LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Pangeran?


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Qin yan keluar dari ruangan tersebut dengan wajah gelap. Mengingat perkataan pria pembisnis tadi membuatnya sangat kesal.


"Kalise! Kalise yang telah mengirimku. Mereka menyegelku, dan aku tidak bisa berhianat. Aku dipaksa menyerahkan setengah kertas kondolisasi pada mereka secara gratis."


"Bam" Ia membanting tangannya dipintu, wajahnya sangat jelek ketika memikirkannya.


"Kenapa kau marah marah seperti itu? Apa ada masalah?" Tang liu muncul menunjukan wajah imutnya. Rambutnya diikat dua disamping, penampilannya agak sedikit berbeda dari biasanya. Membuatnya makin manis dan cantik.


"Tidak. Tidak ada apa apa." Qin yan menggeleng, kemudian meninggalkannya. Namun tiba tiba tangannya ditarik oleh gadis itu, memegangnya dengan erat.


"Kau selalu sibuk akhir akhir ini. Jarang sekali punya waktu luang." Tang liu makin mempererat tangan Qin yan kedadanya. Membuat wajah Qin yan sedikit memerah.


"Sebenarnya apa yang kau mau?" Berkata Qin yan sambil menarik tangannya, gadis ini makin lama sifatnya makin berubah. Berbeda sekali waktu pertama mereka bertemu.


"Aku dan She lin berencana berbelanja. Kau mau ikut?" Pertanyaannya seperti menawar, tapi Qin yan malah sudah ditarik olehnya. Seperti tidak ada lagi penolakan.


"Qin yan, kau sedang apa?" Suara itu membuat Qin yan tiba tiba bergidik kaget. Ia berbalik melihat Medusa berdiri tidak jauh dari mereka dengan melipat tangan didadanya. Qin yan pun jadi berkeringat, berusaha melepaskan tangannya dari Tangliu.


"Anu Mei ji, Eee..."


"Kami ingin pergi berbelanja, kau mau ikut?" Tang liu juga maju menatap Medusa dengan tangannya didada. Seolah olah ia juga menunjukan keangkuhannya, membuat Qin yan sendiri jadi bingung dengan situasi ini.


"Tidak. Aku tidak tertarik." Dengan datar, Medusa pun berbalik dan pergi meninggalkan mereka.


"Hei.. Mei ji tung.." Belum lagi Qin yan memanggil, tangannya sudah dipegang oleh Tang liu. Sialnya bagi dia tak bisa mengejar Medusa. Rupanya Zhang Yuisha dari tadi sudah menonton mereka. Gadis pirang itu tertawa lucu saat melihat Qin yan tak bisa apa apa.


Qin yan sendiri hanya bisa menghela napas tak berdaya. Memanggil Yuisha agar mendekat.


"Ada apa kau memanggilku?" Tanya gadis itu belum lepas dari tawanya.


"Bisakah kau menunjukan kamar untuknya?" Ekspresi Qin yan sedikit memohon.


"Oh tentu saja Master. Tapi aku penasaran, kenapa anda bisa memperhatikannya. Jangan jangan..." Ia mulai menggoda Qin yan dengan candaanya. Pikirannya sudah kemana mana tentang Qin yan.


"Ayolah, kau jangan seperti itu. Dia wanita yang jarang bersosialisasi. Takutnya dia tak bisa berkomunikasi dengan baik."


"Baiklah, tapi katakan dulu. Siapa dia?" Yuisha kemudian mengedipkan matanya dengan nakal hingga Qin yan sendiri tak punya cara lain selain memberitahukannya. Ia pun berbisik ketelinga gadis itu dengan suara sangat kecil. Bahkan Tang liu tak bisa mendengarnya.


"Astaga!" Tentu saja Yuisha langsung terkejut, ia menutup mulutnya dengan tak percaya. Kemudian Tang liu langsung menarik Qin yan karena ia tak tahan dengan mereka berdua yang selalu merahasiakan semuanya darinya.


"Tolonglah." Ucap Qin yan susah payah, setelah ditarik oleh Tang liu dengan kasar. Gadis itupun mengangguk dengan semangat. Menatap kepergian Qin yan.

__ADS_1


"Sebenarnya wanita Qin yan ini ada berapa?" Pikirnya dengan heran, namun seperti apa yang dikatakan Qin yan tadi. Dengan cepat, ia pun langsung menyusul Medusa.


