LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Menuju istana


__ADS_3

Tenda pusat, tempatnya para petinggi Militer.


Komandan pasukan, Mu rue berdiri dihadapan lima para petinggi. Salah satunya adalah ayahnya sendiri, jenderal terkuat dari salah satu kamp militer di barat ini. Ia berdiri kehadapan kelima petinggi tersebut, sedang melaporkan apa yang terjadi tadi pagi. Lalu merekomendasikan tiga prajurit baru, Qian yan, Dai yueheng dan Xiao xin er..


"Hm.... tiga orang ini, aku akui mereka memang hebat ketika mendengar laporanmu Mu rue. Tapi bagaimana pun, mereka tak bisa masuk ke pasukan kita begitu saja. Peraturan tetaplah peraturan, sehebat apapun mereka. Tetap saja harus menjalani ujian. Kemungkinan mereka hanya beruntung saat melawan pasukan beruang itu, bukankah kalian juga ada disana. Palingan mereka hanya menerima sisa saja." Berkata petinggi satu dengan angkuh.


"Itu benar Mu rue, kurasa laporanmu ini agak sedikit dilebih lebihkan. Katamu mereka tampak muda sekitar 16-18 tahun. Lebih muda darimu yang umurnya 21 tahun. Padahal kau adalah prajurit termuda dan berbakat disini. Tidak mungkin ada yang lebih dari itu, dan secara logika ini sebenarnya agak tidak masuk akal. Seharus mereka baru masuk kedalam akademi tingkat profesi, tapi bahkan belum memasuki profesi pun. Mereka ingin langsung memasuki dunia militer." Berkata ayah Mu rue itu sambil menggelengkan kepala.


"Itu benar. Anak anak jaman sekarang benar benar tidak tau betapa luasnya dunia." Petinggi ketiga pun juga mulai berbicara.


"Tapi ayah, Jenderal 1 jenderal 3. Aku, sudah melihatnya sendiri. Mereka benar benar hebat, bahkan ada yang berada ditahap Grandmaster diumur mereka yang begitu mudah." Mu rue berusaha meyakinkan mereka, kalau apa yang ia lihat tadi pagi bukanlah imitasi semata.


"Tidak Mu rue? aku tau perasaanmu saat ini. Kau ingin merekrut prajurit muda untuk menambah talenta di Kamp ini agar tidak diremehkan pasukan lain."


Mendengar perkataan petinggi keempat, Mu rue terdiam sambil terduduk.


"Sudah sepantasnya aku melakukan itu. Dari 130 puluh pasukan militer yang ditugaskan di perbatasan barat, pasukan Kamp kita yang paling lemah dan terus diremehkan. Dan juga mereka anak yang berbakat, aku rasa kalian tidak harus meremehkan mereka. Kalau kalian benar benar tidak percaya, kalian bisa mengecek lokasi peperangan kami tadi." Emosi Mu rue mulai memuncak ketika apa yang ia ucapkan tidak ada satupun yang percaya.


"Bam" Petinggi kelima, termasuk paman Mu rue sendiri membanting tangannya kemeja.


"Mu rue! Apa kau mau merendahkan harga diri kami, kau kira kami akan pergi memeriksa lokasi itu. Dan langsung menemui mereka, kalau benar mereka ingin masuk kedalam pasukan ini, seharusnya merekalah yang menghadap kesini." Teriak pria baya itu dengan marah, membuat Mu rue terdiam sekali lagi. Wajahnya hitam dan ia hanya bisa menggertakan gigi dengan wajah yang gelap.


"Kalian tahu? Keangkuhan kalian ini akan membuat kalian sendiri menyesal. Jangan karena kalian mau diperlakukan seperti petinggi Kamp terhormat lain, kalian tanpa sadar menyianyiakan peluang." Tatap Mu rue dengan air matanya yang hampir menetes. Ia pun keluar dengan hentakan kaki yang keras.


"Mu rue! Tunggu..!" Ayah Mu rue berusaha menghentikannya dengan alis berkerut.


"Apa ini yang kau ajarkan pada putrimu Mu wong?" Tanya petinggi lima disamping kanan sambil melipat tangan didada.


"Hei! Kau jangan jangan bawa namaku disini. Hanya karena putramu tak bisa naik jabatan dan dikalahkan putriku." Teriak ayah Mu rue dengan marah.


"Masalah ini tidak ada hubungannya dengan putraku, jagalah mulutmu itu baik baik." Petinggi lima pun berdiri, hendak maju melawan ayah Mu rue. Namun tetua lain menghentikan mereka.


