LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Serangan dari orang misterius


__ADS_3

Kembali kesituasi Qin yan. Saat ini ia terus menunggu. Tidak terasa, malam pun tiba. Kegelapan menyelimuti dunia. Siapa sangka kalau ruangan ini akan semakin indah jika diwaktu malam hari. Ditambah lagi dengan tempat khusus untuk menikmati pemandangan. Sungguh, bahkan Qin yan sendiri tak tahan untuk mengatakan kalau tempat ini benar benar indah.


Yah, sembari menunggu. Qin yan akhirnya bersyukur. Ia akhirnya bisa bertemu dengan ibunya. Situasi ini membuatnya agak gugub, sesekali Qin yan memperbaiki penampilannya. Rambutnya diperbaiki, serta bajunya agak dibersihkan. Ia juga membersihkan kotoran diwajah, agar nanti ibunya tidak khawatir apapun ketika melihatnya.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Qin yan kepada Medusa, namun ia kaget wanita itu malah membelakanginya.


"Ada apa?" Tanya Qin yan dengan alis berkerut.


"Tidak, tidak apa apa." Jawab Medusa dengan datar, ia tetap diam sambil meminum tehnya.


"Kau seperti itu, tidak mungkin kau tidak apa apa." Qin yan pun mendekat kearahnya, duduk disamping wanita itu. Dan menatapnya dengan kening berkerut.


"Mungkin aku seharusnya keluar, kurasa aku akan mengganggu momen kalian." Tanpa menunggu waktu, Medusa pun berdiri. Hendak meninggalkan Qin yan. Namun Qin yan memegang tangannya hingga wanita itu terhenti.


"Kau yakin tidak ingin bertemu dengannya juga?"


Mendengar itu, Medusa hanya menatap Qin yan sebelah mata.


"Huh, memangnya dia siapa. Hingga dia sepenting itu, kalau aku tidak bertemu dengannya apa aku akan menyesal?."


Perkataan Medusa yang terdengar agak cemburu, namun Qin yan hanya tersenyum menanggapinya.


"Ya, aku hendak memperkenalkanmu padanya. Kau pasti menyesal tidak bertemu dengannya."


"Haah!" Tentunya Medusa bingung dengan apa yang dimaksud anak ini. Seakan dalam perkataannya membuat rasa tidak senang dihati Medisa hilang tanpa sadar. Ia pun duduk kembali, menatap Qin yan dengan mata menyipit.


"Apa rencanamu?" Tanyanya dengan curiga. Tapi Qin yan hanya diam sambil memberinya kode senyuman.


Tidak lama kemudian pun terbuka, Qin yan berdiri seketika. Setetes keringat mengalir keluar diwajahnya. Kenapa tiba tiba hatinya jadi tegang. Medusa juga ikut berdiri, ia benar benar sangat penasaran sekarang. Melihat Qin yan tiba tiba berkeringat. Pandangannya pun tertuju kedepan.


Dua orang wanita akhirnya masuk kedalam ruangan. Satunya ratu Es dan dibelakangnya...


Matanya Qin yan langsung membesar, pupilnya mengerut. Akhinya hari ini, sosok ibunya bediri dihadapannya.


Sama halnya dengan ibu Qin yan, tiba tiba langkahnya terhenti. Matanya membesar menatap Qin yan, tangannya menutupi mulutnya yang ternganga.


"Qin yin, dia adalah tamu yang ingin bertemu denganmu. Pergilah sapa dia. Huh!" Ratu Es juga tiba tiba langsung terkejut, melihat ekspresi ibu Qin yan. Perlahan, mata wanita itu tergenang oleh air. Sampai akhirnya air mata pun tidak tahan untuk mengalir.


Suasana pun menjadi hening, Medusa dan ratu Es tiba tiba merasakan apa yang dirasakan Qin yan dan ibunya. Rasa rindu yang tak tertahankan muncul dihati mereka tanpa tahu apa sebabnya.


Perlahan, Qin yan maju sampai kehadapan ibunya. Namun tatapan anak itu tertuju pada tangan ibunya yang rentah dan lemah. Dipergelangan tangannya terdapat garis merah bekas ikatan yang merambat kedalam.


