
Setelah berteriak, Weisi langsung berhenti tiba tiba. Mulutnya tetap terbuka akibat tidak mempunyai suara yang tersisa. Perlahan, ia pun kehilangan kesadaran. Dan akhirnya terjatuh tak berdaya.
'Apakah..... Ini akhirnya? Aku tak bisa apa apa yah.' Senyumnya sebelum tumbang.
"Bruk" Ia pun terjatuh, namun bukan lagi di diatas padang pasir. Melainkan dihutan dekat permukiman warga.
10 tahun didunia segel, hanya menghabiskan satu hari didunia nyata. Setelah pingsan sepanjang hari, tiba tiba ada seorang anak kecil berumur 7 tahunan tengah melintasi hutan karena berburu kelinci.
Dengan dilengkapi busur kayu dan beberapa anak panah dipunggungnya, anak itu berjalan kehutan tanpa adanya penghalang.
"Aku minta maaf jika mengganggu ketentraman kalian, tolong ijinkan aku mencari makanan disini. Aku hanya ingin hidup dan menghidupi keluargaku." Pertama tama, anak itu berdoa terlebih dahulu ketika memasuki hutan. Apa yang dilakukan, disaksikan oleh para hewan yang tengah melintas. Mereka bersikap selayaknya hewan biasa, namun sebenarnya mereka adalah penjaga hutan ini. Hewan yang dirasuki oleh prajurit bayangan Qin yan.
Perlahan anak itu memasuki hutan diam diam, tiba tiba ia melihat seekor kelinci melintas. Tanpa membuang waktu, ia pun memanah kelinci tersebut. Namun kelinci itu menghindar, hingga anak itu berusaha mengejarnya.
Pada akhirnya kelinci itu berhasil ia dapatkan, dengan anak panahnya yang mengenai kelinci itu. Namun ia tidak menyangka, kalau kelinci itu akan membawanya bertemu dengan seseorang yang pingsan dipinggir hutan.
"Astaga! Apa yang terjadi dengannya?" Dengan cepat anak itu menggendong Weisi yang tengah tak sadarkan diri. Bersama sama membawa kelincinya pulang untuk disantap bersama.
Sesaat ketika kelinci itu mati, sebuah asap hitam pun keluar dari tubuh kelinci. Tanpa diketahui anak itu, asap tersebut berpindah dan memasuki bayangan pohon. Namun tidak ada tanda tanda yang salah pada si anak atau kelinci, anak itu hanya pulang dengan riang. Kelinci tangannya adalah makanan sehat yang tidak ternodai apapun.
Perbatasan bagian Timur...
"Sial, apa sebenarnya terjadi?" Berkata pemimpin suku Darkdemon Snake. Ia berhasil keluar hidup hidup dari segel penjaga yang membawanya kedunia segel. Dari banyaknya pasukan yang ia bawa untuk menyerang kerajaan Sunmoon. Hanya beberapa saja yang berhasil selamat, namun keadaan mereka begitu memprihatinkan dan tidak terkonsalisasikan lagi. Pemimpin mereka saja dibuat bingung karena hal itu.
"Jadi tetua, apa yang harus kita lakukan sekarang." Berkata ratu Darkdemon snake dengan putus asa. Tubuhnya sudah kurus dan wajahnya tirus, ia benar benar tidak menyangka kalau dia benar benar tidak bisa menembus kerajaan itu malah dikeluarkan dengan sengaja.
"Kita pulang saja dulu, yang terpenting sekarang adalah keselamatan kalian. Telur telur yang juga kita erami pasti sudah menetas, kita harus merawat mereka. Siapa yang tahu, suatu saat nanti mereka akan membalaskan dendam kita." Tetua katak itu pun hanya menggelengkan kepala dengan lemas, ia pun lembali berjalan menjauhi kerajaan Sunmoon tanpa adanya semangat sedikit pun. Yang lain juga mengikutinya, mereka lebih memilih pulang dari pada merasakan dunia yang kejam itu lagi.
