LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Bekerja keras


__ADS_3

Paginya... Setelah memasakan makanan untuk Medusa, kini Qin yan kembali ke istana. Dimana rupanya dia sudah ditunggu tunggu oleh ibu Qian san. Jujur, semalam Qin yan tidak tidur karena merayakan berdirinya sekte. Waktu ia istrahat hanyalah bersama Medusa. Selebihnya, Qin yan tidak tidur sepanjang malam. Bisa dibilang, Qin yan agak lelah, tapi dengan energi Neidan ia bisa pulih. Setidaknya, ia bisa menghadapi ibu Qian san yang akan memarahinya.


Benar saja, belum sampai Qin yan pergi kekamarnya. Qian san dan ibunya sudah berdiri disana, menunggu kedatangannya. Bukan hanya mereka, tapi Qian qian dan ibunya juga ada diruangan itu. Mereka kebetulan berkumpul karena habis sarapan bersama diruang makan.


"Ibu... Ayo kita masuk saja." Qian san berusaha menarik lengan ibunya, dengan perasaan malu ia tak ingin ibunya berteriak marah marah disini hanya karena ia kalah dari si sampah itu.


"Plak" Satu tamparan membuat mata Qian san terbelalak, ibunya dengan dingin menampar wajahnya tanpa alasan.


Yah, itu juga membuat Qin yan jadi sedikit tertegun. Ia kira wanita ini akan memarahinya karena membuat Qian san pingsan kemarin. Pastinya teman teman anak itu telah memberitahukan semuanya kan.


"Minta maaf pada kakakmu." Satu ucapan lagi, membuat mata semua orang jadi terbelalak. Qian qian, ibunya, dan Qian san tidak percaya apa yang telah dilakukan wanita itu. Tapi tidak untuk Qin yan yang hanya tersenyum tipis melihat sandiwara ini.


'Drama apa lagi ini, ibu menyuruh anaknya untuk meminta maaf pada anak yang ingin ia bunuh. Heeh, tidak masuk akal.'


Qian san yang terpaksa hendak mengatakan minta maaf, kini terhenti karna Qin yan memegang bahunya.


"Tidak apa apa, lain kali jangan lakukan lagi. Aku tahu harga dirimu tinggi, jadi aku tak mau mendengarmu meminta maaf hanya karena suruhan ibumu. Suatu saat nanti kau sendiri pasti akan meminta maaf padaku. Entah itu tulus atau karna terlalu takut padaku, bukan ibumu." Qin yan pun pergi melewati mereka. Perkataannya, membuat Qian san dan ibunya jadi membeku. Mereka semua berbalik menatap punggung Qin yan yang pergi keruangan lain.


"Haah... capeknya." Setelah masuk kamar, Qin yan langsung berbaring ditempat tidurnya. Tanpa sadar ia pun tertidur karena saking lelahnya. Kemarin, tadi malam, dan pagi ini, benar benar membuatnya ngantuk karena memikirkannya. Yang penting sektenya sudah berdiri, ia benar benar senang. Setidaknya ia harus bekerja keras lagi setelah istrahat kali ini.


Dua jam ia tertidur, kini ia terbangun karena teringat harus belajar bersama Qian qian. Gadis itu, meskipun dia dingin dan jutek, setidaknya dia tidak busuk seperti Qian san dan ibunya. Kebetulan juga, dia seumuran dengan adikya Yue er, 13 tahun. Makanya dia juga ingin dekat dengannya, karna gadis kecil itu akan selalu mengingatkannya pada Yue er meskipun sifat mereka begitu bertolak belakang.


Seperti biasa, Qian qian akan selalu belajar diperpustakaan istana. Disana, banyak sekali buku buku yang ingin dibaca oleh para cendikiawan yang ingin mencari ilmu. Namun kali ini, Qin yan melihat situasi yang berbeda. Qian qian sedang kelelahan mengambar sesuatu diatas kertas. Dan ketika ia lihat, rupanya gadis itu sedang berusaha mendesain gulungan kondolisasi.


