
Hari mulai sore. Diluar, raja Feili dan raja Tian lei sudah bergegas untuk kembali. Mereka tak bisa menyia nyiakan waktu, Xu jiu jiu dan Xu mi er akan pergi kerajaan Zhong tian untuk mengikuti turnamen. Hanya saja, sebuah raut kekecewaan terpancar diwajah mereka. Padahal hanya ingin bertemu Qin yan, namun sampai sekarang Qin yan tidak juga muncul. Sepertinya harga diri mereka sebagai raja sudah tidak berlaku untuk Qin yan.
Tetapi kedua raja tersebut juga sadar diri. Qin yan yang luar biasa itu, tidak akan mudah untuk dibujuk apalagi untuk raja rendahan seperti mereka.
"Ayah, kita pulang saja dulu. Kalau kita tidak kembali, kita bisa saja pulang larut malam." Pangeran Tian fu mulai khawatir, yang ditakutkan disini yaitu para beast dan bandit yang berkeliaraan dimalam hari. Mereka hanya punya beberapa prajurit, seharusnya ayahnya menyadari hal itu. Namun, raja Tian lei sama sekali tidak menghiraukannya. Ia masih berharap kalau Qin yan benar benar akan datang pada mereka.
Begitu pula dengan raja Fei li, mereka juga tak kunjung pulang. Padahal kerajaan mereka lebih jauh dari kerajaan Tian lei, bisa saja mereka akan sampai kekerajaannya dalam waktu tiga hari. Hal itu membuat Xu jiu jiu dan Xu mi er jadi cemas. Takut kalau ayahnya akan lupa tentang turnamen yang akan mereka hadiri.
"Tunggu sebentar lagi." Tapi jawaban ayahnya tetap sama, ia benar benar keras kepala. Memandangi sekte, berharap kalau Qin yan akan datang kesini.
Dua tahun lalu, ia sangat menyesal. Jika saja ia menjalin hubungan baik dengan anak ini, mungkin nasib kerajaan mereka akan berubah. Tapi, semenjak Qin yan membunuh raja Mo. Kekhawatiran menyelip didalam dirinya, meskipun ia mengaggumi Qin yan yang mampu membunuh raja besar itu. Namun ia benar benar takut kalau ia berhubungan dengannya bisa saja kerajaannya juga ikut dihancurkan. Tentu saja, siapa juga yang mau hal itu terjadi.
Xu jiu jiu lebih parah lagi, dulu ia begitu sombong. Tapi sekarang, rasanya seperti tamparan keras melayang dipipinya. Mereka dibiarkan menunggu disini begitu saja tanpa dihiraukan. Sungguh memalukan.
Ia tahu kalau ia memang keterlaluan dengan Qin yan waktu dulu. Tapi sekarang, bukankah ini juga keterlaluan. Ayahnya sekarang sudah menanggung malu, bahkan para warga dikota ini mulai memandangi mereka. Tidak sedikit juga yang menahan tawa. Melihat itu, bahkan ayahnya hanya tinggal diam tidak berbuat apa apa. Membuat Xu jiu jiu tanpa sadar menangis, ia tak bisa menahannya lagi.
"Ayah, ayo pulang. Hiks..." Xiu jiu jiu mulai menyeka air matanya. Hal itu membuat raja Fei li dan kakaknya Xu mi er jadi khawatir.
"Jiu er, tenanglah. Tenang saja, kita kembali kok." Ayahnya pun terpaksa menenangkan putrinya, ia kemudian naik kekereta sampai akhirnya menyuruh sang pengendara kuda melaju.
"Haaaaah... Mereka sudah jalan rupanya, kalau begitu ayo kita juga pergi." Raja Tian lei menggelengkan kepala tak berdaya. Ia juga menaiki kudanya diikuti dengan putranya yang juga menaiki kudanya sendiri.
Tepat saat mereka memasuki gerbang keluar, tiba tiba terdengar suara teriakan menghentikan mereka. Ternyata Qin yan bersama ayahnya mengejar mereka, diikuti dengan Elfes.