"Ada apa dengan tangan ibu?" Perkataan Qin yan membuat Medusa dan Ratu Es jadi kaget bukan main.


"Ptank" Tiba tiba cangkir ditangan ratu Es terjatuh dan pecah kelantai. Ia tidak percaya apa yang ia dengar tadi. Begitu pula dengan Medusa.


Perlahan tangan Qin yan mengambil kedua tangannya, memandanginya dengan alis berkerut.


"Kenapa tangan ibu seperti ini?" Tanya Qin yan dengan pelan, tatapannya teralih kearah ratu Es.


Entah kenapa tatapan itu membuat tubuh ratu es sendiri bergidik seketika. Serasa ada ancaman dibalik tatapan itu. Qin yan ingin sekali menatapnya lebih lama, namun tangan ibunya langsung meraih kedua pipinya.


"Ib-ibu.... Tidak apa apa nak. Ka-kau.. Semakin tinggi." Ucap ibu Qin yan dengan mata berlinang. Kemudian langsung memeluknya.


"Aku rindu pada kalian, pada Yue er, pada keluarga ibu." Tangis ibu Qin yan pun pecah, ia menangis tersedu sedu di pelukan Qin yan.


"Maafkan ibu, maafkan ibu yang hanya pergi meninggalkan kalian tanpa ijin. Hiks Hiks.."


Dengan cepat Qin yan pun langsung melepaskan pelukan. Lalu menghapus air mata ibunya.


"Sudah sudah, ibu jangan menangis. Bertemu dengan ibu merupakan kebahagiaan untukku." Qin yan dengan cepat menghiburnya.


"Ta-tapi... Bagaimana kau tahu ibu ada disini.?" Tanya ibunya lagi dengan penasaran.


Mendengar itu Qin yan hanya tersenyum.


"Aku mendengar semuanya dari ayah."


"Apa!" Perkataan Qin yan membuat ibunya terkejut bukan main. Untuk beberapa waktu, ibu Qin yan terdiam. Menatap Qin yan begitu lama.


"Kau sudah bertemu ayahmu?"


Qin yan mengangguk mendengar pertanyaannya.


"Aku bahkan sudah bertemu Qian yu." Senyumnya lagi.


"Qian yu! Bagaimana kabarnya sekarang?" Tanya ibunya lagi.


"Dia baik baik saja, sekarang dia sudah membangkitkan kekuatannya. Oh, iyah. Apa ibu tidak lelah berdiri, ayo duduk." Qin yan pun membantu ibunya duduk dengan pelan. Memperlakukan ibunya dengan penuh kelembutan. Ratu Es dan Ratu Medusa yang melihat itu hanya diam menonton mereka tanpa bergerak sedikit pun.


"Kenapa kalian hanya berdiri disitu, ayo kita duduk sama sama." Setelah Qin yan berkata barulah mereka tersadar. Medusa mengikuti Qin yan duduk, namun tidak untuk ratu Es.


"Sepertinya, aku tidak bisa mengganggu waktu kalian. Mu-mungkin aku lebih baik keluar dulu." Dengan canggung, ratu es pun keluar dari ruangan itu dengan ekspresi yang tidak berubah. Dia tidak menyangka, Qin yan adalah putranya Qin yin. Kenapa dia tidak memikirkannya dari awal.


Baginya Qin yan adalah monster, tapi ibu Qin yan adalah muridnya sendiri. Ia masih tidak percaya, Qin yin yang ia kira melakukan hal tabu malah melahirkan seorang legenda. Hal tabu yang begitu memalukan, kini hilang karena kebanggan yang dibawa anaknya.

__ADS_1


Sesaat ia langsung terjatuh lemas didepan pintu, memikirkan apa yang terjadi barusan. Sekarang, apa dia akan masih memperlakukan Qin yin dengan kasar dan dingin seperti sebelumnya. Tidak, dengan sifat Qin yan, kemungkinan sekte ini bisa saja ia hancurkan kapanpun ia mau. Baik itu dari segi serangan, konspirasi atau jalan lainnya.


Memikirkan itu, membuat kepalanya pusing. Tapi lebih dari itu, ia sebenarnya sangat memperhatikan hubungan ini. Ia berniat untuk menjalin hubungan baik dengan Qin yan, tapi apakah ia masih punya kesempatan kali ini.


