
Ketika Tang Liu dan ibunya memasak bersama ibu Qin yan. Tang lili mengulangi latihan yang di ajarkan Qin Yan kemarin. Gadis itu, meskipun dia kelihatan nakal dan kadang tidak mendengarkan arahan. Namun ketika dia latihan, keseriusannya sangat nampak. Dan daya ingatnya ternyata luar biasa. Dia mampu memperagakan gerakan Qin Yan dengan baik sampai ia terlihat mengusainya. Ketika latihan selesai, seperti biasa. Tang lili istirahat. Namun, tiba tiba sebuah kupu kupu indah tidak sengaja melintas.
Kupu kupu itu memancarkan cahaya indah di sepasang sayapnya. Sampai Tang lili terasa terpikat oleh kupu kupu itu. Dia pun mulai mengikuti kupu kupu tersebut sampai ke gang sepi dengan mata seperti terhipnotis. Dan saat itu, ia tak sadar. Sebuah tangan meraihnya. Lalu dia pun diculik tanpa diketahui siapa pun.
*********
Setelah melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan. Qin Yan pun pulang. Dia kembali dengan wajah cerah, ketika mengetahui bahwa malam ini ia akan makan bersama ibu dan keluarga Tang Liu. Namun, sesampainya didepan penginapan. Bukannya penyambutan, malah ia melihat ibunya dan ibu Tang Liu sedang panik mencari sesuatu. Qin Yan mendatangi mereka, bertanya apa yang membuat mereka begitu panik.
"Tang lili, dia tidak ada sejak tadi!" Ibu Tang Liu berkata sambil menahan air matanya. Rasa khawatir itu, membuat Qin Yan mengerutkan kening.
Apa yang terjadi setelah kepergiannya.
Tiba tiba Tang Liu datang. Dia membawa bunga yang terjepit ke telinga Tang lili tadi sore.
"Aku menemukan ini di gang sekitar sini. Tampaknya disana tempat terakhir ia menghilang."
"Cepat antarkan aku dimana tempatnya." Qin Yan tanpa banyak bicara langsung menyuruh Tang Liu untuk mengantarkannya ke tempat itu.
Sesampainya disana, barulah Qin Yan tau. Ekspresinya menjadi dingin.
"Siapa lagi orang yang mencari gara gara dengan ku!" Terlihat jelas di tempat itu, dengan mata merah Qin Yan. Jejak orang misterius yang menculik Tang lili tak bisa disembunyikan. Qin Yan berbalik ke arah dimana jejak itu menuju. Lalu senyum tipis muncul di wajah Qin Yan.
"Akademi Lembah racun? Bisa bisanya kau mencari masalah denganku."
*******
"Bruk"
Gadis kecil Tang Lili di letakan disebuah ruangan gelap dalam keadaan pingsan.
Lalu seseorang misterius yang meletakkannya berjongkok kemudian melihat wajah gadis itu dari dekat. Dari tangan sampai kebagian lain tubuhnya. Pria misterius itu akhirnya melihat potensi sesungguhnya dari gadis ini.
"Gadis yang istimewa. Aku akan mencuci otakmu dan menjadikanmu muridku. Kau akan menjadi sosok yang sangat kuat dimasa depan." Pria itu terkikik sendiri ketika dia mendapatkan tangkapan yang cukup menjanjikan. Namun dia segera berhenti ketika mendengar langkah dari luar. Ternyata kepala akademi dan beberapa petinggi besar lain sudah kembali. Dia pun cepat cepat keluar.
"Tuan Cung weng. Mengapa kau ada disini?" Kepala akademi melirik ke arah darimana pria itu keluar.
"Ah, Saya baru saja menyimpan barang barang saya, master." Pria itu tersenyum. Tanpa memikirkan apapun, kepala akademi beserta petinggi besar lainnya akhirnya melewatinya. Menuju ke aula. Kemudian pria paruh baya itu kembali ke ruangan.
"Hehehe..." Kedua tangannya memercikan energi. Bersiap untuk memanipulasi Tang lili agar menjadi gadis yang patuh.
"Sekarang kau ada dalam genggamanku." Tangannya yang penuh percikan energi itu perlahan mendekati Tang lili. Pria itu sudah tidak sabar untuk menjadikan gadis ini sebagai murid nya. Dia akan melatih gadis ini menjadi sosok yang akan sangat mendominasi. Dan dia akan menggunakannya untuk menandingi murid murid dari akademi elit lainnya. Bahkan dia akan menjadikan gadis ini sebagai sosok terkemuka dalam sekte.
Tapi tiba tiba ada yang menghentikannya. Padahal tangannya hampir menyentuh kepala gadis itu.
