LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Menantang presiden


__ADS_3

Diskusi antara dua orang telah dimulai. Rencana jahat akan menunggu Qin Yan kedepannya.


*******


Qin Yan dibawa masuk sampai ke sebuah ruangan. Tertulis Ruang khusus presiden di atas papan nama. Pelayan yang mengantar Qin Yan, hanya berhenti sampai didepan pintu. Selanjutnya, ia pun menunduk, mengisyaratkan agar Qin Yan masuk kedalam.


Didalam, sudah ada lima tetua yang duduk. Dengan dua tambahan, nenek tua dan presiden cantik.


Qin Yan membungkuk hormat didepan mereka. Karena ini memang sudah seharusnya.


"Salam tetua, salam presiden."


Mereka semua mengangguk, dan terlihat nenek tua itu yang memimpin. Ia menyuruh Qin Yan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.


Jika dilihat lihat, ini seperti seseorang yang sedang mengalami persidangan. Dan Qin Yan seperti orang yang tengah di interogasi.


"Pertama tama, aku ingin memperkenalkan diri. Namaku Sai Hwang. Aku adalah Alkhemis tingkat Sembilan." ucap nenek itu dengan nada angkuh.


Qin Yan akhirnya mengerti, ternyata nenek tua ini adalah legenda dalam dunia Alkhemis. Namanya sudah banyak ia dengar, hanya saja ia belum pernah melihat tampang orangnya. Berbeda dengan Duan tianlang yang pernah berkunjung ke ibukota Busur surgawi dikehidupan sebelumnya. Jadi, walaupun cuma melihatnya sekali, setidaknya Qin Yan bisa mengingatnya.


Melihat Qin Yan yang mengangguk, nenek itu menyipitkan mata. Reaksi Qin yan sedikit berbeda dengan apa yang ia harapkan.


Ia kira, Qin Yan akan seperti orang pada umumnya. Ketika mereka mendengar nama legenda, mereka akan terbelalak kaget. Setelah itu, bersujud hormat sambil berkata: "Sungguh kehormatan bisa dipanggil olehmu."


Sesaat nenek itu merasa risih dengan khayalannya sendiri. Namun pada akhirnya ia hanya menghela napas. Meskipun sedikit kesal, namun sifatnya masih tenang layaknya orang seusianya.


"Baiklah, pertama tama. Perkenalkan dirimu?" Tanyanya lagi.


"Aku Yan yan." Jawab Qin Yan singkat.


"Yan Yan, yah. Aku ingin bertanya padamu, Yan Yan. Jawab pertanyaanku, jelaskan bagaimana kau bisa mengetahui kunci kompetisi ini. Dan kenapa kau membuang jamur Lava merah di awal pengulingan?" Nenek itu bertanya dengan sangat serius, dengan kedua tangan menopang dagunya, matanya menyala dan menajam, menatap lurus kearah sepasang mata tenang milik Qin Yan dibalik topeng.


"Itu sederhana, Jamur lava merah adalah bahan obat yang mempunyai kandungan panas yang tinggi. Mengolahnya membutuhkan teknik khusus, bukan hanya itu. Jika ingin mengolah bahan ini menjadi pil, maka dibutuhkan bahan yang tepat. Bahan yang serasi dan dapat digabungkan agar tidak mengacaukan penyulingan dan yang paling penting. Jika sembarang meracik pil, maka pil itu sendiri akan berubah menjadi racun. Seperti halnya Getah dari pohon Silver Es emprees. Mempunyai kandungan zat dingin yang tinggi. Disaat bersamaan, ia juga sebuah racun.


Jika dimakan mentah mentah, maka akan mengakibatkan organ dalam membeku termasuk hati dan jantung yang perlahan lahan akan membusuk. Namun dengan adanya bunga anggrek ungu empedu ular, yang mempunyai zat perbandingan nol. Bunga tersebut bisa menetralkan racun didalamnya dan disaat bersamaan menjadi obat baru untuk menyembuhkan penyakit jantung ungu beku. Namun, jika hanya kedua bahan ini. Dosisnya terlalu kuat bagi tubuh manusia, makanya ditambah dengan bahan bahan lain. Sementara Lava merah, bisa dilihat dari sifat dan suhunya, kedua bahan ini tidak cocok. Setiap kali menyuling akan meledak, mereka mempunyai sifat yang saling bertolak belakang. Bukan seperti yin dan yang yang saling melengkapi, tapi kedua zat ini memang pada dasarnya tak bisa bersatu. Selain itu, jika berhasil menyatukan mereka. Maka hasilnya adalah racun, bukan obat."