"Huh! Dia menemui kami?" Tentu hal itu mengejutkan raja Feili dan raja Tian lei. Mereka segera bergegas keluar, menyambut kedatangan Qin yan yang masih ada diatas langit.
"Sa-salam master." Mereka langsung menangkupkan kedua tangan mereka ketika Qin yan mendarat didepan. Sepenuh hati dan bersyukur kalau Qin yan masih murah hati berbalik pada mereka. Apalagi melihat Qin yan juga menangkupkan tangannya dengan hormat sebagai balasan. Membuat mereka benar benar lega, Qin yan ternyata sangat sopan santun kepada orang yang lebih tua meskipun statusnya terbilang cukup tinggi.
"Yang mulia raja Xu Tianran, yang mulai Tian Ye. Kenapa buru buru pulang, kenapa tidak mampir dulu ketempatku. Mari kita menyeduh teh dulu." Sapah Qin yan dengan ramah, ia benar benar tak tega melihat kedua raja ini pergi dengan harapan yang sudah dikecewakan.
Jika ayahnya tidak datang memberi tahunya setelah ia bersenang senang, mungkin mereka akan pergi begitu saja. Bagaimana pun, kedua raja ini adalah tamu. Qin yan juga tidak akan menyia nyiakan kesempatan utuk menjalin hubungan dengan mereka. Sektenya masih butuh banyak penopang.
Raja Tian lei dan raja Fei li hanya terdiam mendengar ajakan Qin yan. Meskipun kedua raja itu mau, namun mereka tak punya banyak waktu. Mereka harus segera pulang agar putra dan putri mereka bersiap untuk mengikuti turnamen. Qin yan juga menyadari kekhawatiran mereka. Kemudian ia pun hanya tersenyum.
"Tenang saja, kalau soal perjalan pulang. Salah satu tetua kami akan mengantar kalian. Dia akan memastikan kalian aman dan sampai ketempat."
Mendengar perkataan Qin yan, kedua raja itu saling memandang lagi. Mereka juga berbalik kearah putra dan putri mereka. Masih belum bisa mengeluarkan keputusan. Sampai akhirnya Qin yan yang mengajak mereka langsung.
"Ayolah, percaya saja padaku." Bukan hanya mereka yang Qin yan ajak, bahkan putri Xu jiu jiu dan Xu mi er dibelakang juga ikut ia ajak.
"Eh, tuan putri Xu jiu jiu? Anda ada disini. Wah, kebetulan sekali. Dua tahun tak bertemu anda semakin cantik yah." Qin yan menarik tangan gadis itu dan mengantarnya dengan pelan, membuat wajah Xu jiu jiu memerah. Akhirnya mereka semua mengikuti permintaan Qin yan, mereka masuk dan merasakan keramahan Qin yan.
Seperti biasa, pembahasan mereka tentang bisnis atau kerja sama. Menjalin hubungan sampai akhirnya persahabatan. Sampai sekarang, jejaring Qin yan sudah meluas. Dari satu negara sampai akhirnya beberapa negara. Dandun, Geritimo, Angin salju, Fei li, Tian lei, Glasier dan lain lain. Bukan semata mata untuk menguasai dunia, tapi setidaknya akan menjadi teman kerja sama. Qin yan hanya berharap, tidak ada penghianatan disini. Tapi, hal itu tetap akan terjadi. Tinggal tunggu saja masanya. Namun untuk sekarang, selama ada Qin yan. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi, dan ia akan mencetak sejarah dengan caranya sendiri.
********
"Haaah...." Qin yan menghela napas saat menyaksikan kepergian raja Tian lei dan raja Fei li yang diantar oleh Elfes. Akhirnya selesai juga.
Tiba tiba Yao chen datang kesampingnya, ia menepuk pundak anak itu.
"Wah, setelah diberi suplemen penghilang stres. Kau jadi terlihat bersinar yah." Puji Yao chen.
