LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Qing zhu dan Medusa


__ADS_3

Satu persatu, semuanya diberi pertolongan pertama. Sekte yang terkurung diatas sana, akhirnya diturunkan. Tentunya Elfes dan Yao chen yang melakukan itu. Gelembung pelindung juga dilepaskan. Semua orang yang terkurung didalamnya akhirnya bisa keluar dengan napas lega.


Namun, tidak semua merasa senang ketika melihat tempat tinggal mereka menjadi rata. Ada yang menangis meratapi semua ini, ada juga mencari cari dimana barang barang mereka. Namun tidak sedikit orang juga yang bersyukur, nyawa mereka selamat setelah peperangan berlangsung.


Masing masing anggota sekte bagian pendukung dan penyembuh, datang dan mengobati orang orang yang terluka. Jin kei keluar dari gerbang dimensi membawa Qian yu, raja, beserta istrinya. Mereka masih dalam keadaan pingsan, anggota pengobatan termasuk Qian qian dengan cepat mengobati mereka.


Ada banyak sekali korban, baik dalam keadaan luka maupun tewas. Semuanya dikumpulkan menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah jasad orang yang gugur dalam peperangan ini. Sementara bagian yang lain yaitu para korban yang selamat. Baik itu sadar maupun tak sadar. Mereka juga membentuk tenda darurat sebagai tempat pengobatan mereka.


Dan terakhir, bagian dimana para sisa sisa musuh yang masih selamat. Wuang sheng, Dou wei, sisa ahli dari sekte Darkdemon maupun sekte Racun juga ikut dikumpulkan. Mereka diikat menggunakan rantai yang diciptakan oleh Elfes hingga tak bisa melepaskan diri. Tak lupa pula, para penghianat penghianat dari keluarga bangsawan. Keluarga Ning, keluarga Huyan dan keluarga Black bear. Mereka juga ikut ditahan terkecuali keluarga De yang mendapat pengobatan.


"Sialan! Lepaskan aku! Kau tahu aku, aku adalah ratu dari kerajaan Sunmoon. Lepaskan aku atau kalian akan aku hukum. Ini perintah!!" Teriak Huyan Xing lu dengan histeris. Penampilannya sangat berantakan, ia seperti orang gila. Yah, saat ini Huyan Xing lu memang sudah gila.


"Raja! Raja! Aku mohon maafkan aku raja. Aku tidak akan mengulanginya lagi, kau sudah lupa dengan kenangan kita bersama? Kita sudah menghabiskan waktu selama lebih dari sepuluh tahun. Raja! Hiks Hiks, tolong ingatlah kenangan baik kita berdua." Huyan Xing lu terus meronta ronta sambil menangis dibawah tangkapan para penjaga istana.


Semua orang yang melihat tingkahnya makin jijik dengan wanita itu, beberapa jam yang lalu ia menghina raja habis habisan. Dan sekarang ia kini kembali dengan cara yang memalukan.


Wanita itu terus menerus berteriak, mengganggu suasana hingga akhirnya ia terdiam ketika Elfes menendangnya dengan kasar. Tidak ada yang merasa simpati atau kasihan ketika orang orang melihat itu. Penghianat memang pantas mendapatkannya. Apalagi ketika ia secara terang terangan menghianati raja didepan raja sendiri beserta para rakyatnya. Sungguh acara yang sangat menyakiti hati. Mereka hanya menutup hati rapat rapat dan tak mau menerima wanita itu kembali.


Patriak De terbangun, ia berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Melihat disampingnya, putrinya sedang tertidur pulas setelah diobati, ia pun bernapas lega. Ia sangat penasaran bagaimana keadaan saat ini, dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari tenda. Saat itulah ia menyadari kalau perang sudah berakhir menyisahkan lingkungan kacau balau.


"Tuan, anda sudah bangun?" Tanya seorang pemuda dari keluarga De, tubuhnya dilapisi lilitan perban dan tangannya mengalami patah tulang, namun ia masih bisa berdiri.