Semua orang terdiam mendengar penjelasan Qin Yan. Bukan hanya sekedar penjelasan, tapi ia bahkan memperkenalkan dan memperdalam setiap fungsi dari bahan bahan tersebut. Begitu lugas dan detail, bahkan presiden cantik disana sampai membuka mulut sedikit dengan penuh kekaguman. Sementara sang nenek hanya bisa diam.


Namun, hal ini memberikan kesadaran baru dari sang nenek. Ia pun menutup mata sejenak lalu membukanya lagi.


"Siapa kau sebenarnya? Dan kau berada ditingkat berapa?" Tanyanya lagi.


Pandangan Qin Yan tetap tenang. Ia pun menjawab.


"Seingatku, beberapa saat yang lalu anda memanggilku, master. Dan untuk dimana tingkat Alkhemis ku berada......" Qin Yan membuka sarung tangan hitam yang menutupi tangan kanannya. Meskipun sudah dua tahun berlalu, namun lambang penanda di punggung tangan, buatan tetua akhemis kerajaan Dandun tidak sekali pun hilang. Seingatnya dulu, terakhir kali. Ia bertaruh dengan murid yang ada disana, dan mendapatkan gelar Alkhemis master tertinggi dari usia seumuran anak anak lain.


Baru setelah sarung tangan itu terlepas, semua orang bisa melihat lambang itu. Mereka langsung ternganga, mata mereka langsung terbelalak. Dan sang nenek berdiri dengan membanting tangannya kemeja, wajahnya sangat marah.


"Berani beraninya kau mempermainkan kami!!" Teriaknya dengan marah, aura tingkat Kaisarnya menekan keberadaan Qin Yan.


Tekanan itu lumayan berat, kaki Qin Yan bahkan sampai masuk kedalam lantai. Tapi, meskipun begitu. Qin Yan sama sekali tidak ingin berlutut, bahkan walaupun kakinya patah sekali pun. Ia tidak mempunyai alasan untuk berlutut.

__ADS_1


Nenek yang melihat itu, hanya mengerutkan kening. Dan dengan penuh amarah, ia semakin memperkuat tekanannya.


Semakin kuat, semakin kaki Qin Yan masuk kedalam lantai. Terdengar suara retakan ditulang kakinya, namun anehnya tidak ada tangisan rasa sakit dari anak itu. Hal itu menyebabkan nenek sendiri jadi keheranan.


"Senior, sudah cukup kan. Bukankah anda terlalu terbawa emosi?" Tetua tetua lain mulai menenangkannya. Namun nenek itu tetap tidak ingin berhenti. Sampai akhirnya presiden asosiasi memegangi tangannya sembari menggelengkan barulah ia kembali tenang.


"Bukankah kita harus menguji kebenaran dari anak ini? Jika dia memang berbohong, maka kita bisa menghukumnya."


Nenek tersebut sepertinya setuju dengan pendapat itu. Ia pun melepaskan tekanannya. Kemudian kembali duduk.


"Baiklah, kau benar Bi Li. Kita harus menguji anak ini, apakah dia memang Alkhemis tingkat tujuh atau bukan." Tatapnya dengan serius, tetua disamping sampai gemetar melihat tatapannya itu.


Qin Yan bangkit lantai yang dalam, ia kemudian menyembuhkan kaki yang tadi terdengar patah. Mendengar keputusan mereka, Qin Yan hanya tersenyum tipis dengan wajah kelicikannya dibalik topeng


"Bagaimana kalau begini saja. Aku akan bertanding dengan presiden asosiasi ini. Jika aku kalah, aku bisa bergabung dengan asosiasi ini. Tapi, jika aku menang. Dia harus aku bawa."


