
Tanah hijau yang luas, tidak ada apapun disini. Hanya ada rumput hijau yang terbentang dan enak dipandang. Qin yan melangkahkan kaki ditempat ini, ditemani dengan seorang pria yang mempunyai ahli dibidang bisnis. Kiriman ayahnya.
"Tuan, kita telah sampai." Berkata orang itu dengan penuh hormat. Qin yan berdiri menghela napas lega.
"Heeeh, tempat yang lumayan bagus." Puji Qin yan, kemudian ia pun berbalik pada pria itu dengan ekspresi yang tenang.
"Jadi, sekarang kau catatkan, berapa luas lahan ini. Lalu tinggi bukitnya, diameter dan kau tafsirkan total total bahan untuk pembangunan." Suruh Qin yan, kemudian ia pun beristrahat disebuah pohon. Menggambar desain bangunan sektenya. Disini ia akan menggambar lengkap, tidak perduli biaya atau waktu. Ia benar benar tidak memikirkannya, karena ia tahu betul bagamana bentuk sekte yang sebenarnya.
Lima jam menyusun rencana dan desain, kini hari pun menjelang sore. Qin yan hampir menyelesaikan desainnya, sambil memakan buah buahan.
"Tuan, ini daftar harganya." Pria itu memberikan selembar kertas pada Qin yan. Dengan tenang, Qin yan membaca kertas itu. Tidak ada raut wajah tidak terima diwajahnya, ia hanya mengangguk dengan setuju.
"Baiklah, rekrutlah orang orang yang pandai membangun bangunan. Mungkin sekitar 50 orang kami membutuhkan orang luar, sisanya masih ada orang dalam untuk bekerja sama. Ini desainnya, kuharap kau dapat menyalinnya dengan baik." Qin yan menyerahkan kertas desainnya pada pria itu. Setelah dibaca, barulah mata pria itu langsung terbelalak.
'A-aku... aku tidak pernah melihat desain yang begitu halus dan sempurna seperti ini.' Tangan orang gemetar membacanya.
"Tu-tuan, apa anda master kondolisasi?" Tanya orang itu dengan malu malu.
"Ya, memangnya ada apa?" Jawab Qin yan dengan tenang, membuat mata pria itu makin terbelalak.
"I-ini bukan mimpi kan? Pangeran seorang master kondolisasi?"
"Ya tidaklah. Aku bahkan tidak mempunyai jalur energi bagaimana bisa aku menjadi seorang master kondolisasi.?"
Pria itu langsung membeku, tentu itu memang masuk akal. Namun ia tidak mengerti, karena desain ini menjelaskan semuanya yang tampak tidak masuk akal dipikirannya.
"T-tapi.. mana mungkin kan..."
"Sudahlah, tugasmu adalah mempersiapkan itu baik baik." Suruh Qin yan dengan paksaan, hingga orang itu mencoba mendifikasi kertas Qin yan meskipun ia tidak bergairah. Namun setelah dibaca kembali dengan detail, barulah mata orang itu kembali melotot.
"Tu-tuan... bangunan ini..."
"Membutuhkan banyak biaya?" Tanya Qin yan, melihatnya yang gagab untuk bicara.
"Jadi anda sudah memperkirakannya?" Melihat Qin yan yang dapat menebak itu dengan mudah, ia pun jadi terkejut. Anak ini lebih luas perkiraannya dari apa yang ia bayangkan. Apalagi melihat Qin yan mengangguk, ia makin tambah mengerti.
"Jadi begitu, itu berarti anda sudah menebak kira kira berapa harga yang dapat dibutuhkan. Dan bagaimana cara kita mendapatkan semua itu. Tapi pangeran, kalau dipikir pikir. Keuangan kerajaan kita tidak sebanyak itu." Alis pria itu berkerut dengan khawatir. Ia kira Qin yan adalah tipe anak yang akan menghabiskan uang keluarganya.
"Huh? Kenapa harus uang kerajaan? Kalau kita bisa menghasilkan uang itu sendiri."
"Maksud anda?" Tanya orang itu dengan bingung.
Qin yan kemudian bertanya dengan pelan.
"Ayahku mengirimmu untuk menemaniku. Karena kau hebat dalam bisnis kan?" Pria itupun mengangguk mendengar pertanyaan Qin yan.
"Berapa cangkupan wilayah bisnismu?" Pertanyaan Qin yan membuat pria itu berpikir panjang.
