LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Bertanggung jawab


__ADS_3

"Tes tes tes" Setitik demi setitik air menetes dilantai yang bergenang air. Ruangan itu gelap dan sunyi, hening, hingga suara tetesan air pun terdengar memenuhi ruangan tersebut.



Qin yan terbaring ruangan tersebut dalam keadaan pingsan. Saat mata Qin yan terbuka, ia menyadari kalau dia sedang berada dialam bawah sadarnya sendiri.


Dengan perlahan, ia pun berdiri. Keheningan itu membuatnya muak, karena ia tahu. Jika dia berada disini berarti ada sesuatu yang penting yang akan menimpa dirinya.


"Keluarlah, kenapa harus bersembunyi begitu." Ucap Qin yan dengan tenang, suaranya memantul sampai keruangan lain. Tepat setelah ia berucap, lantai pun mulai bergetar. Genangan air yang ia injak kini melonjak menjadi tsunami. Qin yan berusaha bertahan dari tsunami tersebut dengan teknik pijakan udara miliknya.


Ia pun sadar pada pijakan yang terakhir, kalau ia sejak berpijak dikepala ular merah yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Huh!" Tentu ia langsung kaget dan berusaha menjauh. Tapi meskipun begitu, ular itu tidak sekalipun mengejarnya. Hanya menatap Qin yan dengan tenang dibawah tekanan tsunami yang meluap luap.


"Siapa kau sebenarnya wahai manusia?" Suara ular itu bergeming sampai membuat telinga manusia jadi rusak, namun tidak untuk Qin yan yang dapat mengontrol alam kesadarannya sendiri. Ia tetap tenang menghadapi sosok ular yang masih memperkenalkan diri dengan angkuh.


"Aku ingin memperkenalkan diri, tapi dimana tujuh kepala lainnya?"


Perkataan Qin yan membuat mata ular itu langsung terbelalak, sekejap setelah Qin yan berkata. Tujuh kepala lainnya langsung memunculkan diri dihadapannya. Ada ular biru, hijau, emas, ungu, jingga, hitam dan putih. Mereka menatap Qin yan diikuti dengan tekanan yang tinggi. Tapi diluar nalar mereka, Qin yan hanya berdiri tenang dengan kedua tangan dibelakang.


"Huh! Kau tidak terpengaruh apa apa yah."


Puji ular itu saat melihat Qin yan yang tetap tenang.


"Neidan, aku tidak bodoh. Ini adalah alam sadarku sendiri. Aku bisa mengontrolnya dan kau hanya tamu disini." Senyum Qin yan, ular itu kira bisa membodohinya seperti anak anak. Tentu tidak, dia bahkan bisa membodohinya balik.


"Hohoho.... Si, tampaknya kita tidak salah orang." Tertawa ular biru meledek ular merah.


"Tidak masalah, sepertinya dia pantas menjadi wadah kita." Jawab ular si emas.


"Tidak, aku malah lebih curiga anak ini. Dia bahkan mengetahui nama kita. Rasanya seperti..." Ular merah menatap Qin yan dengan mata menyipit.


"Seperti bertemu dengan seorang reinkarnator kan?" Ular hitam juga meneritawainya. Disaat mereka sedang tertawa bersama, Qin yan hanya diam menatap mereka. Tidak lama kemudian ia tersenyum, memandangi mereka.


"Neidan, kurasa teman lama kalian tidak sabar bertemu denganmu."


Perkataan Qin yan membuat mereka terdiam sekali lagi.


"Teman lama?" Ucap mereka bersama sama.


Tiba tiba ruangan itu bergetar sekali lagi, mereka terkejut bukan main. Saat menatap Kyubi dan Kyuki muncul didepan mereka.


"Ka-kalian... Kyubi, Kyuki, bagaimana bisa?"


"Sudah kuduga, aku merasakan sesuatu yang aneh pada diri anak ini. Rupanya kalian**." Berkata ular merah dengan mata yang tajam.


"Ayolah Si, tidakah kalian senang kita bertemu disini?" Tawa kyubi dengan riang menyambut temannya.


"Tentu saja, tapi pertama tama coba jelaskan padaku mengapa kalian berada disatu tubuh anak yang sama?"


Kyuki yang tadi diam, kini sedikit membungkuk pada Qin yan.


"Anak ini adalah seorang reinkarnator. Terakhir kali mati karena dewa Sage."


Perkataan Kyuki membuat Neidan jadi kaget. Ia pun menatap mereka berdua.

__ADS_1


"Reinkarnasi siapa kau, siapa jadi dirimu dimasa lalu." Tanya Neidan pada Qin yan.


"Aku tidak berasal dari masa lalu, tapi berasal dari masa depan."


"Hah! Pembalikan waktu? Bukankah itu tidak mungkin, setahuku hukum waktu hanya bisa mengirim seseorang kemasa depan dengan kurung waktu yang sudah ditentukan." Neidan sama sekali tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Bagaimana kalau Dewa Zailonglah yang telah mengaturnya sendiri."


