
Pagi hari itu, Jin kei dan Xing yun memanggang daging bakar untuk menjadi sarapan mereka hari ini. Ada empat tusuk untuk dimakan bersama.
"Ah... Qin yan lama sekali, jangan jangan dia dipukuli wanita itu." Karna terlalu lama menunggu, Xing yun mulai berpikir yang tidak tidak. Karena perutnya saat ini sedang keroncongan, makanya ia tak sabar untuk memakan daging tersebut.
Tapi itu semua sama saja, Jin kei dari tadi diam sambil berbaring santai tanpa menjawabnya sekali pun. Membuat Xing yun makin kesepian tanpa adanya teman untuk diajak bicara.
Makin lama pula ia makin tidak sabar menikmati daging bakar yang ada didepannya, daging yang bahkan sudah matang dari tadi.
'Ayolah, kapan kau datang Qin yan. Aku sudah tidak sabar.' Air liurnya sudah menetes dan Xing yun hanya bisa menjilat bibirnya serta menelan ludah. Ia ingin sekali mengambil dagingnya tapi daritadi ia selalu memperhatikan Jin kei yang hanya memandangi matahari terbit. Sejujurnya ia sangat takut dengan orang ini.
'Idiot ini, kenapa ia menahannya dari tadi. Bukankah dia begitu ingin memakannya.' Jin kei hanya menggelengkan kepalanya, lalu kembali memperhatikan fajar sebelum Qin yan datang.
Sampai akhirnya, setelah lama menunggu. Qin yan akhirnya datang membawa Medusa disampingnya. Mereka lega, Qin yan akhirnya berhasil membujuk wanita itu. Tapi tentunya mereka ikut kaget dengan wajah kedua orang ini. Tidak ditanya pun mereka tahu, Qin yan pasti ditampar beberapa kali hingga wajahnya bengkak begitu. Sementara Medusa pasti menghabiskan waktunya untuk menangis karna kelopak matanya yang bengkak dan merah.
"Eh? Qin yan. Mari kita duduk dulu, setelah sarapan baru kita pergi." Senyum Xing yun memberi sepaha daging.
Seperti apa yang ditawarkan anak itu, Qin yan dan Medusa pun duduk makan bersama mereka. Setelah itu, barulah mereka berangkat pulang.
Disaat mereka meninggalkan gurun yang telah jauh dari lembah Valley. Ternyata seluruh suku Dark Demon Snake telah membuntuti mereka dari belakang.
"Kita ikuti mereka sampai dimana. Setelah kita tau tempat tinggal mereka. Kita akan menyerang dan membalas dendam."
Sangat jelas, pandangan mata tetua katak menatap siluet mereka dengan penuh kebencian. Kali ini mereka yang akan menyergap balik tempat tinggal Qin yan.
Kota Rembulan, ibukota kerajaan Sunmoon.
Betapa terkejutnya semua orang saat melihat Qin yan membawa seorang wanita cantik. Semua orang di kota itu jadi memandangi sosok giok tersebut dengan mulut terbuka. Hanya saja, karena tak biasa dipandang begitu. Medusa pun hanya bisa menempel dibalik bahu Qin yan. Hal itu membuat mereka jadi makin iri. Tapi seiringnya dari mulut kemulut, pendapat masyarakat kini menjadi negatif. Berita tersebut pun juga sampai ketelinga sang raja.
"Pangeran sudah pulang yah." Raja pun langsung bangkit dari singgasanya menuju keluar. Karna ia sendiri mau menyambut putranya tersebut tidak perduli apapun komentar masyarakat tentangnya.
Akhirnya sosok Qin yan pun masuk keistana. Betapa terkejutnya mereka melihat sosok wanita cantik masuk bersama Qin yan. Bahkan ayahnya saja sampai terkejut.
"Qian yu, dia...." Tanya ayahnya.
__ADS_1
"Dia kakakku yang ada ditempat tinggalku dulu. Namanya Mei ji, aku membawanya kesini untuk memperkenalkannya ke ayah." Qin yan menggaruk kepalanya dengan malu. Meskipun Medusa tidak senang akan hal ini, tapi dia tidak bisa membantah apa rencana Qin yan. Ternyata masih ada beberapa masalah yang harus diurus anak ini. Jadi ia bekerja sama sedikit.
"Oooh.. Maksudmu tempat tinggal saat kau berada diakademi Geritimo yah." Diam diam ayah Qin yan mengedipkan mata pada putranya.