"Hm... Perdagangan kami mencakup kerajaan Kalise, Dandun, dan Geritimo."
__ADS_1
Qin yan mengelus dagunya sendiri setelah mendengarnya.
"Dandun dan Geritimo yah.." Pikir Qin yan, ia kemudian menemukan ide.
"Tampaknya kita akan membuka bisnis kembali dengan kerajaan Dandun dan Gerimtimo."
"I-iyah, tapi bisnis apa?"
Mendengarnya, Qin yan hanya melempar sebuah cincin penyimpanan padanya. Cincin itu adalah salah satu dari banyaknya harta didalam cincin penyimpanan utama.
"Kau jangan membukanya dulu, tapi tanda tangan dulu pada kontrak ini dan kau berhak menjalankan tugasmu." Ia pun kembali menyerahkan kertas, tidak peduli ekspresi pria itu yang penasaran.
Setelah ditanda tangani, baru pria itu pun tanpa sabar membuka isi penyimpanannya. Dan betapa kagetnya dirinya, mendapati kalau ratusan kertas kondolisasi keluar dari cincin tersebut.
"Woaaah!!! I-ini... Apa ini nyata?" Pria membeku melihat ratusan kertas yang berterbaran diudara. Qin yan tidak menjawab, pria itu akhirnya mengalisis sendiri. Dan dia pun sadar, kalau semuanya bukan kebohongan.
"Anda... Anda siapa sebenarnya?" Tanya pria itu dengan alis berkerut, namun yang ia dapatkan tatapan pembunuh dari Qin yan.
"Pastikan kau melakukan tugasmu. Dan pengecualian untuk kerajaan Kalise, kau tidak boleh menjual satu pun milik kita pada mereka. Jika tidak, kau juga akan menanggung akibatnya." Entah kenapa perkataan Qin yan membuat pria itu merinding, ia pun mengangguk dengan penuh keringat.
"Baik."
Setelah itu Qin yan menyuruhnya pergi, tentunya dengan semangat membara, pria itu bersedia meninggalkan Qin yan.
"Sekarang urusan keuangan telah ditangani, mungkin aku butuh bantuan mereka." Qin yan kemudian membuka gerbang dimensinya. Kemudian masuk kedalam.
Disana, seperti biasa, para pasukannya menjalani latihan. Namun ada juga tenda tenda khusus untuk orang yang terluka atas bencana dua minggu lalu. Tang liu beserta lainnya menyambut Qin yan penuh kehangatan. Tadinya Qin yan ingin membicarakan langsung rencananya, namun kini ia harus makan dan bersenang senang dengan mereka terlebih dahulu.
"Um... Kudengar, suku Maori terkenal karena keahlian pertahanan, selain itu juga hebat dalam pembangunan."
Xing yun langsung mengangguk atas pertanyaan Qin yan.
"Ya. Kurasa kalau kau berbincang sedikit dengan ketua mereka, sepertinya bisa. Yah walaupun memang tak bisa di tolak sih, tapi aku senang karena sekian lama akhirnya orang orang kita bisa melihat datatan." Senyum Xing yun dengan riang.
Suku Maori, ketuanya adalah wanita paruh baya berumur 45 tahun. Berada ditingkat Sage. meskipun ia seorang wanita, namun sikapnya cenderung lebih tegas dari seorang pemimpin pria. Berbicara dengan wanita ini juga cukup berwibawa, untungnya Qin yan bisa mengatasinya sedikit kalau dalam hal berbicara. Intinya, seluruh suku Maori mau melakukan kerja sama.
Dalam pasukan Qin yan ini, terbagi dalam beberapa keluarga dan masing masing pekerjaan. Suku Maori dikenal sebagai suku Pertahanan, kedua yaitu keluarga Angin salju, keluarga ini mempunyai kecepatan yang luar biasa sehingga biasa digunakan dalam hal penyerangan diam diam, menyelinap atau mata mata. Selanjutnya kelompok Serigala, diketuai Ling han. Mempunyai pekerjaan rata rata sebagai pandai besi, cocok untuk membuat senjata. Lalu keluarga gunung Keramat, atau keluarganya Xing yun, mereka cenderung lebih kearah pengobatan dan juga Alkhemis. Dan masih ada keluarga lain yang tak bisa disebutkan. Yang penting, semuanya mengambil peran masing masing.