"Apa yang terjadi?" Tanya patriak De.


"Semuanya sudah berakhir, kemenangan ada ditangan kita." Ucap pemuda itu dengan pelan.


"Hah! Kemenangan ada ditangan kita? Bagaimana itu mungkin?" Patriak De terkejut ketika mendengarnya, ia tidak percaya. Beberapa waktu lalu ketiga sekte mendominasi tempat ini, tapi sekarang mereka mengalami kekalahan. Bukankah itu tidak masuk akal.


"Tidak, tidak. Ini tidak mungkin, aku harus bertanya langsung pada raja." Berkata patriak dengan panik, ia ingin pergi namun sama sekali tidak tau dimana tenda sang raja. Ia pun bertanya pada pemuda itu.


"Dimana sang raja sekarang?"


"Biar kuantarkan tuan." Pemuda itu pun mengangguk, ia pun kemudian pergi mengantar patriak De ketenda sang raja.


"Kemungkinan saat ini raja belum sadarkan diri, tapi jika anda ingin melihat keadaan mereka. Mereka baik baik saja menurut tabib."


Patriak De menghela napas mendengarnya. Sepanjang jalan ia tak ada henti hentinya menghawatirkan bagaimana kondisi ibu Qian Qian. Dia adalah putrinya, dan sudah sepantaskan untuk khawatir. Namun ia sangat kagum dengan keberanian putrinya yang sangat berani dan terang terangan menolak tawaran dari sekte Racun. Tanpa ragu ia langsung berada disisi raja saat itu. Apa yang dipikirkannya. Sejujurnya, saat putrinya menolak itu mentah mentah. Jantungnya sudah sangat berdegub kencang, bagaimana caranya ia menghadapi sekte Racun. Ia hampir saja kencing dicelana bahkan berlutut karena saking gemetarnya.


Untungnya saat itu langsung terjadi sebuah perang dan ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia bertindak agresif karena putrinya dalam bahaya. Semata mata hanya untuk itu, bukan untuk lainnya. Siapa yang menyangka kalau kerajaan kecil ini mendapatkan kemenangan dan pastinya mereka akan mendapatkan sebuah penghormatan. Meskipun hanya pernghormatan kecil, namun dibanding dengan sebelumnya. Ia pasti tidak akan merasa tertekan lagi oleh keluarga diatasnya.


Sepanjang perjalanan, ia banyak sekali melihat korban korban yang terluka. Hanya saja, semua orang itu tidak ia kenali. Banyak diantara mereka adalah orang orang asing yang datang baru baru ini.


'Apa mereka anggota sekte? Luar biasa, rupanya ada sekte dikerajaan ini. Ternyata bangunan megah itu menampung banyak prajurit yang hebat.' Batinnya dengan penuh kekaguman.


Ia pun akhirnya sampai ditenda milik sang raja. Disana, ada Qian qian yang sedang duduk disamping ibunya. Membantu menyuapi ibunya memakan bubur.


Raja juga terlihat disamping, dia tampaknya tidak dalam kondisi stabil. Masih batuk batukan, namun ia memaksa untuk tetap duduk layaknya sang raja.


"Yang mulia." Patriak De pun masuk, ia memberi hormat raja yang tengah terduduk.


"Silahkan masuk." Raja juga mengangguk, ia terbatuk sebentar kemudian menyuruh pelayan untuk menyeduhkan teh untuk sang patriak.


"Tidak perlu repot repot yang mulia." Senyum patriak De dengan canggung. Tatapannya tidak sengaja beralih kearah Qian yu. Cukup lama juga ia memandanginya, karena begitu penasaran. Waktu itu ia melihat Qian yu ada dua.


"Dia dalam kondisi yang belum pulih, sepertinya butuh waktu untuknya untuk bangun." Sang raja berkata dengan wajah penuh bersalah.


Namun patriak De tetap bingung, ia rasa perkataan barusan tidak cukup untuk menjawab rasa penasarannya. Maka ia pun bertanya lagi pada raja.


"Yang mulia, perang ini.... apa anda telah merencanakannya?"