Untuk beberapa waktu, ia hanya terdiam sendiri didepan pintu. Saat itulah Qing zhu datang, berdiri kehadapannya.


"Master, apa anda baik baik saja?" Ucapnya dengan khawatir, membantunya berdiri.


"Qingzhu, dari awal aku memperhatikanmu selalu mengunjungi Qin yin, apa dari awal kau sudah tau kalau dia adalah ibu Qin yan?"


Pertanyaan Ratu Es membuat Qingzhu terdiam. Ia pun hanya menunduk dengan rasa bersalah.


"Maafkan aku, aku...." Qing zhu pun mulai menjelaskannya, tentang pertama kali mereka bertemu sampai dimana Qin yan memberi tahu nama ibunya.


Ratu Es mendengarkan itu dengan serius, begitu pula didalam ruangan. Qin yan dan ibunya banyak sekali bercerita. Ketika mereka berdua bertemu, kerinduan pun terobati. Banyak sekali yang ibu Qin yan tanyakan padanya.


"Aku banyak mendengar kabar namamu, apakah itu semua benar?" Pertanyaan ibunya membuat Qin yan hanya menggaruk kepalanya.


"Aaah... itu benar ibu.." Jawab Qin yan dengan pelan.


"Berarti tentang kau membunuh raja Mo, apakah itu juga benar?"


Qin yan mengangguk lagi apa yang ditanyakan ibunya.


"Berarti insiden dua tahun lalu, itu juga benar?" Kini alis ibu Qin yan mulai berkerut, ia menatap anaknya tak percaya. Apalagi melihatnya mengangguk, betapa terpukulnya hatinya. Entah penderitaan apa yang anak ini jalani selama dua tahun ini.


"Ka-kau.... kenapa kau melakukan hal senekat itu." Air mata ibu Qin yan mulai mengalir lagi, dengan cepat Qin yan kembali menenangkannya.


"Tidak ibu, coba lihatlah aku sekarang. Aku didepanmu, aku baik baik saja." Berkata Qin yan dengan nada riang, ia memperlihatkan kepada ibunya. Betapa sehatnya dirinya.


"Itu tidak mencerminkan apa yang kau lalui beberapa tahun ini." Namun meskipun Qin yan berusaha menutupi semuanya, tetap saja ibunya mengetahui itu. Ia tetap sedih, serasa apa yang dirasakan Qin yan selama dua tahun ini. Dia juga merasakannya.


Akhirnya, Qin yan pun hanya menghela napas panjang. Sikap riangnya tadi kini berubah menjadi lembut kembali. Membawa ibunya yang lemah itu kedalam pelukannya.


"Sudahlah ibu, yang lalu biarlah berlalu. Yang harus kita lakukan ini adalah menatap kedepan." Ucap Qin yan sambil mengelus punggung ibunya.


'Kau memang kuat nak.' Batin ibunya dengan terharu. Ia memeluk Qin yan itu dengan erat. Tidak perduli apa yang terjadi dimasa lalu, Qin yan selalu berpacu kedepan. Dan dia bangga punya anak sepertinya.


Kemudian, mata ibu Qin yan terbuka. Ia kaget melihat Medusa dibelakang. Awalnya, wanita itu juga menatap dirinya. Namun setelah mereka saling bertatapan, entah kenapa Medusa tiba tiba memalingkan wajahnya.


"Qin yan dia...." Mengetahui ibunya mulai memperhatikan keberadaan Medusa. Dengan cepat, Qin yan langsung melepaskan pelukannya. Melihat tatapan ibunya tertuju pada Medusa.


"Ibu, ini namanya Mei ji. Dia selalu menemaniku kemana pun aku pergi. Dialah juga yang melindungiku setiap kali aku dalam bahaya." Qin yan pun memperkenalkan Medusa pada ibunya.


"Sa-salam ibu." Bahkan berbicara pun ia sampai begitu gagab. Ia menunduk dengan tangannya terkepal di lututnya.


Tiba tiba ia sendiri kaget, ibu Qin yan langsung memegang kedua bahunya. Mendekatkan diri.


