LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Huang er


__ADS_3

teriakan wasit itu disambut dengan sorakan para penonton.


Segera setelah itu, para petarung yang lain menaiki tangga menuju ke lantai atas stadion. Berdiri dan menonton pertarungan dari atas sana.


kemudian, kedua grub saling berhadapan.


Qin Yan bisa mendengar jelas kekagetan yang mereka alami dari kedua belah pihak. Masing masing saling bertatap muka.


"Ka-kau.....!!" Terdengar suara laki laki yang kaget ketika menatap Qin Yan.


"Ada apa kak?" Lalu adik perempuan yang cukup identik dengannya berbisik bertanya.


"dia adalah orang yang kuceritakan itu. anak yang telah membuat kekacauan di kota bintang, dia menyinggung 3 faksi sekaligus." pria yang berbicara itu adalah Di fengyan. meskipun Ia juga melihat Qin Yan kemarin. namun ia tidak terlalu melihat jelas, saat ini setelah melihatnya Di fengyan teringat saat-saat Qin Yan membantai keluarga Wang dan keluarga Shen waktu itu.


"apa!!" perkataannya itu mengundang keterkejutan beberapa teman anggotanya. termasuk pria berambut merah, dan gadis berambut biru. bahkan itu Qiu er sendiri jadi terperangah ketika mendengarnya.


"jadi kau orangnya! aku pasti akan membunuhmu dalam pertarungan ini." salah satu dari mereka meraung emosi, menatap Qin Yan lekat lekat. namun tiba-tiba Weisi berbalik memperingatkan mereka untuk tetap diam.


"Shen Yue! Wang Ochun. Diamlah, tidakkah kalian menyadari kita masih berada di lapangan? kenapa kelian tidak bisa diam!!"


setelah dimarahi Weisi, mereka berdua langsung terdiam. Melihatnya cukup emosi, membuat mereka bingung. Mengapa Weisi jadi emosional, apa suasana hatinya sedang buruk.


Setelah itu wasit pun berdiri diantara mereka. Dia kemudian memperkeras suaranya lagi.


"dengar baik-baik, dalam kompetisi ini terbagi menjadi tiga babak. babak penyisihan, babak eliminasi, dan babak akhir. saat ini kalian masih berada di babak awal, babak penyisihan. Di mana kalian akan bergantung pada poin jika ingin lolos dalam babak ini. jika diantara kalian ada yang menang, maka otomatis akan maju ke babak selanjutnya. tapi jika ada yang kalah maka mereka bertarung dengan kelompok yang kalah pula. itu adalah kesempatan kedua kalian jika ingin naik ke babak selanjutnya. Sekali menang, poinnya 10. jadi kutegaskan lagi, disini hanyalah kompetisi biasa. apapun itu, kusarankan kalian jangan anggap serius. menyerah lah jika sudah tidak mampu lagi melanjutkan, kami akan siap menyelamatkan hidupmu di waktu yang tepat. ingat, hidup cuma sekali jadi jangan sia-siakan hidupmu hanya karena pertarungan ini. jalan hidup kalian masih panjang, pikirkan itu!"


kedua tim mengangguk serempak.


"Ya!!"


Akhirnya Qin Yan mengerti. dalam pertarungan ini, meskipun kalah di awal itu masih tidak masalah. Terbesit sebuah pikiran dikepala Qin Yan, sepertinya ia harus menyerah kali ini. walaupun tidak enak menyerah di babak awal, tapi memang inilah cara satu-satunya. konsekuensi memang berat, kelompok mereka akan dirundung oleh kelompok lain. tapi selagi masih ada kesempatan, Qin Yan tidak akan menyia-nyiakannya. alasannya hanya satu, jika mereka bertarung dengan kelompok Weisi kali ini. maka mereka akan mengeluarkan semua kartu truf yang ada.


Tidak bisa pungkiri, Weisi begitu kuat. Qin Yan pasti akan membuka semua rencana dan mempertaruhkan semuanya demi mengalahkannya. Begitu pula dengan anggota lain. Jika itu terjadi maka semua orang akan tahu rahasia mereka. Karena banyak orang yang menonton hingga pasti akan menyusun rencana untuk menghadapi semua andalan kelompok Qin Yan.


