
"Kenapa berhenti?" Wanita yang mendampingi Qin yan kini langsung berbicara. Ketika melihatnya tiba tiba berhenti.
Setelah dilihat lihat, sikap wanita ini begitu berbeda saat berada didepan ayahnya. Dia tegas dan tenang, tapi sekarang. Dia nampak imut dan cantik. Kelakuannya juga seperti kekanak kanakan.
"Hei, kenapa bengong begitu hah. Sepertinya pangeran sudah dewasa yah." Satu tangan wanita itu langsung melingkari leher Qin yan, dan membawa Qin yan kedalam dekapannya. Sehingga wajah Qin yan berbenturan dengan gunung lembut milik wanita itu.
'Mmhh.. tampaknya Qian yu cukup dekat dengan wanita ini.' Qin yan tersenyum mesum, ia bahkan sampai menggeleng gelengkan kepalanya berulang kali dalam kuncian wanita itu. Berpura pura meronta, padahal berusaha merasakan apa yang ada didekatnya.
'Dua tahun, jadi pengangguran. Ah... aku bersemangat sekali.' Qin yan bahkan tidak berpikir lagi apa yang ada di perjalanan. Pikirannya sudah dipenuhi kemesuman.
'Tunggu! Gawat!' Qin yan tiba tiba teringat, ada satu hal yang membuatnya khawatir.
'Sialan, aku lupa nama wanita ini. Aduh, ayah juga menyebutkan namanya disaat aku lengah.' Qin yan berubah menjadi lemas, sampai akhirnya wanita itu juga menyadarinya.
"Eh, apa kau baik baik saja pangeran Qian yu?." Wanita itu juga ikut khawatir melihat wajah Qin yan yang tampak murung, apakah gunung lembutnya tidak cukup.
Disaat itulah Qin yan mendapat kesempatan dan langsung melepaskan dekapan itu.
"Ah... Kau memanfaatkan kesempatan ini yah untuk lepas dariku. Dasar Qian yu licik, padahal selama ini kau suka begitu katamu." Ucapnya dengan cemberut.
'Apa! Sejak kapan aku berbicara begitu. Dasar Qian yu, baj*ngan! Dia pintar juga bermain dengan wanita cantik.' Wajah Qin yan agak aneh saat mendengarnya.
"Ehehehe... kakak, aku ada urusan sebentar. Kakak boleh tunggu aku disini." Qin yan menggaruk kepalanya tambahan sebagai alasan.
'Tenang Qin yan, tenang... Kau pasti bisa menahannya, dua tahun bukan waktu yang lama bukan. Kau harus berhati hati, dia ini dekat dengan Qian yu. Jangan coba memutuskan tali mereka. Dia itu adikmu, tapi setidaknya kau akan berpura pura menjadi pacar yang baik hehehe...' Qin yan tersenyum mesum sekali lagi, namun perkataannya tidak main main. Ia memang mempunyai sedikit urusan.
Setelah berpikir cukup lama, wanita itu akhirnya mengijinkan Qin yan untuk pergi.
"Baiklah, jangan lama lama. Aku akan menunggumu disini." Ucap wanita itu sambil melipat tangannya didada.
"Terimah kasih." Qin yan pun berlari dengan cepat, meninggalkan wanita itu yang tengah menatapnya pergi.
"Huh, ada yang salah dengan pangeran hari ini. Sikapnya begitu berbeda saat pertemuan terakhir kali." Gumamnya, kemudian berbalik menunggu. Setelah apa yang Qian yu tunjukan pagi ini benar benar membuatnya tidak habis pikir, separah apa kemarahan Qian yu sampai sampai berkata seperti itu pada ibunya. Namun, lebih dari itu, ia tidak memikirkannya lebih jauh.
Kembali ke situasi Qin yan, saat ini ia sedang mencari tempat sepi untuk membuka dimensi gate. Sepanjang waktu ini, dimensi gate dipegang oleh tiga orang. Yakni Qin yan, kyubi dan kyuki yang sudah berubah menjadi manusia. Jadi, walaupun dimensi gatenya tidak ia buka, tapi dua orang lainnya bisa membukanya sesuka hati mereka.
Didalam, tanpa banyak bicara, ia langsung menarik Xing yun keluar. Namun sebelumnya mereka sudah membicarakan ini baik baik. Xing yun selalu terbuka untuk membantu Qin yan, dan Zhang yuisha juga menginjinkan hal itu.