"Kenapa kalian terus bertengkar untuk hal yang tidak berguna. Mu rue memang masih muda, namun tidak alasan untuk tidak percaya pada perkataannya. Lebih baik kita cek sendiri apa yang gadis itu katakan." Berkata petinggi satu dengan bijak.


Area peperangan...


Kelima tetua dibuat menganga melihat kerusakan yang terjadi. Para beruang beruang yang tewas selalu terkena tembakan panah tepat di tengah dahi mereka, semuanya mempunyai target yang sama dan tidak sekali pun meleset.


"Kalau menurut laporan Mu rue, ini seharusnya perbuatan milik Xiao Xin er." Pikir mereka dengan kagum.


"Aku tidak menyangka kalau pemanah yang begitu handal akan masuk kepasukan kita. Sepertinya kita benar benar beruntung." Mereka bahkan mulai senang ketika memikirkan anak macam apa yang telah berbuat seperti ini.


"Hei, coba lihat sini." Satu lagi dari mereka menunjukan sebuah jalan lorong yang terbentuk dari efek Rasenggan Qin yan. Begitu lebar, dalam dan panjang. Membuat mereka kagum melihat itu. Lalu kerusakan pada tebing akibat tendangan Dai yueheng. Napas mereka tak beraturan lagi. Sepecik niat ambisi muncul dipikiran masing masing. Ada tiga orang monster masuk kedalam pasukan mereka, entah kehormatan apa yang mereka terima nanti.


Satu per satu mulai berkhayal, kalau pasukan kamp mereka akan dijadikan pasukan utama perbatasan barat. Tidak, mungkin keempat perbatasan. Bahkan mereka mulai memikirkan dalam diri mereka dipanggil untuk maju kedepan. Disambut dengan penuh kehormatan yang diberikan seluruh prajurit lain. Memikirkan itu, hawa ketamakan tinggi tidak tertahankan lagi.


"Bagaimana? Bukankah kalian sudah lihat? Apa masih mau menganggapku kebohongan." Mu rue yang dari tadi duduk diatas tebing, kini turun menghadap mereka.


"Wah, rupanya komandan berbakat kita menemukan harta karun." Senyum pamannya, Petinggi kelima yang tadi membentaknya. Senyum itu begitu ramah, dan penuh kepaksaan. Mu rue hampir dibuat muntah melihat topeng itu. Ia benar benar muak melihat niat busuk tersembunyi dari para petinggi ini. Ingin rasanya ia menghancurkan keegoisan mereka.


"Mu rue, bisakah kau panggil tiga anak berbakat itu. Kami benar benar ingin melihat seperti apa mereka." Lanjutnya lagi.


"Apakah kesombongan kalian tidak pernah lepas meskipun kalian sudah menyaksikan buktinya? Kenapa kalian tidak menurunkan ego kalian sedikit untuk menemui mereka. Mereka itu sebenarnya tamu, orang yang telah menyelamatkan kita. Seharusnya kalian bicara baik baik, agar mereka nyaman masuk disini. Karena faktanya mereka itu berbakat, kalian juga harus menawarkan jaminan jaminan agar mereka benar benar berminat masuk kesini." Berkata Mu rue dengan dingin.


"Ka-kau... gadis kecil, apa kau mau dicopot gelarmu hah? Jangan jangan mentang ayahmu.." Petinggi kelima terhenti bicaranya saat ayah Mu rue menghentikannya.


"Jadi maksudmu, kau menyuruh kami untuk menyambut mereka dengan sopan ketenda mereka? Bukankah itu tidak pantas bagi seseorang yang ingin masuk?" Berkata ayahnya dengan tenang.

__ADS_1


"Tidak, itu pantas, karena nyatanya akulah yang telah bersusah payah untuk menarik mereka agar masuk ke Kamp kita. Setidaknya berilah mereka sedikit kesempatan untuk melihat kerendahan hati kalian."


Tetua ketiga, hanya menggeleng kepala mendengar ocehan Mu rue. Ia pun menatapnya dengan tak senang.


"Rupanya kau ingin kami kehilangan wajah yah?"


'Apa!' Mu rue terdiam mendengar itu, pikirannya kosong. Ia tidak habis pikir, disaat seperti ini mereka masih saja mempertahankan keras kepala dan wajah mereka. Tubuhnya menggigil dengan penuh kemarahan, ia benar benar tidak tau lagi, bagaimana cara berbicara dengan para petinggi egois ini. Bagaimana caranya menghancurkan keangkuhan mereka.