"Berapa umurmu?" Tanyanya dengan pelan.


"Se-seratus..." Medusa ingin melanjutkannya, tapi ia tiba tiba teringat. Kalau dia sedang bertubuh manusia.


"Eh! Umurmu Seratus tahun!!" Tentunya ibu Qin yan langsung kaget mendengar itu.


"Bu-bukan, maksudku umurku itu 25 tahun."


"Ooh.." Ibu Qin yan mengangguk mengerti setelah mendengarnya. Hampir saja, jantungnya hampir terlepas mendengar kalau wanita ini berumur 100 tahun. Jika saja Medusa tidak memperbaikinya dengan cepat, mungkin ibu Qin yan akan sakit jantung disini. Memikirkan anaknya berpasangan dengan seorang nenek nenek.


"Terimah kasih karena mau menemani anaku. Dia mungkin selalu membuat masalah, jadi aku sebagai ibunya meminta maaf padamu." Ibu Qin yan sedikit menunduk kepala, namun Medusa dengan cepat menghentikannya.


"Jangan lakukan itu ibu, nanti aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya jika kau merendahkan dirimu seperti ini." Alis Medusa berkerut memikirkannya, namun rasanya ia ingin menarik kembali ucapannya saat melihat Qin yan yang hanya bersantai melihat ibunya seperti itu.


"Kau memang gadis yang baik, kalau begitu tolong jaga anakku." Ibu Qin yan pun memegang kedua tangan Medusa. Menggengam erat kedua tangannya.


"Kalau dia berbuat kesalahan, pastikan dia menyesali perbuatannya."


Mendengar itu, Qin yan membeku. Ia kemudian berbalik pada mereka. Yang hanya memberikan tatapan jahat padanya.


'Apa yang direncanakan mereka?' Batin Qin yan yang tak tenang.


Cukup lama juga, ibu Qin yan berbicara dengan Medusa. Banyak sekali pertanyaan yang diajukan ibu Qin yan padanya. Mulai dari mana Medusa berasal, keluarga yang juga ia miliki sampai hal hal yang tidak boleh diletahui pria. Sementara Medusa, ia hanya menjawab seadanya saja. Walupun agak gugub, tapi ia cukup lancar ketika berbicara dengan ibu Qin yan. Setelah itu, ibu Qin yan pun kembali ketempat duduknya.


"Qin yan. Setelah ini, apa rencanamu kedepannya?" Tanyanya dengan serius.


"Hm... Aku berencana mengembangkan sekteku. Untuk mengikuti turnamen beberapa bulan nanti." Jawab Qin yan dengan tenang. Jawabannya juga lebih membuat mata ibunya membesar kembali.


"Apa! Sekte? Qin yan, sampai kapan kau akan berhenti membuat ibumu terkejut. Apa kau mau ibu sakit jantung?" Tatap ibunya dengan kesal.


"Bu-bukan begitu ibu, aku bukannya sengaja mengejutkanmu. Bukankah ibu sendiri yang bertanya tentang rencanaku?" Ucap Qin yan sambil tertunduk, membuat ibunya hanya menghela napas panjang. Mencerna perkataan Qin yan baik baik. Agar tidak terkejut lagi.


"Yah, aku mengerti. Tapi, jangan lupa. Jangan melakukan hal yang membahayakan dirimu. Ingat itu baik baik." Berkata ibunya dengan pelan, raut wajahnya menunjukan kekhawatiran seorang ibu.


"Tenanglah ibu, aku akan baik baik saja. Jangan khawatirkan aku." Qin yan pun perlahan mendekati ibunya lagi. Memeluknya dari samping untuk terakhir kalinya. Kemungkinan ia akan berangkat malam ini dan tiba kekerajaan Sunmoon sebelum matahari terbit.


"Kalau begitu, ayo kita pulang bersama ibu. Sudah waktunya keluarga kita bersatu. Ayah, Qian yu dan Yue er pasti akan bahagia?" Ajak Qin yan dengan wajah gembira. Namun ibunya hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi sedih.