Bagian barat...
Dua orang pria berkudung hijau, memasuki jalan masuk kerajaan. Saat kedua penjaga menyapa mereka, pria yang paling depan menyerahkan sebuah token undangan. Dan pada akhirnya mereka dibiarkan masuk.
Kedua pria itu membuka identitas mereka, ketika sudah berada berada dipertengahan jalan. Wuang Sheng dan Dou wei, kedua pria itu tersenyum licik saat mereka masuk. Banyak sekali para penjaga yang berkeliaran untuk memeriksa kondisi, namun mereka tidak khawatir akan itu. Mereka hanya pergi tanpa banyak bicara menuju kedalam kota.
Sebuah cincin kuning selalu bersinar ditangan mereka, keduanya hanya tersenyum lebar melihat itu. Didalam cincin itu, ratusan prajurit tingkat ahli ada didalamnya. Hanya cukup bertahan satu jam, setelah itu mereka akan dikeluarkan. Menyusun rencana untuk mengejutkan musuh mereka.
Namun apa yang mereka lakukan tidak lepas dari mata mata yang terus mengawasi dibalik bayangan pohon.
'Sial, mengapa aku merasa seperti diawasi?' Batin Dou wei tak enak. Namun ia hanya merasa itu cuma perasaannya saja karena ia tidak melihat kecurigaan apapun disekitarnya.
"Master, kenapa kita bersembunyi?" Bertanya Qing zhu kepada Chu yue chan disamping, master sekte Menara es suci.
"Sstt.... Diamlah dulu." Energi pelindung yang menutupi aura mereka akhirnya menghilang. Mereka pun keluar dari semak semak. Ketika mereka hendak memasuki pintu masuk, tiba tiba ia merasakan aura yang familiar. Yah, aura dari sekte racun itu sudah seperti kotoran baginya. Tapi yang membuatnya tak mengerti mengapa mereka juga pergi kesini.
"Jangan jangan!" Pikiran Yuechen tentang hal ini tidaklah baik. 10 tahun yang lalu ia ingat betul. Kerajaan kecil ini hampir digulung waktu itu. Dan sekarang mungkin itu akan terjadi lagi. Sepertinya beberapa hal yang tak dinginkan akan terjadi lagi. Dan dia tidak akan diam akan hal ini. Walaupun ia agak tak suka mencampuri urusan orang lain. Namun memikirkan Qin yin, lalu anak itu. Ia sadar rupanya ia sudah terlanjur masuk terlalu dalam.
"Ayo masuk." Berkata Yuechan dengan raut wajah serius. Ia pun berjalan masuk kedalam.
Awalnya ia sedikit bingung, saat para penjaga meminta token undangan. Namun, ia malah memperlihatkan sebuah segel pola prasasti yang diberikan Qin yan, bahkan membuat semua prajurit yang mengawasinya jadi mengijinkan mereka masuk.
Saat memasuki kota, mereka agak terkejut saat pemandangan kota yang terlihat berbeda dimata mereka. Hiasan hiasan jalanan digantung diatas jalan menghiasi seluruh jalan kota. Lentera lampion merah yang mewarnai seluruh hiasan tersebut. Tentunya ini sudah menandakan kalau hari ini adalah hari yang istimewa.
"Tampaknya, kota ini agak berbeda dari beberapa tahun lalu." Berkata Yuechan sambil tersenyum.
"Huh." Lalu tiba tiba tatapan mereka tertuju pada remaja yang berseragam akademi, mereka berjalan menuju pasar dan membeli sesuatu. Tampak begitu harmonis, tanpa adanya ketakutan dan kekhawatiran.
'Apa yang akan mereka lakukan jika tau kerajaan ini akan dihancurkan.' Batin Yuechan dengan iba. Ia kasihan dengan para penduduk kerajaan ini yang tampak damai.