"Komanda Mu rue! Komandan Mu rue.!" Salah satu prajurit datang menghadap mereka.


"Ada apa?" Tanya Mu rue dengan alis berkerut.


"Lapor! Tiga orang yang telah menyelamatkan kita tadi telah menghilang. Tidak ada yang tahu mereka pergi kemana." Ucap prajurit itu dengan penuh kekhawatiran. Membuat wajah Mu rue jadi kaget bukan main, begitu pula dengan ekspresi para petinggi. Keangkuhan yang tadi mereka banggakan jadi tidak berguna.


"Bagaimana itu mungkin? Mu rue bukankah kau bilang mereka akan mendaftar?" Tanya salah satu petinggi pada seorang gadis yang kini tengah diambang kebingungan.


Serasa dipermainkan, yah itulah yang terjadi. Betapa kecewanya Mu rue saat mendengar ketika mereka telah pergi.


"Mu rue, apa kau mendengarkan kami!" Teriak petinggi itu dengan marah.


"Diamlah!!" Namun mereka juga ikut kaget ketika gadis itu jadi membalas mereka.


"Kenapa? Kalian tidak percaya? Kesombongan dan keangkuhan yang tadi kalian banggakan, sekarang tidak berguna lagi kan? Bukankah rencana kalian yaitu terlihat tangguh didepan mereka? Membuat mereka bersimpuh agar diterima di kamp ini. Coba tebak, apa yang kalian lakukan sekarang. Peluang sudah tersia siakan, dan sekarang giliran kalian yang menyesal." Senyum Mu rue mengejek mereka.


"Di-dia... kenapa dia menyalahkan kita?" Tentunya para petinggi itu bingung mengapa Mu rue bisa berbicara seperti itu.


"Mu rue, mengapa kau menuduh kami dalam kepergian mereka." Tanya petinggi keempat dengan wajah tak senang. Menatap Mu rue yang wajahnya juga hitam. Namun tidak lama kemudian gadis itu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Heeeh... Coba saja kalian bayangkan. Apa alasan mereka pergi? Sebelum aku merekomendasikan mereka bertiga pada kalian. Awalnya mereka benar benar menyetujui penawaranku. Tapi setelah aku berdiskusi dengan kalian para petinggi, mereka langsung pergi. Coba tebak, apa yang membuat mereka pergi."


"Kemungkinan mereka mendengarkan percakapan kita, yang cenderung meremehkan mereka."


Perkataan Mu rue membuat mereka membeku dengan mata yang besar. Mereka kemudian menggertakan gigi dengan wajah yang gelap.


"Kau... beraninya kau..."


"Sudahlah, kita tak harus bertengkar soal ini. Memangnya hanya mereka manusia? Kenapa kita dibuat pusing untuk masalah yang tidak berguna. Kalau orang lain melihat kita seperti ini mereka pasti akan menertawai kita. Ayo kita kembali saja." Berkata ayah Mu rue mendinginkan suasana, daripada terjadi pertengkaran dan perdebatan konyol disini, lebih baik mereka bubar saja.


Rencana yang tadi mereka sudah tetapkan, kini malah tidak terjadi. Ketika melihat lokasi pertempuran pagi ini, sebenarnya mereka sangat kagum dengan kerusakan pada medan perang ini. Namun, apa daya. Siapa sangka mereka akan dipermainkan seperti ini, kebanggaan yang hendak mereka nikmati sebelumnya kini berbalik dimana terasa mereka yang seperti menjilat tiga anggota yang tadi mereka remehkan.


Jauh dari kamp militer tersebut, disebuah goa diatas gunung.


Qin yan bersemedi sambil mengalirkan energi pernasapannya, tubuhnya mungkin disegel. Tapi energi Qi nya masih bisa digunakan. Jika kekuatannya disegel, tapi meridian tetap berjalan mengalirkan energi.


Teknik yang ia gunakan sebelum ia membangkitkan kekuatannya tiga tahun lalu, tidak disangka hari ini ia akan menggunakan nya lagi. Teknik itu adalah salah satu bentuk pengalaman dari masa lalunya. Dan sekarang Qin yan benar benar membutuhkannya, karena masalah yang ia hadapi semakin lama semakin besar saja. Ia tidak mungkin hanya akan diam dan mengharapkan kekuatan pinjaman saja untuk mengatasi masalah tersebut.


Lama juga ia bersemedi, ia pun membuka mata dengan alisnya yang berkerut dengan tajam.


