
"Pangeran. Mau sampai kapan kau akan diam disitu. Aku curiga goa ini pasti akan runtuh." Jia ya sedikit khawatir ketika goa yang mereka tempati mengalami gempa beberapa kali. Apalagi melihat Qin yan yang hanya diam memperhatikan sebuah catatan darah yang ada didinding.
Ia pun jadi semakin penasaran, sebenarnya apa yang dibaca Qin yan. Jia ya, gadis itu tidak sedikit pun tahu tentang tulisan kuno milik klan ular yang diukir didinding tersebut.
"Roh ular terkutuk? Bukannya inti roh api bunga mawar suci yah, kenapa malah roh ular terkutuk?" Qin yan sendiri bingung dengan peringatan didinding tersebut.
Tiba tiba goa bergerak sekali lagi, hingga ia sendiri tak bisa mempertahankan keseimbangannya.
'Sial, keributan apa sebenarnya yang terjadi di luar sana.' Qin yan mengutuk, teringat ketika melangkah diatas permukaan lautan magma. Saat itu, tanpa sadar ia merasakan sesuatu yang aneh didalam cairan panas tersebut. Ada sesuatu yang melata, dan tubuhnya begitu besar. Untungnya ia bisa menahan sedikit tekanannya.
'Fiuh.. Beast itu pasti tingkat raja keatas. Dan mereka pasti sedang berurusan dengannya.'
"Hei, Qin.. maksudku pangeran. Aku menemukan sebuah buku. Aku tidak mengerti tulisannya, mungkin kau bisa tahu sesuatu." Xing yun menunjukan buku kearah Qin yan.
"Coba kulihat." Qin yan mengulurkan tangannya untuk menangkap buku itu. Setelah itu, ia membuka dan membacanya. Xing yun juga ikut melihat.
"Hah? Kuil kuno ular terkutuk, roh Yasral, dan pasukan setan. Kutukan, nada?" Dengan bingung Qin yan menyebutkan inti inti dari isi buku itu. Ia sama sekali tidak mengerti soal isi buku ini. Setelah halaman lain dibuka, barulah mata Qin yan membesar. Halaman itu berisikan tentang gambar gambar mitologi suku Ular Medusa, Dark demon Snake, dan Suku ular terkutuk. Sampai terlihat masing masing dewa yang mereka sembah.
Dari semua halaman, terlihat seekor ular berkepala delapan. Tentu Qin yan mengenal ular itu.
'Neidan?' Batinnya dengan tak percaya. Beast suci peliharaan dewa ternyata juga ada disini.
'Bagaimana jika Kyubi dan kyuki tahu kalau Neidan ada disini. Ppfftt...' Qin yan hampir tertawa memikirkannya.
"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Xing yun dengan bingung.
"Tidak, aku hanya berpikir kalau ular ini begitu lucu." Tunjuk Qin yan pada ular berkepala delapan tersebut.
'Apa? ular yang mengerikan ini dia sebut lucu, heeh, aku tidak mengerti lagi selera anak ini.' Xing yun saja ngeri melihat ular itu, tapi dia lebih ngeri melihat Qin yan malah menertawai ular dibuku itu.
"Pangeran. Apa kita akan berhenti disini saja? Kenapa tidak ada jalan lagi disini?" Jia ya mulai menyentuh dinding yang menghalangi, dari tadi sepanjang mereka berjalan. Kenapa harus berakhir dijalan buntu yang tidak jelas ini.
"Jia ya. Jangan sentuh sembarang....." Belum selesai Qin yan menyelesaikan perkataannya, Jia ya tidak sadar menyentuh sebuah kunci. Dan akhirnya mereka semua terjatuh kedalam jurang yang terbuka akibat kunci itu.
"Aaaaaaaahhhhh!!!!"
"Haaaaaaaaahhhhh!!!"
"Astagaaaaaa!!!"
Ketiganya jatuh bersamaan kedalam lubang tersebut. Disusul oleh seekor macan putih yang ingin mengejutkan mereka. Namun macan itu juga terjatuh dan kembali kekeadaannya semula, kembali menjadi kucing lucu.
"Srak"
"Ukh..." Qin yan meringis kesakitan, saat ada benda tajam yang ia tidak lihat menghantam bahunya.
__ADS_1
'Apa ini darah. Tunggu! Jangan jangan....!' Mata Qin yan langsung membesar memikirkannya.
"HEI! KELUAR CAHAYA KALIAN!!!" Teriakan Qin yan berdengung dilorong yang dalam itu.
'Apa yang dia bilang?' Batin Xing yun, ia tak jelas mendengar perkataan Qin yan. Namun melihat Jia ya mengeluarkan cahayanya, ia juga ikut mengeluarkan cahayanya juga.
'Hah!' Betapa terkejutnya mereka semua saat melihat seluruh permukaan dinding lorong yang dalam ini dipenuhi oleh duri duri yang tajam. Apa lagi saat permukaan lantai yang dipenuhi duri juga sebenarnya sudah dekat dengan mereka.
"Aaaaaaahhhh!!" Tanpa sadar, Qin yan, Xing yun, dan juga Jia ya langsung mengeluarkan jurus mereka masing masing.
"Rasenggan!"
"Tombak cahaya!"
"Jalan terang!"
ketiga serangan itu langsung menghantam lantai tersebut sampai hancur.
'Eh, cahaya apa ini.' Qin yan tiba tiba berbalik keatas, saat melihat sebuah cahaya juga jatuh keatasnya.
'Hah! Seekor kucing?' Batin Qin yan dengan heran, saat melihat kucing imut itu yang juga terlihat kaget sama seperti mereka ketika melihat benda runcing itu.