"Ayo." Ajak Yuechan lagi kepada Qing zhu, mereka pun berkeliling untuk memanjakan mata. Tapi sebenarnya mereka tengah mencari sekte istana Niwan yang pernah dikatakan Qin yan.
"Apa kau melihatnya?" Tanya Yuechen kepada Qing zhu yang terbang berkeliling diatas langit, dari tadi keduanya berkeliling mencari bangunan tersebut.
"Tidak." Qing zhu menggeleng pelan, alisnya berkerut melihat ekspresi masternya yang nampak kesal. Serasa mereka berdua telah ditipu oleh Qin yan. Namun Yuechen tak percaya anak itu menipunya, dari raut wajahnya saat itu dan saat dua tahun lalu. Ekspresi wajahnya itu tidak pernah main main.
"Sial, sepertinya sia sia kita datang kesini." Berkata Yuechan dengan ekspresi menyesal. Ia hendak berbalik namun Qing zhu menghentikannya.
"Tapi master, aku mendapati akademi yang sepertinya baru dibangun baru baru ini."
Perkataan Qing zhu tidak menarik perhatiannya, namun Yuechan cukup penasaran. Murid remaja yang ia lihat tadi seharusnya belum ada dikerajaan ini. Dan akademi itu sepertinya memang baru dibangun baru baru ini.
"Mari kita lihat." Ia pun pergi mengecek akademi tersebut. Dan matanya agak membesar melihat struktur bangunan akademi itu.
"I-ini...." Struktur akademi yang belum pernah ia lihat sebelumnya, membuatnya kagum dengan pembangunan akan bangunan ini. Yah, dengan adanya lapangan luas. lalu dua wilayah akademi yang berbeda. Wilayah luar dan wilayah dalam. Yuechan berpikir, bukan orang biasa yang membangun akademi ini. Biasanya akademi hanya terdiri dari kelas, asrama, lapangan, dan kantor para guru. Tapi ini, lebih dari perkiraanya.
"Apa ini yang namanya sektenya?" Pikirnya.
__ADS_1
Dari atas langit ia bisa melihat jelas, namun disaat bersamaan ada juga yang mengawasi mereka.
"Oh, apa yang membuat sekte Menara es suci tertarik datang kesini?" Aura sekte Darkdemon tiba tiba tercium dibelakang, wanita berjubah hitam disertai dengan empat orang laki laki dibelakangnya. Membuat Yuechan berbalik dengan panik. Matanya membesar melihat mereka berlima.
'Sudah kuduga, apa Qin yan merencanakan semua ini?' Batin Yuechan sambil menggertakan gigi.
"Kalian sendiri datang kesini untuk apa?" Balas Yuechan dengan dingin.
"Oooohh.... Harusnya kalian sudah tahu, bukankah hari ini adalah hari pernikahan pangeran dikerajaan ini?"
"Hah!" Perkataan mereka membuat mata Yuechan dan Qing zhu membesar. Tidak menyangka kalau datangnya mereka berpaspasan dengan hari istimewa. Apakah ini kebetulan atau direncanakan, ia bingung akan hal itu. Namun satu hal yang harus ia perhatikan, sekte racun, sekte Darkdemon, mereka kesini pasti bukan hanya menghadiri upacara pernikahan tersebut.
"Kalian pasti tidak hanya menghadiri pernikahan itu bukan?" Tanya Yuechan dengan mata menyipit. Wanita didepannya hanya tersenyum sambil menjilat bibirnya.
"Kau tau betulkan? Sepuluh tahun lalu kami gagal karena adanya dirimu, tapi sekarang kau jangan harap itu akan terjadi. Jika kau ikut campir dalam hal ini, maka sekte kami tidak punya cara lain selain bertindak. Apa kau mau terjadi kontroversi antara dua sekte?"
Perkataan wanita itu, membuat Yuechan mengepalkan tangan. Ia menatap wanita itu dengan tajam.