"Aku tidak tau kalian ini bodoh atau bagaimana. Kenapa kalian mengikutiku?" Ia pun berdiri, memandangi Yueheng dan Xiao xin er yang berdiri dibelakangnya.


"Tch, memangnya kenapa kami mengikutimu. Itu terserah kami." Xiao Xin er melipat tangannya didada, membuat Qin yan hanya menghela napas sambil menggelengkan kepala. Tanpa membuang buang waktu, ia pun mengeluarkan ratusan prajurit bayangannya. Prajurit yang sudah ia sembunyikan selama ini dari perhatian dunia. Karna ia takut jika ini terekspos, maka dia tidak mempunyai tempat didunia ini.


Namun didepan kedua anak ini, setidaknya ia bisa mengelabui mereka sedikit.


Keluarnya prajurit bayangan itu membuat mata mereka terbelalak, wajah yang tadi terlihat angkuh kini berubah khawatir dan waspada.


'Sial! Apa orang ini akan menyerang kami? kalau aku tau ia mempunyai kekuatan semengerikan ini, kenapa aku mendekatinya?' Wajah Yue heng berkeringat, melihat Qin yan sudah mengucapkan beberapa kalimat.

__ADS_1


"Kalian, berpencarlah kearah yang berbeda dikerajaan ini. Setiap tempat dan lokasi, carilah Medusa dan yang lain hingga kalian menemukannya. Dan jangan lupa, berhati hatilah agar tidak diketahui." Berkata Qin yan dengan tenang, kemudian ratusan prajurit bayangan itu mengangguk. Lalu menghilang menjadi angin.


Masing masing berpencar kearah yang berbeda beda, Utara, selatan, timur dan barat. Bahkan mencari kekota kota lain. Dalam waktu yang singkat, sekejap mereka langsung menemukan keberadaan mereka yang dicari.


Medusa tengah berjalan menuju kota bersama Xuan ziwei. Na er dan Yun zhi yang tengah beristrahat di rumah makan. Sedikit kode isyarat yang diberikan prajurit bayangan, membuat mereka semua mengangguk. Kemudian berjalan mengikuti kemana yang diantar oleh prajurit hitam tersebut.


Setelah Qin yan mendapat laporan dari prajurit bayangannya, kalau teman teman yang lain sudah ditemukan. Ia pun mengatur pertemuan, dimana mereka akan bertemu dikota pusat kerajaan ini. Kota yang dekat dengan istana kerajaan.


'Di-dia.. tidak menyerang kami?' Batin Yueheng melihat punggung Qin yan dari belakang, ia hanya mengikuti kemana perginya Qin yan. Berpikir kalau Qin yan menggunakan prajurit bayangannya hanya untuk mencari teman teman mereka yang lain. Ia pun agak sedikit bernapas lega. Jika saja itu digunakan untuk bertarung dengannya, maka itu adalah masalah yang sangat merepotkan.


Tempat pertemuan sudah ditentukan, disebuah puncak tebing tempat dimana bisa melihat pemandangan seluruh kota Salju. Medusa dan Xuan ziwei adalah yang pertama datang.


"Kalian sudah lama datang?" Tanya Qin yan kepada mereka. Tersenyum lembut melihat Medusa yang baik baik saja.


"Kami baru saja datang, karena prajurit bayanganmu. Akhirnya kami tidak terlalu tersesat." Berkata Medusa dengan wajah datar, namun alisnya berkerut melihat tubuh Qin yan yang dipenuhi lilitan perban.


'Apa dia baik baik saja?' Batin Medusa, melihat Qin yan yang hanya melewatinya dan memandangi pemandangan kota. Tiba tiba, ia mendapat laporan dari prajurit banyangannya, kalau gadis bercadar dan Na er tidak ingin mengikuti mereka. Kedua gadis itu bahkan menganggapnya sebagai musuh.


Oleh karena itu ia hanya menutup mata dengan tenang, angin sepoi sepoi meniup rambutnya yang panjang. Dalam telepatinya bersama prajurit yang ia miliki, Qin yan hanya menyuruh mereka mundur dan mengikuti mereka dari belakang. Karena sesuai yang ia duga, kalau gadis bercadar itu bisa mendeteksi kalung Liontinnya. Ini membuat Qin yan makin penasaran, siapa sebenarnya gadis itu. Saat ini ia sangat membutuhkannya.


"Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?" Tiba tiba Medusa bertanya dibelakang. Menatap Qin yan.


