
Pagi hari...
Matahari terbit menusuk mata lewat jendela. Tapi Qin yan sama sekali tidak ada keinginan untuk bangun sedikit pun. Akhirnya, sejak semalam Qin yan dapat tidur nyenyak dengan nyaman.
"Tok tok"
"Pangeran, yang mulia memanggil anda untuk sarapan." Terdengar suara pelayan memanggil dibalik pintu.
"Mmmm..." Tapi Qin yan hanya kembali meringkuk dengan malas. Sampai akhirnya, ayahnya sendirilah yang datang menjenguknya.
"Qian yu, bangunlah, sudah waktunya kita sarapan." Yang membuat Qin yan terbangun bukanlah panggilannya, melainkan aura yang mencekam membuat matanya langsung terbuka.
"Krieek" Qin yan pun membuka pintu, menggosok gosok matanya didepan ayahnya yang sudah bersih serta berpakaian lengkap.
"Ukh... Jika aku tahu harus bangun sepagi ini. Aku tak mau menjadi pangeran, ternyata menjadi pangeran itu begitu merepotkan." Qin yan menghela napas tak berdaya.
"Sudah sudah, pergilah mandi. Kami akan menunggumu di meja makan. Nanti para pelayan ini yang akan mengantarmu." Ayahnya pun menepuk nepuk bahu Qin yan. Kemudian pergi meninggalkannya.
Akhirnya, beberapa menit kemudian. Qin yan pun keluar menuju meja makan. Pakaian milik adiknya Qian yu begitu merepotkan dan sebenarnya tadi terjadi beberapa perdebatan kecil antara pelayan dan dirinya. Sampai akhirnya Qin yan memutuskan untuk memakai pakaiannya sendiri. Hiasan hiasan memenuhi leher dan tubuhnya. Pakaian yang hanya menggunakan kain panjang menggulung tangan kirinya, lalu disatu bahu kanannya terdapat armor pelindung berbentuk kepala naga emas yang terbuka. Padahal armor milik Qian yu berbentuk seperti phoenix. Namun Qin yan tidak mempermasalahkannya, walaupun ia sendiri sedang dipandang aneh oleh keluarga istana lain yang sedang ikut makan.
Ketika Qin yan duduk pun, mereka belum berhenti menatapnya. Diantara mereka semua, Qin yan menghitung ada 8 anggota keluarga. Disamping ayahnya ada dua wanita paruh baya, tampaknya mereka berdua adalah istrinya. Entah Qin yan tidak tau apakah mereka istri pertama atau kedua. Memikirkan itu, membuat wajah Qin yan menjadi gelap. Ia hanya makan dengan diam dan tak banyak bicara.
"Yang mulia, aku tidak mengert. Mengapa ada kursi kosong disamping Qian yu?" Tanya wanita disamping kanan ayahnya. Dia adalah Huyan Xing lu, istri kedua raja. Anaknya ada disamping Qin yan, dia adalah anak yang melirik Qian yu dengan penuh kebencian kemarin. Namanya Qian san. Awalnya ia dan anak ini duduk bersebelahan. Hanya saja, sekarang terpisah oleh kursi yang kosong. Dimana itu sebenarnya kursi milik Qian yu. Dan istri ketiganya mempunyai seorang putri seumuran dengan Yue er, namanya Qian qian.
"Entahlah, aku hanya ingin kursi itu ada disitu. Nanti akan ada pemiliknya juga." Raja tersenyum seri, membuat semuanya penasaran dengan apa yang terjadi.
"Wah, sepertinya suasana hati yang mulia sekarang sedang bagus. Biar kutebak, pasti ini karena sembuhnya pangeran Qian yu bukan?" Penasehat raja, yang duduk didepan Qin yan mulai menggoda raja.
"Ekhem ekhem" Raja hanya terbatuk dengan senyuman lalu melanjutkan makannya dengan penuh rasa bahagia.