Keluar dari dimensi gate, ditemani dengan setengah pasukannya yang akan ikut membangun bangunan sekte. Kini Qin yan memulai prosedur perencanan, dimulai dari awal alat dan bahan, desain, analisis waktu, pasokan makanan, gaji, tenaga kerja dan lain lain. Kini mereka bersama sama mempersiapkan lahan tersebut untuk pembangunan.
Bahkan setelah ayahnya datang pun, ia di buat heran dengan kecepatan pola berpikir Qin yan yang mampu mengatur semua ini. Bukan hanya dia, bahkan penasehat yang mengikutinya juga ikut terperangah. Menatap Qin yan dengan ngeri, pikirannya makin menjadi jadi. Qin yan yang ia kira adalah pangeran Qian yu, ternyata mempunyai segi perencaan yang tinggi.
'Kalau dia menjadi raja baru, kerajaan ini pasti berada dalam kemajuan tinggi. Sayangnya itu hanyalah kekagumanku saja, karna aku tak mau tahta kerajaan itu jatuh ketangannya.' Ia tertawa licik melihat Qin yan.
Tanpa sadar juga, Qin yan jadi berbalik kearahnya. Bagaimana tidak, ia sendiri merasa ada yang menatapnya dengan tidak biasa. Makanya ia berbalik dan mendapati penasehat itu juga sedang menatapnya.
"Yang mulia, sepertinya kita harus menemui pangeran sekarang juga." Berkata penasehat itu dengan gugub, entah kenapa ia tidak tenang saat mendapat tatapan Qin yan.
"Hm... Baiklah, mari ikut aku." Raja pun pergi diikuti olehnya. Diam diam ia masih mempertanyakan ketakutan dihatinya.
__ADS_1
'Sial, apa aku takut pada anak itu? Dia seperti lebih berbahaya saja dari penampilannya.' Penasehat itu jadi memeriksa meridian Qin yan kembali. Dan fakta yang selalu sama seperti yang ia dapat dari dulu.
'Tidak, mungkin aku terlalu berpikir berlebihan. Mana mungkin anak cacat bisa membuatku takut.' Ia pun hanya menggelengkan kepalanya dengan lucu.
"Qian yu, bagaimana perkembangannya saat ini?" Sang raja menyapa Qin yan.
"Semua prosedurnya sudah disiapkan dengan baik, mari kita cari tepat yang cocok untuk berbicara." Qin yan pun mempersilahkan ayahnya layaknya tamu. Meskipun lahan masihnya tanah kosong, rupanya para prajurit Qin yan sudah membuat tenda untuk peristrahatan.
Diikuti dengan penasehat itu, mereka bertiga pun masuk kedalam tenda yang tak bisa didengar oleh orang lain. Diam diam, si penasehat menatap Qin yan dengan penuh hina. Kemudian membuka topik awal pembicaraan.
"Tampaknya pangeran mempersiapkan semuanya dengan baik. Kuharap itu tidak akan mengecewakan." Penasehat mengeluarkan senyum palsunya.
"Tenang saja, semuanya memang sudah kupersiapkan dengan baik. Aku hanya meminta persetujuan dengan raja, aku ingin menggunakan nama anda sebagai pemegang hak atas pembangunan besar besaran ini."
"Ppfftt...." Penasehat jadi ingin tertawa mendengar argumen Qin yan. Hingga membuat raja tidak suka melihat sikapnya yang suka merendahkan pemikiran orang lain.
'Seperti halnya pangeran lain, mereka akan selalu menggunakan pengaruh ayahnya untuk berbuat sesuatu.' Begitulah hal yang dipikirkan oleh orang berpikiran sempit, penasehat juga menilai Qin yan dari penampilan dan segi sifatnya yang cenderung mengharapkan orang lain. Namun ia tak tau, kalau ia sebenarnya telah jatuh dalam drama licik antara ayah dan anak ini. Walaupun sebenarnya ini cara nyata untuk pembangunan tersebut, namun begitu dalam jika diselidiki.
Diam diam Qin yan menggunakan drama ini agar ia terlihat lemah didepannya. Menggunakan pemikiran prepekstif agar ia terkesan sebagai pangeran dungu disini. Tentunya dalam pikiran pria tua itu, semua pembangunan ini adalah rangkaian rencana dari ayahnya, bukan pangeran sendiri. Padahal ayahnya tidak ikut turun tangan dalam hal ini, karena Qin yan sendiri yang melarangnya. Ia yang telah mengurus semuanya.