Sial sekali.


Qin Yan diam diam mengutuk. Bahkan Weisi menyadari itu.


"Baiklah, karena ini pertarungan pembuka, maka ketua grub harus maju. Sementara tim yang lain menuju loby ke arah sana." Wasit kemudian mempersilahkan anggota lainnya untuk duduk di pinggiran lapangan. di mana di sana tersedia tempat duduk, bagi anggota grub yang akan bertarung. Posisi mereka cukup nyaman, disana ada para petugas medis yang siap membantu jika para petarung terluka parah akibat pertarungan. Selain itu, ada dinding pemisah agar efek serangan lawan tidak mengenai mereka.


Qin Yan dan Weisi maju ketengah lapangan. Semua orang bersorak sorak gembira.


"Zhou Weisi!" Weisi membungkukkan badan.


"Qian yan.!" Qin Yan juga membungkuk. Mereka berdua saling menghormati.


"Plek" Tiba tiba, entah kapan dan siapa. Sebuah telur melaju dan menghantam kepala Qin Yan. Otomatis telur itu pecah dan membasahi kepalanya.


"HAHAHAHA......!!!" Berikutnya terdengar gemericik tertawa dari para penonton. Tidak sedikit pula para petarung lainnya yang tertawa melihat itu.


"Dasar pecundang! Pergi kau dari pandanganku!! Kau hanya akan menghilangkan semangatku!!"


"Ya! Kenapa dia ada disini! Weisi, aku mencintaimu! Hancurkan pecundang itu hingga ia tidak bergerak."


terdengar teriakan teriakan dari para gadis dan laki laki. Mereka meneriaki Qin Yan dan merundungnya didepan semua orang. Tidak sedikit telur telur yang melaju dan menghantam kepala Qin Yan. Semuanya mengotori dirinya.


"Pergi kau pecundang!!"


"Mati saja, Hahah!!"


"Dasar menjijikan! Kau lebih baik mati! Bunuh dia! Bunuh dia!!"


Akhirnya pada penonton bersatu, tidak perduli mereka tahu atau tidak. Situasi langsung memanas begitu saja.


Qin Yan hanya tetap diam dan tenang menanggapi itu. Sementara mata Weisi sudah merah karena amarah.

__ADS_1


"Wasit! Wasit! Apa apaan ini! Cepat hentikan mereka! Mengapa mereka merudung ketua kami." Lin Fin sudah berteriak di loby, ia bahkan menuju kelapangan dengan perubahan iblisnya. Namun Xie Xie dan Xiu Xiu berusaha menghentikannya.


"Hei hentikan aku! Apa kau tidak lihat ketua kita dipermalukan? Apa kau akan tetap diam melihat ini!" Teriak Weisi dengan marah kepada dua bersaudara tersebut.


"Ta-tapi.... Bukankah tuan memberi isyarat untuk tetap tenang. Kita jangan mengacaukan pertarungannya dan jangan mengecewakannya." Xiu Xiu juga menjawab dengan mata memerah, ia juga tak tahan melihat itu. Namun apa boleh buat, iya melihat tangan Qin Yan bergerak gerak memberi kode agar mereka tetap diam. Jadi mereka hanya bisa menahan amarah mereka.


"Wah wah! Tampaknya penonton membenci orang satu ini yah!" Wang Ochun tertawa menikmati melihat pemandangan itu. Ini adalah tragedi langka dimana seorang petarung dipermalukan didepan umum. Apalagi ini adalah turnamen yang disaksikan oleh semua orang diseluruh penjuru dunia. Benar benar memalukan, kalau dia seperti itu. Mungkin dia akan langsung bunuh diri karena saking malunya.


"Mm... Ini pasti kejadian kemarin. Banyak orang yang menyaksikannya berlutut didepan seekor kucing. Jadi gosip itu cepat menyebar dan akhirnya ia terjadilah hal seperti ini." Di fengyan mengangguk, ia bersandar di atas pembatas sambil mengamati pertunjukan tersebut.