Raja menggeleng, ia pun mengehembuskan napas panjang.

__ADS_1


"Bukan aku, aku tidak menyangka kalau kerusakannya benar benar diluar dugaanku. Aku hanya sangat bersyukur kalau kita menang dari pertempuran ini tanpa adanya korban dari rakyat kita."


"Jadi, yang mulia. Yang mempersiapkan semua rencana matang ini...." Patriak De menatap raja dengan penuh ingin tahu. Jika bukan sang raja, berarti itu adalah anak yang mirip Qian yu dan membuka topengnya didepan semua orang waktu itu.


Benar saja, raja pun mengangguk. Ia pun keluar dari tendanya, diikuti Qian qian dan ibunya.


"Aku juga berencana menjenguknya, apa kau ikut denganku patriak De?" Tawar sang raja padanya.


Tentu saja patriak De tidak akan menolaknya, ia sendiri penasaran dengan sosok yang mirip dengan Qian yu ini. Alih alih yang ia dengar dari putrinya, setiap kali pangeran Qian yu merayakan ulang tahunnya. Katanya ada saudara kembar Qian yu yang berpisah dengan mereka. Ia ingin sekali melihat itu, karena sepuluh tahun yang lalu ia tidak berada ditempat. Ketika perang terjadi sebelumnya, ia menjaga kediaman keluarganya dengan sebaik baiknya agar tidak dihancurkan. Terlebih lagi, saat raja menikah dengan istri pertamanya. Kehidupan mereka begitu tersembunyi, dan tidak ada yang tahu keberadaan mereka.


Sampai ketenda yang dituju, raja melihat Yuisha dan Xingyun sedang makan bersama. Tampaknya mereka sedang istrahat dari luka mereka yang cukup parah. Selain itu, ia juga melihat ada anak anak lain. Xie xie, Xiu xiu, Lin fin, Weisi, Tang liu, Xiang xiang, bahkan Ling han dan istrinya juga ada disana. Mereka dirawat dengan sebaik baiknya.


Ketika raja melewati mereka, mereka sedikit membungkuk. Raja juga membungkuk kemereka, kemudian raja dan lainnya dipersilahkan masuk kedalam.


Dari luar tenda saja, terdengar seorang gadis menangis pelan. Ketika masuk, mereka melihat Yue er yang tengah meratapi kesedihannya sambil berusaha menyembuhkan Qin yan. Meskipun wajahnya telah pucat karena terlalu banyak mengeluarkan energi, namun ia tidak ingin berhenti sekalipun. Ia benar benar sedih ketika melihat kakaknya terluka segitu parahnya.


Bahkan sampai sampai para tabib yang juga ikut menyembuhkan Qin yan, bersimpati melihatnya. Termasuk She lin, Bi dai dan Yu zheng yang juga tengah duduk disamping master mereka. Berapa kali pun Yue er disuruh untuk istrahat, tetap saja gadis itu tidak mendengarnya.


Yue er tak sekalipun memperdulikan sang raja yang masuk kedalam tenda. Ia tetap fokus mengobati Qin yan hingga tak memperdulikan apapun.


"Ukhuk Ukhuk." Sampai akhirnya Qin yan terbatuk pelan dari tidurnya, kemudian wajah Yue er langsung berseri seri.


"Kakak! Kau sudah pulih, syukurlah. Ku pikir kau tidak akan ada lagi, kumohon bangunlah dengan cepat. Yue er janji, Yue er akan memasakan makanan lezat untukmu." Yue er menyeka air matanya, betapa bahagianya ia melihat kondisi kakaknya yang sudah membaik.


Tidak lama berselang, seseorang masuk kedalam tenda. Dia adalah Yao chen dan sedang memperhatikan Yue er dengan seksama.


"Yue er, kakakmu baik baik saja. Dia hanya butuh istrahat." Berkata Yao chen dengan lembut. Menatap gadis sendu didepannya.