Tangannya gemetar, keringat bercucuran, namun karena sungguh sungguh ia hanya menggertakan gigi saat menghadapi betapa susahnya menggerakan kuas pengukir diatas kertas. Karena kertasnya begitu sensititif hingga mudah sobek atau rusak, butuh kehati hatian super agar ukiran kuasnya terus berjalan. Tapi masalahnya, kuasnya harus cepat agar tintanya tidak mengering pada saat desainnya tidak utuh. Namun karena terlalu cepat, bisa saja mengakibatkan tulisannya putus atau melenceng dari garis seharusnya.


Oleh karena itu, Mendesain kertas kondolisasi tidak kalah sulit dengan menulis pola prasasti. Kedua pekerjaan ini membutuhkan pemahaman yang benar benar sudah melewati tahap matang. Kertas kondolisasi, bisa dibilang adalah jalan pintas dari penempaan yang prosesnya lama. Namun itulah masalahnya, mendesain tidaklah mudah semudah membalikan telapak tangan. Tapi sangat sulit, sesulit membalikan gunung tanpa tercabut dari daratan. Makanya, untuk mendesain kertas kondolisasi dibutuhkan tiga elemen khusus. Elemen angin, elemen spasial, dan elemen waktu.


Elemen angin untuk mengoptimalkan kecepatan kuas agar tintanya tidak duluan mengering sebelum selesai. Elemen spasial untuk mencegah terjadinya tulisan yang putus putus atau melenceng, karena jika ingin memperbaiki hal tersebut. Kuas tidak boleh tercabut dari jejak terakhir tulisannya. Makanya, teknik teleportasi tangan atau blink sangat dibutuhkan. Dan terakhir, elemen waktu untuk menyeimbangkan situasi. Seperti membalikan waktu ketika salah, atau memperlambat waktu jika ingin mengukir dengan detail agar benar.


Namun tanpa ketiga elemen sekaligus pun sebenarnya bisa mendesain kertas tersebut. Karena manusia tidak semuanya memiliki ketiga elemen itu, elemen yang sangat langka dan jarang untuk dimiliki semua orang. Walaupun hanya memiliki salah satunya, sebenarnya sudah cukup untuk membuat kertas kondolisasi.


Tentunya, Qin yan tidak akan membiarkan kegagalan terjadi pada adiknya ini. Karena kertas dan tinta kondolisasi itu mahal. Satu kertas saja seharga 10.000 koin, 10 kertas artinya 100.000 koin. Tapi pemula kadang membutuhkan ratusan kertas untuk mendesain kertas tersebut. Tak jarang, orang kadang berhasil mendesain kertas kondolisasi tingkat rendah disaat umurnya 30 tahun. dan itu sudah dianggap jenius. Dan wajar saja, jika kertas itu benar benar akan sangat mahal jika dijual. Karna dilihat dari segi modal dan kerja keras, sebenarnya itu pantas. Dan hanya orang orang kaya saja yang bisa memakainya, biasanya orang kalangan bawah hanya memakai buatan penempaan saja.

__ADS_1


Dari belakang, Qin yan memegang tangan Qian qian yang tengah memegang kuas. Hingga membuat gadis itu terkejut, namun ia kaget mengapa tubuh Qin yan begitu panas. Rupanya, Qin yan hampir memasuki gerbang pertama, ditambah dengan sedikit aliran energi Neidan. Maka cukup untuk terkontrol untuk menggerakan kuas tersebut dari segi kecepatan, ketepatan, dan kekuatan.


Kuas berjalan cukup cepat, tanpa adanya masalah. Dan akhirnya desainnya pun sukses dilakukan. Rupanya gadis ini tengah membuat desain busur kecil dengan atribut elemen es.


"Ka-kakak! Kau..." Mata Qian qian terbelalak melihat Qin yan yang membantunya untuk mendesain kertas tersebut.


"Kenapa kau tidak bilang, kalau kau sedang belajar mendesain. Kakak ini bisa membantumu loh.." Qin yan mengelus kepalanya, dan menyentuh ujung hidung gadis itu dengan jarinya.


