
"Kriek" Pintu terbuka, Lin fin keluar dari kamar. Ia menggaruk rambutnya dengan bosan.
'Apa apaan aula seluas ini.' Pandangannya tertuju pada aula luas dan indah. Layaknya istana dan bahkan terdapat satu tempat duduk mirip tahta singgasana. Untuk beberapa waktu, ia harus berkeliling mengamati tempat ini.
Alasannya cuma satu, ia melihat Qin yan masuk kesini tanpa alasan. Bahkan anak itu tidak menjelaskan apapun. Begitu pula dengan pria berambut hitam panjang tadi, Yao chen yang mengantarnya bahkan tidak memberi tahukan apapun tentang tempat ini.
"Tidak jelas sekali." Ia pun berjalan keluar, namun terlihat Xiang xiang juga membuka pintu dan mengikuti kemana ia pergi.
"Kau pikir kau bisa meninggalkanku sendiri ditempat yang tak kukenal ini?" Berkata Xiang xiang dengan dingin, membuat Lin fin hanya menghela napas panjang.
"Baiklah gadis mumi, terserah kau saja." Lin fin pun tak memperdulikan gadis itu. Itu juga percuma, gadis ini orangnya keras kepala, dingin, dan jutek. Seberapa keras ia melarangnya, ia juga tetap akan diabaikan.
Dengan itu, Lin fin pun keluar dan menuju teras. Cukup lama juga berkeliling melintasi aula utama. Saat ia melihat Aula bagian Timur, ia menemukan sebuah ketertarikan. Didepan sana terdapat papan nama yang bertuliskan aula Pandai besi.
"Hm....?" Untuk sesaat Lin fin berpikir sejenak, wajar baginya untuk mencurigai tempat yang tidak ia kenal ini. Namun, ia cukup penasaran. Pandai besi? Memikirkan itu, tanpa ragu pun ia langsung masuk kedalam.
"Woah!" Namun betapa terkejutnya dia, tempat ini lebih dari perkiraannya. Begitu ramai, dipenuhi suara dentingan palu dan logam, mekanik otomotif bergerak, mesin mesin buatan, serta produk produk armor atau metal besi siap pakai yang diperjualkan.
Lalu ada juga beberapa orang yang sedang berdiskusi dimeja pelayanan.
"Aku memesan tiga set kaliveri pedang dengan metalitas sedang dan bentuk yang agak besar. Kurasa iitu akan sangat membantu dalam latihan kami."
"Oh tentu nona, kami bahkan menciptakan pedang ini khusus suku anda. Coba lihatlah dulu, mungkin ini akan cocok untuk Suku Maori sebagai Kaliveri berat. Terbuat dari metal logam yang didapatkan di pertambangan musim dingin, lalu ditambah inti blackgold sebagai pusat pembentukannya. Hingga strutur pedang ini sangat tebal dan keras. Ini juga bisa mengisi tenaga sang pengguna bukan menarik energinya."
Terlihat dua orang sedang bernegoisasi, melakukan kegiatan promosi dan tawar menawar diantara keduanya. Bahkan bukan hanya satu atau dua orang yang tertarik, cukup banyak juga orang yang mencari benda benda yang akan mereka pilih untuk membantu mereka dalam pertarungan.
"Ini harganya hanya 10.000 koin emas. Amor ini cocok untuk kultivator tipe pendukung. Sangat elastis, tapi sebenarnya sangat kokoh dan keras. Mudah dipakai dan dapat menyesuaikan dengan suhu lingkungan. Ini tidak akan mengganggu gerak tubuh kita karena begitu fleksibel, seperti kulit yang melindungi daging kita. Tapi sebenarnya armor ini dapat menahan serangan kuat hingga tingkat Grandmaster." Berkata satu penjual lagi yang mempromosi barang mereka.
Lin fin yang mendengar itu hanya menganga tak percaya.
"Astaga! I-ini luar biasa. Benarkan Xiang xiang?" Berkata Lin fin dengan mata berbinar, namun tidak ada respon dari Xiang xiang dibelakang.
"Eh, Xiang xiang?" Setelah Lin fin berbalik, ia tidak menemukan Xiang xian dimanapun. Takutnya diculik, Lin fin juga berpikir seperti itu. Ia ingin mencarinya, namun tempo dan irama dentingan palu serasa menggaruk telinganya. Entah ia akan memilih mencari gadis itu, atau menikmati pengalaman ini. Tanpa berpikir pun ia pasti akan memilih pandai besi.
