya juga mereka mengantar Qin yan dan Jia ya dalam keadaan seperti terhipnotis, saat mereka sadar. Mereka bilang tidak tau apa apa setelah ditanyai.


"Yang mulia, tetua Ning dan Ning er datang menjenguk pangeran." Salah satu prajurit pun datang melaporkan berita.


"Oh, sambut mereka sebaik mungkin. Mereka adalah tamu kita, aku akan segera datang." Jawab raja dengan tenang, namun tatapannya tidak lepas dari Qin yan untuk memastikan kesehatannya.


Setelah prajurit pun keluar, tatapan raja tak pernah lepas dari kekhawatirannya. Memikirkan keadaan Qin yan, ia juga teringat keadaan Qian yu. Bagaimana keadaannya saat ini. Mengingat waktu, sepertinya ia cukup lama berada dikamar ini. Tamunya pasti sudah lama menunggu. Ia pun keluar dari sana.


Disana, Qin yan yang telah lama tertidur akhirnya mengiggau sendiri. Dalam mimpinya ia sedang bersama Huo lan.


"Huo lan?" Ucapnya ketika mereka berada diatas atap istana kerajaan Feili. Berpelukan bersama dalam kenikmatan surga dunia, ekspresi Huo lan saat itu benar benar menggoda. Mulutnya terbuka dengan napas tidak teratur, serta desahan lembut keluar dari dalam mulutnya. Dia tampak sangat menikmati.


"Qin yan, apa kau sangat mencintaiku?" Tanya Huo lan saat berada ditengah ambang puncak kenikmatan.


"Ya. Ya. Aku sangat mencintaimu." jawab Qin yan dengan semangat, ia makin mempercepat ritme permainannya.


"Benarkah? Tapi kenapa kau membunuhku?"


Tiba tiba Qin yan membeku, tangannya tanpa ia sadari berada dijantung Huo lan dengan pisau yang sudah menusuknya.


"Apa! Aku... Tidak mungkin.. kenangan ini lagi.... Argh...!!" Qin yan memegang kepalanya dengan kedua tangan, sambil berteriak keras. Air matanya keluar seperti orang gila. Bayangan Huo lan serta kata katanya tergiang ngiang dikepalanya.


"Kenapa.. Kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa... kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.. kenapa.." Serasa kata kata itu sudah memenuhi dunianya.


"Hentikan...!!! Argh..!!!" Qin yan menutup telinganya, namun seberapa pun berusaha. Suara itu tetap terdengar dan tak bisa hilang.


"Seberapa pun kau menyangkal, tapi kenyataan tak bisa terbalik. Kaulah yang telah membunuh Huo lan."


Qin yan tiba tiba membuka mata, saat ini ia dalam keadaan berdiri. Didepannya, sosok yang sama dengan dirinya juga sedang menatapnya. Tapi dia bukan Qian yu, melainkan iblis dalam hatinya yang tengah berkembang. Tersenyum lebar dengan pupil matanya yang putih menatap Qin yan. Dengan pelan, ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Qin yan sambil tertawa.


"Sejak kapan kau lahir?" Tanya Qin yan dengan dingin, iblis hatinya ini sudah tidak terlihat sejak terakhir kali saat mengikuti ujian kedewaan. Siapa sangka ia juga akan lahir dikehidupan ini.


"Hahahaha.... Hahahaa... Lucu pertanyaanmu ini. Tentu aku itu lahir dari kebencianmu, kebencianmu saat kau tau kalau adalah anak cacat, dibuli, sampai kehilangan kekasihmu. Aku adalah kau dan kau adalah aku, aku sisi gelapmu."


Wujud Qin yan yang satunya itu, kakinya berubah menjadi asap. Kemudian berputar melingkari Qin yan. Berbisik dengan senyum jahat diwajahnya.


"Masa lalumu begitu kelam, bukankah itu menarik. Coba lihat ini.."