"Kakak, bisa mendesain kertas kondolisasi?" Tanya Qian qian dengan gagab.


"Ya? Bagaiamana yah. Sepertinya aku sudah ketahuan. Aku memang bisa mendesain kertas kondolisasi." Jawaban Qin yan membuat mata gadis itu makin terbelalak. Namun setelah itu ia tiba tiba menunduk, wajahnya hitam dan ia menggertakan gigi. Hingga membuat alis Qin yan sendiri jadi berkerut.


"Katakan, siapa kau sebenarnya?" Ucap gadis itu dengan wajah dingin.


'Hah! Apa yang dikatakan gadis ini?' Qin yan sendiri jadi terperangah.


"Tidak usah pura pura terkejut, sejak awal aku sudah curiga padamu. Kau yang mengancam Qian san dan ibunya saat sarapan pagi waktu itu. Kau mengejutkan seluruh kerajaan kerajaan lain pada saat pemburuan inti api roh, dan berhasil selamat dari bencana tersebut. Kau juga membangun sebuah bangunan besar yang harganya sangat tinggi, padahal kau tidak mengandalkan uang kerajaan. Bahkan kerajaan pun tidak mampu untuk membangun itu. Dan sekarang kau mampu mendesain kertas kondolisasi. Kau bukan Qian yu! Kau orang lain, kau itu orang lain. Katakan siapa dirimu, katakan apa yang kau mau!?"


Melihat Qin yan yang hanya diam, Qian qian pun jadi semakin kesal. Ia makin membentak, mengguncangnya hingga berteriak.


"Katakan! Siapa sebenar...."


"Ya. Kau benar, aku bukan Qian yu."


Qian qian yang sedang memegang kedua bahu Qin yan jadi terkejut, ia menggenggam bahu Qin yan dengan keras. Menatapnya dengan mata yang besar.


"Aku memang bukan pangeran disini, aku juga tidak tau mengapa aku mempunyai wajah yang sama dengan..."


"Plak" Qin yan yang tengah berbicara kini terkejut bukan main saat Qian qian menampar wajahnya dengan mata melotot. Ia membeku tak bisa apa apa, baru kali ini adik perempuannya menampar dirinya dengan penuh kebencian dan rasa jijik.


"Dasar penipu. Pembohong! Kau masuk kedalam istana dengan identitas pangeran Qian yu. Bagaikan benalu yang ingin mencapai tujuannya sendiri. Akan kulaporkan ini pada semua orang agar mereka tau siapa kau sebenarnya. Orang sepertimu tidak pantas tinggal disini." Qian qian langsung keluar meninggalkan Qin yan yang tengah membeku dengan wajah gelap diperpustakaan tersebut. Pintu pun ia banting karena saking marahnya.


Namun Qin yan tidak bisa apa apa, ia hanya diam menyaksikan gadis itu pergi.

__ADS_1


'Tersebar maka tersebarlah. Wajar bagimu untuk marah padaku yang tidak punya indentitas ini. Yang datang tanpa kau ketahui, lalu mengambil alih posisi kakakmu. Menyamar menjadi dirinya, disaat dia tidak ada. Wajar kau menyebutku penipu atau pembohong, bahkan menjijikan sekalipun. Karna tanpa ijin kalian aku memanggil ayahmu kalian sebagai ayahku, memanggil ibumu sebagai ibu. Dan pantas bagimu untuk curiga karena Qian yu tidak ada disini. Kau pasti berpikir aku telah menculik dan menyekapnya disuatu tempat.'


Qin yan hanya bisa menghela napas tak berdaya, mau tidak mau dia harus menerima semua ini. Cepat atau lambat, identitasnya juga akan terbongkar. Tergantung dari situasinya saja yang membedakan, apakah dia akan menjadi penjahat atau pahlawan. Dia juga sebenarnya tak mau melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi. Ia harus mencari bukti akan masa lalu ibunya, dimana ia berada dan ingin membuat ibunya bahagia dengan mempersatukan kedua orang tuanya kembali.