"Benarkah? Apa aku terlihat begitu?" Qin yan tersenyum, ia bersemangat menjawabnya. Jangankan wajahnya yang bercahaya, bahkan badannya ikut segar. Serasa mendapatkan kekuatan baru. Yah, itu didapatkan dari apa yang ia lakukn tadi. Benar benar obat yang manjur, seluruh stres dan pikirkan jadi menghilang. Badan yang tadinya kaku karena tidur dalam waktu yang lama kini kembali baru dipenuhi energi.
"Hahaha... Sudahlah, kau ini. Kau belum menyelesaikan urusan yang tadi. Lu xian sedang menunggumu beserta murid yang telah ia panggil." Yao chen menunjuk kehalaman sekte, disana Lu xian sudah menunggu. Qin yan sendirilah yang akan memeriksa kualifikasi murid murid yang akan mengikuti turnamen.
"Baiklah." Qin yan pun mengangguk, ia lalu pergi dimana arah yang ditunjukan. Ternyata benar, ada beberapa orang yang telah menjnggu disana.
Lin fin, Xiang xiang, Tang liu, Xiu xiu, xie xie, dan beberapa orang lagi yang belum terlalu ia kenal. Siapa juga yang akan menyangka kalau Weisi juga ada disana ditemani dua gadis yang tentu ia kenal.
"Salam master." Lu xian membungkuk hormat diikuti dengan murid muridnya.
"Qin yan, kau sudah baikan?" Lin fin tiba tiba datang dan langsung merangkul bahunya.
"Ya.. lumayan." Jawab Qin yan singkat, ia pun melihat Xiang xiang datang memberikannya apel.
"Oh, terima kasih Xiang xiang." Qin yan dengan canggung menerima apel merah itu, ia memperhatikan Xiang xiang yang ekspresinya tetap diam tak bicara, namun ia menatap Qin yan seolah olah memperhatikan keadaannya.
"Hahaha... Tenang sjaa. Kau tidak perlu khawatir." Qin yan pun mengocak acik rambutnya Membuat wajah gadis itu memerah. Walaupun Qin yan menyadari itu, tapi ia lebih baik tidak menggoda gadis ini lebih jauh. Tanpa sadar, perhatiannya tertuju kearah dua orang gadis yang berada didekat Weisi.
"Huang er, Hulena. Kapan kalian datang? Dan juga kau Weisi, dari mana kalian tahu tempat tinggalku?" Tanya Qin yan dnegan penasaran. Soalnya waktu itu ia sempat memperhatikan Weisi yang ikut bertarung melawan musuh yang sama dengannya.
"Heeeh.. Kau penasaran sekali, tapi tidak penting juga aku menjawabnya. Yang pasti, aku hampir mati saat memasuki kerajaanmu." Tatap Weisi dengan tajam, membuat Qin yan menggaruk kelalanya dengan perasaan bersalah.
"Hahaha... Maaf maaf, itu memang berbahaya bagi pendatang baru. Lagian kenapa juga kau tidak melewati jalur masuknya. Kenapa harus menyelinap?"
Mendengar itu, Weisi terdiam. Ia tidak bisa mengatakan kalau ia tidak membawa tiket waktu itu. Dan tidak sengaja memasuki hutannya. Belum lagi ia menjawab, Huang er sudah mencibir disampingnya.
"Aku tidak tahu ternyata kerajaan ini punya peraturan ketat. Sampai sampai dia hampir mati. Aku heran, betapa bodohnya dia tidak melewati jalan masuk. Otaknya pasti sudah kemasukan air." Gadis itu melipat tangannya didada. Membuat Weisi cukup emosi mendengarnya.
__ADS_1
"Ka-kau...." Dahi Weisi mulai dipenuhi urat, namun Hulena sudah melerai mereka agar pertengkaran tak berguna ini tidak terjadi.
"Eh, Qin yan. Kami baru tiba beberapa hari yang lalu. Kau tau, kami sudah membeli beberapa bahan bahan makanan. Kami akan mengandalkanmu nanti ketika memasak. Sudah lama juga kami tidak merasakan masakanmu." Hulena tersenyum manis, sementara Lin fin bersorak gembira.
