
Qin Yan langsung mengetuk kepalanya sampai membuat gadis itu tertegun.
"Itu mungkin pemikiranmu sendiri. Pernahkan kamu memikirkan apa yang dipikirkan ibumu? Tenang saja, tidak ada anak yang lahir sebagai masalah didunia ini. anak anak itu dianggap sebagai hadiah. Jadi, jangan memikirkan apa apa. Dan tetaplah tersenyum seperti biasanya." Setelah mendengarkan Qin Yan, tangis Gadis itu mulai mereda, meskipun mungkin hatinya masih merasakan rasa bersalah.
"Aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang ibu. Aku adalah anak yang membuatnya kesusahan."
"Tak" Qin Yan kembali mengetuk kepalanya dengan kesal.
"Sudah kubilang jangan memikirkan itu, gadis bodoh!" Ia langsung memarahinya. Meskipun ia tahu, kalau gadis ini akan bertambah sedih. Namun, Qin Yan sendiri tidak tau harus mengatakan apa atas masa lalu yang terbilang cukup menyakitkan jika dibandingkan dia berada dipihak gadis ini.
Kemudian Qin Yan ekspresi melunak.
"Tidak ada ibu yang membuang anaknya. Nasibmu mungkin berbeda dari nasibku. Namun masa laluku juga begitu kelam hingga aku tidak ingin mengingatnya. Aku juga lahir tanpa mengetahui siapa ayahku. Orang orang disekitar kami menggunjing kami sebagai anak terlarang. Yah, kami hidup seperti itu sampai akhirnya kami berusaha untuk merubah takdir." Qin Yan menghela napas. Sampai akhirnya ia tersenyum. Ia mengelus kepala gadis itu yang juga menatapnya dengan tatapan simpati. Seolah mendapatkan teman senasib. Ibu Qin Yan yang tengah mengobati ibu Tang lili hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Qin Yan pun berdiri.
"Ada yang harus aku selesaikan terlebih dahulu." Dia pun pergi menuju ke arah pertarungan.
Ketika sampai dihadapan mereka, wajah Qin Yan dingin.
Mereka yang sudah dalam keadaan menderita mulai melarikan diri masing masing. Namun Qin Yan tidak bisa membiarkan mereka pergi begitu saja.
Angin pun berhembus, Qin Yan hanya duduk diatas batu sambil menonton pertarungan.
Semuanya ada enam. Lima diantaranya adalah profesor dan beberapa tetua, lalu yang terakhir adalah wanita yang sebelumnya terkekang oleh kayu Qin Yan yang menancap ditubuhnya. Mereka telah berubah menjadi monster. Meskipun begitu, mereka tidak ada apa apanya didepan Qin Yan.
Setelah mereka mati, Qin yan menggunakan pemutaran waktu. Lalu mereka kembali hidup. Lalu dibunuh, kemudian kembali hidup. Qin Yan menggunakan perlambatan waktu, penyiksaan perlahan. Ilusi, mimpi buruk. Kejut mental sampai membuat kepala mereka serasa meledak. Pengekangan dengan akar akar memenuhi tubuh mereka. Lalu listrik menghantam dan mencabik daging. Api menjalar hingga ke darah dan syaraf. Energi kehancuran yang menyiksa mereka sampai tidak bisa bergerak. Tapi mereka kembali dipulihkan. Kejadian itu berulang ulang dalam waktu lama. Sampai mereka bahkan tidak bisa lagi berpikir normal.
Mereka hanya ingin mati. Mati, mati dan mati. Agar penyiksaan ini segera berakhir mereka rela melukai diri. Tapi Qin Yan tidak berhenti sampai dia puas. Bukan hanya menahan dan menyiksa ibunya, mereka bahkan merusak mental seorang gadis kecil dan memberikan trauma yang sangat mendalam bagi seorang wanita. Dosa tersebut, kematian hanyalah hukuman ringan.
Qin Yan mengepalkan tangan sambil menutup mata menikmati teriakan kesengsaraan mereka. Angin berhembus bahkan hari mulai menjelang malam. Malam pun, penyiksaan tetap berlanjut dan tidak pernah berhenti.
__ADS_1
Inilah neraka bagi mereka yang berani menyakiti ibunya, ditambah dengan menyakiti orang terdekatnya, Qin Yan benar benar ingin membuat mereka hancur secara mental sampai ke akar akarnya.
"Apakah pertarungannya belum berhenti?" Tiba tiba ibunya datang dibelakangnya. Qin Yan agak kaget, namun ia lebih baik tidak menyembunyikan ini.
Ibunya pun juga menyadari itu, namun ia tidak bisa melarang apa yang telah dilakukan putranya. Meskipun agak berlebihan, namun ia tidak bisa memungkiri bahwa putranya pasti sangat tidak terima dengan perlakuan mereka kepadanya. Ia pun hanya duduk disamping Qin Yan.
"Bukankah ini sudah cukup? Mereka sudah tidak bisa lagi apa apa kan?"
Ibu Qin Yan tersenyum lembut. Qin Yan sebenarnya masih tidak ingin berhenti menyiksa mereka, namun ia mengerti apa yang dimaksudkan ibunya. Alhasil, penyiksaan pun berhenti. Dan mereka diseret sampai kehadapan Qin Yan.
"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Qin Yan.
"Ibu gadis itu, dia baik baik saja secara fisik. Namun masalahnya, adalah traumanya terhadap masa lalu dan perlakukan yang dia terima. Sampai ia mampu menangani traumanya, dia pasti bisa bangun."
"Bukankah dengan menghapus ingatannya dia akan menjadi lebih baik?"
Ibu Qin Yan menggeleng mendengar masukan putra nya.