"Yah.. Hehehe.. Dia begitu baik padaku, jadi mungkin dia akan bekerja disini."
Dahi medusa makin berurat mendengarnya, tapi ia tidak punya cara lain. Ia juga harus menghilangkan semua rasa angkuhnya didepan mertuanya.
"Salam ayah, namaku Mei ji." Perkenalan tersebut lebih lebih membuatnya mereka jadi terkejut. Semua anggota keluarga Qin yan menganga. Bisa bisanya Medusa menyebut ayah Qin yan sebagai ayahnya.
"Hahah.. jangan heran. Aku sudah menganggapnya kakak sendiri. Jadi aku juga menyuruhnya untuk memanggil ayah pada ayahku juga." Qin yan meluruskan kesalapahaman tersebut. Tapi sebenarnya ia lega, akhirnya Medusa jadi mau menerima ayahnya sebagai ayahnya juga.
"Oooh.." Mereka pun akhirnya mengangguk mengerti. Medusa disambut ramah setelah itu, beragam keramahan dan kebaikan ditunjukan oleh anggota anggota keluarganya. Hal itu membuat Qin yan senang, meskipun ia tahu beberapa orang hanya menggunakan topeng belaka.
Setelah sepenuhnya bersalaman dengan semua anggota keluarnganya. Medusa pun dipersilahkan memilih kamar, meskipun ia sedikit tak mau pisah kamar bersama Qin yan. Namun berdasarkan arahan Qin yan, ia pun mengerti dan mengikuti semuanya.
"Jadi Qian yan, siapa sebenarnya wanita itu." Bertanya ayahnya serius, ia penasaran dengan wanita yang dibawa Qin yan.
"Maaf, ayah jadi melibatkanmu dalam konspirasi ini. Pasti dia marah karena kau tidak mengakui didepan kami kan?"
"Tidak perlu meminta maaf, dia juga mengerti. Tadi dia juga memanggilmu ayah, semoga saja ayah bisa mengerti."
Ayahnya pun memegangi bahu Qin yan, senyum lembut terpancar diwajahnya yang nampak sedikit tua. Ia mengangguk dan setelah itu, barulah ia meminta ijin pergi keluar dari ruang komunikasi pribadi mereka.
Qin yan juga keluar, ia hendak menuju kearah kamar Medusa. Namun Qian qian sudah berdiri didepan kamarnya. Membuatnya sedikit terkejut.
"Ada apa apa Qian qian?" Tanya Qin yan pada adiknya yang satu ini.
"Ibu ingin bertemu denganmu." Jawab gadis itu.
Sebenarnya Qin yan tidak berniat menemui ibunya Qian qian ini. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus melakukannya. Disaat ia hendak pergi, Medusa juga membuka pintu kamarnya. Dan kesempatan untuk Qin yan agar dapat mengajak dia untuk mengikutinya juga.
Mereka bertiga pun pergi keruangan ibu Qian qian. Disana ternyata ia sudah ditunggu, Qin yan langsung datang menghadap padanya.
__ADS_1
"Ibu." Panggil Qin yan, meskipun ia sendiri sudah memaksakan lidahnya.
Ibu Qian qian pun berbalik, menunjukan senyum cantiknya. Lalu memeluk Qin yan dengan lembut seolah memeluk anaknya. Qin yan juga tidak menolak hal itu karena ia tak mau menghancurkan hubungan Qian yu dan wanita ini.
"Terima kasih telah merawat Qian yu." Senyum wanita itu pada Medusa dengan tulus.
Medusa mengangguk, lalu membungkuk.
"Ini sudah tugasku." Jawaban Medusa membuat Qin yan jadi menoleh kearahnya, menatapnya dengan aneh. Tapi Medusa malah balik menatapnya dengan tajam. Bola matanya berputar seolah sedang mengisyaratkan agar jangan menatapnya seperti itu.
"Jangan sungkan, panggil aku ibu. Qian yu benar benar hebat yah." Mata Qin yan kembali membesar saat mendengar pujian ibu itu. Entah kenapa ia merasa kalau ibu Qian qian ini bukan wanita biasa. Seolah ia sudah tau kalau sebenarnya ini adalah kebohongan Qin yan belaka. Karena candaannya, suasana pun menjadi canggung antara Medusa dan Qin yan.
