LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Turnamen


__ADS_3

pagi harinya, di lapangan turnamen land of heaven.


Qin Yan berdiri di barisan pertama. memasuki lorong menuju arena lapangan pertarungan.


lapangan arena ini terlihat sangat luas, seperti stadion dalam turnamen seperti biasanya. tempat duduk para penonton terlihat mengelilingi lapangan. dari bawah hingga ke atas. sangat cocok untuk para penonton agar menikmati pertandingan dengan nyaman. terlihat empat buah lorong disertai empat jalan tangga untuk menuju ke tengah lapangan tersebut.


ketika para peserta pertarungan yang tentunya murid akademi dari berbagai kerajaan memasuki lapangan, sorak sorak dan tepuk tangan para penonton bergema disuruh stadion. dengan semangat mereka meneriaki jenius yang akan bertarung nantinya.


tidak ada yang bergeming, hanya berdiri tegak dan diam tanpa mengeluarkan suara. pandangan tetap ke arah depan. dimana sebuah menara yang sangat tinggi, disitu terdapat dua belas kursi yang ditempati oleh para ketua sekte.


semua para master sekte hadir dalam upacara peresmian turnamen tersebut, termasuk Yao Chen yang mewakili Qin Yan sebagai master dari sekte Istana Niwan.


"wah, lihat itu! master sekte baru. Kudengar dia adalah Qin Yan sang legenda itu, dia akhirnya hadir. kita bisa melihatnya dari sini. tampan yah, katanya dia membangun sektenya sendiri loh.!!" semua orang langsung terkesima ketika melihat Yao Chen diatas sana. mereka otomatis menganggap Yao Chen sebagai Qin Yan karena dialah yang berhak pantas duduk di tempat tersebut. semua orang memandangnya dengan tatapan kagum. padahal mereka tidak sadar, kalau Kalau Qin Yan yang asli ada di antara mereka.


"tapi benarkah itu dia, bukankah rumornya mengatakan kalau dia baru berumur 17 tahun? kurasa pria itu bukanlah Qin Yan. dia kelihatan lebih tua dari kita."


"itu benar, dengar dengar Qin Yan tersebut bergabung dalam kompetisi ini."


semua orang mulai terlihat kasat kusut membicarakan tentang Qin Yan. jika mereka tahu kalau Qin Yan mengikuti kompetisi tersebut, maka otomatis mereka akan berbalik dan memandangi kelompok para petarung yang berasal dari kerajaan Sunmoon.


tapi, ketika mereka melihat sosok Qin Yan yang ada di depan. mata semua orang langsung membesar karena keterkejutan, hingga mereka semua mendengus jijik.


"Hei hei, Bukankah itu pria yang kemarin? Kau tau, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. anak itu berlutut di depan seekor kucing. betapa memalukannya!!"


"benarkah, jadi itu orangnya. iiiih... menjijikan sekali, kenapa dia menjadi ketua tim? benar benar pecundang! Kalau ketuanya begitu memalukan, berarti anggotanya lebih pecundang lagi. Hahaha...." Terdengar cibiran dan cemohan semua orang. Kebanyakan adalah para gadis gadis belia, mereka menatap Qin Yan dengan jijik. Membuat Lin Fin dan lainnya jadi tidak tenang. Mereka hanya mengepalkan tangan erat erat dan menutup telinga seolah olah tidak mendengar apapun.


Bagaimana pun juga, Qin Yan adalah ketua mereka. Apalagi ia adalah master sekte, bukannya sebuah rasa segan yang diterima, malah cibiran dan hinaan dari semua orang. Ini namanya sudah terlalu kurang ajar.


"Qin Yan." Lin Fin berbisik didekat Qin Yan, terdapat rasa tak senang diwajahnya. Ia tampaknya tak tahan menahan emosinya.


"Sstt... Tenanglah, hanya orang bodoh yang akan membuat kekacauan karena masalah sepele ini."


Mendengar perkataan Qin Yan, Lin Fin terdiam. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya


'Lihat saja, akan dibuktikan. Kalau tim kami bukan amatiran, kalian tunggu saja.' Tatapan mata Lin Fin penuh niat membunuh ketika menatap mereka yang menertawai kelompoknya.


"Pppfftt.... Betapa memalukannya, kau menuruti perkataan badut ini? Hahaha.... dasar orang bodoh." Seorang pria kekar dari kelompok disamping menertawai Lin Fin. Kelompok itu memakai pakaian merah, dibalut kain putih. Semuanya adalah pria, dan kelihatan sangat berotot dan kekar. Mereka memakai pelindung kepala yang memiliki dua tanduk. mirip seperti banteng.