Perkataan Kyubi kembali membuat Neidan terkejut. Sesaat setelah ia berbicara, setitik cahaya pun akhir muncul dari dalam diri Qin yan. Setitik cahaya tersebut berubah menjadi sosok manusia berambut hitam pendek.


"Astaga, berapa banyak lagi jiwa yang ada di tubuh anak ini" Neidan hanya ternganga melihat satu jiwa lagi.


..."Salam, namaku Z. Aku dikirim oleh Dewaku untuk memberikan kesempatan kedua untuk Qin yan."...


"Z! Itu berarti jimat surgawi?"


..."Ya."...


Neidan makin terdiam mendengar hal tersebut. Tanpa bertanya pun mereka mengerti, kalau Qin yan adalah sosok yang sangat diperhatikan oleh dewa mereka. Dan ini mungkin akan menjadi kesempatan membunuh kaisar dewa sage. Apalagi melihat dua beast lain sudah bergabung didalam tubuh anak ini, maka peluangnya sudah bertambah besar. Ia pun tidak punya pilihan lain selain bergabung. Karna ia sendiri sepertinya tertarik untuk menjalani rencana ini.


"Baiklah baiklah, aku mengerti maksud kalian. Jadi dimana aku bisa beristrahat?" Ucap Neidan dengan helaan nafas. Kemudian Kyubi langsung mengantarnya ke alam Spritual Qin yan dimana disana tempat mereka tinggal.


Dan akhirnya, didalam ruangan itu hanya menyisahkan Qin yan, kyuki dan Z.


"Bocah, sepertinya ini waktunya aku beristrahat. Cepatlah bangun, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan."


Qin yan terkaget mendengar perkataan Kyuki. Belum juga ia bertanya, kyuki langsung menghilang layaknya kyubi dan Neidan. Setelah diingat ingat ia pun mengerti, matanya langsung membesar. Rupanya ia mengalami perubahan iblis, entah wanita mana yang menjadi korbannya saat ini. Ia pun mengangguk pada Z, kemudian menutup mata dengan tenang.


"Qin yan... Qin yan..."


"Apa yang terjadi?" Tanya Qin yan dengan bingung. Kemudian ia berbalik pada Jin kei yang barusan sadar dari semedinya untuk berkomunikasi dengan Neidan dialam bawah sadar Qin yan.


"Pergilah kau tanya Medusa." Jawab Jin kei dengan tenang.


"Apa! Jangan jangan....." Qin yan pun terbengong, ratu medusa mungkin adalah korbannya saat ia mengalami perubahannya tadi.


"Dimana dia sekarang?" Dengan cepat ia pun berdiri. Melihat arah yang ditunjuk oleh Jin kei. Ia pun pergi kearah sana.


Jauh ia berlari dari tempatnya, diatas tebing Qin yan sudah melihat sosok giok cantik yang berdiri diujung tebing tersebut. Yah, medusa dalam bentuk manusia benar benar cantik dan menggoda. Ia pun mendekatinya dari belakang. Alisnya berkerut melihat wanita itu tidak sekalipun berbalik kearahnya meskipun ia sudah datang.


"Maafkan aku." Hanya itulah ucapan Qin yan yang bisa keluar dari mulutnya. Dengan menunduk, ia pun hanya bisa menerima hukuman dari wanita ini.


Lama juga ia menunduk, wanita itu sama sekali tidak meresponnya. Namun Qin yan tidak punya hak untuk mengaturnya, karna dia sudah bersalah disini.


Pada akhirnya wanitu itu pun berdiri, mata bengkak karena menangis. Bahkan sampai sekarang pun ia masih belum berhenti menangis. Ia mendekati Qin yan dengan tatapan tajam. Mengangkat tangannya keatas. Dan seperti yang Qin yan pikirkan, dalam seperkian detik. Tangan itu langsung menamparnya.


"Plak"


Kepala Qin yan berputar tak kepalang, padahal tamparan ini tidak mengandung energi apapun. Tapi kenapa bisa sekuat ini. Ia hendak mundur, tapi lebih baik ia menahannya. Tidak lama tamparan pertama dilancarkan, tamparan kedua langsung menyusul.


"Plak" Setelah itu tamparan beruntun mulai diterima Qin yan.


"Plak plak plak plak plak plak" Kiri kanan, kiri dan kanan secara bergantian tangan wanita itu menghantam pipi Qin yan. Wanita itu mengeluarkan semua emosinya dalam tamparan tersebut.


1 jam kemudian....

__ADS_1


"Tes tes tes" darah menetes keluar dari hidung dan sudut bibir Qin yan. Meskipun ratusan kali ia menerima tamparan keras tersebut, ia masih tetap berdiri dengan teguh dihadapan Medusa tanpa mundur sedikit pun.


Namun sebenarnya, ia sudah berada diambang batas pertahananya. Mungkin tamparan terakhir akan membuatnya tumbang.


Betapa tertekannya dia saat menanti tamparan terakhir. Saat ini napas Medusa juga sudah tidak teratur lagi. Ia pun mengangkat tangannya kembali. Saat tangan itu ia ayunkan, Qin yan menutup mata menunggu tamparan tersebut. Sepertinya ia tidak akan bertahan setelah ini.