"Bagus, setelah ini mari kira berpesta hahaha..." Tawa Lin fin dengan senangnya. Qin yan juga mengangguk, menanggapi mereka dengan senyuman. Mereka memang sudah lama tidak pernah berkumpul bersama.
Disaat mereka tampak reuni, semua murid yang lain menatap mereka dengan aneh. Mereka melihat Qin yan yang sangat menakutkan, ternyata sangat akrab dengan teman temannya. Bahkan sampai melakukan pekerjaan memalukan.
'Bah-bahkan master disuruh memasak? Apa yang sedang kulihat ini?' Batin Lu xian tak percaya.
"Baiklah Qin yan, kami pergi dulu. Kau urus dulu pekerjaanmu, kami menunggumi diatas tebing sana." Weisi menunjuk kearah tebing yang ada dipinggir kota. Kemudian, ia pun pergi meninggalkan mereka.
Qin yan juga melambaikan tangan pada mereka. Kemudian berbalik kearah murid yang akan diutus.
"Baiklah, mari kita lihat. Siapa kira kira yang akan kita kirim." Qin yan bepikir, memandangi murid muridnya satu persatu.
Lin fin, anak berumur 18 tahun. Tingkat Elder rank 1. Atribut kekuatan, atribut tambahan: perubahan iblis. Sangat cocok untuk penyerang atau petarung.
Tang liu, dua hari kemudian akan berumur 17 tahun. Tingkat Grandmaster rank 3, atribut Racun dan atribut tambahan, jaring beracun. Cocok untuk tipe penhendali.
Xiang xiang, umur 18 tahun. Tingkat Elder rank 2, atribut api dan atribut tambahan, tulang. Cocok untuk penyerang.
Xiu xiu, umur 23 tahun. Tingkat elder rank 6, atribut Pasir dan peruhahn iblis. Cocok untuk pertahanan.
Xie xie, umur 22 tahun. Tingkat Elder rank 4, atribut fleksibel, dan atribut elemen khusus, lem. Cocok untuk petarung.
"Hm...." Qin yan pun memeriksa beberapa orang sisanya. Sejauh ini, ia sudah mengetahui beberapa petarung yang ada. Dan yang dibutuhkan sekarang adalah melengkapinya. Kemudian ia melirik seorang gadis, berambut putih keabu abuan. Ia menyuruh gadis itu untuk maju kedepan.
"Siapa namamu?" Tanya Qin yan.
"De Muer." Jawabnya dengan sopan. Ia menunduk sedikit. Tapi Qin yan tidak terlalu memperhatikan ekspresinya. Dia hanya memeriksa kekuatan gadis ini.
De muer, umur 18 tahun. Tingkat Grandmaster rank 2. Atribut cahaya, berketerampilan sebagai dokter. Cocok untuk tipe pendukung.
"Bagus." Senyum Qin yan, ia kemudian memandang kearah pria yang rambutnya diikat kebelakang. Dengan kumis tipis dan tatapan matanya yang tajam.
"Sini." Dengan suruhan Qin yan, pria itu kemudian maju. Namun Qin yan terkejut dengan kultivasi yang dimkliki pria ini. Pasalnya, baru baru ini ia menerobos ketingkat Master. Bukankah dia yang terlemah?
Alis Qin yan berkerut menatap Lu xian yang tengah berdiri disana. Wamita itu juga buru buru ingin menjelaskan namun Qin yan dengan cepat menghentikannya.
Akhirnya Lu xian berhenti sesuai permintaan Qin yan. Kemudian Qin yan kembali menatap anak itu. Tampaknya mereka seumuran, sekitar 17 tahun. Namun terlihat jelas kalau anak itu begitu ketakutan dan segan ketika melihatnya.