"Dari dulu kalian memang bertindak sesuka hati." Ucapnya dengan geram. Tapi wanita malah tertawa.
"Fufufu... Master sekte Menara es suci, memangnya apa urusanmu jika kami melakukan itu. Uruslah kebiasaan kalian sendiri sebelum mengurus kebiasaan kami." Cincin Emas dalam diri wanita itu bangkit, namun mata Yuechan teap tenang melihat itu.
'Huh, tingkat awal kaisar. Dia mau menggertakku?' Senyum sinis terpancar diwajah Yuechan, ia hendak mengaktifkan cincinnya lagi. Namun melihat mereka tersenyum licik, ia berpikir kalau mereka pasti punya rencana. Dan benar saja, tatapan keempat pria itu mengarah pada Qing zhu kesamping. Membuatnya lebih waspada. Sekte Darkdemon memang tidak tau malu, mereka bahkan menargetkan kultivator yang tidak sebanding dengan mereka demi menekannya nanti.
'Sial.' Yuechan berkeringat memikirkan itu, namun ia tidak pernah menyangka kalau Qing zhu sendiri mengambil inisiatif untuk melawan mereka. Gadis itu tidak mempunyai rasa takut sedikit pun, cincin abu abu bangkit didalam tubuhnya membuat mata sekte Darkdemon jadi membesar.
"Wah wah, tampaknya muridmu jauh lebih semangat." Senyum wanita itu. Melirik Qing zhu yang jauh lebih cantik darinya membuatnya sangat kesal. Ia ingin sekali merobek robek wajah gadis itu agar dia puas.
Dari bawah sana, Qin yan selalu memperhatikan kedua belah pihak tersebut. Ia kesal mengapa mereka membuat keributan disaat pernikahannya hampir dimulai.
"Astaga, apakah mereka akan bertarung? Mengganggu sekali." Berkata Qin yan dengan tak senang melihat mereka. Jika kedua belah pihak tersebut bertarung bisa jadi rencananya bisa hancur.
"Bunyikan gongnya!" Suruh Qin yan pada dua pria berotot yang berdiri didepan gong raksasa. Kedua pria itu langsung memukul gong tersebut hingga berdengung keseluruh kota.
"DIIIIIIIIIIIING......" Pukulan pertama membuat mereka terhenti, aktivitas seluruh kota juga ikut berhenti.
"DIIIIIIIIIIIING....." Pukulan kedua membuat semua orang berkumpul kehalaman istana.
"Sepertinya sudah waktunya kami pergi Yuechan." Senyun wanita dari sekte Darkdemon tersebut, ia pun menghilang dan menuju kearah halaman istana.
Melihat mereka yang pergi, Yuechan juga menarik tangan Qing zhu mereka pun juga menuju kearah halaman istana.
Tapi ketika Wuang sheng menyentuh itu, ia langsung kaget seperti tersengat listrik. Yah, dia merasakan segel pola dalam tiket tersebut membuatnya berkeringat. Dou wei ingin mengambilnya namun ia menghentikan tangannya. Mereka pun hanya pergi melewati kedua gadis yang tersenyum palsu tersebut.
Begitu pula dengan mereka berdua, Tang liu dan Xiang xiang juga merasa ada yang salah dengan kedua pria yang lewat. Mereka berdua pun mengangguk sembari tersenyum licik dan kembali membagikan tiket.
"Wahai saudara saudara sekalian, pernahkan kalian dengar apa itu yang namanya jimat pelindung. Yah, benar, bagi kalian yang berada disini. Kalian benar benar beruntung bisa melihat jimat ini secara langsung. Lihatlah.." Jin kei, ia menyamar menjadi pemuda biasa yang tengah berdagang jimat. Namun ketampanan yang ia miliki bahkan lebih menarik para gadis gadis jelita daripada jimatnya. Tidak sedikit pula para ibu muda yang datang membawa anak mereka untuk melihat jimat tersebut.