Iblis itu langsung menciptakan layar proyeksi, mencoba memperlihat kilasan masa lalu Qin yan. Namun dengan cepat Qin yan merampas dagunya, menggenggamnya dengan keras.

__ADS_1


"Kau kira kau sedang membodohi anak kecil hah!" Qin yan melotot padanya hingga ia hancur, namun tak lama ia menghilang iblis itupun kembali tercipta.


"Hahahaha... Seperti yang diharapkan dari seorang reingkarnator. Kau tidak mudah masuk kedalam jurang penyesalan."


"Kau berpikir begitu?" Tanya Qin yan dengan tenang, melesat jauh dengan cepat.


"Huh!"Iblis Qin yan sendiri melihat Qin yan tiba tiba menyerang.


"Kau kira bisa menguasai diriku hah!" Pisau Qin yan terangkat, menebas beberapa kali.


"Ptank ptank ptank ptank" Namun iblis Qin yan itu juga menggunakan pisau yang sama dengannya untuk menangkis semuanya serangannya.


"Ptank" Serangan terakhir membuat mereka mundur bersama sama.


"Seperti yang diharapkan dari tiruan, kau bisa meniru semuanya." Qin yan melesat lagi dengan cepat, menyerangnya kembali.


"Hahahaha... kau seorang reinkarnator, aku juga seorang reinkarnator."


Iblis itu tersenyum gembira, ia juga melesat menyerang Qin yan. Namun ia tiba tiba terkejut saat melihat pisau Qin yan sudah menembus jantungnya tanpa ia sadari dari tadi.


"Masih terlalu cepat bagimu untuk bertemu denganku." Senyum Qin yan menatap sisi dirinya sendiri mulai menghilang.


"Heeeh.. kau itu yah, lain kali aku pasti akan mengalahkanmu."


Iblis itupun sepenuhnya menghilang dengan senyuman diwajah. Karena ia sendiri tak bisa mati jika Qin yan masih hidup. Mereka berdua saling terhubung, satu nyawa adalah nyawa mereka berdua.


'Berapa lama aku tertidur?' Ia pun terbangun perlahan, tubuhnya nampak sangat berat. Ia kemudian keluar dari kamarnya sendiri. Berjalan melewati aula. Sampai akhirnya berhenti di atas balkon, mendapati pemandangan taman kerajaan.


"Ukhuk ukhuk" Qin yan terbatuk sebentar, setelah itu barulah ia menghirup napas segar sembari melihat para pengurus taman sedang melakukan pembersihan.


"Ini.... Kapan yah, aku bisa pulang. Aku rindu sekali dengan Yue er." Qin yan menutup mata, mengingat kenangan bersama adiknya.


"Kakak." Tiba tiba ia tertegun saat ada yang memanggilnya.


"Yue er." Panggil Qin yan dengan penuh kelembutan, namun melihat Qian qian yang datang, tubuhnya langsung membeku sejenak.


"Oh, Qian qian. Ada apa?" Tanya Qin yan dengan penuh perhatian.


"Apa anda sudah sembuh? Mengapa keluar kesini?" Jawab Qian qian dengan gugub.


Qin yan terperangah sebentar mendengar adiknya berbahasa formal. Ia heran bagaimana ini terjadi, kenapa harus pakai bahasa formal untuk seorang kakak.


"Ppfftt..." Ia Qin yan tertawa diwajahnya yang pucat, sampai sampai alis Qian qian sampai berkerut.


"Kalau dengan kakak, janganlah memakai bahasa formal. Pakailah bahasa sebebas mungkin, karna kakak siap membantumu kapanpun kamu mau." Qin yan memeluknya sebentar dengan penuh kelembutan. Membuat mata Qian qian membesar sekali lagi.


Setelah itu kedua tangan Qin yan mencubit pipinya dengan pelan.


"Dan juga rajin rajinlah tersemyum." Senyum Qin yan padanya.

__ADS_1


"BOOM BOOM BOOM BOOM"


Qin yan tiba tiba terkejut, matanya membesar saat ada serangan dadakan masuk kedekat istana.