'Apa ini, apa yang membuat raja begitu senang hari ini.' Batin istri kedua raja dengan alis merajut. Lalu melirik Qin yan yang makan dengan lahap, ia pun menunjukan senyum palsunya.
"Wah, tampaknya kondisi Qian yu sudah membaik yah. Dia tampaknya makan banyak hari ini."
__ADS_1
Qin yan yang tengah makan, kini meliriknya. Ia tahu dibalik senyum itu, terdapat kebencian luar biasa. Tapi ia hanya mengabaikannya, lalu berfokus pada makanan dimeja.
'Dia megabaikanku?' Diam diam tangan wanita itu terkepal, biasanya Qian yu tidak pernah seperti ini. Ia adalah anak yang penurut, dengan semua tekanan yang ia berikan. Tapi, hari ini. Dia benar benar berani, makanya sebentar ia harus memberinya pelajaran.
Ditengah Qin yan sedang makan, tatapan yang sama juga ditujukan oleh adik tirinya, Qian san. Qin yan hendak mengambil mengambil lauk tambahan karena lauknya sudah habis. Namun dihalangi olehnya secara halus.
"Wah, tampaknya kakak memang sudah sembuh. Seharusnya tidak memakan makanan seperti ini." Ia menggesek lauk itu hingga tanpa sadar menjatuhkannya kelantai.
Wajah Qin yan berubah serius, sementara wajah adiknya tidak berubah. Ia hanya marah karena lauk itu menodai kain kakinya.
"Pelayan." Panggil raja dengan pelan, melihat kejadian itu sebenarnya ia tidak senang. Namun, untuk apa dia marah jika pasokan makanan ada begitu banyak didapur.
"Coba bersihkan itu." Tunjuk sang raja ketika pelayannya datang.
"Cepatlah! Aku tak ingin makanan bau itu menodai pakaianku." Qian san tampak marah tanpa alasan, bahkan jika pelayannya bergerak cepat, Ia tetap marah. Ia juga hendak menyalahkan Qin yan atas apa yang terjadi. Namun Qin yan terlebih dahulu menghentikan tindakan pelayan yang sedang membersihkan kainnya.
"Hei apa maksudmu? Ini semua gara gara kau, dan sekarang kau mau noda ini menempel dikainku?" Berkata dirinya dengan marah. Sementara penasehat, dan ibunya hanya tertawa lucu diam diam, mengatakan kalau kinerja Qian san memang bagus. Namun bagaimana pun dimata raja, tingkah Qian san adalah hal yang salah, jadi sebelum raja menegurnya. Mereka harus menegurnya terlebih dahulu. Tentunya dengan nada yang lembut.
"Qian san, kau tidak perlu menyalahkan kakakmu. Bukankah kau yang......"
"Apa maksudmu?" Tanya Qian san tak percaya, matanya membesar menunjukan perlawanan pada Qin yan.
"Sudah kubilang. Makan makanan yang telah kau jatuhkan itu. Kau tidak pernah merasakan apa itu kelaparan. Dan ibuku pernah berkata, kita tidak boleh membuang buang makanan. Karna kau tidak tau seberapa susahnya kita mendapatkan makanan itu." Tatapan Qin yan juga langsung membesar, menunjukan tekanannya pada Qian san.
Semuanya langsung terkejut, Qian yu membawa nama ibunya dalam masalah ini. Namun jika mereka ingat, hanya ada satu orang yang selalu berkata seperti itu. Yaitu ibu Qian san, setiap kali Qian yu menjatuhkan makanan. Maka ia akan menyuruhnya untuk memakannya dengan alasan yang sama dikatakan Qin yan. Meskipun hal itu sebenarnya ditunjukan agar Qian yu menyadari posisinya di istana ini.
Ia selalu menekan Qian yu dengan cara yang halus, karna disini. Orang yang memakan makanan kotor yang jatuh dilantai, diandaikan seperti pengemis. Begitulah Qian yu, tapi sekarang malah berbalik pada anaknya sendiri, Qian san.