Namun hubungan itu akan tetap retak, jika ada kecoak berbahaya yang terus tinggal diistana ini. Itulah yang membuatnya bertahan sampai sekarang, karena ia harus membereskan semuanya sampai ke harga diri mereka. Setidaknya mereka mati dengan perasaan malu ketika orang lain memgetahui kebusukan mereka. Bukan karena Qin yan membunuhnya langsung, karena ia bisa saja jadi penjahat sekali lagi dimata dunia.


********


Sore hari, Ruang rahasia dimana Qian yu sedang menjalani proses pembangkitan.


Air berwarna dikolam jadi meletup letup, tubuh Qian yu mulai memerah. Artinya, proses meditasi ini akan memasuki tahap akhir. Urat urat anak itu terus bergerak dan tumbuh dengan jelas hingga sampai didahi. Qin yan pun maju dengan membawa dua belas jarum meridian ditangannya. Dua belas jarum itu ditusukan ketitik yang berbeda. Pertama, didua pergelangan tangan dan bahu, dada kanan dan kiri, punggung kanan dan kiri, dua titik diperut, satu titik dibawah leher belakang, dan sisanya diledua paha.


"Ukh...." Urat Qian yu menggeliat sekali lagi, tumbuh semakin jelas, kemudian menyusut sampai akhirnya tidak keliahatan. Khasiat dari cairan yang ada dikolam tersebut meraup masuk kedalam tubuh Qian yu. Mengocak acik setiap jalur meridian, namun tidak bisa mengubah titik meridian yang sudah dikunci. Dengan itu, Qin yan dapat menghela napas lega. Tidak ada lagi yang perlu dikhwatirkan.


"Bagaimana keadaannya sekarang?" Dari belakang, ayah Qin yan memandangi Qian yu dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak perlu khawatir, Qian yu akan segera sadar." Itu adalah berita terbaik yang pernah menusuk telinga ayahnya, terlihat dari ekspresi pria itu yang penuh berseri seri. Qin yan juga mengerti, dulu hal yang sama juga terjadi pada ibunya ketika melihat Qin yan tumbuh menjadi anak yang kuat. Orang tua pastinya akan bangga dan senang jika anaknya bisa sukses dan berhasil. Itulah yang membuat Qin yan semangat untuk mendukung Qian yu melakukan meditasi ini.


Namun tiba tiba, ia kembali teringat dengan perkataan Qian qian tadi pagi. Alisnya berkerut memikirkannya. Bahkan ayahnya sendiri menyadari itu.


"Apakah ada masalah nak?" Tanya ayahnya menyentuh bahu Qin yan.


Hal itu membuat ekspresi Qin yan kembali semula, apapun yang terjadi ia tak boleh menunjukan keputus asaannnya didepan orang lain.


"Ayah, nanti kalau Qian yu sudah sepenuhnya berhasil membangkitkan kekuatannya. Suruh dia untuk tutup mulut dulu, jangan membongkar identitasku terlalu cepat. Karena ia sudah sadar, maka gilirannya untuk menjalankan drama konspirasi ini. Beritahu juga seluruh rencana kita agar anak itu mengerti. Akhir akhir ini, aku akan sangat sibuk dengan pekerjaanku. Tidak tau kapan akan selesai, hanya itu saja harapanku. Jalankan drama ini sampai akhir, jika saat itu tiba maka aku juga akan bertindak penuh."


Qin yan berjalan keluar tanpa memperdulikan ayahnya mau menjawab bagaimana atau tidak. Yang penting ia sudah menyampaikan pesannya. Sejenak ia berhenti, memandangi ayahnya balik.


"Oh yah, beri tau dia juga. Hubunganku dengan Qian qian seperti tidak baik akhir akhir ini. Aku harap dia bisa mengatasinya."


Perkataan Qin yan membuat mata ayahnya jadi terbelalak. Namun tidak menjawab apapun bahkan ketika Qin yan pergi. Setelah anak itu cukup jauh, barulah pria itu tersadar dari lamunannya.


"Baiklah, aku akan bekerja keras."

__ADS_1


__ADS_2