"Apa! Apa yang terjadi!" Ia berbalik dengan panik, lebih kaget lagi saat ia melihat reruntuhan bangunan jatuh dari atas dan pasnya menimpa Qian qian.


"Awal!" Qin yan langsung memeluknya, sementara Qian qian tanpa sadar mengaktifkan teleportasi.


"Eh?" Tentu saja Qin yan kaget mengapa mereka tidak tertimpa batu, namun itu hanya sesaat. Ia kembali panik dengan keadaan tanpa memperhatikan ekspresi Qian qian yang saat ini menatapnya penuh makna.


"Apa kita diserang? Qian qian, sebenarnya apa yang terjadi?" Qin yan memegang kedua bahu Qian qian dengan mata yang besar.


"Apa kakak tidak tahu, atau pura pura tidak tau?" Jawab Qian qian dengan heran, jawaban itu membuat Qin yan membeku sesaat. Seperti disambar petir. Tidak tau harus menjawab apa. Namun ia kembali melindungi Qian qian saat ada anak panah yang menyerangnya.


"Awas!" Qin yan kembali memeluknya untuk melindunginya.


"Ini, Qian qian adalah targetnya." Tebak Qin yan dengan mata yang tajam. Ia langsung berdiri dengan penuh kemarahan.


"Baj*ngan! Dengan siapa kalian bermain main hah!" Ia langsung mengeluarkan panah dewa laut, senjata roh yang ia dapatkan dari menara kuno keluarga Bulu biru.


Panah itu ia arahkan kelangit dengan beberapa keinginan yang ia latunkan. Lilitan perban putih langsung terbuka ditangan kirinya serta diikuti dengan bangkitnya segel karma biru, namun bangkitnya itu cukup menyakitkan bagi Qi yan.


"Siut" Satu anak panah pun dilepaskan diatas langit, berubah menjadi lima. Dan pergi kearah masing masing.


"Apa itu?" Ada lima orang berbaju besi yang menutupi segala tubuh mereka ditempat yang berbeda. Tentu mereka menyadari anak panah itu, makanya mereka berusaha menangkisnya. Tidak mau kalah dengan serangan Qin yan, sayangnya mereka tidak tau. Kalau saat ini senjata yang mereka lawan adalah senjata roh tingkat dewa.


"DUAR DUAR DUAR DUAR DUAR" Pada akhirnya mereka tak bisa lari dan tewas ditempat akibat serangan itu.


"Ukh..." Ringis Qin yan saat ia merasakan tangannya berkedut dengan rasa sakit. Panah dewanya sudah menghilang. Segel karma ditangannya berkedip kedip tak menentu.


"Kak, tanganmu..." Qian qian sendiri heran, melihat tangan kiri Qin yan mengeluarkan asap seperti mau hangus.


"Tidak apa apa. Hanya sedikit.. Ukh...." Qin yan hanya menggertakan gigi menahan rasa sakit. Setelah itu segel karmanya jadi menghilang sepenuhnya.


"Hah hah hah" Keringat bercucuran diwajah pucat Qin yan. Seketika ia kaget saat Qian qian datang memapahnya.


"Tidak perlu repot repot." Qin yan memaksakan senyumnya. Namun Qian qian tetap bersi keras ingin membantunya berdiri.


"Kakak sudah tau kalau kakak masih belum pulih, tapi mengapa malah bertarung?" Tanya Qian qian dengan ekspresi kesal.


"........."


Pertanyaan Qian qian, sama sekali tidak Qin yan jawab. Ia tetap diam meskipun Qian qian masih tetap menatapnya dengan alis berkerut. Bukan karena malas atau enggan menjawabnya. Tapi saat ini ia sedang berpikir, ternyata kerajaan ini di kelilingi oleh bahaya tanpa disadari oleh masyarakat. Jika begini terus, apakah dia akan tetap diam? Tidak tidak, seharusnya ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan pembangunan.


Dimulai dari pembangunan sekte di kerajaan ini.



*********

__ADS_1


__ADS_2