Disisi lain, Qiu er yang melihat itu hampir tidak bisa menahan air matanya yang jatuh. Kejadian ini mengingatkannya dengan Qin Yan yang dulu, yang selalu dirundung dan disiksa. Semuanya benar benar persis. Ia tak menyangka kalau anak itu masih dirundung hingga saat ini, bukankah namanya terkenal? Jangan bilang kalau Qin Yan yang terkenal itu adalah Qin Yan yang lain.


Qiu er hanya bisa menahan kepedihan dihatinya ketika menyaksikan hal itu.


Hal yang sama juga dirasakan Qin ruo Ying disamping. Ia mengepalkan tangannya erat erat hingga kukunya menusuk dagingnya.


'Qin Yan.' Teriaknya dalam hati.


"Pria yang menyedihkan." Berdecak mulut Tang xinglian dengan jijik. Ia benar benar tak bisa menyangka kalau pria itu akan dipermalukan hari ini. Entah kenapa ada rasa senang di hatinya. Akhirnya ia bisa melihat anak itu dipermalukan ketika kemarin mempermalukannya didepan semua orang.


"Chen Yue, bagaimana menurutmu? Bukankah pria itu yang kau ceritakan padaku. Katamu dia mempermalukamu didepan orang orang. Sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau orang itu adalah Qin Yan. Sepertinya kau salah orang." Tang Xinglian tersenyum lega. Namun alis tiba tiba menyerngit ketika melihat gadis yang ajak bicara malah mengabaikannya. Gadis itu malah memperhatikan kearah kelompok kerajaan Wanshou.


disana, tepat kearah Zue er. Seorang gadis dari kerajaan Glasier tiba tiba mendatanginya. Tentu saja dia adalah Lin QingZhu, dia mendatangi Zue er dengan raut wajah marah. Kedua gadis itu tampak sangat angkuh dan arogan hingga keduanya mengundang perhatian banyak orang.


Apalagi kecantikan mereka yang menggoda membuat semua orang bertanya tanya. Apa yang terjadi, mengapa mereka berdua kelihatan tidak bersahabat.


Bahkan hampir seluruh penonton lebih memperhatikan mereka. Hingga pertarungan pertama yang seharusnya menjadi perhatian kini tidak lagi.


"Plak"


Sebuah tamparan keras melayang dipipi Zue er. Gadis itu merasakan panas menjalar dipipinya. Tanpa ragu sedikit pun, QingZhu langsung menampar gadis itu. Membuat semua orang langsung tercengang.


Zhou weiqing beserta istrinya ternganga, bahkan ratu Es disampingnya sampai berkeringat. Melihat bahwa pertengkaran akan terjadi mereka langsung bergegas kearah mereka.


"Apa yang kau lakukan, beraninya kau!" Gu Yimbing langsung menatap QingZhu dengan tatapan tajam. Ia tidak menyangka kalau gadis ini bisa berbuat segitunya. Apa yang terjadi sebenarnya? Hingga ia sendiri pun jadi bingung.


"Tentu, aku sangat sadar dengan apa yang kulakukan. Tamparan itu memang pantas untukmu, agar kau sadar bahwa kucing sepertimu tidak pantas untuk bertingkah arogan." Seketika QingZhu kemudian berbalik diri. Sementara Zue er membeku dengan mata yang besar. Ia sadar kalau gadis ini marah karena kemarin ia mempermalukan Qin Yan didepan umum.


Sebenarnya ia hanya mencakar nya waktu itu. Tapi Qin Yan sendiri yang berlutut, jadi ia mempermalukan diri sendiri. Gadis ini seharusnya memarahi Qin Yan. Kenapa ia malah menyalahkannya.


Karena kekesalan dan rasa marah akibat kehilangan muka didepan banyak orang. Zue er jadi tak bisa menahan amarahnya, namun ia tiba terdiam. Sebuah seringai sinis terpancar diwajahnya.


"Wah wah. Aku tak percaya, Qingzhu yang terkenal sebagai peri es melampiaskan kemarahannya karena seorang pria."