"Katakan siapa wanita tadi?" Tanya Tang liu dengan wajah cemberut, ia bahkan mengeluskan tangan Qin yan dalam kedapannya dengan manja. Membuat Qin yan menoleh kearah lain. Namun hal itu malah membuat gadis itu makin tersenyum nakal melihat Qin yan yang malu.


"Dia cuma temanku." Qin yan menggaruk pipinya dengan pelan.


"Bohong. Lalu kenapa kau salah tingkah saat dia melihat kita?" Tanya Tang liu lagi.


"Tidak. Siapa juga yang salah tingkah." Qin yan makin menghindari tatapannya, gawat saja kalau gadis ini mencampuri urusannya dengan Medusa.


Namun Tang liu tidak berbicara apapun, ia terus terusan menatap Qin yan dengan penasaran. Hingga Qin yan sendiri merasa bersalah padanya. Untungnya disaat canggung ini, She lin datang diwaktu yang tepat.


"Oh, She lin. Kau datang juga rupanya, mari kita belanja bersama." Ajak Qin yan dengan senyuman, baru setelah itu Tang liu melepaskan tangannya. Lalu kembali kesifat aslinya.


"Kakak." She lin pun datang memeluk Qin yan. Batas tinggi gadis itu hanya sampai diperut Qin yan saja. Bagaimana tidak, umurnya baru 10 tahun. Namun ia tumbuh menjadi gadis yang nampak cantik.


"Kau senang sekali rupanya." Senyum Qin yan mengelus kepalnya gadis itu.


"Tentu saja aku senang. Jarang sekali bisa jalan jalan dengan kakak." Senyum She lin kemudian mengajak Qin yan, menarik tangannya dengan riang.


Mereka bertiga pun berkeliling kota untuk berbelanja. Tang liu dan She lin, kedua gadis itu mempunyai selera belanja yang sangat tinggi. Beli ini, beli itu. Pakaian, perhiasan dan barang lain yang mereka suka. Hingga Qin yan seperti menjadi kuli mereka saja.


"Berapa harganya?" Tanya Qin yan dengan malas pada pedagang yang menjual ikat rambut itu. Sementara Tang liu dan She lin sudah pergi ketempat lain mencari sesuatu yang baru.


Setelah membayar, dia pun pergi membawa barang barang yang mereka beli. Karna terlalu banyak, Qin yan pun menyimpannya kedalam cincin spasial.


Sepanjang hari ia menemani mereka, mulai dari jalan jalan, makan siang, sampai akhirnya bersantai. Semua biaya ditanggung olehnya. Qin yan hanya menghela napas panjang karena lelahnya dia, namun melihat Tang liu dan She lin yang tampak bahagia. Ia pun juga ikut bahagia.


Tidak sengaja ia melihat sebuah gelang indah. Ada tiga lonceng kecil di gelang itu. Jika digoyangkan, maka akan mengeluarkan suara layaknya lonceng.


"Tuan, berapa ini?" Tanya Qin yan lagi. Gelang ini akan ia berikan kepada seseorang, tampaknya ini akan cocok untuknya.


Setelah ia mengambilnya, ia pun kembali mengikuti Tang liu dan She lin yang tadi sudah pergi.


'Eh, kemana mereka pergi tadi?' Anehnya, kedua gadis itu entah kenapa menghilang tiba tiba. Ia terus mencarinya kesana sini, dan akhirnya ia menemukan mereka berdua. Namun ia terkejut bukan main. Rupanya adik tirinya sendiri, Qian san datang menganggu kedua gadis itu.


"Ayolah, gadis manis. Kenapa kau malu seperti itu. Sini mendekatlah." Tangan Qian san ingin memegang dagu Tang liu, namun gadis itu dari tadi terus menghindar. Sekarang, Tang liu dan She lin sedang terpojok. Diantara teman teman bangsawan yang dekat dengan Qian san.


"Lepaskan aku, menjijikan!"


"Plak" Sebuah tamparan langsung dilancarkan Tang liu dipipinya. Membuat anak itu langsung emosi.

__ADS_1


"Dasar kau gadis murahan! Beraninya kau..." Cincin birunya bangkit, tangannya ingin menggenggam leher Tang liu. Namun She lin datang mengirimkan gelombang kejut mental padanya.


"Ukh..." Gejolak pusing pun langsung Qian san rasakan. Ia bahkan tak bisa menyeimbangkan tubuh dan terjatuh seperti orang mabuk.