__ADS_1


"Maaf Qin yan, ibu tidak bisa. Janji yang ibu ucapkan beberapa tahun lalu harus ibu tepati." Berkata ibu Qin yan dengan berat hati. Meskipun ia sendiri memang ingin pulang. Namun apa dayanya, janji telah mengikat dirinya. Hal itu juga membuat Qin yan jadi ikut sedih, tentunya ia sangat kecewa. Namun mengesampingkan perasaan itu, ia juga harus mengerti. Janji adalah janji, dan tidak ada kata tidak, untuk menepatinya. Memikirkan itu, Qin yan pun hanya menghela napas panjang.


"Baiklah, aku mengerti ibu. Sepertinya, harga yang akan kubayar nanti lumayan mahal. Kuharap ibu baik baik saja dan sehat selalu. Aku juga akan menyuruh ratu Es untuk meringankan hukumanmu." Senyum Qin yan, ia pun berdiri. Meninggalkan ruangan, diikuti dengan Medusa dibelakang.


"Qin yan." Panggil ibunya lagi, membuat Qin yan terhenti.


"Kirimkan salamku untuk ayahmu dan Qian yu, juga jangan lupa untuk Yue er. Kalian harus menjaga diri kalian masing masing sampai aku kembali. Kita pasti akan bersatu suatu saat nanti." Senyumnya dengan tulus, membuat Qin yan juga ikut bersemangat. Ia pun juga berbalik pada ibunya.


"Oh, aku juga lupa mengatakan sesuatu padamu ibu. Kau pasti mengenal Qing zhu, dia adalah..." Sisanya Qin yan memberinya kode isyarat pada ibunya. Membuat ekspresi ibunya jadi tertegun.


"Dasar bocah nakal."


"Hahaha...." Meskipun ibunya memarahinya, tapi Qin yan tetap saja tertawa bahagia. Begitu pula dengan ibunya dibelakang. Ia tadi memarahi anaknya sambil melipat tangan didada. Namun pada akhirnya, ia juga tersenyum. Dan terakhir, air matanya turun menyaksikan Qin yan pergi.


"Krieeek" Pintu pun terbuka, Qin yan keluar dari ruangan tersebut. Rupanya, Qing zhu sudah ada diluar. Berbincang bincang dengan ratu Es.


"Eh, kalian sudah selesai?" Berkata ratu Es dengan heran.


"Ya. Kurasa aku harus berterima kasih padamu karena sudah memberiku kesempatan untuk bertemu ibuku." Senyum Qin yan dengan ramah.


"Yaaah... Aku juga tidak tau kalau dia ibumu. Mungkin aku akan...." Ratu Es sedikit menundukan kepala.


"Meminta maaf."


Mendengar itu, Qin yan hanya terdiam. Pada akhirnya ia pun hanya menghela napas ringan karena tidak tau harus menjawab apa. Didepannya ini adalah seorang ketua sekte, jika dia menjawab ucapannya ini, itu akan tetap terdengar seperti merendahkannya.


"Baiklah, kurasa semua sudah selesai. Sudah saatnya aku pergi." Berkata Qin yan dengan santai meninggalkan mereka.


"Pe-pergi? Tapi bukankah kita belum berbicara begitu lama?" Raut wajah Ratu Es agak sedikit kecewa, mungkin baginya terlalu cepat untuk Qin yan pulang. Masih banyak hal yang harus dibicarakan, seperti tentang bisnis dan lain lain. Tapi, kalau Qin yan pergi, bukankah seperti sia sia saja ia mengundang anak ini kesini.


Ia ingin menghentikan Qin yan. Tapi anak itu duluan melemparkan sebuah segel padanya.


"Ambillah itu, Tempelkan segel itu ketanganmu sendiri untuk memasuki kerajaan Sunmoon. Sekte istana Niwanku berada disana."


Ratu Es dan Qing zhu langsung terdiam mendengar itu. Bahkan wanita itu belum mengonfirmasikan kertas segelnya, tapi Qin yan sudah berlalu begitu jauh akibat mereka yang masih bingung begitu lama.


"Tadi, dia bilang sekte Istana Niwan? Aku tidak mungkin salah dengar kan? Anak itu sudah membentuk sektenya dalam waktu dua tahun?" Berkata Ratu Es tak percaya.


"Ra-ratu, aku juga tadi mendengar kerajaan Sunmoon." Qing zhu berbicara dengan mata membesar disamping.