"Lihatlah, jika kalian memakai ini, kalian akan terhindar dari energi energi jahat yang akan membahayakan kalian." Jin kei pun memasangkan kalung tersebut pada seorang anak. Kalung itu bersinar disaksikan oleh semua orang.
"Waah....!!!" Sorakan kagum mereka menarik perhatian banyak orang dipesta tersebut.
"Baiklah baiklah, untuk percobaan pertama akan kuberi gratis. Siapa yang mau!!!" Teriak Jin kei dengan keras seolah olah ia memang sedang serius. Padahal jimatnya memang gratis dibagikan. Namun, orang orang yang merespon juga tidak kalah dari apa yang ia promosikan.
"Cih, dia hebat juga. Kebohongannya untuk merayu mereka mengambil jimat tersebut lumayan berguna." Berkata Yao chen ketika melihat itu. Pria tampan sirambut hitam panjang itu menyamar menjadi seorang musisi yang duduk dipojokan dengan sitar ditangannya.
"Kau iri kah?" Senyum Qin yan dibalik topengnya. Ia tertawa lucu saat melihat Yao chen yang tak senang dengan pencapaian Jin kei. Kedua besst ini, meskipun tampilan mereka terlihat begitu tua. Namun yang namanya bersaing tidak pernah berakhir. Qin yan, dia kali ini akan menjadi pendeta untuk pernikahan adiknya ini. Semuanya sudah bersiap, para pasukannya tengah bersembunyi dibalik bayangan. Sementara yang lain juga bersembunyi dengan menggunakan kertas pola kamuflase. Dan sisanya juga menyamar diantara para tamu undangan ini.
"Tch, kau pikir aku iri dengannya. Kau belum melihat kemampuanku dalam hal bermain sitar." Yao chen pun mulai memainkan sitarnya, melodi serta irama yang indah terdengar ditelinga orang. Menenangkan hati, apalagi bagi mereka para wanita. Bahkan Yuechan saja sampai luluh mendengar nada tersebut.
'Melodi yang indah.' Batin wanita yang berasal dari sekte Darkdemon, ia pun menatap Yao chen disana. Pria itu kelihatan tampak biasa saja, namun kemahirannya dalam memainkan sitar membuatnya sangat tertarik. Lirikannya pun juga disadari Yao chen, pria itu ketika melihat wanita tersebut yang tersenyum menggoda kearahnya. Ia juga tak tanggung tanggung, bahkan membalas senyuman tersebut.
'Pria yang menarik.' Batin wanita dengan penuh kejutan.
"Nak, aku melihat takdirmu." Berkata Elfes dengan tatapan malas. Ia menyamar menjadi pria tua yang duduk dijalanan. Dengan dupa ashen yang tengah dinyalakan didepannya. Anak yang ia panggil membuatnya terhenti, ia menatap Elfes dengan penuh ingin tahu.
"Tunjukan keningmu. Aku bisa merasakan nasib buruk yang akan menimpa dirimu."
Sesuai dengan apa yang dikatakan Elfes, anak itu pun mendekat. Elfes menjentikan jarinya kekeining anak itu.
"Hm... Kau mempunyai keberuntungan yang selalu mengikutimu. Tunggu dulu, apa ini?" Elfes pun mengambil rumput ilalang yang sudah dilapisi cairan khusus lalu dipukulkan dengan pelan keanak itu.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Berkata ibunya dengan marah, membawa anaknya mundur menjauh.
"Tenanglah, aku hanya mengusir roh jahat yang mengikutinya." Elfes hanya menatap mereka dengan tenang. Perkataannya sebenarnya bukanlah kebohongan. Namun ibu tersebut tidak percaya hingga membawa anaknya menjauh dan pergi.
__ADS_1
"Membosankan, mengapa tuan memperkerjakan aku seperti ini." Gerutu Elfes dengan kesal. Ia pun melirik seseorang yang mendekatinya.