'Yah, aku memang nampak lemah. Aku seharusnya tidak ikut saja.' Batin Jung kyun dengan malas. Baginya mengikuti sesuatu yang besar seperti turnamen sangat merepotkan. Ia juga tak mau repot repot memamerkan diri kesana. Baginya, hidup tenang dan damai sudah lebih dari cukup.
Tiba tiba mata Jung kyun menyala, kaki kanan Qin yan mundur satu inci dari tempatnya. Lalu otot bahunya bergerak sedikit sejajar dengan sudut 90 derajat.
'Pukulan bawah.' Itu kesimpulan Jung kyun, tanpa ragu ia langaung menghindari. Padahal Qin yan belum melakukan apa apa.
Hal itu membuat semua orang terbengong, apa yang dilakukan anak ini sebenarnya. Tapi tidak dengan Qin yan. Ia malah tersenyum melihat anak ini, cara antisipasinya membuatnya cukup terkesan.
'Dia bisa memprediksi gerakanku bahkan sebelum aku bergerak? Hm....' Makin ia memandangi anak itu makin membuat Qin yan tertarik.
Setelah menyadari tatapan semua orang, Jung kyun menunduk malu. Apa yang ia lakukan benar benar sudah mempermalukan dirinya sendiri. Ia benar benar bodoh. Bahkan ia bisa menyadari tatapan para kandidat yang terkekeh melihatnya.
'Dia pasti tidak akan diterima, lagian mana mungkin master bisa menerima orang yang begitu lemah. Dia hanya berada ditingkat Master, dibanding kami dia hanyalah semut.' Itulah yang mereka pikirkan, yang terlemah diantara mereka yakni berada ditingkat Grandmaster. Meskipun masih tidak bisa dibandingkan dengan anggota anggota yang terpilih. Mereka masih percaya diri kalau mereka akan diterima.
Jung kyun mengetahui itu, ia pun segera meminta maaf pada Qin yan. Ia sudah menerima jika Qin yan mempermalikannya hari ini.
"Master Qin yan, maafkan ketidak sopa...." Mata Jung kyun tiba tiba membesar, saat menyaksikan lutut Qin yan sudah berada didepan wajahnya.
"BUAKH" Mau tidak mau, Jung kyun harus menerima itu. Ia sama sekali tak bisa bereaksi, dengan serangan dadakan tersebut.
"Ugh...." Jung kyun mundur beberapa langkah, menutupi hidungnya yang berdarah. Detik berikutnya, kaki Qin yan sudah berada disampingnya.
'Apa!!!! lagi???' Batin Jung kyun melihat tendangan itu. Dengan cepat ia langsung menangkisnya.
"Bukh" Tendangan berhasil ditangkis. Hanya saja Jung Kyun tidak cukup kuat menahan tendangan itu, hingga ia terpental kebelakang. Menabrak dinding.
'Tanganku... Apakah tanganku masih utuh? Kuat sekali dia!' Jung kyun merasakan tangannya menggigil kesakitan, tendangan itu meninggalkan bekas memar. Bahkan sampai ketulang tulangnya.
"Pppfft...." Setelah menyaksikan itu, semua orang tertawa. Maksudnya disini, orang orang yang merasa dirinya hebat. Terkecuali Lin fin, Xiang xiang, Tang liu, Xiu xiu, xie xie, De Muer, dan Lu xian yang tetap diam menyaksikan itu. Mereka tau, kalau Qin yan tengah menguji Jung kyun.
Wajah Jung kyun memerah, melihat mereka menertawainya. Dia bukanlah pecundang yang pengecut, hingga dia hanya diam menyaksikan dirinya dipermalukan.
Ia pun berdiri, tatapannya tajam. Memasang ancang ancang, siap bertarung.
'Aku tahu aku memang lemah, tapi jika aku datang disini hanya untuk dipermalukan. Maka aku tidak akan tinggal diam, aku bukanlah pecundang seperti yang kalian kira. Aku datang kesini karena undangan kalian, maka majulah.'
Melihat Jung kyun memasang ancang ancang siaga, orang yang meremehkannya tak bisa menahan tawa lagi.