Lin Fin langsung melotot padanya, membuat pria itu terdiam. Namun tidak lama kemudian ia juga ikut melotot.


"Hei, kau mau bertarung." Ia maju, saling berhadapan dengan Lin Fin. Namun salah satu temannya menghentikan pria kekar itu.


"Ayolah Gui Jong. Kenapa kau repot repot berbicara dengan para idiot ini. lihatlah, kita bahkan belum tahu. Apakah dia tahu cara memukul."


"Pppfftt....." Perkataannya disambut dengan tawa teman sekelompok nya. Membuat Xiu Xiu dan yang lain bahkan ikut emosi.


"Anak ceweknya cantik cantik, sayang sekali mereka mengikuti idiot sepertinya. Sayang, nanti malam datang ke kamarku yah. Penginapan kami sangat dekat dari stadion ini, tenang saja. Aku akan memberimu kepuasan dan kebahagiaan, hahaha....." Orang yang paling belakang melirik Ning er yang tampak menggoda, jadi ia berusaha menyentuhnya.


"Heeh... Apa yang kubilang. Kita berada di lapangan, jadi jaga sikap kalian." Qin Yan langsung berbalik dengan tatapan dingin pada mereka semua. Meskipun suaranya tampak pelan dan tidak terdengar. Namun, kelompok itu langsung merasakan keringat dingin bercucuran dipunggung mereka.


Tanpa sadar mereka langsung terdiam.


"Bajingan kau, apa kau ingin mati. Berani berani kau, mengancam kami!!". Ketua yang paling depan mendekati Qin Yan. Dia sangat tinggi, bahkan bahunya saja sebesar paha Qin Yan. Sangat berotot.


"Wuuung...." Tiba tiba sebuah gelombang suara langsung menyebar kesemua orang. Tubuh mereka langsung menegang. Ketika berbalik keatas sana, ternyata Zhou weiqing sudah berdiri diatas, didepan para master lainnya. Dengan kedua tangan dibelakang, ekspresi pria itu nampak tenang, tegas dan cukup berdarah panas.


Ia kemudian menghentakkan kakinya lagi, auranya yang menyebar menerbangkan rambut semua orang. Hingga mereka tidak bisa menahan kagum.


Luar biasa.


Dalam sekejap, mereka yang melenceng dari barisan langsung kembali rapi.


Jauh dari kelompok Qin yan, ketua kelompok kerajaan Wanshou tengah mengamati mereka. Gu Yimbing, sedari tadi memperhatikan keberadaan Qin Yan. Ia tidak menyangka kalau anak itu adalah ketua kelompoknya. hal itu benar benar mengejutkannya.

__ADS_1


'Anak itu, dia siapa sebenarnya.' Batinnya dengan alis berkerut. Ia secara hati hati melirik Zue er dibelakang. Tidak mungkin kalau gadis ini menyukai pria seperti itu kan?


Sama halnya kelompok kekaisaran Zhong Tian. Seorang gadis tengah berbisik kepada pria botak disampingnya.


"Saudara Long, itu dia orang yang kumaksud." Zun er mulai memprovokasi pria itu, kemudian diam diam tersenyum tipis pada Qin Yan.


"Jadi, itu dia? Hmph... berani beraninya dia membuat penyihir kita marah. Dia pasti bosan hidup." Pria itu langsung meregangkan semua persendian di kedua tangannya. Menatap Qin Yan lekat lekat, ia bertekad untuk menghajar pria itu setelah peresmian ini nanti.


Tepat disamping mereka, Qiu er mendengarkan percakapan mereka. Kelompok kekaisaran Zhong Tian dan kelompok kekaisaran Busur Surgawi berdiri berdampingan. Diam diam, ia melirik dimana Qin Yan berada. Tiga tahun yang lalu, ia masih teringat tentang tampang anak itu yang lugu namun bersemangat. Tapi sekarang, Qin Yan terasa seperti orang asing. Meskipun dia pernah berpikir Qin Yan bukanlah pecundang setelah kalah darinya waktu itu. Namun ia tidak percaya, Qin Yan berubah dan menjadi kuat hanya dalam beberapa tahun. Bahkan ia terlihat sangat mendominasi.


Terakhir kali ia bertemu, anak itu sudah seperti orang lain. Ia adalah pembunuh sadis berdarah dingin. Tidak seperti orang yang kenal sebelumnya. Oleh karena itu, selama ini ia menempuh jalan yang sangat sulit demi menggapainya dan akhirnya ia bisa bertemu dengannya di turnamen ini. Ia akan bertanya padanya nanti, mengapa ia bisa berubah.