"Kau tidak akan mengerti seberapa besar hati seorang ibu. Aku percaya dia akan bangun dan melihat wajah wajah putrinya."
"Lalu kau mau apakan mereka?"
Qin Yan menjawab dengan dingin.
"Mereka harus meminta maaf atas segala yang mereka lakukan selama kepada gadis itu."
Ibunya pun tersenyum mengangguk. Ia juga setuju dengan pemikiran putranya.
*****
Ibu Qin Yan meninggalkan mereka sebenarnya karena Tang Liu sudah bangun. Pada saat membuka mata, Tang lili sudah berada didepannya. Karena tak ingin menganggu waktu keduanya, ibu Qin Yan meninggalkan mereka sejenak.
__ADS_1
"I-ini, dimana...?" Tang Liu perlahan bangun dengan memegangi kepalanya. Lalu menengok sana dan sini.
"Kakak, kau sudah bangun?" Tang lili gadis itu, dia langsung memeluk Tang Liu. Tang Liu tersenyum lembut sambil mengelus punggung kecilnya. Namun, satu hal yang dia tidak mengerti. Seharusnya dia ada dipenjara, tapi kenapa dia disini?
"Apa yang terjadi?" Tanyanya pelan.
Tang lili langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Tang Liu dengan wajah ceria.
"Guru telah menyelamatkan kita. Dia bahkan telah menyelamatkan ibu."
"Guru?"
"Iya, guru. Ketika aku melarikan diri. Aku bertemu dengannya dihutan. Dia sangat kuat, bahkan para profesor dan beberapa tetua tidak sanggup melawannya. Dia benar benar luar biasa. Kakak pasti sangat kaget ketika melihatnya. Dia sangat tampan."
Tang Liu terdiam mendengar penjelasan gadis itu. Orang yang bisa mengalahkan para tetua dan pria gila itu memang pasti ialah orang yang kuat. Tapi dia siapa? Mengapa menolongnya dan keluarganya?
Tapi bukan itu yang dia pikirkan, ketika melihat seorang wanita yang terbaring nyenyak disampingnya, dia pun langsung mendekatinya. Wajahnya, rambutnya, bahkan matanya sangat mirip dengan miliknya. Hanya saja, perbedaannya, wanita itu memiliki delapan mata kecil di bagian dahinya yang tertutup rambut.
Air mata Tang Liu menetes keluar saat melihat kondisi wanita itu. Dia memegangi tangan halus wanita itu dengan lembut. Lalu meletakkannya dipipi. Bersamaan dengan memori memori yang hilang kembali berputar dikepalanya. Tang Liu tanpa sadar menyanyikan lagu yang sering di nyanyikan ibunya pada saat ketika ia tidur.
"Ma~lam yang pan~jang membuat ku nyaman.... Ti~dur bersama dengan mu sayang..... Ku nyanyikan lagu pengantar tidur... agar kau dapat bermimpi indah. Menari ceria bersama bintang. Tertawa riang bersama bulan...." Tang Liu tak bisa melanjutkannya lagi karena Isak tangisnya yang sudah tidak bisa ia tahan. Dia membenamkan kepalanya ke perut ibunya sambil menggenggam erat tangannya. Ia bahkan memeluk ibunya. Selain menyanyikan lagu tidur, dia bahkan menyanyikan lagu yang selalu ibunya nyanyikan ketika membangunkannya.
Entah sudah berapa lama ia bernyanyi, Tang Liu akhirnya terhenti. Ia hanya bisa memeluk ibunya tanpa berkata apa apa lagi. Mengingat kenangan lama yang dia habiskan bersama ibunya. Tang Liu ingin sekali melihat ibunya terbangun sekarang. Ada banyak sekali pertanyaan yang ia ingin tanyakan. Tang lili disamping hanya diam tak mengatakan apapun. Dia takut mengganggu waktu mereka. Oleh karena itu, dia pun pergi.
"Jangan pergi kemana mana." Ucap Tang Liu dengan tenang. Tang lili membeku dengan tegang. Akhirnya Tang Liu berbalik padanya. Lalu tersenyum padanya.
"Mari kita temani ibu bersama sama."
Mata Tang lili langsung membesar. Awalnya dia tidak percaya dengan ucapannya. Meskipun itulah harapannya. Dia menatap Tang Liu dengan wajah yang basah. Melihat Tang Liu mengajaknya, tanpa ragu dia langsung menuju ke samping ibunya. Menunggu ibunya bangun. Memegangi tangan ibunya dibagian kanan seperti Tang Liu.
Ternyata tanpa diduga, wanita itu membuka matanya. Akibat dua benang yang berusaha menariknya keluar dari alam bawah sadar hingga dia bisa mempunyai keinginan untuk kembali terbangun dengan harapan bertemu putrinya. Ketika melihat dua wajah putrinya, wanita itu agak terkejut, dia benar benar tidak sedang bermimpi. Akhirnya dia bisa melihat kedua putrinya dari dekat. Mereka ternyata sudah sebesar ini.
__ADS_1
"Liu er, Lili!" Panggilnya lembut. Kedua gadis itu langsung melihatnya. Tanpa melupakan wajah kedua gadis itu, ibunya tau kalau mereka adalah kedua putrinya. Dia lalu memeluk keduanya dengan tangis bahagia. Tang Liu dan Tang lili juga agak terpaku tak percaya. Namun tidak berlangsung lama, keduanya kembali memeluk ibunya. Ketiganya menangis setelah sekian lama tidak bertemu.
Tidak jauh dari mereka, Qin Yan dan ibunya berada disana mengawasi mereka. Namun tidak mengganggu waktu reuni ketiganya. Qin Yan juga tersenyum. Akhirnya, Tang Liu bertemu dengan ibunya yang selama ini dia cari.