'Sial, berapa dalam lorong ini sebenarnya?'
Begitu lamanya mereka terjatuh, permukaan yang mereka hancurkan tadi ternyata tanpa sadar membuka jalan lain. Namun, saking dalamnya, hingga Qin yan sedikit bosan untuk menunggu.
"Hoaaam" Qin yan menutupi mulutnya ketika menguap, lalu mengambil posisi santai dengan tangannya dilipat didada.
"Aduh..." Akhirnya mereka pun terjatuh sampai kepermukaan setelah begitu lama menunggu. Hanya saja Qin yan memegang kepalanya yang sakit, bukannya ******.
Ternyata kucing manis itu mendarat dikepalanya, sementara ia mendarat diatas tubuh Xing yun. Untungnya Jia ya terjatuh ditempat lain. Tapi yang paling aneh, mereka tidak menderita luka apapun atau mati ketika terbentur dengan permukaan tanah ini. Seperti ada energi yang memang khusus untuk pendaratan disini.
"Hup" Diam diam Qin yan menangkap kucing yang ada diatas kepalanya.
"Hai gadis kecil." Panggil Qin yan pada kucing itu.
"Hei! kenapa kenapa kau tinggal hai hai disitu. Cepat turun dari tubuhku!" Marah Xing yun padanya.
"Ups, Maaf." Qin yan pun turun dari tubuh empuknya.
"Ukh... Ngomong ngomong bagaimana caranya kau mengetahui kalau kucing itu adalah betina?" Xing yun yang baru merebahkan diri juga ikut terkejut melihat kucing itu.
"Dari lubang pant*tnya."
"Ppfftt...." Xing yun tak bisa menahan tawanya saat Qin yan menunjukan bok*ng kucing itu padanya.
__ADS_1
"Aaaaahh.. Dasar pangeran mesum!"
"Plak" Jia ya langsung menampar wajah Qin yan dengan wajah memerah. Sementara Xing yun makin kocak menertawai mereka. Kucing ditangan Qin yan pun juga ikut marah dengan wajahnya yang juga memerah.
"Sakit sekali, tapi dimana kita?" Setelah mendengar perkataan Qin yan, Momen kocak mereka akhirnya berganti keseriusan. Apa lagi menatap lingkungan sekitar mereka. Ternyata mereka ada ditengah tengah kolam cairan magma. Cairan panas itu berasal dari atas, membentuk seperti air terjun. Mengalir dalam kolam itu.
"Kita... ada di wilayah terdalam penghasil magma ini rupanya."
Tatapan mereka mengarah kedepan, ada sebuah jalan khusus kesana. Dan ada pula jembatan penghubung, hanya saja tengah jembatan itu sudah hancur.
"Bagaimana cara kita kesana?" Xing yun berdiri menatap jalan tersebut.
Qin yan juga berdiri, namun tidak melepaskan kucing itu dan selalu berada dalam dekapannya. Pertama tama ia memeriksa situasi dulu.
"Kalian berdua bisa terbang kan?" Tanya Qin yan dengan serius.
"Sepertinya itu bisa kami lakukan, tapi bagaimana denganmu pangeran?" Jia ya bertanya dengan khawatir.
"Jangan khawatirkan aku, aku bisa berjalan diatas magma ini."
"Kalau begitu ayo kita pergi."
Xing yun dan Jia menggunakan pedang dan tombak mereka sebagai alat terbang. Lalu mereka melesat jauh kedepan.
"Huh!" Namun tiba tiba mata Qin yan terbelalak, melihat mereka kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.
"Siung" Dengan cepat Qin yan langsung melesat, menggunakan pijakan udara. Namun, seperti apa yang terjadi pada Xing yun dan Jia ya. Ia juga kehilangan keseimbangannya, dan tekniknya tidak berlaku ketika melewati ini jalur ini.
'Apa! Ini tidak boleh terjadi!' Ia menggertakan gigi melihat Xing yun dan Jia ya hampir tercebur dalam kolam tersebut.
"Tidak boleh..." Tanpa sadar gerbang pertama aktif, Qin yan menangkap mereka dalam sekejap. Dan membawanya kepermukaan pintu selanjutnya.
"Buargh" Disana, Qin yan menyemburkan darah segar. Seluruh tubuhnya sudah mengalami kerusakan parah akibat penggunakan teknik itu berulang kali.
"Hah hah, Bhuargh.." Qin yan memuntahkan darah sekali lagi sambil memegangi dadanya yang sakit. Jantungnya berdetak begitu cepat, sampai ia pun jadi kesakitan.
"Pangeran! Kau baik baik saja!" Tanya Jia ya dengan khawatir. Xing yun bangkit menggunakan elemen cahayanya untuk menstabilkan keadaan Qin yan. Meskipun tidak untuk menyembuhkan, tapi elemen cahaya punya keunggulan untuk mengeringkan luka dan menghangatkan tubuh.
"Sudah.. Mulai sekarang kau jangan terlalu memaksakan diri." Ia mengelus punggung Qin yan dengan pelan.
"Kalian juga mulai sekarang jangan bertindak sembarangan tanpa arahanku."
Mereka berdua langsung mengangguk, mendengar perkataan Qin yan. Selanjutnya, Qin yan berusaha bangkit dibantu oleh Jia ya.
"Sudah terlanjur sampai disini, kita tidak bisa kembali lagi." Qin yan menyeka darah dibibirnya, menatap jalan yang terbuka kedepan.
__ADS_1
'Sebenarnya misteri apa yang ada digoa ini?.'