"Jadi, Qin yan. Apa kau benar benar akan pergi memburu inti roh api itu?" Yao chen, datang kedepan Qin yan.
"Yah, perburuan kali ini Xing yun sangat dibutuhkan. Karena elemen cahayanya dapat mengatasi kekuatan klan medusa." Jawab Qin yan dengan tenang.
"Tenanglah saudaraku. Kapanpun kau membutuhkan bantuanku. Aku selalu ada untukmu." Xin yun datang setelah mengambil kembali tombak berliannya, ia sengaja memperlambat waktunya agar dapat mempertajam ujung tombaknya sebelum melakukan perburuan ini.
"Ayo pergi." Ucap Qin yan lalu meninggalkan mereka diikuti dengan Xiang yun dibelakangnya.
__ADS_1
Tempat sepi dimana Qin yan memasuki dimensi gatenya terakhir kali, sekarang tempat itu dipenuhi banyak orang. Dan ternyata disana sudah dipenuhi anak anak nakal yang sedang mengejar seorang gadis.
"Ja-jangan sentuh aku~~ Tolong..." Gadis itu menangis ketika mencapai jalan buntu, sekitar lima orang pria dewasa yang mengejarnya. Ditambah lagi mereka tampaknya mempunyai niat jahat pada gadis itu.
"Oohoho... Tidak perlu kau berteriak seperti itu. Tidak akan ada yang mendengarmu hehehe.." Tertawa mereka berlima sambil menjilat lidah. Sekarang gadis itu tidak akan bisa lari lagi. Bagaikan mangsa yang memang akan dinikmati.
Sementara sang gadis terus terusan mundur, ia ingin lari tapi tak ada jalan. Ingin melawan tapi kekuatan mereka terlalu kuat. Dalam hatinya ia selalu berdoa agar ada orang yang mau menolongnya.
"Bos, silahkan duluan." Keempat pria itu menyuruh pria yang paling besar, berotot dan berwajah seram. Tentu, tanpa ragu pun ia juga akan langsung menikmati gadis ini.
Namun sebelum melakukan itu, udara pun pecah. Dimensi hitam terbuka ditengah tengah mereka. Jelas, hal itu membuat mereka kaget. Fenomena yang mereka lihat saat ini jauh diluar akal sehat mereka.
'Apa ini? apa yang terjadi?' Mereka mulai mundur dengan waspada, melihat sebuah kaki keluar dari dalam celah hitam itu. Diikuti anggota tubuh lainnya hingga sesosok manusia keluar dari sana.
"Wao, sepertinya kita salah mendarat, Qin...." Belum sempat Xing yun menyelesaikan perkataannya, Qin yan sudah membungkam bibirnya.
'Jangan menyebut namaku disini.' Bisiknya ditelinga Xing yun. Pria itu hanya merespon dengan mengganggukan wajahnya, baru Qin yan bisa melepaskannya.
"Ayo kita pergi." Ajak Qin yan kembali, lalu melewati mereka.
"Tunggu." Namun pria yang paling berotot tidak memberi mereka jalan.
"Aku tahu siapa kau, bukankah kau pangeran Qian yu? Pangeran yang cacat itu? Hahahaha....." Mereka tertawa layaknya sedang menghina sampah, tapi mereka tidak tau. Orang yang mereka hina hanya menatap mereka dengan dingin.
Kemudian Qin yan berbalik pada gadis yang sedang terduduk dibelakangnya. Dia cukup cantik, ada ekspresi berharap diwajahnya.
Hanya saja, belum lagi bertindak. Bocah bodoh itu malah menyombongkan dirinya didepan cewek, seolah olah dia seperti pembawa keadilan.
"Hei, bed*bah bed*bah sialan. Berani beraninya kalian menyakiti seorang gadis." Ia membusungkan dada kedepan, mengangkat wajahnya dengan angkuh, serta tatapan tajam matanya seperti pembunuh.
"Kalian akan berurusan deng..."
"Pluk" Belum lagi ia menyelesaikan perkataannya, Qin yan sudah memukul kepalanya.
"Tidak perlu banyak mengocehlah, kita tidak punya banyak waktu lagi."
Mendengar perkataan Qin yan, Xing yun sedikit tersenyum.
"Maaf, aku akan membereskan mereka." Ucap Xing yun dengan tegas.
Mendengar itu pun, Qin yan lekas keluar melewati kelima pria itu. Namun sekali lagi, jalanannya terhalangi oleh mereka.
