LMOU: Kembalinya Sang Legenda

LMOU: Kembalinya Sang Legenda
Menciptakan senjata


__ADS_3

Mungkinkah begitu?


Dengan segera, Mong yi membawa teman temannya kembali ke penginapan mereka.


Begitupula yang dilakukan Qin Yan, ia kembali membawa teman temannya ke rumah sakit. mereka mendapatkan pengobatan dari tenaga medis. Cukup membutuhkan waktu untuk menunggu mereka siuman, namun Qin Yan sadar kalau sekarang sudah menjelang sore. Dan sudah saatnya ia mengikuti kompetisi membuat gulungan kondolisasi.


Qin Yan keluar dari kamar perawatan, disana Tian An Jing berdiri disamping pintu. Pria itu melihat Qin Yan keluar dengan wajah pitam, seketika membuat takut sekali lagi.


"Tian An Jing." Panggil Qin Yan.


"Y-ya..." Pria itu menjawab dengan gagab.


"Tolong jaga mereka sampai aku kembali." Tanpa banyak bicara, Qin Yan kemudian meninggalkannya. Meninggalkan pria tersebut yang masih terdiam dalam beberapa waktu.


"Baiklah." Ia pun menjawab pelan, sebelum Qin Yan benar benar menghilang dari pandangannya.


Saat itu, Qin Yan kembali memasuki Asosiasi kondolisasi untuk kedua kalinya.


Seperti biasa, ia akan memakai topeng agar menutupi identitasnya. Hanya saja, kali ini.... Auranya begitu suram diakibatkan masalah yang ia hadapi tadi siang. Sungguh hal yang cukup merepotkan. Ini justru membuat Qin Yan kehilangan minat untuk mengikuti kompetisi ini. Namun, bagaimana pun. Karena jadwal ini tidak tercampur dengan kompetisi penyulingan dan kompetisi menempa, Qin Yan secara pribadi mendatangi kompetisi ini.


Saat memasuki ruang menuju ruangan aula, Qin Yan mendapati kalau kompetisi kali ini lebih ramai dari yang kemarin. Entah apa yang terjadi, namun banyak dari murid murid berseragam putih berada dimana mana.


Melihat tampang tampang angkuh mereka, sepertinya mereka adalah murid dan penghuni asosiasi ini. Karena ini merupakan tempat mereka, kebanyakan mereka tidak menunjukan sikap sopan kepada para tamu dan para peserta. Meskipun, ada juga beberapa peserta yang juga bersikap angkuh.


Qin Yan bahkan melihat, terjadi beberapa pertengkaran disana disebabkan oleh kedua belah pihak yang saling memprovokasi.


Ketika Qin Yan hampir sampai didepan pintu aula, ia dihentikan oleh dua senior yang berumur sekitar 30 an yang berdiri didepan pintu.


"Hei, apa benar kau adalah peserta kompetisi ini?" Tanya salah satu mereka sambil menyilangkan tangan didada dengan ekspresi curiga.


Qin Yan terhenti sesaat melihat mereka menghalangi jalannya.


"Lihatlah, dia memakai topeng. Apa dia pikir dia keren? Fufufu... Lucu sekali, apa yang ia dapatkan ketika memakai benda itu?." temannya disamping yang merupakan seorang wanita tertawa lucu melihat penampilan Qin Yan.


Qin Yan hanya diam mendengar itu, ia hendak maju namun senior laki laki menggunakan tangannya untuk menghalangi jalan.


"Mau kemana kau? Sadarkah kau, penampilanmu terlihat mencurigakan. Seperti seorang penyusup."


"Ppfftt... fufufu..." Ejekan pria itu membuat wanita disampingnya tidak bisa menahan tawa. Wanita itu tertawa sambil menutupi mulutnya hingga terlihat seperti orang yang berusaha menahan tawanya.


Semua orang yang lewat lalu lalang, hanya bisa menatap kejadian itu dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Qin Yan merasakan ada yang menepuk lembut punggungnya. Ketika ia berbalik, ternyata seorang gadis memasang tampang manis berdiri dibelakangnya dengan kedua tangan dibelakang.


"Hai, kita bertemu lagi." Ucapnya dengan ramah, sambil menyisihkan rambut dibelakang telinganya. Wajah gadis itu yang manis ditambah dengan sedikit rona kemerahan membuat senior laki laki yang berdiri didepan mereka jadi terpana. Tetapi, ada yang salah dengan pandangannya. Ia tidak suka melihat seorang gadis yang disukainya jadi berbicara dengan orang yang ia ejek beberapa saat yang lalu.