Pria itu terkejut bukan main. Matanya terbelalak saat ada sebuah tangan memegangi tangannya. Terlebih lagi, orang yang memegangi tangannya tidak terlihat. Yang kelihatan hanyalah sebuah tangan yang memegangi tangannya. Ada semacam dinding diudara. Seperti permukaan air yang jernih, sebuah lubang dimensi terbentuk. Kemudian muncul wajah dengan mata merah.
"Jadi, kau yang berani menculik muridku kah?"
"Hah!" Pria itu bertambah terkejut. Dia menarik tangannya, namun sebelum itu mata Qin Yan menyala.
"BOOOM" Ledakan terjadi. Dinding pun hancur. Kepala akademi dan petinggi akademi lainnya yang baru berjalan tidak jauh dari sana langsung berbalik karena ledakan itu.
Tanpa berpikir panjang mereka langsung mendekati tempat itu kembali.
"Apa yang terjadi?" Teriak mereka.
Dalam asap yang mengepul. Terlihat salah satu guru sudah dalam keadaan tak bernyawa dengan tubuh hangus terbakar. Mereka semua langsung terkejut bukan main.
Lalu sesosok satunya lagi terlihat berdiri dari balik asap. Dia perlahan berjalan keluar ruangan didepan mereka dengan menggendong Tang Lili. Dengan memakai kerudung menutupi wajahnya, membuat mereka tidak bisa menebak siapa yang ada dibalik kerudung itu. Apakah seorang wanita atau pria.
"Siapa kau!" Cincin mereka aktif. Ternyata mereka berada hanya di tingkat Sage. Kecuali si kepala akademi yang tetap tenang. Tanpa mengeluarkan cincin pun, Qin Yan tau. Dia berada di tingkat Raja.
__ADS_1
Qin Yan tidak menjawab mereka. Tapi malah mengatakan sesuatu yang tidak mereka duga.
"Kalian berani menculik muridku. Apakah kalian bosan hidup?"
"Huh? Hei! Jangan asal menuduh kau! Si-siapa yang menculik muridmu!" Salah satu petinggi membantah Qin Yan.
"Diam dulu bendahara Ming." Kepala akademi menenangkan salah satu petinggi tersebut. Lalu maju dengan ekspresi tenang.
"Tuan, aku ingin tau mengapa kau menghancurkan tempat kami dan membunuh salah satu guru diakademi kami?"
"Huh? apakah kau tuli? Bukankah sudah kukatakan tadi? Pria ini berani menculik muridku. Seharusnya kalian mengerti dia pantas dibunuh."
"Si-sialan kau!!" Bendahara Ming kembali marah. Tapi kepala akademi tetap menghentikannya. Dia berdehem sejenak. Lalu kembali berbicara dengan Qin Yan.
"Bukankah ini bisa kita bicarakan baik baik tuan? Tidak perlu ada korban jiwa."
"Heh? Bicarakan baik baik? Hahaha..." Qin Yan tertawa, membuat mereka meneteskan setitik keringat dipipi.
"Bagiku, sekali menyinggungku. Maka kematian lah sebagai pelajaran yang dapat membuat kalian mengerti. Jika tidak, sekadar negoisasi dan bicara baik baik hanyalah membuat kalian semakin sombong."
"Bajingan! Berani beraninya!"
"Seharusnya kau bersyukur karena kami berbicara baik baik padamu. Tapi kau tidak menghargai itu. Kau harus diberi pelajaran. Kau seharusnya mempertimbangkan ketika berani membuat kekacauan di akademi kami!" Sebuah listrik terbentuk ditangan bendahara Ming dan menyerang Qin Yan secepat kilat.
"Tunggu!" Kepala akademi berusaha menghentikannya, namun ia tidak sempat.
"Hum." Qin Yan hanya tersenyum dengan mata merahnya ketika pria paruh itu mencapai satu senti didepan wajahnya.
"BOOOM" Kali ini ledakan kembali terjadi, bendahara Ming terlempar kebelakang dengan tubuh berlapiskan percikan petir. Sekali lagi, satu nyawa melayang.
Kepala akademi langsung berkeringat. Padahal sosok misterius itu tidak bergeming dari tempatnya. Dia juga tidak melihat kapan sosok itu bergerak. Yang terlihat hanyalah listrik bendahara Ming yang terlihat mengenainya. Namun, justru bendahara Ming yang kehilangan nyawa.
Namun tidak dengan petinggi petinggi lain di dekatnya. Mereka memang terlihat kaget. Namun kematian bendahara Ming juga membuat mereka semakin marah. Cincin merah aktif. Dan elemen serta atribut mereka mulai terlihat ditangan masing masing.
"Bajingan! Aku akan membunuhmu!" Mereka berbondong-bondong menyerang Qin Yan secara bersamaan.