Yah, Weisi yang penuh luka menatap pria itu dengan tatapan lesuh. Ia berjalan jalan kesini ditemani anak kecil yang menolongnya kemarin. Melihat penampilan elfes yang bersih namun sama seperti pengemis lainnya. Membuat Weisi menggelengkan kepala dengan kasihan.
"Orang tua yang malang." Ucapnya sambil memasukan beberapa koin emas dimangkuk kosongnya. Padahal mangkuk itu akan digunakan untuk tempat menyimpan dupa ashen. Tapi anak itu hanya menaruh koinnya sembarangan. Dan kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
Elfes yang melihat itu, hanya diam tak bergerak. Ingin sekali ia memberontak karena tak tahan menjalani penyamaran ini.
Yuisha yang melihat itu hanya menghela napas dengan lega.
"Untungnya aku menolak rencana anak itu yang menjadikanku sebagai penari." Tatap Yuisha dengan tajam kepada pria bertopeng yang berdiri disana. Beberapa jam yang lalu ia mengingat kalau anak itu memintanya untuk menjadi penari. Yah, kalau masalah kecantikan, ia tidak akan kalah dengan para penari penari lain. Namun pekerjaan itu terlalu memalukan baginya, memamerkan keindahan tubuhnya didepan para penonton. Siapa juga yang mau melakukannya.
'Dimana Xing yun?' Matanya pun melirik kesana sini, mencari Xing yun. Saat ini pria itu tengah bercakap cakap dengan Lin fin yang tengah menonton pertunjukan penari yang menari disana. Wajah mereka berdua menunjukan kemesuman.
"Ah.... Tampaknya anak itu bertemu dengan orang yang sama dengannya yah." Ucap Qin yan melipat tangannya didada saat melihat itu. Melihat dua anak itu yang menikmati minuman anggur disana. Sambil berkeliling merayu gadis cantik.
"Hahaha... Master anda cukup memperhatikan teman temanmu juga. Oh, dimana istri anda. Aku tidak melihatnya dimana pun." Mao jin hanya menengok kesana sini, mencari keberadaan Medusa. Perkataannya barusan seperti paku yang menusuk telinga Qin yan. Ia ingin membantah, namun tidak bisa melakukannya. Ia harus bersikap tenang didepan para hadirin yang begitu ramai ini. Karena dialah yang akan menjadi penentu hari yang begitu menegangkan ini.
Ia pun menghela napas kemudian menjawab.
"Dia.... saat ini sedang tidak enak badan." Ucapnya dengan pelan. Membuat Mao jin sendiri jadi kaget.
"Tingkat Kaisar bisa juga tidak enak badan?" Tanyanya dengan heran.
"Yah, aku tidak yakin juga. Tapi tadi aku mendengarnya, dia mual mual ditoilet."
"Ooh.." Perkataan itu makin membuat Mao jin jadi tertegun. Wanita berotot tersebut lalu menatap Qin yan dengan jahil, serasa tahu apa yang terjadi. Padahal Qin yan sendiri tidak tau apa sedang yang ia pikirkan.
"Mari mari." Para bangsawan bangsawan yang hadir, menikmati minuman mereka. Berpas pasan dengan meja para bangsawan lain. Sementara meja yang paling atas diduduki oleh tiga raja dari kerajaan berbeda. Raja Sunmoon, raja Dandun, dan raja Geritimo.
"Wah wah, Qian ji. Beberapa hari terakhir ini kudengar kau juga mengadakan perayaan akademimu. Kami waktu itu minta maaf, karena tidak sempat hadir." Berkata raja Dandun dengan penuh penyesalan.
"Oh, Hahaha... Tidak perlu dipikirkan, aku tidak mau mengganggu acara bahagia ini karena permintaan maaf kalian. Mari minum minum." Berkata raja Sunmoon dengan raut wajah senang. Menepuk nepuk punggung mereka sambil menawarkan minuman. Ia berusaha mengeluarkan senyumnya untuk menutupi ketakutannya hari ini. Hari ini, sesuai dengan apa yang diperkirakan Qin yan. Kemungkinan pemandangan yang tak dinginkan mungkin akan terjadi.