Tiba tiba tangan Medusa berhenti tepat sati inci didekat pipi Qin yan. Rupanya ia tahu kalau Qin yan sudah tidak dapat bertahan lagi. Nafas anak itu bahkan sudah sangat berat.


Satu mata Qin yan terbuka, tapi melihat ada lima jari didepannya, ia pun menutup matanya kembali.


"Kenapa kau tidak mengatakan apa apa." Medusa menghela napas kesal melihat Qin yan yang hanya pasrah dengan wajah lebamnya.


"Maafkan aku." Satu kata lagi keluar dari mulut Qin yan membuat Medusa semakin marah.


"Maaf maaf, kau pikir mudah meminta maaf. Kau pikir bisa membalikan keadaanku yang sudah rusak sekarang, hah!" Air mata Medusa kembali mengalir. Semarah marahnya dirinya, ia juga tidak ingin menampar Qin yan lagi. Hanya bisa memukul dada Qin yan seperti wanita lemah.


Hal tersebut membuat Qin yan jadi membawa wanita lemah itu kedalam dekapannya.


"Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab. Tapi kalau kau masih tidak terima, kau bisa menyiksaku sesuka hatimu disini."


Medusa tetap tidak mendengarnya, ia hanya menangis dan menangis dalam pelukan Qin yan. Wanita yang tadi tampak angkuh dan kuat, kini hanya bisa seperti wanita biasa sekarang.


Lama juga ia menangis, pada akhirnya ia pun berhenti. Menatap Qin yan dengan mata bengkaknya.


"Kau bilang kau ingin bertanggung jawab. Tapi ada beberapa syarat yang harus kau penuhi."


"Silahkan, selama aku mampu aku akan mengabulkannya." Jawab Qin yan menatap balik ratu Medusa.


"Baiklah, kau akan mengabulkannya rupanya. Karena aku sepenuhnya menjadi manusia dan statusku sebagai ratu klan Medusa sudah tercabut secara otomatis. Aku punya hak untuk diperdulikan, mengikutimu kemana kau akan pergi. Dan kau tidak punya hak untuk bersama wanita lain."


Qin yan langsung membeku, mata terbelalak. Tangannya yang memegang bahu Medusa kini menjadi kaku. Medusa sendiri menatap anak itu dengan alis berkerut.


"Bagaimana? Kau setuju atau tidak."


Perkataannya membuat Qin yan mundur darinya, keringat bercucuran disegala tubuhnya. Shan qiu er, Lin yiyin, Ling Qingzhu, Zi Yun zhi, Xiao Zue er, Huo lan. Apa dia akan membuang mereka semua hanya karna satu wanita. Tidak, Qin yan tidak bisa melakukannya. Kedua tangannya gemetar saat memikirkan hal itu. Tapi apa dayanya, dia benar benar sudah berjanji pada wanita itu untuk mengabulkannya.


Oleh karena itu hanya ada satu hal untuk mengakhiri semua ini.


"Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukannya." Qin yan langsung melemparkannya sebuah pisau pada Medusa. Hingga membuat wanita itu sendiri jadi membeku. Ia mengambil pisau tersebut sambil menggertakan gigi. Menatap Qin yan dengan penuh amarah. Hari ini jika Qin yan tidak memenuhi permintaannya, maka dia lebih cocok untuk mati. Ia kira Qin yan memberinya pisau ini agar Medusa bunuh diri.


"Tega sekali kau! Pria macam ap..."


"Kau bisa membunuhku." Potong Qin yan. Perkataannya membuat mata Medusa terbelalak. Sekali lagi ia menggertakan gigi dengan menggenggam pisau ditangannya dengan erat. Untuk melampiaskan semua kemarahannya, ia langsung melempar pisau itu kearah Qin yan.


Melihat pisau melaju kearahnya, Qin yan bisa menutup mata, rupanya pisau tersebut hanya melewati lehernya, dan mendarat dibelakang. Setelah ia membuka mata, dia langsung menatap Medusa dengan kaget.


"Aku ingin bertemu dengan wanita yang bahkan kau rela menyerahkan nyawamu demi mereka." Berkata Medusa sambil melipat tangannya didada.


"Benarkah?" Tanya Qin yan tak percaya.


"Tapi syarat yang lain tetap berlaku. Aku punya hak untuk diperlakukan adil dan aku juga punya hak untuk mengikutimu kemana mana. Ingat itu baik baik."


"Terima kasih." Qin yan menghela napas lega, setelah ia berkata. Cahaya mentari pun mulai menusuk mata mereka. Pada saat mereka sadar, rupanya malam pun mulai berganti pagi. Sang fajar pun mulai menyising daratan, kebetulan juga, mereka berada diatas tebing. Dan betapa kagumnya mereka ketika menyaksikan matahari terbit yang begitu indah dipandang mata.


Medusa kemudian berbalik kearah pemandangan tersebut, ia duduk diujung tebing. Kemudian disusul oleh Qin yan dan juga duduk di sampingnya. Meraih bahu wanita itu dan membawanya kepelukan sambil menyaksikan pemandangan indah itu bersama.

__ADS_1



__ADS_2