Mata Qin Yan menyala, yang paling belakang merasakan sakit kepala luar biasa bahkan sampai membuat mulut berbusa. Mata terbelalak, dan akhirnya putusnya jaringan otak. Membuatnya jatuh tewas sebelum melangkah lebih jauh.
Yang paling depan mulai menyerang dengan tangannya membengkak, tinju penuh kekuatan. Tapi Qin Yan menghindar sedikit kebelakang. serangan sepele itu. Bagaimana bisa mengenainya. Mata Qin Yan yang tenang mulai menyala lagi.
"Aaaakh..." Pria itu mulai merasakan tangannya kaku. Lalu syarafnya membengkak sampai putus dan lengannya meledak.
Darah merembes keluar dan pria itu mundur. Lalu angin menghembus ke dirinya seperti pisau. Saat berikutnya, kepalanya melayang keatas, terputus dari badannya.
"Huh!" Kali ini, sisanya berhenti. Mereka akhirnya menyadari. Kalau sosok didepan mereka bukanlah sesuatu yang mereka hadapi. Dengan dua orang yang tewas dalam sekejap membuat mereka berpikir dua kali untuk menyerang.
Terlebih lagi, tekanan Qin Yan mulai keluar membuat mereka tidak bisa bergerak bahkan menarik napas. Ini membuat mereka sangat ketakutan.
Qin Yan tersenyum. Kematian adalah cara yang paling ampuh untuk meruntuhkan keangkuhan seseorang.
Secepat kilat Qin Yan muncul didepan salah satu yang tersisa dengan tangan yang seperti pisau ingin merenggut kepala pria tersebut.
"Bruk" Namun terdengar sebuah suara ambruk yang membuat Qin Yan menghentikan gerakannya.
"To-tolong! Maafkan kesalahan kami karena telah menyinggungmu." Ternyata kepala akademi sudah bersujud menghantam kepalanya kelantai hingga retak. Terlihat kepalanya yang luka namun ia tidak memperdulikan itu. Ia cukup ketakutan karena ia sadar kalau sosok didepannya sangat kuat.
"Ma-master!" Teriak petinggi lainnya yang terkejut melihat itu.
"Diam!" Namun dengan satu perintah kepala akademi, mereka langsung terdiam. Akhirnya, situasi hening. Dan kepala akademi kembali berbicara.
"Tu-tuan! Kami bersalah, mohon lepaskan kami. Kami tidak akan lagi menampakan diri kami didepan anda. Mohon lepaskan kami!" Terlihat tubuh pria itu gemetar. Statusnya yang tinggi ternyata bersujud didepan sosok yang tidak dikenal. Tapi ia tidak perduli, mereka telah menyinggung orang yang salah.
__ADS_1
"Yang kami lakukan tadi hanyalah kecerobohan kami. Kami benar benar minta maaf."
"Hm..." Terlihat senyum tipis dibibir Qin Yan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia pun berjalan perlahan melewati petinggi akademi yang hampir ia bunuh. Kemudian, ketika sampai dihadapan kepala akademi, Qin Yan tidak berbuat apa apa. Dia cuma melewatinya, kemudian menghilang ketika dia sudah jauh.
Pria yang hampir dibunuh tadi, ternyata sudah berbekas luka kecil dilehernya hanya karena sentuhan tangan Qin Yan. Sedikit darah mengalir keluar. Jika terlambat sedikit saja maka lehernya putus. Benar benar mengerikan.
"Guld" Ia hanya menelan ludahnya sendiri. Ternyata nyawa Dimata pria itu hanya seperti tali yang mudah diputuskan. Bagaimana bisa ada orang semengerikan itu didunia ini.
Kepala akademi pun bangkit setelah kepergian Qin Yan dengan wajah penuh keringat. Dia pun bertanya pada petinggi yang tersisa.
"Kalian baik baik saja kan?"
"Master! Bagaimana bisa kita melepaskannya begitu saja!"
"Plak"
Seorang petinggi yang memegangi tongkat sihir tidak terima dengan kepergian Qin Yan. Namun ia langsung ditampar tanpa ragu oleh kepala akademi.
"Kau benar benar tidak tau diri yah Mi mo Ji. Kita sudah sangat beruntung ketika dia melepaskan kita. Dan kau masih berpikir untuk tidak melepaskan orang seperti itu? Akhirnya aku tau, mengapa akademi kita mempunyai reputasi buruk. Ternyata para petingginya saja mempunyai sifat goblok tulen seperti kau. Ternyata aku kurang memperhatikan kalian selama ini."
Kepala akademi berbalik dan pergi.