"Hahaha... Tempat ini benar benar menganggumkan!"
...........
Aula barat..
"Ini adalah pil khusus untuk kecantikan. Kalau kau menggunakan ini, bisa membuat kulitmu jadi halus dan putih bersih seperti bidadari. Kurasa kau harus mencobanya dulu, ketika kau mandi."
"Tuan, berapa harga daun titisan racun ular ini?"
"Jika anda ingin menyuling pil, aku sarankan kamu untuk memilih tungku ini. Lihatnya, tungku ini dibuat khusus untuk pemula. Keras, tahan panas dan tidak mudah berkarat. Ini juga memudahkan anda mengaduk bahan didalamnya."
Xiang xiang berdiri di depan pintu masuk, ia tidak dapat berkomentar apapun melihat aula Alkhemis ini yang ramai dan banyak pengunjung. Berbagai macam bahan obat diperjual belikan disini, lalu pil pil yang sudah jadi direkomendasikan ke setiap pengunjung. Bahkan perlengkapan saat menyuling pun juga tersedia semua. Satu hal lagi yang membuatnya tertarik, disini ternyata juga menjual beberapa buku teknik dan buku buku tentang tanaman mujarab yang belum pernah ia baca sebelumnya.
Ia pun berjalan jalan melihat lihat pemandangan tersebut.
"Maaf nona. Apa anda orang baru?" Bertanya salah satu pengurus aula ini. Dia berdiri dipusat paling depan yang bekerja untuk menyapa para pengunjung yang baru datang.
__ADS_1
"Aku...." Mendengar itu, Xiang xiang pun gugub, tidak tau harus menjawab apa.
"Jangan tegang begitu nona, kami hanya menyapa anda saja. Mungkin anda belum terbiasa dengan tempat ini. Tapi mungkin ada beberapa obat atau pil yang anda butuhkan. Kami mungkin bisa membantumu." Senyum wanita didepan, dengan ramah.
"Um... aku..." Pikir Xiang xiang. Tiba tiba Yuisha muncul dibelakangnya.
"Xing xi, bawakan pil yang kupesan kemarin."
"Baik nona Yuisha, kebetulan patriak kami yang membuatnya pil ini khusus untuk anda." Wanita yang ditanya didepan memberikan sebuah kotak pil pada Yuisha. Setelah diperiksa barulah mata gadis itu menyala, memandangi empat pil yang bersinar didalam kotak itu.
"Luar biasa! Kenapa patriak begitu baik hati?" Berkata Yuisha dengan kagum, sementara wanita didepannya hanya tersenyum lucu.
"Mungkin karena anda akan segera bertunangan dengan Xing yun. Jadi ia sangat senang sampai bermurah hati membuatkanmu pil."
Mendengar itu, wajah Yuisha memerah. Ia berpaling dan memasukan kotak itu kedalam cincin penyimpanannya. Namun setelah itu, pandangannya tertutuju pada Xiang xiang.
"Hm... aku baru melihatmu disini. Xing xi, apa dia kenalanmu?" Tanyanya dengan heran. Namun wanita didepannya hanya menggelengkan kepala.
"Aku juga baru melihatnya, mungkin dia salah satu murid akademi yang tidak sengaja masuk kesini?"
"Oh, begitu. Siapa namamu?" Tanya Yuisha pada Xiang xiang.
"Aku Yi luo Xiang." Jawab Xiang xiang dengan singkat kemudian diam kembali. Hanya menatap wajah Yuisha. Membuat Yuisha dan Xing xi disamping saling memandang satu sama lain.
"Um... jadi apa yang kau butuhkan?" Tanyanya lagi.
Kemudian percikan api hitam keluar ditangan Xiang xiang. Mata kedua perempuan itu jadi terbelalak. Tidak, api hitam itu bahkan menarik perhatian semua orang diaula itu.
"Astaga! Itu Spirit Flame!"
...........
Lin fin keluar membawa sebuah palu perak ditangan kirinya.