"Pangeran, kau baik baik saja." Semua temannya datang menolong anak itu. Namun Qian san langsung menghempaskan tangan mereka.


"Sialan! Serang mereka!!" Teriak anak itu, hendak menampar Tang liu lagi. Namun Qin yan datang meghentikannya.


"Hentikan ini Qian san." Qin yan melepaskan tangannya, menatap anak yang tidak dididik ini dengan tatapan seperti seorang kakak.


"Hahaha... Kau.. Ada disini rupanya. Hei.. Kau pikir kau siapa bisa menghentikanku seenaknya hah? Kau pikir hanya karna kau lebih tua dariku, kau bisa mengaturku, begitu?" Qian san tertawa sambil menunjuk nunjuk Qin yan dengan hina.


"Hanya karena kita sama ayah, bukan berarti kau kakakku. Kau itu hanya sampah yang tidak berguna."


"Hahaha..." Hinaan Qian San diikuti tawa teman temannya. Alis Qin yan bahkan berkerut menatapnya.


"Ka-kau.. kau tidak tau siapa dia.." Tang liu hendak maju melawan mereka, namun ditahan oleh Qin yan.


"Qian san, ayo hentikan ini. Mereka adalah temanku." Berkata Qin yan lagi dengan pelan.


"Kepar*t! Kau pikir pantas kau memanggilku seperti itu hah! Panggil aku pangeran sialan!" Cincin biru anak itu bersinar, percikan api muncul dikedua tangannya. Tanpa ragu, ia langsung menyerang Qin yan. Semua teman temannya bahkan sudah tidak sabar menunggu Qin yan disiksa oleh Qian san. Bagi mereka, itu adalah kepuasan mereka sendiri melihat Qin yan tersiksa.


"Bruk" Namun betapa terkejutnya mereka, saat melihat Qian san tumbang hanya karena Qin yan menoki leher anak itu. Padahal hanya sebuah serangan kecil, tapi Qian san sudah jatuh pingsan tak berdaya.


"Bawa dia pergi." Ucap Qin yan dengan pandangan serius kepada teman teman Qian san. Karena tekanan dari tatapannya, mereka pun jadi lari terbirit birit dengan penuh ketakutan sambil membawa anak itu.


"Qin yan. Dia adikmu?" Tanya Tang liu dengan ragu dibelakang.


Qin yan pun berbalik, membungkuk pada mereka.


"Iyah, tolong maafkan dia atas kekasarannya tadi yah."


"Jadi kakak adalah pangeran?" She lin juga bertanya dengan penasaran. Hingga Qin yan hanya berdiri kemudian mengangguk pelan.


"Ka-kau... Pangeran kerajaan Sunmoon?" Wajah Tang liu memucat, tak percaya kalau Qin yan adalah seorang pangeran. Saat ia bertemu Qin yan waktu pertama kali, ia kira Qin yan adalah anak terlantar yang tersesat dihutan. Tak tau jalan pulang dan tak punya keinginan untuk pulang. Memangnya pangeran mana yang mau tinggal digubuk kandang babi, tidur dilantai jerami, dan tinggal bersama pengemis bahkan merawat anak buangan. Ini sama sekali tidak masuk akal. Apalagi saat mengingat penderitaan Qin yan selama dua tahun ini saat kehilangan Huo lan. Tidak satu pun kerabat yang datang menjenguknya, apakah dia memang pangeran?


Saat itulah Tang liu sadar, tidak semua pangeran itu sombong dan angkuh. Yang hanya mengandalkan status mereka sebagai pangeran untuk berbuat sesuka hati. Tapi ada juga pangeran bodoh yang tidak pernah mengungkapkan identitasnya bahkan sampai hidup merasakan kemiskinan.


Sepanjang jalan, ia pun hanya menatap punggung Qin yan dari tadi. Pikirannya terbawa suasana dimana Qin yan bersikap begitu rendah hati didepan mereka yang terbilang statusnya sangat rendah.


"Lebih baik kita pulang ke sekte. Nanti aku pasti akan mengantar kalian jalan jalan keistana." Senyum Qin yan mebawa mereka, kali ini tidak sepatah kata pun yang keluar dari dua gadis itu. Tidak seperti sikap manja mereka tadi, kali ini suasananya nampak hening bahkan sampai ke dalam sekte.

__ADS_1


__ADS_2