Gadis itu pun mengangguk, ia berdiri dengan wajah ceria. Yang penting, mendengar kakaknya baik baik saja. Ia sudah sangat lega. Ia kemudian duduk bersila memulihkan kekuatannya.


Semua orang memang tampak biasa saja, tapi tidak untuk raja. Matanya terbelalak kaget, tangannya gemetar tak terkendali. Sosok gadis kecil didepannya, sangat mirip dengan Qin yin. Yah, tampak begitu mirip. Seperti Yue er adalah tampilan Qin yin yang masih loli.


Ibu Qian qian juga menyadari itu, ia tersentak saat melihat wajah gadis itu yang mirip dengan seseorang. Benar, gadis terlihat mirip dengan wanita itu. Wanita yang telah menyelamatkan hidupnya. Ia juga memperhatikan ekspresi raja, ia tidak menyangka kalau Qin yin juga mempunyai seorang putri.


Perlahan raja pun mendekat, ia memandangi wajah gadis itu dengan jelas. Yue er yang membuka mata, saat melihat wajah raja. Ia langsung tersentak kaget.


"Aaaaaah...!!" Ia pun mundur kebelakang. Dirinya takut melihat ekspresi aneh pria itu.


"Qian ji, kau hanya akan menakutinya jika kau bertingkah seperti itu." Terdengar suara lembut dari belakang. Seketika itu, semua orang berbalik. Sang ratu Es, Yue chan bersama Qing zhu memasuki tenda.


Semua orang terkesima melihat itu, termasuk Yue er sendiri. Ia benar benar tak menyangka, ada wanita secantik dan seanggun itu. Yuechan pun mendekat kearahnya, menyentuh dagu Yue er.


"Kau pasti adiknya Qin yan kan?" Tanya Yuechen dengan senyum lembut. Yue er juga mengangguk.


"Qin yan banyak bercerita tentangmu. Akhirnya aku dapat bertemu denganmu langsung." Ucap Yuechan lagi. Sebenarnya ia ingin mengatakan, kalau ibunyalah yang banyak menceritakan itu. Namun, ia tak mau mengatakan itu. Mengingat situasinya belum pas untuk diberitahukan. Ia sudah memikirkan, Yue er akan melontarkannya begitu banyak pertanyaan.


Ia kemudian memegang bahu gadis itu. Memasukan energi didalamnya. Seketika, Yue er merasa tubuhnya berangsur angsur pulih. Malah merasakan kesegaran didalam tubuhnya.


Namun satu hal yang dirasakan oleh Yuechan tanpa sepengetahuan semua orang.


'Gadis ini....' Setetes keringat bercucuran diwajah Yuechan. Ia kemudian memandangi wajah Yue er yang polos dan penuh senyum ceria. Siapa yang menyangka kalau gadis ini mempunyai bakat kultivasi yang sangat mengerikan.


'Apakah semua ini ulah anak ini?' Yuechan pun berbalik memandangi Qin yan yang terbaring tak sadar. Sungguh diluar nalar, ia tidak menyangka kalau Qin yin akan melahirkan monster lain. Memikirkan itu, ia benar tak bisa berkata kata. Sebenarnya teknik apa yang dipakainya hingga Qin yin bisa menghasilkan monster seperti ini.


"Bibi, apa bibi juga mengenal kakakku?" Tanya Yue er dengan bingung. Namun ada rasa penasaran sekaligus kagum didalam hatinya. Bisa bisanya kakaknya mengenal wanita yang sangat cantik ini.


'Bibi?' Tiba tiba atmosfir berubah. Ekspresi Yuechan sangatlah aneh. Sampai setua apa sebenarnya hingga ia dipanggil bibi.


Raja yang ada dibelakang, berusaha semampu mungkin untuk menahan tawa. Namun tidak dengan tubuhnya yang bergidik karena saking lucunya.


Yuechan tersinggung, ia ingin sekali marah. Namun, melihat Yue er yang nampak polos. Hatinya luluh, membuat Yuechan merendam amarahnya, terlebih lagi gadis ini sepertinya memiliki bakat yang luar biasa. Jika seandainya ada kesempatan, maka ia akan berusaha menjadikan gadis ini sebagai muridnya.