"Kita akan mulai bergerak sekarang. Aku tak ingin membuang buang waktu untuk hal seperti ini." Berkata Qin yan dengan tenang. Ia pun melompat dari tebing, diikuti dengan Medusa. Sementara dibelakang, Dai Yueheng, Xuan ziwei, dan Xiao Xin er hanya saling memandangi satu sama lain. Berpikir untuk sesaat. Namun tidak lama kemudian mereka juga mengangguk dan akhirnya ikut melompat dari tebing tersebut.


********


Bagian perbatasan Kota menuju istana...


Diam diam, dibalik bayangan pohon. Prajurit bayangan Qin yan, tiba tiba muncul dari bayangan pohon tersebut. Dari belakang, mereka selalu mengawasi Yun zhi dan Na er yang tengah berjalan menuju istana.


'Kenapa aku merasa ada yang mematai matai kami?' Berkata Na er sambil memegang tongkatnya dengan erat, kewaspadaannya tetap terjaga. Bola matanya bergerak kesana sini. Memperhatikan setiap pohon yang ada, rasanya dibalik pohon itu banyak sekali orang yang memata matai mereka.


Begitu pula dengan Yun zhi, hatinya juga tak tenang. Ia tidak mempunyai pedang lagi, tapi dirinya memang sudah bersiap siap. Awalnya ia juga mewaspadai gadis disampingnya ini. Namun ketika tadi bertarung bersama prajurit aneh. Mereka pun membuat sebuah kesepakatan. Na er hanya ingin pulang kerumah, tentunya itu tidak mudah karena ia berada dikerajaan lain. Dan banyak hambatan yang akan ia terima. Dan Yun zhi, ia ingin mendapatkan Liontin itu kembali namun ia sangat membutuhkan kemampuan Na er yang bisa berkamuflase. Sebagai salah satu murid di Sekte bunga, Yun zhi berjanji akan membawa Na er pulang asalkan gadis itu juga membantunya mendapatkan Liontin itu kembali.


Awalnya Na er ragu, kenapa Yun zhi juga ingin mendapatkan Liontin itu. Namun saat mendengar pengakuannya, ia pun mengerti apa yang dirasakan wanita ini. Ia makin mempertanyakan identitas Qin yan yang bisa membuat murid dari sekte terkenal jadi jatuh cinta.


"Kau punya skill kamuflase kan?" Bisik Yun zhi pada Na er. Ketika melihat gadis itu mengangguk, dia pun mengulurkan tangannya. Artinya berbagi skill itu dengannya.


Tanpa dijelaskan pun Na er pun mengerti. Ia juga menyentuh tangannya. Dan seketika tubuh mereka menghilang begitu saja, para prajurit bayangan Qin yan menjadi sangat kaget. Mereka langsung mengikuti jejak kaki mereka yang masih kelihatan diatas salju. Berlari menuju istana.


Jauh dibelakang, Qin yan beserta lainnya juga berlari mengejar mereka sesuai laporan dari prajurit bayangannya sendiri.


'Jadi mereka menggunakan skill kamuflase?' Batin Qin yan sambil menggertakan gigi, sebegitu waspadanya mereka hingga menggunakan skill tersebut. Ia juga ragu, ingin sekali memberitahukan kepada mereka kalau itu adalah prajurit bayangannya. Sayangnya, ia juga tidak terlalu mengenal mereka.


"Berhenti disana!!" Tiba tiba Qin yan berbalik kebawah, dimana pengawas yang mengawasi kota ini jadi berteriak kepada mereka. Cincin abu abunya bangkit dan langsung menyerang tanpa alasan.


"DUAR" Bangunan yang Qin yan pijak jadi hancur, tapi dengan mudah mereka menghindarinya. Qin yan dan lainnya juga tak berhenti berlari dan akhirnya dikejar oleh mereka. Karena tak mau membuat masalah. Qin yan pun mengeluarkan beberapa kertas pola Kamuflase. Memberikan masing masing teman dibelakangnya.


"Tempelkan ini pada tubuh kalian!" Suruh Qin yan.


Tiga orang dibelakangnya tanpa ragu mengikuti apa yang ia arahakan. Setelah ditempelkan, barulah tubuh mereka menghilang tanpa jejak bahkan aura pun tidak tersisa.


"Sial, dimana mereka?" Berkata para pengejar dengan bingung.


********


Terimah kasih karena telah membaca, silahkan Like, komen dan vote novel ini. Mari kita dukung novel ini bersama sama.

__ADS_1


__ADS_2