
Formasi tempat dimana keluar masuknya para klan Medusa. Kini tempat itu sudah dipenuhi ratusan prajurit manusia ular. Dengan dipenuhi genjatan senjata, kini mereka melingkari tempat tersebut sembari menunggu apa yang datang.
Cahaya altar pun bersinar, tiga sosok pun terlihat. Qin yan, Jin kei dan Xing yun. Sebagai tambahan karena tak terlalu mengerti aturan formasi tersebut, mereka bertiga kini masuk ditemani kepala pusing luar biasa. Bahkan Xing yun sendiri sampai mual karena saking pusingnya.
'Cih, formasi yang menyusahkan.' Qin yan hanya menggertakan gigi, namun ia sadar kalau ujung mata tombak yang sangat tajam sudah terarah dilehernya.
Ia pun perlahan mengangkat wajahnya keatas, melihat kakek bertubuh ular mengarahkan tombak itu padanya dengan wajah yang dingin. Bukan hanya dia, tapi pak tua lain melakukan hal sama seperti Xing yun dan Jin kei.
"Siapa kalian?" Berkata mereka dengan dingin. Jin kei ingin melawan mereka, namun Qin yan menahannya. Ia pun berdiri dengan pelan, pertama tama ia terbatuk terlebih dahulu.
"Apa kalian tidak mengenalku?" Qin yan melipat tangannya didada dengan pura pura sombong, layaknya seperti pendekar yang terkenal.
Gertakannya rupanya bisa membuat mereka terkecoh, tatapan tajam mereka jadi memudar namun tidak meninggalkan kewaspadaan.
"Memangnya siapa kau?"
Mata Qin yan yang tertutup kini terbuka satu saat mendengar mereka bertanya.
"Siapa diantara kalian yang pergi ke kuil dewa roh jahat kemarin?" Tanya Qin yan lagi, membuat mereka saling memandang satu sama lain.
"Memangnya apa hubungannya?" Mereka bingung dengan pertanyaan Qin yan.
"Hm.. Jadi begini, aku adalah orang yang telah menyelamatkan ratu Medusa kemarin. Jadi dia mengundangku untuk datang kesini." Jawab Qin yan dengan tenang.
'Oh... jadi itulah alasannya kalau formasinya bisa dibuka.' Sedikit dari mereka mulai percaya, namun ada juga yang tidak percaya sama sekali.
"Kami tidak percaya padamu, sebaik baiknya perlakuan kalian pada ratu kami. Tapi dia tidak mungkin mengijinkan kalian masuk sembarangan." Tunjuk salah satu tetua pada Qin yan dengan tajam.
"Woo woo.... tenang dulu, masalahnnya disini aku menyelamatkan nyawa ratu Medusa. Karna merasa lega, ia jadi mengundangku kesini. Kalian mengertilah sesekali, heeeh... sepertinya percuma aku menjelaskannya pada kalian. Hanya yang pergi disana yang bisa mengerti." Qin yan memegang dahinya sendiri, pura pura pusing layaknya berbicara dengan kumpulan orang bodoh.
"Kau..." Tetua yang menunjuk itu jadi semakin kesal dengan perlakuan Qin yan, ia pun menjadi marah. Mengarahkan tongkatnya pada Qin yan.
"Beraninya kau tak sopan pada kam..."
"Maaf tetua." Tiba tiba satu manusia ular berotot, dipenuhi baju besi datang melerai mereka. Ia pertama tama memberi hormat pada para tetua lalu menjelaskan.
"Itu benar yang dikatakannya, ratu hampir dibunuh oleh Asral dan anak ini menyelamatkannya. Aku waktu itu melihatnya sendiri saat mereka keluar dari goa." Jelasnya dengan sopan.
Semua orang berbalik pada Qin yan sekali lagi, dari tatapan curiga, tajam, menyipit hingga akhir napas tak berdaya pun mereka keluarkan.
__ADS_1
"Jika itu benar, mohon maafkan kami yang tidak sopan ini menyambut anda sekalian." Sifat mereka pun juga sedikit lebih sopan dari yang tadi.
"Kalau boleh tau, bagaimana keadaan ratu kalian saat ini." Qin yan bersikap sopan pula pada mereka.
"Yang mulia ratu.. dia saat ini sedang memulihkan diri. Lukanya begitu parah, jadi ia sedikit membutuhkan waktu. Biarpun begitu kami bisa melayani kalian sebisa dan semampu kami."
Qin yan pun mengangguk.
"Kalau begitu bisakah kalian mengantarku ketempat ratu?"
Pemintaan Qin yan membuat mereka kaget, awalnya mereka saling memandang satu sama lain. Dan akhirnya mereka menggeleng.
"Maaf mengecewakan anda tuan, ratu bilang tidak ada yang boleh masuk ketempatnya ketika ia sedang memulihkan diri."
Alis Qin yan sedikit berkerut mendengarnya, namun seperti biasa ia takkan kehabisan ide.
"Mereka melarang kalian masuk, itu karena hanya aku yang bisa menyembuhkannya. Luka yang diderita ratu Medusa bukan luka biasa, aku juga mengalami luka yang sama. Tapi aku tahu jelas bagaimana cara menyembuhkannya, makanya ia menyuruhku datang." Perkataannya membuat mereka terkecoh sekali lagi, raut wajah yang tadi begitu sopan kini tergantikan rasa gembira. Mungkin mereka gembira karena ratu mereka akhirnya bisa pulih dengan cepat.
Tetua mereka akhirnya setuju dengan senang hati, mereka mengangguk kemudian mempersilahkan Qin yan.