__ADS_1


Dengan cepat, Yuechan kembali tersenyum lembut. Ia pun membelai pipi gadis itu.


"Siapa yang tak mengenal kakakmu, hubungan kami cukup dekat. Ditambah lagi, kakakmu menyukai muridku. Ini dia, namanya Qing zhu." Ia kemudian memperkenalkan Qing zhu yang berada disampingnya.


Seketika, wajah gadis itu jadi memerah. Ia benar benar gugub saat masternya memperkenalkan dirinya seperti itu. Melihat Yue er yang memperhatikannya, ia pun ikut tersenyum lembut.


"Halo, namaku Ling Qingzhu. Aku.. aku bertemu kakakmu disebuah tempat dan kami mempunyai sesuatu yang saling terhubung." Qing zhu menjawab dengan sedikit gagab, ia benar benar canggung mempernalkan diri didepan keluarga Qin yan.


"Aku juga punya sesuatu yang saling terhubung dengannya." Tiba tiba mereka terkesiap, siapa yang menyangka disamping Qin yan terbaring. Terdapat Medusa yang juga berada disana. Hanya ia tak terlihat karena tertutupi oleh tirai. Sekarang ia terlihat karena wanita itu menampakan diri sendiri. Tatapan wanita itu, tampak tidak bersahabat.


Melihat suasana yang canggung, raja pun terbatuk pelan. Ia kemudian meleraikan keduanya.


"Mari kita duduk dan minum teh bersama sama." Senyum raja dengan canggung. Namun Yuechan dan Medusa hanya menatapnya acuh tak acuh.


"Aku belum sepenuhnya memulihkan diri. Aku harus beristrahat lebih lama." Medusa pun menutup balik tirainya, kemudian tertidur.


Yuechan pun begitu, ia berdiri tiba tiba. Kemudian mengangguk pada yang mulia raja.


"Tampaknya itu ide yang bagus. Bagaimana kalau kita mendiskusikan sesuatu sambil meminum tehnya." Yuechan tersenyum ringan kemudian, meninggalkan tenda. Namun sebelum itu, ia berhenti sejenak.


"Qing zhu, kau bisa menemaninya jika kau mau." Senyum Yuechan, ia mengedipkan satu matanya membuat wajah Qing zhu kian makin memerah.


"Kalau begitu, kita pergi juga." Senyum raja. Sejenak ia memandangi Yue er dengan tatapan lembut. Gadis itu, meskipun ia tidak memperhatikannya. Namun raja cukup senang ketika melihat putrinya. Putri dari istrinya Qin yin. Ia pun kemudian keluar diikuti ibu Qian qian dan beberapa orang yang tadi mengikutinya.


Untuk beberapa saat, ibu Qian qian dan patriak De memandangi keadaan Qin yan yang tengah berbaring nyenyak disana. Mereka benar benar tak menyangka, seorang remaja diumur yang begitu mudah. Dapat merencakan konspirasi yang begitu matang dan bahkan mengalahkan ketiga sekte yang membombardir kerajaan ini. Sungguh benar benar sosok yang sangat hebat, layak dan patut untuk dihormati.


Keadaan hening, setelah mereka semua keluar. barulah Qing zhu pelan pelan mengeluarkan energi dari dalam tangannya. Yah, energi itu mempunyai hubungan dengan Qin yan. Sejak mereka bersatu untuk menyerap jantung nirvana waktu itu. Qing zhu mulai merasakan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Seolah, perasaannya bersatu dengan perasaan Qin yan.


Dan tentu saja, energi itu diterima baik oleh tubuh Qin yan. Jantungnya mereka saling berdegub satu sama lain dengan ritme yang sama. Hal itu membuat Qin yan meringkuk dengan nyaman. Siapa yang menyangka kalau Qin yan malah berbaring dipaha gadis itu.


