
Esok hari.....
Pagi hari, tepat sebelum fajar menyising daratan. Qin yan beserta dua pedampingnya, Jin kei dan Xing yun. Kini bersiap siap untuk melakukan perjalanan. Ayahnya sendiri datang untuk mengantarnya pada saat Qin yan berada di tenda pembangunan.
Jauh dari ekspresi tenang diwajah ayahnya, sebenarnya ia sangat menghawatirkan kondisi Qin yan. Bagaimana tidak, anak itu baru sadar satu hari dan sekarang ingin bepergian lagi. Hanya saja, ia tidak bisa menghentikan apa yang menjadi keinginan putranya ini.
"Sebentar lagi matahari akan terbit, lebih baik kalian pergi sebelum mata mata menemukan kalian." Seperti biasa ayahnya pun memberinya sebuah bekal yang sama. Yang penting bukan sebuah makanan, namun sebuah item yang nanti akan berguna diperjalanan Qin yan nanti.
"Tenang saja, tidak ada mata mata yang akan menemukan kami." Senyum Qin yan dengan licik, tadi malam ia sudah mempersiapkan semuanya. Sekitar dua ratus prajurit bayangannya, Qin yan alihkan untuk menjaga kerajaan ini. Termasuk penasehat, Qian san, Huyan Xing lu, dan orang orang lain yang patut untuk diawasi.
Qin yan tidak akan menghawatirkan apapun lagi sekarang bahkan setelah ia pergi.
Lebih cepat dari dugaannya, rupanya suku Maori cukup cepat dalam hal membangun sesuatu. Lihat saja, sekitar ribuan hektar saja mereka sudah berhasil membuat fondasi. Tidak tau kapan ini akan selesai, tapi Qin yan mendapati sebuah janji dari Mao Jin, ketua suku Maori. Dia bilang, pembangunan sekte ini akan lebih cepat dari waktu seminggu. Sebenarnya Qin yan tidak terlalu memikirkan itu dan ia takkan pernah memikirkannya. Baginya satu atau dua bulan itu sudah membuatnya cukup senang. Jadi ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Yao chen, aku serahkan permasalahan disini padamu. Kuharap kau bersedia menanganinya." Qin yan memegang bahu Yao chen, menatapnya penuh harap.
"Hei, jangan menatapku begitu bocah. Kau cuma pergi beberapa hari kenapa pakai perpisahan seperti ini." Jawab Yao chen dengan kasar, selama ini untuk berbicara dengan Qin yan sampai saat ini. Ia tidak pernah berbicara dengan sopan atau hangat, ia akan selalu memperlakukan Qin yan seperti anak kecil. Tentu saja setiap kali mereka bertemu pasti akan ada perdebatan. Namun kali ini Qin yan tidak ingin berdebat dengannya, karena ia harus pergi sekarang juga.
"Baiklah, rubah tua. Lebih baik kau jangan berbicara seperti itu padaku ketika aku kembali nanti." Qin yan pun pergi meninggalkan mereka, jauh dan tidak berpaling sedikit pun dibelakang. Padahal para prajuritnya memberinya salam hormat yang begitu tulus.
Pagi sampai sore, Qin yan beserta dua pengikutnya menghabiskan waktu untuk mencari dimana lokasi bangsa Medusa berada.
"Sial, katanya ada disekitar sini. Tapi kenapa hanya ada padang pasir disini?" Xing yun hanya bisa terbaring lelah dipunggung kudanya. Memang benar, sepanjang hari mereka mencari lokasi itu dan tidak sedikit pun menemukannya.
"Qin yan, sepertinya lokasi itu memang tidak ada." Alis Jin kei juga berkerut dibuatnya.
"Itu tidak mungkin. Lihatlah peta ini, meskipun dunia nyata terlihat hampa, tapi disini menunjukan kalau ini adalah lokasinya." Qin yan juga dibuat pusing oleh peta itu, ia juga mulai lelah mencari keberadaan lokasi tempat persembunyian manusia ular tersebut.
__ADS_1
"Sial, tidak menunjukan pentunjuk apapun yah. Hanya lokasi saja." Tangan Qin yan menggenggam erat kertas ditangannya. Tiba tiba matanya membesar saat salah satu prajurit bayangan berbisik padanya. Prajurit bayangan itu mengatakan kalau ia pernah melihat sekumpulan klan Medusa yang berdiri diatas pasir namun tiba tiba menghilang.
'Jangan jangan.....' Sebuah kecurigaan muncul dipikirannya. Namun yang bisa membuktikan semua ini hanyalah Z.
'Z, bisakah kau aktifkan mode mata Pemindai?'
..."Baik tuan."...
Sesuai apa yang diinginkan Qin yan, dunia pun terlihat seperti pararel pemindai dimata Qin yan. Semuanya keterangan tentang sesuatu yang harus diinformasikan terpapar di mata anak itu. Dari kiri sampai kekanan, Qin yan terus memeriksa wilayah disekitarnya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah petunjuk aneh.
"Ikuti aku." Ucap Qin yan kemudian pergi menuji ketempat tersebut. Ia juga menyuruh Jin kei dan Xing yun untuk menggalinya petunjuk itu. Dan ternyata, seperti apa yang dicurigai Qin yan. Rupanya klan Medusa keluar masuk memakai formasi dimensi penghubung dunia lain.
"Hah, aku tidak menyangka kalau klan Medusa ini tinggal didunia pararel?" Gumam Jin kei tidak percaya.
Tanpa basa basi, Qin yan pun memeriksa pola prasasti di lingkaran formasi tersebut.