"Aaaah...."


Tiba tiba terdengar jeritan kaget dibelakangnya. Seorang gadis bercadar hitam menutup mulutnya sendiri sambil menahan tangis, ketika ia menatap Qin Yan. Tubuhnya gemetar membuat Qiu er sendiri jadi terperangah.


"Nona Qin, ada apa?" Tanya seorang pria tampan dibelakangnya, dia memiliki tongkat dan tampaknya dia seorang kultivator tipe pendukung.


"Tidak, tidak apa apa tuan Xia." Gadis itu adalah Qin ruo Ying. Tiga tahun tak bertemu, sekarang gadis itu sudah berumur 21 tahun. Aura kedewasaan serta kepribadiannya terlihat sangat mencolok.


Melihat gadis itu yang menahan tangis, Qiu er tak bisa menahan alisnya yang berkerut. Perlahan ia menatap Qin Yan, tampaknya mereka mempunyai hubungan yang mendalam. Entah kenapa hal itu membuatnya tak senang.


"Tenanglah semuanya, nona Qin baru pertama kali mengikuti turnamen ini. Jadi mungkin ia tidak terbiasa dengan suasana lapangan disini." Zhou Shinzui menenangkan mereka. Meskipun ia juga merasa tak nyaman mengapa Qin ruo bisa mengenal Qin Yan .


Akhirnya semua orang mengangguk, mereka hanya menepuk bahu Qin ruo. Tetap menyemangatinya.


Diatas sana, Zhou weiqing menatap semua para peserta yang memenuhi lapangan. Ada 33 kelompok dari 33 kerajaan dan kekaisaran. Termasuk putra dan putrinya juga ikut serta dalam turnamen ini.


Pertama tama, ia terbatuk sebentar. Kemudian kembali menatap mereka. Ia pun tersenyum tipis.


"Selamat datang di Land of Heaven. Dimana kalian akan menunjukan seluruh kemampuan dan bakat kalian dalam turnamen ini. Aku yakin, semua para pemuda disini adalah para jenius dari kerajaan masing masing, datang untuk menunjukan kekuatan dan membuktikan kepada kita semua kalau kalian adalah generasi muda yang sangat mumpuni. Oleh karena itu, dalam tiga tahun sekali, kami menyelenggarakan sebuah turnamen untuk mengetahui siapa saja pemuda pemuda jenius yang ada di dunia ini. Berbicara tentang itu, aku akan menunjukan beberapa hadiah dalam turnamen kali ini."


Setelah perkataan Weiqing selesai, sederet pelayan datang dengan membawa kotak yang tertutupi kain.


"Sebelum itu, akan kukatakan. Dalam turnamen ini, ada beberapa kompetisi yang akan diselenggarakan. Tentu saja yang paling utama yaitu pertarungan battle royal yang akan dilakukan perorangan atau pun kelompok. Yang kedua yaitu kempetisi antar Alkhemis generasi baru yang berlangsung di guild asosiasi Alkhemis kami. Yang ketiga........................."


Ada lima kompetisi, yaitu Kompetisi battle royal, Alkhemis, Penempaan, sampai akhirnya kompetisi membuat Gulungan Kondolisasi.


Begitu pula hadiah yang dimiliki, diantara mereka semua, satu satunya yang dapat membuat Qin Yan begitu tertarik yaitu peta harta Karun menuju pulau permata Suci misterius. Terlepas dari apa yang dijelaskan Weiqing, Qin Yan benar benar tak menyangka masih ada pulau lain dibenua ini. Hal itu membuatnya cukup penasaran. Meskipun peta tersebut bukanlah hadiah utama, namun Qin Yan lebih tertarik dengan peta itu dibanding hadiah lainnya.


"Bagi kalian yang akan mendapatkan posisi pemenang pertama, akan mendapatkan hadiah senjata ini!" Ucap Weiqing sembari memperlihatkan sebuah tombak yang sangat berkilau dilapisi cahaya biru.


"Woah!!" Mata semua orang langsung berbinar melihat itu.


"Kalian mungkin belum tahu apa senjata ini, terlepas dari betapa indah dan betapa berkilaunya. Senjata ini adalah Senjata roh tingkat Langit yang kami dapatkan diperuntukan kuno. Tidak perlu dijelaskan tentang reruntuhan kuno tersebut, tapi yang pasti ini adalah hadiah utama yang diidamkan oleh semua orang."