"Memangnya kau mau membangun apa sampai sampai melibatkan nama ayahmu?" Tanya pria itu sambil menahan tawanya.
"Kira kira, mungkin kita akan membangun sebuah akademi tingkat atas." Jawab Qin yan dengan tenang.
'Akademi tingkat atas?' Mata sang penasehat membesar sekali lagi, ia makin percaya kalau otak Qin yan sudah bermasalah.
"Akademi tingkat atas seharusnya dibangun oleh kerajaan tingkat atas pula. Tapi kerajaan kita selalu mendapat penyerangan dari kerajaan lain, dari dulu kita hanya terus bertahan dari ujung tanduk. Bagaimana mungkin kita bisa membangunnya, bukankah itu membutuhkan biaya tinggi. Dan juga harus membutuhkan ijin dari kerajaan lain. Kau mau main main dengan ka..."
"Sstt..." Penasehat yang sedang mengoceh itu malah diberi peringatan agar diam oleh Qin yan dengan ekspresi tenang. Ia sendiri dibuat tegang oleh anak itu. Sementara raja sendiri hanya diam tidak berkutik melihat mereka.
"Aku sudah tahu itu dan aku sudah mempertimbangkan semuanya. Kalau masalah ijin, biar aku yang meminta ijin pada kerajaan pusat. Kau tidak perlu pusing dan tidak perlu membuat orang pusing, tenang saja semuanya sudah kuatur. Yang perlu kau lakukan hanyalah menginvestasikan pembangunan ini sebaik baiknya."
"Guld" Pria tua itu menganga sambil menelan ludahnya sendiri. Ketenangannya hilang saat mendapati ketenangan Qin yan.
'A-apa ini... rasanya aku tidak melakukan negoisasi dengan anak kecil. Melainkan dengan sosok yang melebihi raja. Huyan, kau tidak boleh lengah oleh anak ini. Meskipun penampilannya lemah, tapi perasaan dan naluri ini mengatakan kalau dia orang yang sangat berbahaya.' Meskipun luarnya penasehat itu tampak tenang, tapi sebenarnya ia mendapati tekanan batin dari Qin yan.
"Tenang saja, pangeran. Serahkan itu padaku." Ia pun mengangguk dengan patuh. Mengenai pembahasan mereka tadi, negoisasi dengan penasehat sudah selesai. Raja pun juga menyuruhnya untuk keluar.
"Penatua Huyan, bisakah kau keluar sebentar." Ucap sang raja dengan wajah datar. Membuat penasehat itu jadi terperangah, namun ia tidak punya pilihan selain mematuhi perintah rajanya. Dan itu membuatnya semakin dengki dan iri, tidak lupa pula dengan tatapan tidak senang menatap sang raja dari belakang. Walaupun ada Qin yan, tapi ia tidak menganggapnya serius tentang itu. Qin yan bisa ia hadapi nantinya, tapi raja ini. Ia ingin menyiksanya dengan tangannya sendiri.
Dengan berat hati pun ia keluar, diam diam Qin yan memasukan prajurit bayangannya kedalam bayangan pria itu.
"Apa tidak apa apa, memberinya tanggung jawab itu.?" Tanya ayah Qin yan dengan khawatir.
"Tenang saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia tidak akan membocorkan informasi ini. Prajurit bayanganku akan mengawasinya. Dan untuk kerajaan ini pula, aku akan mengeluarkan beberapa prajurit bayanganku sebagai mata mata, pertahanan tak kasat mata, atau pembunuh diam diam jika ada yang ingin melakukan hal tidak dinginkan. Tentunya pegawasan ini juga akan dibatasi agar prajurit ini tidak melakukan tindakan semena mena. Karna beberapa hari ini, aku juga akan kesuatu tempat."
Mata ayahnya membesar mendengarnya.
"Pergi kesuatu tempat? Dimana?" Tanya ayahnya, namun tidak ditanggapi oleh Qin yan. Karena perjalanan ini jika ia beritahukan juga, ayahnya tidak akan setuju. Lebih baik dirahasiakan saja. Sebuah perjalanan rahasia menemukan salah satu makhluk mitologi piaraaan dewa.
__ADS_1
Pemuja para bangsa Medusa, Neidan.