"Astaga, aku tidak menyangka mereka benar benar ramah. Bisa bisanya mereka memberikan palu Silver pool dengan gratis begitu saja. Dan juga logam logam langka juga dijual dengan harga lumayan murah." Senyum Lin fin sambil memainkan palu ditangannya. Melempar keatas layaknya mainan. Sementara orang yang ada diaula Pandai besi pada ngeri melihatnya.
'Apa dia monster? Bahkan tingkat Grandmaster saja tak bisa mengangkat palu itu. Tapi dia bahkan mempermainkan palu itu layaknya mainan.' Batin mereka dengan penuh keringat melihat itu.
"Hm... Lin fin. siapa dia?" Berkata Ling han yang berada di ruang pribadinya.
"Tidak tau ketua, aku baru pertama kali melihatnya." Jawab pria paruh bayah yang membungkuk didepan pria itu.
"Mungkin dia adalah tamu Master, bukankah tadi master baru pulang. Maka masuk akal jika ada orang yang tak dikenal berkeliaran dipagi ini." Pikir Ling han sambil mengangguk sendiri.
"Tapi, ketua. Di-dia seperti monster. Bahkan bisa menyelesaikan logam diamond yang begitu rapuh. Dia pandai besi tingkat 4 tuan." Jawab pria itu dengan ngeri.
"Hm... pandai besi tingkat 4 diumur semuda itu. Jenius sekali, kita harus merekrutnya. Agar menjadi salah satu pilar untuk membantu master." Mata Ling han jadi menyipit ketika mendengar laporan itu.
"Sudah tuan, dia bahkan begitu senang bergabung dengan kita."
"Apa! Sungguh tidak dipercaya. Dia murah hati sekali. Kalau begini bahkan mengundang kecurigaan juga. Ne Gao, jika dia masih tinggal di sekte ini beberapa hari. Tolong selidiki anak itu." Ucap Ling han dengan serius.
__ADS_1
"Baik." Jawab pria paruh baya didepannya. Kemudian ia pun keluar dari ruangan itu.
Lin fin pun memasukan palu peraknya kedalam cincin penyimpanan, kali ini ia benar benar senang bisa berkunjung ditempat sebagus itu. Namun sekarang ia ingat, kalau ia harus mencari Xiang xiang saat ini.
Namun tiba tiba matanya membesar, Xiang xiang keluar dengan wajah yang cerah. Dengan tungku emas ditangannya.
"Xiang xiang." Panggil Lin fin sambil melambaikan tangannya. Ia pun menuju kearah gadis itu.
"Benda apa ditanganmu itu?" Tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Hm... ini adalah pot Golden hell. Tungku ini cukup langka, dan aku menemukannya disini." Senyum Xiang xiang dengan gembira.
"Memangnya kau dari mana? Kenapa kau segembira itu?" Tanya Lin fin lagi.
Kemudian Xiang xiang menunjuk ke belakang. Jauh dari sana, terdapat satu aula lagi. Aula Alkhemis. Sesuai yang dibayangkan Xiang xiang, aula itu benar benar menakjubkan.
Tepat seperti yang ia bicarakan, semua orang yang ada di aula Alkhemis sedang memperbincangkan seorang gadis, yang tadi datang dan berhasil menyerap racun pasien yang bahkan sangat sulit ditangani oleh para ahli tabib di kerajaan ini.
Hal ini tentu membuat gempar para tetua tetua keluarga Gunung keramat. Mereka berpikir, gadis yang tak dikenal masuk dan kebetulan menangani racun cacing pita didalam tubuh mantan patriak mereka. Sungguh tidak dipercaya.
"Bagaimana bisa ada orang lain yang mempunyai Spirit flame. Selama yang kutahu, hanya master yang mempunyai itu." Berkata Xing po dengan heran.
"Itu memang tidak masuk akal, tapi apa yang kita lihat tadi adalah bukti. Seorang gadis 18 tahun, satu tahun lebih tua dari master. Benar benar mempunyai spirit flame. Mungkin dia adalah tamu undangan Master."
Mendengar itu, mata Xing po membesar. Ia sebagai patriak Keluarga gunung keramat agak senang mendengar itu.
"Kalau begitu kita jangan menyinggung dia, apalagi dengan inti roh api ditangannya. Dia juga kemungkinan seorang alkhemis ditingkat 4, itu cukup langka untuk jenius muda sepertinya. Dan juga, jika gadis itu masih tinggal di sekte ini untuk beberapa hari, manfaatkan ini untuk kesembuhan ayahku."