"Itu masuk akal, karena kerajaan Sunmoon adalah tempat ayahnya berada. Berarti selama ini ia selalu bersembunyi disana." Gumam Ratu Es sambil mengangguk sendiri. Lalu kembali memandangi kertas segel yang diberikan Qin yan.


"Aku pasti akan datang." Senyumnya.


*********


Hutan belantara.


Atas ijin ratu Es, Qin yan dan Medusa akhirnya berhasil keluar dari jangkauan Formasi pelindung milik sekte ini. Meskipun agak jauh jika hanya berjalan kaki, tapi mereka tetap melaluinya.


Berjalan menyamping dari arah kerajaan Glasier, kini Qin yan pun mengeluarkan salah prajurit bayangannya. Tipe Beast yang bisa terbang.


"Dengan ini, mungkin kita bisa mencapai kerajaan Sunmoon sebelum pagi hari. Haish... Sudah seminggu semenjak aku pergi, bagaimana keadaan Sekte dan akademi yah?" Gumam Qin yan sendiri sambil menaiki beastnya.


"Eh, Mei ji. Ayo naiklah." Ajak Qin yan ketika melihat gadis itu yang hanya berdiri dibawah. Namun anehnya Medusa tidak mau mematuhi perkataannya, ia hanya berdiri disana dengan alis berkerut.


"Ada yang salah, apalagi sekarang?" Tiba tiba Qin yan juga merasakan perasaan yang sama. Nalurinya mengatakan ada seseorang yang sedang membututi mereka.


"Keluarlah! Jangan hanya bersembunyi." Berkata Qin yan dengan dingin, dua pisau Yin yang ditangannya sudah disiapkan. Jika orang yang membututinya ini adalah seorang pembunuh bayaran, maka tidak cara lain selain melawan. Tapi jika pembunuhnya sama kuatnya dari Medusa sendiri, maka mereka harus lari.


"Srak srak" Tiba tiba semak semak bergoyang dimana mana. Qin yan turun dari beastnya dengan waspada.


'Sial. Z! Z! Aktifkan mode pendeteksian otomatis.' Batin Qin yan penuh keringat.


..."Baik tuan, Mode pendeteksian otomatis diaktifkan!"...


Mata Qin yan langsung menyala, penglihatannya menjadi hijau, dengan sebuah penscren yang memeriksa setiap semak semak yang bergoyang. Qin yan menerima informasi dari jendela jendela hologram yang keluar sebagai tanda.


Tiba tiba matanya langsung terbelalak, siulet yang tak dikenal melaju dengan cepat menuju kearahnya.


"Siung" Qin yan berhasil menghindari serangan tersebut secara refleks karena tubuhnya dikendalikan Z. Serangan yang terlalu cepat, bahkan Qin yan sendiri tak bisa menghindari walaupun sudah mengetahuinya.


"Buakh" Namun, ketika Qin yan berhasil menghindar. Medusa malah terkena dampaknya. Ia tak bisa apa apa, dan terpental hingga kebatangan pohon. Disana, ia kemudian diikat dengan rantai yang kuat. Hingga wanita itu tak bisa bergerak sedikit pun.


'Sial, bahkan Medusa yang berada diahli tahap Kaisar tak mampu menghindari serangan itu. Siapa dia? Mengapa dia mengincar kami?'


Apapun yang Qin yan pikirkan, ia tetap tak bisa mendeteksi keberadaan dimana musuh tersebut. Ia hanya berputar putar dengan waspada, sembari menganalisa situasi.


Musuh berhasil mengalahkan Medusa begitu mudah meskipun mereka tidak lengah sedikit pun. Itu berarti tingkatan orang ini berada diatas tahap Kaisar.


"Hahaha... Aku tak menyangka, kau bisa menghindari seranganku. Bocah." Tiba tiba sebuah suara terdengar, tanpa tahu asalnya darimana. Suara itu bergema ditelinga Qin yan. Membuat kepala Qin yan sangat pusing.


"AKH!!!" Teriak Qin yan dengan keras. Namun ia tetap bisa menahannya.


"SIALAN! SIAPA KAU SEBENARNYA!!"

__ADS_1


__ADS_2