
"Wish" suara dentuman batu prasasti terdengar, menampilkan nama, umur serta tingkatan kultivasi yang dimiliki seseorang. terdapat papan nama informasi yang menyediakan nama-nama peserta yang sudah mendaftar. saat ini, kelompok yang sedang mendaftar yaitu para murid dari kerajaan Sindran. setelah mereka barulah kelompok Qin yan yang maju.
Qin Yan maju ke depan seorang pengawas, yang tengah menulis daftar para murid.
"Kerajaan mana?" tanya pengawas itu dengan wajah datar.
"Sunmoon." Qin Yan juga menjawab dengan datar.
namun, ketika pengawas itu mendengar kerajaan Sunmoon. dirinya langsung tercengang. entah karena apa, tapi ia memandangi wajah Qin Yan dengan serius, sementara Qin Yan nampak acuh tak acuh.
"kau dari kerajaan Sunmoon?." pengawas itu memastikan apa yang ia dengar.
"Ya. ada apa?"
"Oh, oh te-tentu. Sebutkan anggotamu. Dimulai darimu." pengawas itu langsung kaku ketika berbicara, namun ia tetap menjaga profesionalisme saat mengucapkan kalimat.
Qin Yan mengangguk, ia mulai menyebutkan anggota anggotanya. Ada sepuluh total, yakni lima orang pria dan lima orang perempuan.
"Qian Yan, Lin Fin, Xiu Xiu, Xie Xie, Jung kyun, Tang Liu, Yi Luo Xiang, De muer, Ning er, dan Huyan Wu."
setelah semua yang dicatat, pengawas tersebut mempersilakan Qin Yan untuk menyentuh batu prasasti di depannya.
"Tap" ketika tangan Qin Yan menyentuh dinding batu itu, perasaan seperti disengat listrik langsung dirasakan oleh Qin Yan. terlebih lagi sepertinya batu itu menghisap kekuatannya. tentunya dia tahu kalau batu itu sedang memeriksa tubuhnya.
seperti yang dipikirkan, batu itu tiba-tiba bersinar. namun di saat yang bersamaan, Qin Yan juga merasakan ada yang salah dengan perutnya. sepertinya segel itu bereaksi lagi. rasanya segel yang ada di dalam tubuh Qin Yan bertolak belakang dengan segel dibatu itu.
"Spssh" Tiba tiba terdengar sebuah suara, rasa sakit langsung menjalar dalam perut Qin yan. di saat yang sama, batu yang ia sentuh tidak menunjukkan apapun. membuat pengawas tersebut jadi heran, bingung dengan apa yang terjadi.
"ada apa dengan batu ini, coba sekali lagi." detik berikutnya, pria itu kembali menyuruh Qin yan menyentuh batu tersebut.
"Boom"
Namun, diluar jangkauan. Batu tersebut malah hancur ketika Qin Yan menyentuhnya lagi. Dan terlebih lagi asapnya mencengangkan semua orang.
"Ada apa ini? Kenapa batunya bisa hancur?" Semua orang terperangah, sekali lagi kelompok Qin Yan menjadi pusat perhatian.
"Dari kelompok mana mereka?" Berkata seorang pria yang tengah duduk santai diatas pagar sambil meminum arak ditangannya. Ia memakai seragam abu abu, dibalut kain hitam. Sedari tadi, ia terus memperhatikan Qin Yan yang ada disana.
"Entahlah Fan Ghong. Jika aku tidak salah dengar, mereka berasal dari kerajaan Sunmoon." Jawab temannya dibawah.
Mendengar kerajaan Sunmoon, mata pria itu jadi serius. Sedari tadi ia memang merasa ada yang aneh dengan Qin Yan. Selain tak bisa merasakan kultivasinya, ia juga merasa kalau orang itu bukan orang sembarangan.
"Memangnya ada apa? Jarang sekali kau bertanya dengan orang yang tak kau kenal. Kau tertarik dengannya yah?" Sebenarnya, teman yang menjawab pertanyaan pria itu adalah seorang gadis berambut pendek. Ia memegang sebuah tongkat dipundaknya. Dan terlihat begitu imut jika diperhatikan lebih jelas. Nampak sekali, kalau gadis tengah menggoda pria diatasnya.
"Ck.." Mendengar itu, pria tersebut hanya menggelengkan kepala sembari meminum minumannya. Setelah meneguk airnya, tatapannya kembali serius.
"Felin er, jangan sekali kali kau mencari masalah dengan mereka."
Gadis imut tersebut hanya memandangi pria tersebut dengan heran.
'Jarang sekali kakak merasa was was kepada orang yang tak dikenal. Diakan jenius dari kerajaan kami. Lalu.... Siapa siapa sebenarnya orang itu?' Gadis itu mulai berpikir lagi. Ia menatap Qin Yan yang tengah bingung disana. Secara alamiah ia akan mengikuti perintah kakaknya.
"Tenang saja kok. Dan juga, jangan terlalu minum! apa kau tak merasa lelah." Gadis itu mulai menarik kaki pria tersebut hingga terjatuh. Terlepas dari kecorobohan antar kakak beradik tersebut yang mencairkan suasana. Semua orang masih menatap kejadian yang disebabkan oleh Qin Yan.