"Hei, jangan bawa bawa nama ibu disini. Karna semua orang tahu kalau ibumu adalah pela...." Tiba tiba perkataan Qian san berhenti saat sebuah pisau hampir mencapai matanya. Pupilnya mengecil menatap pisau itu, dan perlahan melirik Qin yan yang matanya juga memerah. Namun ada raja yang menghentikannya, jika tidak raja yang memegang Qin yan, tidak ada yang tau apa yang terjadi. Apakah Qin yan nekat atau tidak membunuh Qian san.
Semua orang juga berdiri, apalagi ekspresi ibunya Qian san. Wajahnya begitu jelek, melihat putranya hampir terluka.
"Raja, ini sudah keterlaluan. Kakak macam apa yang ingin membunuh adiknya sendiri." Ibu Qian san langsung membanting meja.
__ADS_1
"Xing lu, mohon diam dulu sebentar." Raja berusaha menghentikan Qin yan yang dari tadi masih belum menyerah untuk melukai Qian san.
"Qian yu! Sudah hentikan, tahan kemarahanmu." Terdapat ekspresi khawatir diwajah ayahnya. Dia tahu, anak didepannya tidak main main jika ingin membunuh Qian san. Jadi ia juga berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan Qin yan.
Untungnya Qin yan dapat mengontrol emosinya, ia menghela napas pelan kemudian berhenti menyerang.
"Apa apaan kau Qian yu! Kau berani melukai adikmu didepan kami! Apa kau..." Ibu Qian san ingin melanjutkan perkataannya, namun ia malah mendapat tatapan membunuh dari Qin yan. Tatapan yang membuat dirinya jadi merinding.
"Ka-kau... Kau berani menatap ibu yang telah membesarkanmu sejak kecil.? Dimana sopan santunmu Qian yu!" Ibu Qian san bertambah marah sat ditatap seperti itu oleh Qin yan.
"Kau mengajariku untuk menghormatimu? Tapi kenapa tidak mengajari anakmu untuk menghormati ibuku." Jawab Qin yan dengan cetus, perkataannya bahkan seperti petir yang menggelegar ditelinga mereka.
"Ka-kau....."
"Xing lu, diamlah dulu sebentar." Raja pun menghentikan perdebatan mereka.
"Ya-yang mulia, anda... tapi dia sudah..." Air mata palsu pun mengalir diwajah wanita itu. Ia hendak bertingkah, namun raja mengangkat tangan untuk mengisyaratkan agar dia tetap diam.
"Sudah cukup, Xing lu!. Dan kau Qian san! Mulai sekarang mulai sekarang belajarlah untuk menghormati ibu Qian yu. Karna bagaimana pun juga, ia adalah ibu tirimu." Ucap sang raja dengan tegas.
Qian san hendak membentak, mengatakan kalau ibu Qin yan tidak ada, jadi tidak sepantasnya dihormati disini. Tapi, tatapan membunuh Qin yan membuatnya ketakutan seribu bahasa. Sebuah tatapan yang bahkan lebih kuat dari ayahnya, ibunya, ataupun pamannya. Tatapan nyata dari seorang pembunuh.
Tanpa berkata apapun, Qian san pun pergi meninggalkan ruang makan tersebut. Diikuti dengan ibunya, serta sang penasehat yang ternyata adalah pamannya.
"Tampaknya aku membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri diistana ini." Qin yan juga pergi meninggalkan mereka, menyisahkan raja, istri ketiga serta adik perempuannya diruangan itu.
"Qian yu..." Raja pun ingin mengejarnya namun ditahan oleh istri ketiganya.
"Biarkan dia merilekskan pikirannya dulu yang mulia." Berkata perdana menteri dengan sopan, hingga ayah Qin yan tidak jadi mengejarnya.
********
Fiuh... Akhirnya terupdet juga. Semoga dapat menghibur para pembaca yang budiman, jangan lupa like, dan votenya yah. Silahkan komen banyak banyak.
__ADS_1