"Nona, apakah anda kenal orang ini?" Tanya wanita disamping pria itu.


"Oh, dia? Tentu saja, dia adalah peserta yang mengikuti kompetisi kemarin. Eeerrmm..... Bolehkah aku tahu, siapa namamu?" Gadis itu bertanya malu malu dengan wajah gugub.


Qin Yan langsung terdiam. Ia berpikir sesaat, nama panggilan apa yang pantas ia pakai saat ini.


Hal itu membuat orang yang melihatnya jadi heran, termasuk gadis itu sendiri.


"Kalau kau tak ingin memberitahu namamu, maka tidak apa apa." Gadis itu tersenyum sejenak, kemudian meninggalkan Qin Yan, masuk kedalam aula.


"Tunggu." Tapi Qin Yan menghentikannya, ia merasa gadis ini cukup kecewa dan ia merasa malu karena sudah diabaikan.


"Panggil aku Yan Yan."


Mendengar kata tersebut, gadis itu tersenyum manis lagi.


"Baiklah Yan Yan. Apa kau tak ingin ikut masuk denganku?" Tanpa menunggu jawaban, gadis tersebut menarik tangan Qin Yan. Dan masuk ke aula. Dalam hati Qin Yan mengatakan, seandainya gadis ini mengetahui identitasnya maka sepertinya akan merepotkan.


Dua senior ingin menghentikan mereka, terutama Qin Yan. Mereka kesal karena Qin Yan malah mengabaikan mereka, mereka bahkan berencana mengejar Qin Yan dan ingin mempermalukannya didepan umum. Hanya saja, disaat mereka hendak pergi. Disaat bersamaan, ada seorang pria memasuki aula.


Panggilan itu membuat mereka terhenti, ketika mereka berbalik, mata mereka langsung membesar. Seketika kedua langsung membungkuk.


"Maaf, Tuan muda Zhang. Kami....."


"Lebih baik kalian kerjakan tugas kalian baik baik daripada melakukan hal yang tidak berguna." Pria muda itu langsung memotong perkataan mereka, ia kemudian berjalan tanpa memperdulikan kedua orang itu yang tengah membungkuk.


Kedatangannya membuat ruangan menjadi riuh, para gadis memegangi pipi mereka yang bersemi kemerahan.


"Woaaah.... I-itu... Zhang lizian.!" Bahkan Song Huan, gadis disamping Qin Yan juga berseru kagum. Matanya tertuju pada pria tampan bernama Zhang lizian tersebut.


Setelah Qin Yan mengingatnya lebih serius, sepertinya nama itu terdengar familiar dikepala nya.


"Hei, Yan Yan. Lihat, dia adalah Zhang lizian. Peringkat ke 5 dari 10 jenius surgawi di turnamen sebelumnya. Murid yang terkenal dari sekte Hamparan Surga. Bukankah dia tampan?" Gadis itu berkata dengan penuh kekaguman.


Qin Yan mau tidak mau jadi ikut melihatnya. Rambut biru yang panjang, serta seragamnya yang selaras. Qin Yan cukup mengakuinya, pria itu lumayan tampan. Dan ia memancarkan aura kharisma, membuat gadis gadis terpesona melihatnya.


Qin Yan mengangguk, namun begitu malas menjawabnya, ia mencari tempat duduk. Menunggu agar kompetisi segera dimulai, agar ia bisa pulang dengan cepat.

__ADS_1


Song Huan yang melihat tingkah Qin Yan hanya tertawa lucu, ia salah paham dengan apa yang dipikirkan Qin Yan. Ia mengira bahwa Qin Yan cemburu atau semacamnya. Jadi ia mendekat dan mulai mengerjai anak itu.


"Hei, jangan jangan kau cemburu yah?"


Qin Yan hanya menatapnya dengan bingung. melihat senyuman nakal gadis itu, dia hanya tetap diam seperti biasa. Tapi, sebenarnya. Itu justru memperkuat kesalahpahaman gadis itu. Song Huan bahkan mulai percaya diri, kalau pria misterius ini mulai menyukainya. Hal itu membuatnya senang. Ia pun duduk mendekat.


"Yah.... Sebenarnya kalau kau membuka topengmu. Mungkin kita bisa menilai siapa yang lebih tampan."


Gadis itu diam diam melirik Qin Yan, namun sayangnya dia hanya diabaikan. Tentunya ia menjadi kesal, tapi dia ikut terdiam karena tak ada yang bisa diajak bicara.