"Hahaha... Raja memang ramah, terimah kasih terima kasih." Mereka pun menerima minuman tersebut lalu meminumnya dengan senang hati.
"Woah... luar biasa, anggurnya lumayan enak. Kau benar benar luar biasa raja. Hahaha..."
"Hahaha.. Yah, tentu. Anggur ini kami ambil dari perkebunan istimewa kami. Kami keluarkan hanya untuk hari ini." Tertawa raja Sunmoon, raja Geritimo pun menuju kearah gadis yang tengah berdiri disana.
"Qian ji, lihatlah. Dia adalah putriku, kurasa dia cocok dengan putra anda." Berkata raja Geritimo sambil merangkul raja Sunmoon. Raja Dandun juga menunjuk kearah seorang pangeran yang tengah berbincang disana.
"Itu adalah putraku, dia lumayan tampan kan? Mungkin ia bisa berteman sedikit dengan putri anda."
Senyum mereka, ketika kedua raja tersebut memanggil masing masing putra putri mereka. Kedua anak raja tersebut jadi membungkuk didepan raja Sunmoon. Sebagai gantinya, raja Sunmoon memanggil Qian san untuk datang menghibur mereka.
Qin yan melirik kearah para raja yang tengah bersenda gurau disana. Ekspresi serius diwajahnya, tidak ada yang bisa melihat itu. Ia kemudian memberi kode pada kedua pria penjaga lonceng.
"Bunyikan." Seketika penjaga lonceng tersebut mengangguk, ia pun menggerakan loncengnya hingga berbunyi keras. Semua orang terdiam mendengar itu, para penari yang menari jadi berhenti. Keadaan pun menjadi hening.
Dentingkan lonceng diikuti dengan bunyi pukulan gong. Semua orang menghadap kearah depan.
'Apa apaan upacara ini.' Batin para sekte Darkdemon dengan heran.
Weisi juga berbalik, alisnya berkerut menatap apa yang akan terjadi.
"Pengantin pria akan memasuki upacara pernikahan!"
Semua pun berbalik kearah pintu istana setelah mendengar teriakan tersebut. Qian yu yang sudah berpakaian rapi, keluar dari sana ditemani beberapa pengantar.
"Waaah! Tampan sekali." Semua orang berseteru kagum ketika melihatnya. Tapi tidak dengan Weisi, matanya membesar melihat itu. Tentu, ia tahu siapa yang ada didepan sana.
Tanpa banyak bicara, Weisi pun berlari kedalam halaman. Namun tepat dipintu masuk, Xiang xiang datang menghentikannya.
"Le..." Weisi hendak menghempaskan tangannya, namun saat melihat wajah Xiang xiang. Barulah matanya lebih kaget.
"X-xiang xiang!!" Berkata dirinya terbata bata. Wajah gadis itu tetap diam dan tenang, menarik tangan Weisi agar tidak bertindak ceroboh.
"Hei hei, apa yang....."
"Sstt....!" Weisi hendak berteriak lagi, namun dengan cepat Xiang xiang menutup mulutnya. Semua perhatian orang tertuju pada Weisi namun mereka kembali memperhatikan pengantin karena menganggap Weisi hanyalah berandalan yang hanya ingin merusak suasana.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Akhirnya Weisi berbicara dengan suara pelan.
"Lihat saja nanti." Jawab Xiang xiang, menyuruhnya agar tetap tenang.
__ADS_1
Tang liu disamping yang melihat itu hanya memutar bola matanya.
'Bahkan gadis datar seperti dirinya juga mempunyai pasangan yang sempurna.' Ia pun menghela napas. Entah kenapa hatinya sangat sakit melihat Qian yu menikah, apalagi melihat Qin yan yang tengah bertopeng disana. Ia lebih sakit lagi.