"Tidak perlu canggung begitu. Mari masuk, kita minum teh dulu." Tawar ibu Qian qian, menyuruh Qin yan untuk duduk. Mereka berempat pun akhirnya duduk minum teh bersama. Ibunya membahas rencana Qin yan sebenarnya tentang pembangunannya dipusat kota. Qin yan juga menjawab semua itu dengan ala kadarnya saja. Ia berniat membangun akademi tingkat atas. Namun sebenarnya sebuah sekte dibalik nama akademi itu.
Ibunya bahkan bangga mendengarnya, ia terus memuji Qin yan dan memberikan beberapa dukungan. Namun ia berharap agar ada guru Kondolisasi dalam akademi tersebut. Bagaimana pun juga, Qin yan akan mengusahakannya. Karna maksud ibunya yaitu membawakan master kondolisasi untuk Qian qian.
Percakapan pun selesai, Qin yan dan Medusa keluar dengan sopan. Untuk beberapa hari ini, medusa melarang keras agar Qin yan tidak masuk kekamarnya. Apalagi tidur bersama dengannya. Tentunya Qin yan juga mengerti hal tersebut. Kalau wanita ini masih butuh beberapa adaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Itupun pun jika mereka tinggal satu kamar, palingan Qin yan hanya akan disuruh untuk tidur dilantai.
Siang hari, Qin yan menggunakan waktunya untuk mengecek pembangunan sektenya. Perkembangannya saat ini masih memantapkan fondasi bangunannya. Yah, wajar saja, waktu pembangunan baru satu hari. Hal itu tidak membuat Qin yan keberatan tapi malah bangga kalau Sektenya ternyata bisa lebih cepat dari perkiraannya. Tak tanggung tanggung, pekerjaan suku Maori telah melebihi ekspetasi Qin yan.
Untuk satu minggu ini, selain mengecek beberapa hal penting. Qin yan menggunakan sebagian waktunya untuk berlatih agar mengendalikan peruhahan iblisnya saat ini. Yang ia lakukan adalah bermeditasi seperti layaknya kultivasi. Namun sebenarnya ia melatih tubuhnya agar selaras dengan perubahan tersebut. Ia juga mengaktifkan tranformasi itu ketika berada diarea pelatihannya.
Selain berlatih, Qin yan sesekali diajak oleh Qian qian untuk belajar. Gadis itu, ketika Qin yan perhatikan. Potensinya lebih cenderung kearah Cendikiawan. Seorang yang berpengatahuan dalam untuk masalah politik. Tapi Qin yan dengan sabar dan tabah ketika bersama adiknya ini. Ini juga akan menjadi ajang agar ia dapat menyesuaikan diri dalam masalah politik diistana ini.
Berita yang jauh lebih baik lagi, akhirnya Qian yu akan menyelesaikan ujian rahasianya dalam beberapa waktu yang dekat. Qin yan sendiri saja kagum, anak ini rupanya mempunyai tekad dan keinginan yang kuat. Hingga dia bisa menyelesaikan ujiannya dalam waktu yang singkat. Sampai saat ini, ia bahkan tak pernah melihat ayahnya sebahagia ini saat mendengar kalau anaknya akan berhasil. Semua itu Qin yan akan bekerja keras agar adiknya juga mempunyai hak yang sama dengan dirinya.
Dari balik kegiatannya tersebut, Qin yan rupanya diawasi oleh tiga beast di dalam tubuhnya. Mereka adalah Kyubi, kyuki, dan Neidan.
"Anak ini, kenapa tubuhnya disegel. Jika seperti ini bukankah akan menjadi penghambat kemajuannya?" Bertanya Neidan yang tak mengerti.
"Itu adalah keputusannya sendiri dua tahun lalu. Tenang saja, waktunya tidak cukup lagi setahun. Setelah itu wadah yang sudah dibekali dengan energi akan meningkatkan kultivasinya dengan pesat." Senyum Kyubi memikirkan rencana dibalik penyegelan tubuh Qin yan ini. Ketika semua orang menganggapnya Qin yan sebagai orang bodoh karena mau disegel seperti itu, disaat ini Qin yan malah menikmati teknik yang dapat meningkatkan kultivasinya secara pesat dimana orang lain tidak dapat mengetahui tehnik itu.
Teknik dimana wadah akan dikosongkan terlebih dahulu, lalu diisi perlahan. Agar nanti, ketika isi wadah yang dahulu akan kembali dituangkan, maka wadah itu akan full secara instan.
__ADS_1