Weiqing mulai menjelaskan benda itu layaknya seorang penjual. Qin Yan yang tadinya sempat serius, kini perlahan mulai bosan sampai akhirnya merasa ngantuk disaat semua orang masih bersorak kagum.


"Tuk" Tiba tiba Qin Yan membuka mata lebar lebar, ketika sebuah kerikil mengenai kepalanya dengan pelan.


Saat ia berbalik kearah batu tersebut berasal, Qin Yan mendapati seorang gadis berambut merah berapi sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Gadis itu tampak familiar, Qin Yan rasanya pernah bertemu dengannya disuatu tempat. Tapi ia tidak tau dimana. Dan juga, mereka berpakaian merah menyala. Qin Yan mengenal mereka karena melihat seorang gadis satunya lagi berdiri didepan gadis yang melemparnya.


Dia adalah Tang Xinglian, gadis yang kemarin menghina Qin Yan didepan semua orang. Dia berasal dari kerajaan Dandun. Tapi, saat ini gadis itu nampak dingin dan acuh tak acuh. Dia masih tetap meremehkan Qin Yan, sebaliknya gadis dibelakangnya memandangnya dengan tatapan penuh permusuhan.


'Sial, siapa gadis itu. Kenapa tatapannya tidak lepas dariku dari tadi?' Jujur saja, Qin Yan tak tenang dengan sikap gadis itu. Itu semua membuatnya tak nyaman.


Dari pada itu, Qin Yan lebih memperhatikan grub yang ada disamping mereka. Ada beberapa orang yang tampak familiar. Itu kerajaan Air, dan ia melihat dua orang yang ia kenal. Na er dan Dai yueheng. Dua orang itu adalah orang yang menemaninya saat pergi ke kerajaan Glasier.


"Nona Chen, ada apa?" Seorang pria menyapa gadis yang sudah menggigil karena marah ketika Qin Yan mengabaikannya.


"Tidak apa apa, aku akan membunuhnya nanti. Kali ini aku tidak akan kalah lagi seperti ia mempermalukanku saat itu.


Gadis itu masih mengingat jelas saat sebelum kehancuran masa kejayaan Raja Mo, raja Dandun sebelumnya. Qin Yan menyamar menjadi bos gendut dalam tokoh ilegal. Tokoh yang memperjual belikan wanita untuk dinikmati. Entah apa alasannya, tapi saat itu ia tidak sengaja menyerangnya. Dan balasannya yaitu suatu perlakuan memalukan didepan banyak orang.

__ADS_1


Ia tidak akan pernah melupakan hal tersebut sampai nanti ia akan meminta anak itu untuk berlutut meminta maaf.


Sementara itu, disisi lain. Na er selalu menyenggol Yueheng. Akibatnya pria itu berbalik dengan tatapan tak senang. Namun ketika melihat arah dimana ditunjuk gadis itu. Seketika Yueheng langsung tertegun.


"Hah? Itu...!" Ketika ia melihat Qin Yan memperhatikannya. Yueheng langsung melambaikan tangannya dengan semangat.


Melihat itu, Qin Yan hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala. Ternyata banyak juga orang yang mengenalnya disini.


"Bodoh, kau pikir orang seperti Qin Yan tertarik padamu?" Seorang pria berambut hijau memegang pedang mencibir pada Yueheng. Mendengarnya membuat Yueheng jadi emosi.


"Kau pikir siapa, enak sekali mengoreksi. Kau ingin mati hah!" Ucap Yueheng dengan tatapan tajam. grub di sampingnya, berasal dari Kerajaan Gun. Pemuda itu ada di grub tersebut. Namun, dia pria yang menyebalkan. Seorang pembunuh bayaran kiriman yang disuruh oleh ratu Air menemaninya saat mencari mahkota kerajaan, Xuan ziwei. Sungguh sial ia bertemu dengan pria ini. Selain kekacauan dan pertengkaran. Hubungan mereka tidak pernah membaik. Bisa dikatakan mereka adalah rival dibandingkan kata "Musuh".


Akhirnya Weiqing menyelesaikan pidatonya. Setelah itu ia pun menyuruh semua ketua grub untuk maju kedepan.


Semua orang akhirnya terdiam sekali lagi. Mereka menatap kedepan, dimana beberapa orang maju kesana. Salah satunya yaitu Qin Yan.


"Qin Yan!"


Disela sela perjalanan, Qin Yan mendengar ada orang yang memanggilnya lewat telepati. Qin Yan berbalik, mendapati Zhou Weisi tengah tersenyum padanya. Entah kenapa perasaannya agak tak tenang.