__ADS_1
"Apa dia bodoh? Apa dia berniat melawan si legenda Qin yan?"
"Entahlah, sepertinya dia agak tidak waras."
Seorang remaja bertubuh kekar sedang mencemoh Jung kyun bersama seorang gadis disampingnya. Mereka berdua berasal klan Maojin dan satunya lagi tidak diketahui. Tapi bisa dilihat, kalau kedua orang itu sangat membenci Jung kyung.
"Heeeh, bisakah kalian diam. Kenapa kalian tidak menonton saja. Mari kita lihat, seberapa babak belurnya dia ketika merasakan ujian master Qin yan." Seorang remaja lain tengah duduk disamping mereka. Tampaknya ia sangat berpengaruh dibanding mereka berdua. Ketika mendengar perkataan anak yang duduk itu, kedua remaja disamping langsung terdiam.
Qin yan yang melihat itu, mengerutkan kening. Remaja laki laki itu adalah adiknya Xing yun. Berbicara tentang Xing yun, seharusnya dia mengikuti turnamen ini. Tapi, dimana dia? Qin yan sama sekali tidak melihat batang hidungnya. Begitu pula dengan Yuisha, mereka berdua benar benar tidak terlihat.
Namun bukan itu yang membuatnya tertarik. Tapi melihat mereka yang tertawa meremehkan Jung kyun membuat Qin yan bersemangat. Semoga saja ia mendapatkan sesuatu yang menarik.
Dengan senyum tipis, Qin yan melesat. Menyerangnya.
"Hah!!" Tentunya Jung kyun terkejut melihat kedatangan Qin yan. Ia langsung mundur, tapi tak berhenti disitu. Qin yan makin menyerang bertubi tubi.
"Bukh Bukh bukh bukh."
Jung kyun berusaha menangkis dan menghindar. Tapi tidak bisa dipungkiri, fisik yang ia miliki begitu lemah. Makanya ia tampak tertindas ketika menghadapi serangan itu.
"Hah... Hah... hah..." Terakhir, ia mundur beberapa langkah. Nafasnya tak beraturan ketika berusaha menghindari serangan Qin yan. Dengan keringat yang bercucuran, ia memperhatikan lingkungan. Disana, Qin yan tetap diam memperhatikannya. Mata Jung kyun bergerak kekanan dan kekiri.
'Jika begini terus, maka bisa dipastikan. Aku akan kalah telak tanpa bisa melawan. Pasti ada celah, yang membuat situasi jadi terbalik.' Dia area luas ini, Jung kyun sama sekali tidak diuntungkan. Ditambah dengan bulan yang tertutupi awan. Maka peluangnya hampir tidak ada.
Ia pun menghela napas, berusaha tenang.
'Pasti ada cara!' Itulah yang dipikirannya, pasti ada cara dan ia mempercayai itu.
Jung kyun kemudian mengeluarkan beberapa pisau. Tanpa ragu ia langsung melempar pisau itu kearah Qin yan.
Cara bertarung itu, mengingatkan Qin yan pada dirinya sendiri dulu ketika belum membangkitkan kekuatannya. Entah kenapa, Qin yan merasa kalau anak ini begitu menarik.
"Kau pikir ini bisa melukaiku?" Ucap Qin yan. Ia kemudian menangkis semua pisau itu dengan pisaunya pula.
"Ptank ptank ptank" Pisau yang dilempar Jung Kyun akhirnya terjatuh dan berantakan dilantai. Terakhir Qin yan juga melenparkan pisaunya kearah anak itu.
"Hmph..." Mata Jung kyun menyipit, ia menghindari pisau itu. Belum sampai disitu, rupanya Qin yan juga menyusul. Dan hendak menendangnya.
'Aku tahu kau akan melakukan itu, kau berniat menggunakan pisau itu sebagai pengalihan!' Batin Jung kyun, sekarang ia mengetahui pergerakan Qin yan dan taktiknya.