"Hei pengecut, mau kemana kau. Kau mau lari hah? Astaga, dimana harga dirimu sebagai pengeran." Pria yang paling berotot menunjuk dahi Qin yan dengan telunjuknya. Menunjukan ekspresi jijik pada Qin yan, mengabaikan wajah Qin yan yang menghitam serta tatapannya yang seperti pembunuh.
"Cepat menyingkir dari jalanku Baj*ngan." Ucap Qin yan dengan dingin.
"Heeeh...? Bedebah ini, berani juga dia yah mengusirku. Hei, sialan. Jangan mentang mentang ini wilayahmu. Kau bisa seenaknya, kami tak takut dengan ayahmu. Memangnya bisa apa dia, hahaha...."
__ADS_1
"Bukh" Disaat ia sedang tertawa terbahak bahak, tangan Qin yan sudah mencapai hidungnya.
"Krak" Sebagian wajahnya langsung retak, Pria itu terpental kedinding lain, dan langsung pingsan ditempat. Tentu, keempat anak buahnya langsung ketakutan. Namun belum sempat mereka melangkah, tentu tidak bisa lepas dari genggaman Qin yan.
"Bukh. Bukh. Bukh. Bukh."
Beberapa saat kemudian...
"Haaah... Menggangu sekali." Qin yan berjalan keluar, merentangkan jari jarinya yang kaku. Dibelakangnya, gadis yang tadi terduduk, kini menatap punggung Qin yan dengan mata yang besar. Bagimana tidak, Keempat pria sisanya mendarat ditempat masing masing, ada yang diatas atap, ditempat sampah, ada juga yang tergantung. Bahkan sampai dalam keadaan menyedihkan. Dalam waktu setengah menit, Qin yan mengatasi mereka semua.
"Hei, kau seharusnya memberikan kesempatan itu padaku T_T." Xing yun tak terima ketika Qin yan mengambil kesempatannya untuk menyombongkan diri didepan seorang gadis.
"Bukankah kau sudah mempunyai Zhang yuisha, kau tidak perlu lagi kan mencari perhatian cewek. Kalau tidak, aku bisa melaporkanmu nanti."
Perkataan Qin yan membuat Xing yun tak bisa berkata apa apa. Ia hanya berjalan dengan malas tanpa ada gairah.
"Pangeran. Kenapa lama sekali?." Wanita yang mendampingi Qin yan tetap menunggu ditempat yang sama. Tanpa berpindah sedikit pun, tapi diwajahnya menandakan kalau ia sudah bosan menunggu. Bahkan melihat wajah Qin yan saja, ingin sekali ia menonjoknya.
"Pangeran?" Xing yun memandangi Qin yan tak percaya, berbalik pada wanita itu kemudian kembali memandangi Qin yan.
"Hei, kau itu pangeran?" Tanya Xing yun memastikan.
"Ya. Namaku Qian yu." Qin yan tetap berjalan mengabaikannya, meskipun ia sudah tahu reaksi orang itu. Apalagi kalau dipandang pun, Qin yan jadi malas. Xing yun memandang Qin yan dengan tatapan berbinar.
"Astaga, kau ini tidak pernah bilang kalau kau adalah pangeran." Xing yun tertawa dengan senang sambil menepuk bahu Qin yan.
"Pangeran dia siapa?" Tanya wanita itu.
"Hai perkenalkan namaku Xing yun. Aku teman dekatnya Qian yu." Xing yun tersenyum mengulurkan tangannya.
Namun wanita itu tidak menanggapi, ia tetap memandangi Qin yan untuk mengonfirmasi.
"Itu benar, dia temanku. Dia mempunyai elemen cahaya. Jadi aku membawanya." Jawab Qin yan dengan singkat.
"Oh, jadi begitu. Maafkan aku atas ketidak sopananku tadi. Namaku Jia ya, salam kenal." Wanita itu menjabat tangan Xingyun.
Mata Qin yan terbuka, ternyata perkenalan Xing yun sedikit mempermudah masalahnya. Setelah Qin yan memeriksanya lebih lanjut, ternyata Jia ya ini juga mempunyai elemen cahaya. Berada ditingkat Elder sama seperti Xing yun.
'Baguslah, ini sempurna.' Qin yan mengangguk puas.
"Ayo kita pergi."
********
Oke sluur, jujur, ini adalah chapter yang paling membuatku pusing saat menyusunnya. Tapi, akhirnya selesai juga. Terimah kasih karena telah membaca, silahkan like, komen dan vote yah. Biar author tidak bosa bosan mengupdetnya.😊😊😊
__ADS_1