"Tolong ambil salah satu." Seorang pria paruh baya berpakaian formal mengintruksikan mereka untuk mengambil sebuah kertas didalam suatu kotak.


'Apakah ini semacam undian untuk memilih lawan?' Qin Yan bertanya tanya dengan penasaran. Setidaknya itulah yang ia pikirkan.


Ketika Qin Yan mengambil salah satu, ia langsung membukanya. Alisnya menyerngit membaca tulisan dikertas itu.


"Grub B 1?" Ia memiringkan kepala dengan bingung.


"Kalau sudah selesai, silahkan menuju kesamping seperti yang lainnya." Pria paruh baya tersebut menyuruh Qin Yan untuk minggir karena beberapa ketua grub dibelakangnya sedang mengantri.


"Hm.... grup A 1? Apa ini? Tampaknya turnamen kali ini berbeda dengan turnamen lalu?" Zhou Weisi berjalan melewati Qin Yan sambil mengamati kertas ditangannya pula.


"Kau dapat nomor berapa?" Weisi bertanya pada Qin Yan.


"B 1." Jawab Qin Yan dengan bingung.


'Sebenarnya apa ini?' Qin Yan berpikir sejenak. Setelah beberapa lama, akhirnya sedikit mengerti.


'Aku berada di grub B sementara Weisi di grub A. Tanda satu mungkin artinya yang pertama bertarung.' Qin Yan mengangguk sendiri, sambil memandangi semua ketua yang memegang kertas masing masing.


"Baiklah, perhatikan dulu kesini." Seorang pengawas pertarungan, alias wasit tiba tiba berdiri menggantikan Weiqing. Dia memperkenalkan dirinya sebelum menjelaskan.


"Kertas yang kalian pegang adalah sebuah tanda digrup mana kelompok kalian berada atau kapan kalian akan bertarung. Kami memilih cara undian agar tidak ada mencurangi turnamen ini. Terkadang ada yang keberatan bahkan kecewa karena berpaspasan dengan kelompok tertentu. Jadi, dalam undian ini. Kalianlah yang tentukan sendiri."


Qin Yan memperhatikan penjelasan wasit itu. Benar saja, dugaannya tepat. ternyata kertas undian akan menentukan nasib kelompok mereka.


"Baiklah, ijinkan aku menjelaskan jalan dalam turnamen ini. Pertama, dari 33 kerajaan. Akan dibagi dua grub. Grub A dan grub B. Bagi kalian yang mendapat kertas bertuliskan grub A maka segera berkumpul. Dan bagi yang mendapat grub B juga berkumpul didepan grub A. Ingat, dalam hal ini kalian harus mencari pasangan angka kalian."


Sesuai instruksi, semuanya akhirnya berkumpul sesuai regu masing masing. Dan Qin Yan berpaspasan dengan Weisi. Entah kenapa perasaan tak tenang ini menjadi lebih berat.


Disamping Weisi, ada orang yang ia kenal. Zhang Yuisha, memakai seragam Putih hijau dengan lambang burung Pipit bersayap pendek. Tentu saja itu adalah lambang kerajaan mereka. Dari sikapnya yang dingin dan tenang, tiba tiba ia langsung berubah sikap ketika melihat Qin yan. Ia langsung tersenyum cerah saat menatapnya. Tampaknya ia berada dipertarungkan kedua.


Tapi, bukan itu yang ia pikirkan. Ada yang selalu mengganggu pikirannya dari tadi. Kenapa ia harus berpaspasan dengan Weisi?


Disisi lain, diatas menara. Dimana para master duduk. Zhou Weiqing juga tiba tiba tertegun. Ia menatap wasit dan mulai mengumumkan.


"Tepat dihadapan kalian, adalah petarung yang akan kalian lawan nanti!"


Mata Qin Yan langsung membesar mendengar itu. Benar saja. Apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi.


Lebih kaget pula mata Weisi. Ia tak pernah menyangka kalau lawannya adalah kelompok Qin Yan. Ini benar benar terlalu cepat. Memang benar kalau Weisi mengidamkan untuk bertarung bersama Qin Yan satu lawan satu. Tapi, bukankah ini terlalu cepat.


Dalam waktu yang cukup lama, keduanya dilema dan linglung apakah mereka benar benar bertarung pagi ini.

__ADS_1


Akhirnya, wasit kemudian mengangkat kedua tangannya.


"Baiklah. Hari ini mari kita mulai pertarungan pembuka! Kerajaan Sunmoon melawan kekaisaran Busur Surgawi!!"


__ADS_2