Ia kemudian mengambil pisau Qin yan yang masih melaju diudara, lalu menyerang Qin yan dengan pisau itu.
"Siung" Qin yan menghindar, ia melakukan serangan balik. Kaki belakangnya juga mulai menendang. Namun siapa yang menyangka kalau Jung kyun malah menggunakan lututnya untuk menangkis tendangan itu.
"Bukh" Tulang kering Qin yan menghantam lutut Jung kyun.
'Dia sengaja menunggu waktu, menggunakan lututnya untuk menekan kakiku.' Pikiran Qin yan bergeming. Ternyata anak disampingnya ini begitu licik. Detik kemudian ia pun mundur.
"Hm..." Kali Qin yan tetap tersenyum, karena permainannya semakin menarik saja.
Ia hendak maju, namun ia kaget kalau Jung kyun melemparkannya sebuah lentera menyala. Apa yang dilakukan bocah ini, membuatnya bingung. Detik berikutnya, pisau pisau yang ada dilanyai jadi mempunyai bayangan. Cincin Hijau milik Jung kyun muncul karena itu.
"Elemen bayangan, kunci!" Bayangan yang ada dipisau itu jadi merambat dan mengunci bayangan milik Qin yan hingga ia tak bisa bergerak.
"Oh!" Jadi begitu, Qin yan akhirnya mengerti. Menggunakan lentera agar menimbulkan cahaya. Ternyata dari awal anak ini melempar pisau itu bukan semata mata untuk menyerangnya. Rupanya untuk menunggu momen saat ini yah.
Saat Qin yan berhasil diikat, cahaya bulan akhirnya menampakan diri. Cincin Hijau Jung kyun menyala lagi.
"Elemen bayangan, cermin bayangan!" Detik berikutnya, sosok yang sama dengan Qin yan muncul. Sosok itu terbuat dari bayangan Qin yan sendiri. Alis Qin yan menyerngit melihat itu, namun tidak lama kemudian tubuhnya langsung dipenuhi api. Ia hampir memasuki tranformasi Neidan. Sedikit saja, namum kekuatan tersebut mampu menghancurkan bayangan yang menyangga Qin yan.
"Ptas" Semua bayangannya terputus, bahkan jika itu tiruan Qin yan sendiri. Hal itu membuat Jung kyun mengeluarkan darah segar. Ia memegangi dadanya yang sakit akibat jurusnya yang ditolak mentah mentah.
"Hah... hah.. hah..." Sekarang dirinya lemas, akhirnya ia menyerah. Sekarang tatapan para murid sekte itu sedang meremehkannya. Mereka tertawa dengan sombong, menyiratkan kalau ia tidak berguna.
Tidak lama kemudian, Qin yan perlahan berjalan kearahnya. Membantunya berdiri, sebelum ia berterima kasih. Qin yan sudah memegang bahunya.
"Siapa namamu?" Tanya Qin yan.
"Jung kyun." Jawab Jung kyun singkat. Ia menunduk dengan malu, bersiap siap menerima penghinaan. Ternyata diluar dugaan, Qin yan malah tersenyum sambil menepuk nepuk bahunya.
"Kau membuatku cukup terkesan. Selamat, kau memenuhi kualifikasi."
Jawaban Qin yan membuat mata Jung kyun terbelalak. Ia menatap Qin yan tak percaya.
"Apa!" Bahkan murid murid sekte disana sampai tercengang mendengar itu.
"Kenapa kau menayapku begitu. Cepatlah kau gabung dengan yang lain." Suruh Qin yan, dengan senang hati Jung kyun langsung membungkuk.
"Te-terima kasih." Kemudian ia pun pergi bergabung bersama Lin fin dan lainnya. Dia disambut dengan hangat disana, berkenalan dan diajak berbicara.
__ADS_1
Qin yan pun menatap kearah murid sekte disana. Masih ada lima orang. Lima orang itu akan memperebutkan posisi dua kandidat tersisa. Siapa yang akan mendapatkan posisi itu.