"Ini adalah formasi rasio gugus bintang." Setelah ia meneliti formasi tersebut, Qin yan pun mengerti. Dua belas hewan yang terpapar dalam bentuk pola membuatnya mengerti, membutuhkan sebuah pengetahuan tentang bintang untuk meneliti ini. Sayangnya, pengetahuan Qin yan tentang bintang tidak terlalu dalam.
"Tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, anjing, monyet, babi, ayam." Beberapa menit Qin yan berpikir mengenai 12 pola hewan tersebut yang ada didalam lingkaran formasi. Ditengahnya juga terdapat gugus bingtang yang tidak beraturan.
Memikirkan tentang klan Medusa, Qin yan mulai mencocokan mereka dengan rashio ular. Karna mereka memang dikelompokan dalam suku ras tersebut. Ketika ia sedang memilih bentuk itu, Jin kei datang memegang bahunya.
"Hati hati, formasi ini berkaitan antara dua nasib. Jika kau salah memilih rasio bisa saja itu membawa kita pada kematian."
Tangan Qin yan jadi terhenti mendengarnya, matanya membesar dengan ngeri. Rupanya formasi rasio yang ia dengar bukan hanya sekedar kebohongan. Ia sendiri saja sulit untuk memecahkannya.
"Heeeh.. Dasar ratu Medusa sialan." Qin yan membatalkan pilihannya, ia lebih memilih merebahkan diri dipasir terlebih dahulu. Menutup mata saat angin padang pasir menerpa wajahnya. Bayangan tentang sosok wanita cantik namun bertubuh ular itu terbayangan dikepalanya. Sampai akhirnya ia ingat satu hal, dileher wanita itu terdapat beberapa titik titik yang membentuk rashio Ular.
"Benar saja, kalau tidak dicoba bagaimana kita tau." Qin yan kembali berjongkok, kemudian memilih rashio tersebut, rashio ular. Dan ternyata, tantangan ujiannya bukanlah di tempat memilih rashio. Melainkan mengatur gugus bintang yang berserahkan ditengahnya.
__ADS_1
'Sialan.' Tangan Qin yan jadi gemetar, Xing yun dan Jing kei ikut menjadi tegang. Jika ini gagal bukan berarti mereka akan mati, tapi Jin kei sebenarnya bisa menyelamatkan mereka. Hanya saja sebagai gantinya, ia akan tertidur selama ratusan tahun.
Formasi gugus bintang rashio juga bukan formasi biasa. Formasi ini merupakan formasi yang sering dipakai oleh para dewa. Tidak tau dewa mana yang menggunakannya, yang penting formasi disini hanyalah sebagian kecil dari formasi aslinya. Kalau formasi asli ditampilkan, maka semuanya akan mencakup seluruh galaxi dilangit.
Qin yan menutup mata, mengingat saat bersama ratu medusa. Ia berusaha mengingat rashio ular yang ada dileher manusia ular itu. Bersamaan dengan ingatannya, Qin yan juga mengotak atik tangannya ketengah formasi tersebut. Semakin lama pola semakin terbentuk, akhirnya bersinar karena telah sempurna.
Dari pola yang bersinar, diikuti dengan pola disekitarnya. Hingga mencakup seluruh formasi dan akhirnya menyelimuti mereka bertiga. Angin berhembus kencang, pasir pun jadi bertebaran. Xing yun dan Jin kei menyaksikan itu dengan tenang, kedua mengangguk bersamaan. Setelah itu mereka semua ditelan oleh cahaya tersebut.
Didunia lain...
Aula kediaman klan Medusa, tiga tetua ular yang sedang bersemedi sebuah altar ruangan kini membuka mata tiba tiba. Ditengah tengah tempat tinggal desa mereka, gerbang spasial tempat keluar masuknya para manusia ular itu jadi bersinar terang. Bahkan penjaga gerbang yang biasanya bekerja sebagai perantara pembuka spasial, kini terkejut dengan gerbang spasial yang tiba tiba terbuka.
"Bagaimana bisa! Siapa yang memblokir formasi bintang ini?" Penjaga gerbang itu langsung panik dibuatnya. Ia pun menarik pedangnya yang cukup besar, kunci membuka gerbang tersebut. Ia berniat mengunci formasi itu kembali. Namun, ia tak bisa apa apa.
Tiga tetua yang tadi bersemedi kini mendatangi formasi spasial tersebut. Raut wajah khawatir terpaut diwajah mereka.
"Hei, bukankah ratu sudah bilang. Kita tidak boleh membuka gerbang disaat ratu sedang memulihkan diri." Marah para tetua pada manusia ular si penjaga gerbang.
"Ma-maaf tetua, ta-tapi aku tidak melakukannya. Formasinya tiba tiba bersinar." Penjaga itu langsung berlutut dan memohon, ia mengatakannya dengan bersungguh sungguh.
"Jadi kau pikir siapa lagi yang bisa melakukannya." Tunjuk salah satu tetua dengan marah, ia ingin menghardik penjaga itu. Namun satu tetua lagi menghentikannya. Memegang bahunya sambil mengatakan.
"Dia memang tidak melakukannya. Kau lihat saja pedangnya, bukankah itu tidak tertancap?"
Mata tetua itu langsung membesar, memang benar pedangnya tidak tertancap ditengah formasi. Untuk membuka formasi itu dibutuhkan sebuah kunci, dan kuncinya adalah pedang berashio ular ditangan pria itu. Pedang itu akan ditancapkan ditengah formasi untuk membuka gerbangnya. Namun kali ini formasinya hanya menyala dengan sendirinya.
"Itu tidak mungkin kan?" Ucap tetua itu tak percaya.
"Jika ada orang yang bisa membukanya, itu berarti kawasan kita ini sedang dalam bahaya besar. Selama ratu Medusa sedang memulihkan diri, kita harus melindungi warga dengan baik." Ucap tetua yang ketiga dengan tegas.
__ADS_1