Pikir Patriak dengan napas lega, selama ini ia selalu mencari tabib yang bisa menangani racun cacing pita didalam tubuh ayahnya. Tapi sekarang malah tiba tiba muncul seorang pengguna spirit flame yang bisa memusnahkan cacing sialan itu. Baginya, kesehatan ayahnya adalah yang terpenting untuknya saat ini. Setidaknya ia hidup sampai pernikahan putranya tiba.
Kembali kesituasi Lin fin dan Xiang xiang, kedua anak itu sedang membahas apa yang baru saja mereka lakukan tadi.
"Oh jadi begitu." Lin fin mengangguk sendiri setelah mendengarkan cerita Xiang xiang. Ia benar benar tidak percaya, selain aula pandai besi yang superior. Ternyata ada juga aula lain yang tidak kalah menarik. Membuatnya semakin bersemangat untuk menjelajahi tempat yang luas ini. Tapi, satu hal yang ia waspadai. Ditempat ini, semakin menarik bangunannya, maka penghuninya juga tidak kalah hebatnya.
"Tapi Xiang xiang, kau sudah mengeluarkan spirit apimu? Apa tidak apa apa kau melakukan itu?" Tanya Lin fin dengan pelan.
"Bukankah kau juga mengeluarkan perubahan iblismu tadi." Jawab Xiang xiang sambil melipat tangannya didada.
"Yah... kurasa kau benar. kita sama rupanya." Akhirnya Lin fin menyerah, ia pun hanya menggaruk kepala tak berdaya. Tidak tau lagi apa nasibnya setelah ini, apakah mereka akan menjadi incaran para orang orang yang rakus akan keterampilan profesi. Atau malah sebaliknya, mungkin kehidupan mereka akan lebih baik. Tapi ia tak perduli, yang penting. Setelah menemukan Qin yan, ia akan secepatnya melarikan diri dari tempat ini.
Mereka pun berusaha mencari keberadaan Qin yan, tapi dibanding itu. Sebenarnya tanpa sadar keinginan mereka yaitu mencari jalan keluar untuk melarikan diri. Yah sebenarnya aura dan tekanan para penghuni tempat ini benar benar mencekam, dari mereka latihan atau berkultivasi. Kekuatan mereka begitu jauh diatas mereka, bahkan berjalan pun agak sulit karena saking tegangnya.
Berkeliling cukup lama, melihat banyak sekali kegiatan. Kini Lin fin dan Xiang xiang agak lelah karena terlalu lama berjalan. Disaat mereka sedang malas malasnya dan beristrahat. Sosok Qin yan melewati mereka berdua.
'Eh, tunggu tadi...' Lin fin tiba tiba berbalik kepada orang yang melewatinya. Sementara alis Xiang xiang sudah berkerut melihat sosok Qin yan malah mengabaikan mereka. Anak itu lebih memilih bercakap cakap dengan seseorang didepan sana dibanding menyapa mereka.
Bagi mereka aneh, pakaian Qin yan benar benar elegan dan terlihat seperti seorang pangeran.
'Siapa dia? Qin yan kah?. Tidak tidak, dia bukan Qin yan. Tapi kenapa mukanya mirip dengan Qin yan?' Lin fin sudah tahu betul, kalau orang yang ia lihat bukanlah orang yang mereka kenal. Begitu pula dengan Xiang xiang. Namun satu pertanyaan mereka, kalau bukan Qin yan. Berarti dia siapa, dan kenapa ia terlihat seperti orang yang mereka cari.
Karena tak senang tidak menemukan Qin yan setengah hari ini, Lin fin jadi cenderung lebih emosi. Ia pun berdiri, tidak perduli siapa didepannya ini. Qin yan atau orang lain, yang penting muka mereka sama. Itu berarti dia Qin yan. Lin fin sedari dulu pikirannya memang agak sempit kalau masalah kecerdasan. Ia akan bertindak ceroboh atau sesuai moodnya.
__ADS_1
Tanpa ragu ia langsung meraih kerah anak itu, menariknya dengan kasar.
"Kau baj*ngan! Kenapa kau mengabaikan kami. Jangan mentang mentang kau tinggal disini. Kau bisa seenaknya melupakan temanmu."