"Ah....!" Seketika wajah Qing zhu jadi memerah. Ia benar benar malu telah terjadi hal yang tidak terduga. Apalagi beberapa orang sedang memperhatikan mereka berdua. Ingin rasanya ia pergi dan membanting kepala anak itu. Namun ia tak tega, setelah menonton pertarungannya langsung melawan ahli tingkat Kaisar. Qing zhu benar benar prihatin melihat keadaannya. Makanya, yang bisa ia lakukan sekarang yakni menahan rasa gugubnya dan mencoba bertahan dari sini.


Merasa suasana terasa canggung, Yue er dan lainnya tiba tiba tersadar. Tanpa ragu mereka semua berdiri, meminta ijin pada Qing zhu.


"Se-senior, kami keluar dulu."


Bi dai, She lin, Yu zheng dan Yue er lansung keluar tanpa mengharapkan balasan. Mereka bahkan mengabaikan ekspresi Qing zhu yang salah tingkah ketika ditinggal sendiri.


"Ka-kalian, ja-jangan pergi! Hei!" Wajah Qing zhu penuh kemerahan, ia tak punya pilihan lain selain duduk sendiri dalam tenda yang hening. Ditemani Qin yan yang tengah tidur dipahanya yang seputih salju.


Sungguh momen yang tak bisa dilupakan. Beberapa menit kemudian setelah terdiam cukup lama. Qing zhu tanpa sadar membelai rambut Qin yan yang panjang. Dirinya tersipu melihat Qin yan yang begitu tampan meskipun dilihat dari samping. Dan bahkan dalam keadaan tertidur, ia masih tak bisa melepas karismanya.


Tatapan Qing zhu agak sayu melihat tampang anak ini yang begitu tegas. Wajahnya seperti anak sebayanya, namun pemikirannya tak bisa ia tebak. Entah kenapa, Qing zhu sudah ditakdirkan untuk jatuh cinta dengannya. Selama ini, sebelum mereka bertemu. Ia selalu bermimpi aneh yang terus berlanjut hingga berkepanjangan. Wajah Qin yan ada disana, dan ia merasa seperti menjadi istrinya. Bukankah itu aneh, dan ketika mereka pertama kali bertemu. Ia sama sekali tak mengubris ketika melihat Qin yan yang mengeluarkan air mata saat menatapnya.


Ia tidak mengerti mengapa ia menangis, dan siapa yang menyangka sebuah takdir mempertemukan kembali ia saat berada disituasi yang sangat darurat. Qin yan menawarkan dirinya waktu itu untuk menyelematkannya. Dan ia tak bisa melupakan saat memalukan waktu itu ketika Qing zhu kehilangan kendali atas dirinya.


Aaaaah...


Qing zhu memegang pipinya sendiri. Astaga, ia berpikiran mesum lagi. Semakin lama, kegugupan dan rasa malunya berganti nyaman. Hatinya benar benar sejuk ketika Qin yan berbaring dalam pangkuannya.


Namun tiba tiba sesuatu yang mengganggu. Ternyata Qing zhu dari tak sadar kalau Medusa juga berada ditenda ini dan ia tidak keluar sama sekali. Malah menyaksikan mereka dengan tatapan tak senang.


Tentu saja Medusa tidak senang akan hal itu, rasa itu ia tak tau datangnya darimana. Tanpa sadar ia tiba tiba merasakan itu, dan itu sebenarnya sangat umum baginya yang cemburu pada mereka.


Qing zhu juga merasakan tatapan permusuhannya, namun entah kenapa Qing zhu tidak marah sedikit pun. Ia malah menghadapi wanita itu dengan tenang seolah olah ia memang sudah pernah mengalaminya beberapa kali.


"Kau siapa? Dan apa hubunganmu dengan Qin yan?" Tanya Qing zhu.


Medusa pun tersenyum sinis.


"Namaku Wu gui, namun Qin yan memanggilku Mei ji. Dan untuk menjelaskan padamu apa hubunganku. Aku akan menjelaskannya." Medusa pun memegangi perutnya, entah kenapa ekspresi Qing zhu jadi berubah.

__ADS_1


__ADS_2