Tiba tiba QingZhu tertegun. Semuanya jadi kasat kusut ketika mendengarnya. Heboh dengan perkataanya tersebut. Meskipun secara harfiah Zue er tidak memberi tahu pasti siapa pria tersebut. Namun berita itu langsung membuat semua orang jadi terkejut. Tentunya itu akan merusak reputasi dari sekte Es menara Suci.


'Dan kalian tahu, siapa pria yang membuat ia sangat emosional? Itu dia, anak pecundang yang tengah berdiri di lapangan sana. Dia adalah pria yang dicintai gadis ini.' Selanjutnya Zue er ingin mengatakan hal itu, namun ia kembali menelannya. Ada semacam pergolakan batin didalam hatinya. Ia merasa itu cukup untuk mempermalukan gadis ini. Tidak perlu mempermalukan Qin Yan lagi.


Suara Zue er begitu keras, hingga Qin Yan dan Weisi yang berada ditengah lapangan tidak tahan untuk melihat kearah tersebut. Keduanya langsung kaget ketika melihat dua gadis yang mereka kenal sedang berseteru disana.


"Astaga!" Terlebih lagi Qin Yan, ia lebih terkejut melihat Qing Zhu bertengkar dengan gadis yang tidak ia kenal.


'Mengapa QingZhu terlihat begitu emosi? Apakah gadis itu musuhnya?' Alis Qin Yan berkerut memikirkannya. Sementara Qing Zhu diatas sana memang sudah sangat emosi. Ia benar benar terpancing dengan provokasi Zue er.


"Apa yang kau bilang?" bongkahan es dingin merambat menuju Zue er. Namun tiba tiba es tersebut terhenti. Ratu Es sudah berada dibelakangnya. memegang bahu gadis itu.


"Hentikan QingZhu, sadarkah apa sudah kau lakukan?" Berkata ratu Es dengan tak senang. Dengan segera ia meminta maaf kepada Zue er.


"Nona Zue er, kami meminta maaf karena ketidaksopanan QingZhu." Ucapnya dengan pelan. QingZhu hanya bisa diam tak berbicara apapun dibelakang.


Melihat ratu Es yang sopan meminta maaf, alis Zue er bergerak gerak. Dengan angkuhnya ia menyilangkan tangan didada.


"Hmph... itu bagus. Ajari dia tentang sopan santun."


"Kau!!" QingZhu hendak maju namun ratu Es menanganinya. Ia kemudian membawa gadis itu perlahan. Meskipun ia juga tak senang dengan tanggapan Zue er.

__ADS_1


Bukankah perilaku QingZhu ada alasannya? Ia sepenuhnya percaya muridnya sendiri kalau dia tidak melakukan sesuatu yang bodoh. Namun ia tak bisa apa apa, ia tak mau mengundang permusuhan hanya karena permasalahan kecil ini. Ditambah lagi, sekte Weiqing adalah sekte terkuat. Oleh karena itu, yang bisa ia lakukan hanyalah bersabar .


"Ratu Es, tolong maafkan ketidaksopanan putri saya." Weiqing datang membungkuk sedikit, meminta maaf karena Zue er. Melihat itu, membuat ratu Es hanya menggelengkan kepala. Karena pria itu datang meminta maaf, suasana hatinya langsung membaik.


"Tidak perlu memikirkannya Tuan Zhou, ini memang sudah biasa bagi kaum muda. Mereka memang sembrono." Senyum ratu Es, ia pun kemudian kembali ke tempatnya sambil membawa QingZhu.


Menyadari situasinya sudah membaik, kini Weiqing melambaikan tangannya pada wasit disana. Menyuruhnya untuk lanjut.


Wasit itu pun mengangguk sebagai tanggapan, ia kemudian menatap Qin Yan dan Weisi.


"Pertarungannya dimulai!!"


Seketika Qin Yan langsung mundur selangkah, mengambil ancang ancang siaga. Namun Weisi masih berdiri dengan tenang. Sepertinya ia tidak terpengaruh pada pertarungan ini. Qin Yan bahkan berpikir, apakah Weisi mulai meremehkannya.