Orang yang ditampar hanya diam tak mengatakan apapun. Dia seperti kucing yang telah disiram air dingin. Tidak bisa mengatakan apa apa lagi.
"Sekarang aku tahu sifatmu yah, Mi mo Ji. Terlalu banyak bicara dan memprovokasi, membunuh dengan meminjam pisau orang lain. Kau hanyalah sampah benalu yang menetap di akademi kami. Kau bukan orang yang membangun akademi, justru menghancurkan akademi dan membawa akademi ketahap kehancuran karena jalan yang salah. Sekarang aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Pergi dari sini secepatnya, jika kau tak mau aku bertindak lebih."
Mata pria yang memegang tongkat sihir itu terbelalak. Ia menggertakan gigi karena tak terima. Tapi ia masih ingin memberi alasan. Ia tak terima jika harus di usir keluar. Memangnya kepala akademi siapa? punya hak apa untuk menyuruh pergi?
"Master! Dengarkan aku! Kau tak bisa melakukan ini padaku. Kau terlalu semena mena. Kau pikir kau itu siapa! Tarik kata katamu itu kembali. Master! Master! Mas..." Sebelum pria itu melanjutkan perkataannya. Sebuah hembusan angin menghantam pria itu sampai terhempas jauh dan akhirnya tak sadarkan diri. kepala akademi itu berada ditingkat Raja. Sementara petinggi yang memegangi tongkat sihir itu hanyalah di tingkat Sage.
Perbedaan kekuatan satu tingkat membuat membuat pria tersebut tak sadarkan diri untuk beberapa waktu hanya karena satu serangan.
Kemudian, kepala akademi pun meninggalkan mereka. Tapi sebelum itu, ia berhenti sejenak tanpa berbalik kebelakang.
"Bereskan mayat mayat itu. Kita harus mengubur mereka. Untuk pria itu, kalian urus sisanya." Kemudian ia pun berjalan masuk kedalam ruangannya. Tentunya dengan kepala pusing.
*******
"Ukh...." Tang lili akhirnya membuka mata. Yang dilihat pertama kali adalah Tang Liu dan ibunya yang tengah mengobrol. Mereka menunggu Tang lili bangun di samping kiri dan kanannya.
"Ibu, kakak." Tang lili perlahan bangkit. Tang Liu dan ibunya langsung berbalik melihatnya.
"Lili, kau sudah bangun?" Ibunya langsung memeluknya dengan lembut. Dia sudah sangat khawatir. Tapi sangat bersyukur karena putri kecilnya tidak apa apa. Tang Liu juga tersenyum padanya. Tapi Tang lili malah bingung mengapa mereka seperti ini.
"Ibu? Apa yang terjadi? Mengapa kalian begitu khawatir?" Tanyanya bingung.
Ibunya langsung berbalik pada Tang Liu. Mereka saling bertatapan. Apakah Tang lili, tidak ingat apa yang sudah dia alami hari ini?
Tentu saja Tang lili tidak mengingatnya. Yang dia ingat hanyalah berlatih saat itu. Kemudian ia rasa seperti tertidur, mungkin karena kelelahan. Lalu kenapa ibunya begitu khawatir.
Tang Liu mengangguk pada ibunya. Dan ibunya pun tersenyum. Dia menarik napas dan menutup matanya sejenak. Lalu berbalik pada Tang lili penuh senyuman lembut.
"Cepat bangun. Makan malamnya sudah siap. Kau tak mau ketinggalan bukan?" Ucap ibunya.
"Apa! Makan malam!" Tanpa banyak bicara lagi, Tang lili bangkit dari tempat tidur menuju ruang tengah. Dia melihat Qin Yan dan ibunya tengah duduk dengan aneka makanan didepan mereka.
"Ka-kalian! Bagaimana bisa kalian makan tanpa mengajakku?" Tang lili berkata dengan cemberut. Qin Yan dan ibunya saling melihat satu sama lain. Setelah itu mereka tersenyum pada gadis itu.
"Tentu saja kami akan makan duluan. Memangnya kami harus menunggumu? Siapa cepat dia dapat." Qin Yan sendiri mulai menggodanya. Gadis itu semakin marah, tapi dia dengan cepat mengambil makanan. Saat dia mencicipi makanan itu sekali. Matanya membesar karena saking enaknya. Ia bahkan berteriak gembira lalu makan dengan lahap.
"Lili, makannya pelan pelan." Ibunya yang menyusul keluar tidak bisa menahan diri untuk menegurnya. Tapi Tang lili tidak menghiraukannya. Tang Liu datang lalu memarahinya. Namun malah kekonyolan yang terjadi. Qin Yan dan ibunya tertawa melihat tingkah mereka. Makan malam saat itu, terlihat begitu hangat dan bahagia.
__ADS_1