"Apa!!!" Para tetua langsung berdiri kembali.


"Apa kau ingin mati hah?"


"Benar benar kurang ajar!! Sepertinya anak ini minta dihajar!!"


Mereka langsung melemparkan kemarahan mereka begitu mendengarnya. Sementara sang nenek, dari waktu ke waktu wajahnya semakin dingin.


"Nak, apa kau tidak tau. Dengan siapa kau berbicara."


"Tentu saja, aku tahu. Aku sangat sadar akan hal itu. Wahai sang legenda alkhemis, aku ingin menantang muridmu untuk berkompetisi penyulingan denganku. Dengan persyaratan yang sudah ada, apakah anda bersedia menjadi saksi kami?" Qin Yan menangkupkan tangannya dengan penuh segala hormat. Membuat nenek itu tertegun sejenak, siapa anak ini? Dan kenapa dia seberani ini?


Nenek itu pun menoleh ke arah muridnya yang cantik, sang presiden asosiasi Alkhemis ini.


Akhirnya, nenek itu pun juga menghela napas.


"Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu. Aku ingin kau memperjelas, apa arti dari membawa presiden kami?" Tanya nenek itu dengan tatapan menusuk.


"Yah, anggap saja dia akan menjadi wanitaku." Jawab Qin Yan santai. Hal itu membuat tubuh presiden cantik tersebut jadi tambah gemetar. Ia tidak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya. Para pria akan selalu mengejarnya, karena keanggunan dan kecantikan yang ia miliki. Mereka selalu memuja dia bagaikan sang Dewi, tidak ada yang berani memperlakukannya buruk karena dia adalah murid dari sang legenda. Jenius yang baru baru ingin mencapai tingkat Sage, dan disaat bersamaan berhasil naik tingkat tujuh dari posisi Alkhemis di umur yang baru 30 tahun.


Hal itu, semakin membuat orang orang mengangguminya. Bahkan sampai membuat para lelaki jadi kehilangan kepercayaan diri mereka untuk meminangnya. Karena pencapaian yang ia miliki, tidak ada satu pun pria yang bisa memenuhi standarnya selama ini. Setidaknya, untuk generasi yang sama dengannya.


Tapi sekarang, seorang bocah yang umur nya sekitar 17 tahun bahkan berani mengatakan hal seperti itu padanya. Tidak perlu dikatakan, ini seperti sebuah penghinaan untuknya. Ia harus membuat bocah ini sadar dimana tempatnya. Sekalian membuat bocah ini tidak pernah lagi melakukan hal kurang ajar seperti itu. Beberapa saat yang lalu, mungkin ia tertarik pada anak ini. Tapi sekarang, melihat tampangnya saja sudah membuatnya jijik.


"Baiklah, aku setuju." Ucapnya tegas. Para tetua tidak bisa apa apa dengan keputusannya.


Setelah itu, mereka bubar. Mempersiapkan ujian penyulingan. Tempatnya bukan disini, tapi aula yang mana hanya mereka saja yang menyaksikan kompetisi itu.


Presiden cantik itu berjalan melewati Qin Yan. Ketika mereka sudah saling membelakangi. Barulah wanita itu berbicara.


"Aku akan membunuhmu!" Ucapnya dengan dingin disertai kebencian yang mendalam. Setelah itu, ia pergi dengan penuh keangkuhan.


Tepat mereka keluar, tiga orang gadis memasuki pintu. Dia adalah Zue er, Ling er, dan zun er. sepertinya mereka sedang mencari seseorang.


"Senior Bi Li, dimana master?" tanya Zun er dengan wajahnya yang manis.

__ADS_1


Presiden cantik itu hanya tersenyum ramah, ia kemudian menjawab mereka.


"Saat ini, Master sedang sibuk. Dia mungkin tidak akan bisa diganggu untuk sementara waktu."


"Oh, jadi begitu." Gadis itu pun mengangguk. Matanya tidak sengaja melihat Qin Yan dibelakang.


"Eh, jadi dia belum pulang? Kakak, apa karena dia, master jadi sibuk?" Tanyanya lagi dengan polos. Presiden cantik itu menoleh ke Qin Yan, setelah itu ia mengangguk dengan kesal.