Semua orang kembali semangat sekali lagi. Mereka terkesima melihat Weisi yang tetap berdiri tenang. Qingzhu dan Zue er juga kembali tenang, mereka juga kembali menyaksikan pertarungan. Meskipun diam diam QingZhu hanya bisa menahan rasa khawatir. Master mungkin akan menghukumnya setelah ini.


Qin Yan mengambil dua pisau, hendak menyerang. Namun tiba tiba, Weisi mengangkat tangannya. Membuat semua orang terkejut termasuk Qin Yan sendiri.


'Apa yang dilakukan bocah ini?' Qin Yan agak kesal melihat ekspresi Weisi yang nampak sangat tidak terima. Pandangannya terarah pada para master diatas sana.


"Maafkan aku, tapi aku ingin kita bertarung dengan kondisi terbaikmu. Semuanya harus adil dan seimbang."


Qin Yan tertegun.


Sambil ia berbicara, Weisi menatap ayahnya disana. Jelas sekali ia meminta agar segel didalam tubuh Qin Yan segera dilepaskan dalam pertarungan ini. Namun tanggapan ayahnya hanya diam. Dia bahkan menoleh kearah master lain. Namun nyatanya, mereka juga hanya menggelengkan kepala.


"Perjanjian dua tahun belum terpenuhi. Sisa tiga bulan lagi pertarungan antar sekte dimulai. Jika segelnya dilepaskan hari ini, maka itu dianggap melanggar perjanjian." Master Chi Tae menggelengkan kepala, didukung oleh master lainnya.


Melihat itu, senyum tipis terbentuk diwajah Weisi. Ternyata dugaannya benar.


"Akan ku hitung sampai tiga. Jika kau tak memulai pertarungannya maka kau otomatis akan kalah." Ucap wasit dengan kesal. Kenapa anak ini bertindak sesukanya, Mentang mentang ayahnya adalah seorang legenda dan dia bisa berbuat sesukanya.


Tapi nyatanya ayahnya ada disini, wasit pun tak berani bertindak gegabah. Tapi peringatannya sudah ia keluarkan, maka sebagai pria ia tidak akan punya cara lain selain melanjutkannya.


"Satu!!"


"Dua!!"


"Ti........."


"Aku menyerah!" Seketika wasit terdiam. Belum sempat ia menyelesaikan perkataannya. Weisi sudah berbalik kembali.


"Hah! apa yang terjadi!!"


Semua orang juga dilanda keterkejutan, menyaksikan Weisi yang kembali menuju lobby.


"Apa yang kau lakukan? apa kau juga mempermalukan ku?" Tanya Qin yan dengan tatapan tak senang. Ia benar benar merasa kalau anak ini sedang mempermalukan nya.


Weisi mengerti apa yang dirasakan Qin Yan. Jadi Ia berbalik, menunjukan senyum permintaan maaf.


"Aku tidak pernah terpikirkan untuk mempermalukanmu. aku hanya ingin kita menikmati pertarungan kita nanti. Berjuang lah, akan kutunggu kau di final. Saat itu, tidak akan ada yang membatasi kita berdua."


Setelah mengatakan itu, dia berjalan kearah lobby tanpa berbalik sedikit pun. Menyaksikan Qin Yan yang berdiri diam diatas sana.


"Ba-baiklah.... Pemenang adalah adalah Qian Yan dari kerajaan Sunm......."


"Aku tidak terima!!"


Belum sempat wasit menyelesaikan kalimatnya, seorang gadis melompat kedalam lapangan. Gadis itu mempunyai rambut pendek seperti rambut anak kaki laki pada umumnya. Tangan kanannya dibalut lapisan lilitan perban. Postur gadis itu tidak seperti gadis pada biasanya.


"Sejak kapan Huang er ada di sana?" Zhou Shinzui terkejut melihat gadis itu yang melangkah kehadapan Qin Yan.


Wasit saja dibuat heran. Kenapa gadis ini datang tanpa ada instruksi. Kenapa anak jaman sekarang tidak punya etika dan sopan santun? Apakah karena mereka berasal dari negara yang kuat?


Qin Yan sendiri cukup terperangah, melihat kedatangan nya.

__ADS_1


"Huang er, apa yang kau lakukan?!"


__ADS_2