Dari kejauhan, mereka berdua diperhatikan seseorang. Dia adalah pria yang pernah membentak Qin Yan waktu itu. Jing Hao.


Melihat Song Huan yang semakin akrab dan dekat dengan pria bertopeng itu, tentunya membuatnya marah. Mungkin, kali ini ia akan mengambil langkah. Setelah pulang nanti, ia akan menghajar pria itu nantinya. Serta membuka topengnya kemudian mempermalukannya didepan umum.


Qin Yan sendiri menyadari tatapan itu, ia juga melirik pria itu sekilas. Namun ia juga mengabaikannya. Tidak lama kemudian, suasana kembali menjadi riuh ketika melihat Zhou Weisi dan Qiu er memasuki aula. Melihat gadis itu, Qin Yan seketika teringat dengan janjinya. Kalau ia akan memijit Qiu er setiap tiga hari seminggu. Itu berarti jadwalnya diadakan besok malam.


Sejenak, ketika Weisi melewati Qin Yan. Ia membungkuk sejenak, memberikan senyuman sopan kemudian menuju tempat duduknya. Qiu er disamping hanya menatapnya sekali, namun setelah itu ia tidak menarik tatapannya lagi. Seolah olah melihat orang yang ia kenal, namun tak bisa menebaknya . Tapi dia segera tersadar ketika Weisi menyadarkannya.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya para tetua memasuki aula. Kali ini, bukan hanya ada tiga. Tapi empat. ada satu orang yang auranya begitu kuat hingga Qin Yan pun jadi menengok kearahnya.


'Huh? Duan tianlang?' Sekali dilihat pun ia langsung mengenalnya. Gurunya selalu menceritakannya ketika berada di akademi petarung waktu di kota bintang. Ah, itu sudah lama sekali dan nama legenda itu masih terngiang dikepalanya.


"Hmm....." Kakek tua itu memandangi semua peserta sambil mengelus janggutnya. Tatapan matanya segera terhenti melihat Qin Yan yang memakai topeng.


'Eh, anak itu...' Rasanya ia mengingat sesuatu. Kemudian ia pun berbisik pada tetua disampingnya.


"Heng en, apakah dia anak yang kau bicarakan?"


"Ya senior." Tetua itu mengangguk, tatapan matanya tertuju pada Qin Yan.


Qin Yan sendiri yang menyadari tatapan mereka jadi merasa tak tenang ditatap seperti itu. Namun ia hanya diam, sambil berpikir apa yang direncanakan dua orang tua bangka disana.


"Ekhem ekhem." Pak tua itu berdiri, kemudian terbatuk perlahan. Ia menatap seluruh peserta yang menunggu per


"Terima kasih atas perhatiannya. Anak muda yang kami hormati. Aku mendengar laporan tetua yang mengawasi kalian kemarin. Dari 30 orang yang berpastisipasi, kini sekarang tersisa 17 orang. Itu berarti kalian adalah jenius muda yang kedepannya mempunyai masa depan cerah. Kalian membuktikan kalau diri kalian itu adalah master kondolisasi Tier expert. Dengan ketekunan dan kesungguhan yang kalian lakukan selama ini, menjadi pintu kesuksesan kalian dimasa depan."


Semua para peserta bertepuk tangan mendengar pidato pak tua itu. Setelah itu, beberapa anak murid datang membawa begitu banyak jenis logam. Ada logam baja, emas, logam perak, batu hitam dan lain lain. Semuanya adalah bahan bahan membuat senjata dalam cetakan. Bahan bahan tersebut disajikan didepan mereka semua.


"Baiklah, ini adalah bahan bahan yang akan kalian gunakan dalam membuat senjata yang ada didalam gulungan kalian sendiri. Pilihlah yang menurut kalian tepat, dan ciptakanlah sebuah senjata. Jika kalian berhasil, itu membuktikan kalau kalian adalah master kondolisasi tingkat Tier expert menengah."


Setelah perkataannya selesai, salah satu murid datang membawa beberapa lembar kertas. Itu adalah lembaran cetakan yang sudah dibuat kemarin. Pada saat itu, tetua memeriksanya, dan setelah itu dikembalikan kembali pada peserta agar dapat menciptakan senjata yang tercetak di dalam kertas tersebut.

__ADS_1


Semua orang mendapatkan masing masing gulungannya, termasuk Qin Yan sendiri. Hal pertama yang ia lakukan yaitu memeriksa kertas tersebut.


'Syukurlah ini asli, baguslah kalau begitu.'


__ADS_2