"Oh, jadi begitu." Gadis itu pun mengangguk, tanpa diduga ia maju menuju Qin yan.


"Z-zun er, kau mau kemana?" Zue er dan Ling er hanya saling berpandangan. Mereka bingung dengan apa yang akan dilakukan adik mereka.


Setelah sampai dihadapan Qin Yan, gadis itu menatap wajah Qin Yan dengan mata menyipit.


"Hei! Bertarung lah denganku."


Qin Yan langsung terdiam. Ia heran mengapa hari ini begitu banyak masalah yang menimpanya. Apalagi, gadis tampaknya sulit untuk dihindari.


"Nona, bukankah Sai Hwang adalah mastermu?" Tanya Qin Yan dengan pelan.


"Ya, memang kenapa?" Wajah gadis itu semakin imut ketika berbicara, apalagi matanya yang indah dan manis. Qin Yan sampai tak bisa mengalihkan pandangannya. Gadis ini cukup menyusahkan jika dia berurusan dengan kaki laki rupanya. Tapi, Qin Yan sudah memutuskan. Ia harus pergi, ia tak mau membuang buang waktu dengan gadis ini.


"Oh, jadi begitu yah. Maaf, sepertinya aku harus pergi. gurumu memanggilku, aku takut dia akan marah." Tanpa menunggu tanggapan gadis itu, Qin Yan buru buru meninggalkan mereka. Apapun yang mereka pikirkan, Qin Yan tidak perduli. Ia sepatutnya harus menghindari mereka.


"Ada apa dengan dia?" Berkata Ling er dengan bingung ketika menyaksikan kepergian Qin Yan. Sementara Zun er menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Sial, pria itu menggunakan guru sebagai alasan agar ia dapat melarikan diri." Geram Zun er. Disisi lain, Zue er malah merenung.


"Aneh, aku rasa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya."


"Hah?" Zun er dan dua lainnya jadi terkejut.


"Kalian pernah bertemu dimana?" Tanya Zun er lagi.


"Entahlah, aku tidak ingat." Zue er berpikir sejenak, namun pada akhirnya hanya menggeleng.


"Huff..... Andai aku bisa membuka wajahnya, akan ku tonjok dia. Sepertinya dia punya wajah yang menyebalkan." Ucap Zun er, ia kemudian pergi diikuti dengan dua kakaknya. Dan Bi Li, dia hanya diam melihat kepergian mereka. Setelah itu pun, ia berbalik kearah berlawanan. Arah dimana Qin Yan pergi. Ia pun menyusul anak itu.


********


Akhirnya, Qin yan pun sampai ke tempat yang sudah ditunjukan. Sebelumnya ia meminta pelayan untuk mengantarnya. Dan ia akhirnya sampai dimana ada panggung yang cukup luas. Terdapat sebuah meja, dimana ada kompor api di dalamnya.


Qin Yan pun memeriksa sekitar, terlihat empat orang tetua dan sang nenek sudah duduk di tempat mereka. Wajah mereka tampak tidak senang, mereka memandangi Qin Yan bagaikan menatap musuh.


Tapi Qin tidak menghiraukan itu, ia hanya berjalan menuju salah satu panggung. Menunggu lawannya datang.


Tidak menunggu waktu lama, Bi Li pun datang. Mereka saling berhadapan. tepatnya, meja mereka yang memang saling berhadapan.


"Bocah, kau sudah terlambat untuk mundur. Jangan salahkan kami jika kau menyesalinya nanti." Tatap Bi Li dengan tajam.


Qin Yan hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Hm. Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menyesal." Qin Yan menjawab penuh percaya diri, membuat wanita itu semakin kesal dengan tingkahnya. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat sembari menahan emosinya. Anak ini benar benar menjengkelkan.


Hari ini, tanpa persiapan, tanpa direncanakan. Kompetisi antar dua orang Alkhemis tingkat 7 dimulai. Pihak asosiasi telah menyediakan bahan untuk keperluan wanita itu. Tapi, untuk Qin Yan. Dia harus menggunakan bahannya sendiri.


__ADS_2