"Tuan, perkenalkan namaku Wu gui, kalau ada sesuatu anda bisa memanggilku." Salah satu tetua pun jadi memperkenalkan diri, Qin yan hanya membalaskan mereka dengan senyuman. Namun senyumannya membeku saat mendengar tetua itu memperkenal tetua yang lain.
Qin yan terhenti sejenak, Xing yun mendekat dan berbisik ditelinganya.
"Apa tadi aku salah dengar, jelas jelas orang itu tadi namanya Wu gui. Kenapa nama orang itu juga Wu gui." Xing yun dibuat pusing olehnya.
"Tuan, ini penjaga gerbang kami namanya Wu gui. Dan ini jenderal pasukan kami, Wu gui. Yang disana juga Wu gui, itu Wu gui, Wu gui, Wu gui, Wu gui, Wu gui, Wu gui, Wu gui..."
Qin yan terdiam, tetua itu mempekenalkan semua orang orang disini yang namanya Wu gui. Xing yun sendiri jadi menganga, sementara Jin kei seperti mau gila.
"Dan terakhir, tangan kanan ratu Medusa. Dia adalah..." Tiba tiba Xing yun menyela.
"Biar kutebak, namamu pasti...."
"Benar. Dia Wu hong."
Mereka bertiga langsung membeku, Qin yan menganga. Xing yun juga menganga, sementara Jin kei hanya diam tak berkutik.
"Eerrr.. Baiklah tetua Wu gui, bisakah kau mengantarkan kami sekarang." Tanya Qin yan dengan keringat dingin.
__ADS_1
"Oh tentu tentu, silahkan." Mereka pun dipersilahkan dengan hormat. Sepanjang jalan, Qin yan tidak berbicara apapun dengan mereka. Kecuali Xing yun yan tak bisa diam dari tadi, aneh juga ada sebuah suku yang namanya semua sama.
'Aku tidak pernah bertemu dengan kelompok setolol ini.' Pikir Qin yan. Mereka pun diantar sampai kekuil mereka. Disana, ada kuil melayang. Tempat dimana ratu Medua memulihkan diri. Salah satu tetua itu pun ikut melayang, mengantar Qin yan dan Xing yun di atas sana. Sementara Jin kei dibiarkan berdiam diri dibawah sana bersama dua tetua lainnya.
Kemudian tetua tersebut masuk kedalam kuil itu, memberi hormat pada ratu Medusa.
"Yang mulia ratu, beberapa manusia ingin bertemu denganmu." Ucap kakek tua itu dengan sopan, namun matanya tiba tiba membesar saat melihat ratu Medusa malah menyerangnya.
"BOOM"
Sesaat setelah ia berbicara, Qin yan dan Xing yun yang berdiri diluar kuil. Kini melihat tetua itu jungkir balik keluar dari kuil tersebut dan jatuh ketanah.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan manusia masuk kedunia kita. Apa kalian gila! Sudah mengabaikan peraturan dan berbuat sesuka kalian tanpa seijinku." Ratu Medusa dalam bentuk ular merah raksasa pun keluar dari dalam kuilnya dengan wajah penuh amarah. Tidak sengaja ia juga menoleh kearah Qin yan dan Xing yun yang sedang berdiri diluar.
"Ka-kau..." Ular itu tak percaya melihat Qin yan ada didepannya.
"Hai..." Begitu mengerikannya ular itu, tapi Qin yan malah menyapanya dengan santai.
"Bagaimana kau masuk kedalam sini?" Dengan cepat, ular itu langsung melilit Qin yan. Mulutnya terbuka lebar, sosok cantik ratu Medusa keluar dari dalam sana.
Xing yun yang melihat itu, awalnya merasa mual karena jijik. Namun melihat kulit putih dan halus ratu Medusa ia pun jadi terpesona sampai akhirnya membeku jadi batu.
'Bocah cabul itu.' urat Qin yan terlihat dengan jelas didahinya saat melihat Xing yun yang dengan gampangnya menjadi batu. Padahal jika ia dapat menggunakan elemen cahayanya, ia tidak akan apa apa.
"Memang beda dari yang lain. Kau adalah manusia pertama yang tidak menjadi batu ketika menatapku langsung. Tidak heran kau pun juga bisa masuk kesini." Belum juga pertanyaan awalnya terjawab, ratu Medusa malah kagum dengan Qin yan yang kebal terhadap kutukannya. Tangannya mulai meraba kesana sini, dada, leher, pipi, hingga bagian bawah perut Qin yan. Sesekali ia juga menghembuskan napas desahnya di telinga Qin yan untuk merayunya.
"Bisakah kita bicara baik baik nona Wu gui." Qin yan berusaha melepaskan tangannya.
"Hah.!" Ratu Medusa langsung melepaskan lilitannya, ekspresi kaget terpaut diwajahnya dengan tangan menutupi mulutnya ketika menatap Qin yan.
"Bagaimana kau tau nama asliku. Kau menyelidiki identitasku yah?"
Qin yan pun langsung melongo mendengarnya, apalagi melihat wajah wanita itu yang memerah. Tampak begitu imut.
'Wanita ini.' Jauh dari kata terpesona, Qin yan tidak pernah tertarik dengannya.
"Bu-bukan hanya itu, aku bahkan mengetahui nama ayah dan ibumu. Ibumu namanya Wu gui dan ayahmu juga bernama Wu gui."
Sekali lagi, wanita itu terkejut mendengar Qin yan yang tebakan benar. Makin dipikirkan Qin yan makin tidak mengerti. Situasi apa sebenarnya yang terjadi disuku ini sampai sampai nama semua orang begitu sama.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti, kenapa nama kalian sama. Sementara tetua tadi malah berbeda?" Qin yan menggaruk pipinya dengan bingung.