'Bahkan, batu prasasti pun tak bisa mendeteksi kultivasinya? Siapa sebenarnya anak ini?' pengawas tersebut juga dibuat tercengang.
'Kejadian ini tak bisa dibiarkan, aku harus melaporkannya pada atasan.' Dia pun memanggil anak buahnya.
"Penjaga!"
Tidak berlangsung lama, dua orang pun terlihat memasuki area ini. Pengawas tersebut membisikan sesuatu pada penjaga tersebut. Hingga kedua orang itu akhirnya mengangguk.
"Hei kau, cepat ikut kami." Kedua penjaga itu menarik kasar Qin Yan kedepan. Hingga teman temannya dibelakang jadi tak senang mendengarnya. Untungnya pengawas tersebut cepat cepat menengahi.
"Mohon maaf kepada kalian, masalah ini akan diurus oleh ketua. Kalian bisa menunggu sebentar. Dan cobalah mendaftarkan diri kebatu sebelah.
__ADS_1
Pengawas tersebut mengarahkan Lin Fin dan yang lain kearah batu lain disebelah mereka. Karena batu didepannya hancur, maka mau tidak mau mereka harus memakai batu disamping. Meskipun baru tersebut juga sedang dipakai oleh kelompok lain. Namun itu sebenarnya tidak terlalu bermasalah.
Akhirnya itu, Qin Yan dibawa kedalam. Tepat setelah itu, beberapa rombongan berseru kagum.
"WOAAAAHH!!! Coba lihat diatas sana."
Semua orang mulai kasat kusut memperhatikan sesuatu diatas langit. Hal itu juga menarik perhatian para pengawas termasuk Qin Yan sendiri.
"Astaga!!!! Itu adalah para murid dari akademi kerajaan Glasier. Lihat itu, Shue Bing er. Dia cantik sekali."
Orang orang yang ada ditempat itu jadi bersorak kagum, ketika melihat seorang wanita berambut biru terang melintasi langit dengan Phoenix es miliknya.
"Lihat disana, disamping Shue Bing er. Itu Ling qing zhu. Mereka berdua menawan sekali.!!" Ketika mendengar nama Qing zhu yang dipanggil, Qin Yan seketika langsung berbalik. Ternyata benar, Qing zhu ada disana. Ia menatap kedatangan gadis itu, bahkan sampai gadis itu berjalan mendekat.
"Hello." Qin Yan berbisik menyapa gadis itu, namun entah kenapa Qing zhu malah melewatinya dengan acuh tak acuh. Hal itu membuat Qin Yan langsung tertegun. Dengan cepat ia berbalik, menatap gadis itu yang berjalan kedepan dengan alis berkerut.
"Sampah." Sejurus kemudian, Shue Bing er mengatai Qin Yan sambil melipat tangannya didada ketika berusaha menyusul Qing zhu.
Qin Yan terdiam mendengar itu. Untuk beberapa saat, ia tak bisa berkata kata apa apa. Apakah Qin Yan melakukan kesalahan pada gadis itu? Kenapa Qing zhu terlihat marah padanya. Beberapa saat Qin Yan berusaha mencernanya, ia tiba tiba disadarkan karena orang orang mulai menertawainya. Mereka tertawa bagaikan menyaksikan seorang badut.
"Cepat, ikut kami." Tidak lama kemudian, dua penjaga tersebut membawa Qin Yan.
Disaat itulah Qin Yan merasa ada yang salah dengan dirinya. Hatinya sakit seperti dicabik cabik, padahal cuma diabaikan. Tapi bagaimana kalau yang mengabaikannya itu adalah istrimu dimasa lalu. Bagaimana jika nanti kau gagal membawa kembali Qing zhu sebagai istri dimasa depan. Qin Yan langsung terbebani oleh pikiran pikiran negatif seperti itu.
"Ukh....!" Tiba tiba jantung Qin Yan terasa sakit, ia langsung terduduk sambil memegangi dada kirinya.
"Qi-- Qian Yan!" Lin fin dengan cepat mendekat kearahnya diikuti dengan yang lain.
"Aku baik baik saja." Qin Yan memaksakan senyumnya, ia sadar kalau ia sudah berpikir terlalu jauh. Padahal ini baru awalan dari kehidupannya, waktu masih terlalu panjang. Memikirkan itu, membuat Qin yan menggelengkan kepala. Ia kembali semangat sekali lagi. Kali ini ia pergi kedalam dengan ditemani dua penjaga tersebut.
Namun, apa yang tidak ia ketahui adalah Qing zhu juga merasakan sakit di dadanya. Sesak dan jantungnya berdetak cepat. Hal itu membuat Qing zhu merasa tak nyaman.
"Apa kau baik baik saja Qing zhu." Tanya Shue Bing er disamping. Ia memegang bahu Qing zhu dan terlihat khawatir.
"Tidak, tidak apa apa." Qing zhu juga tersenyum masam. Sejenak ia berbalik kepada Qin Yan, yang juga berbalik kearahnya. Sejenak, mereka saling bertatapan.
"Cih."
Shue Bing er yang melihat jadi penasaran. Qing zhu emosi kepada orang lain. Tidak seperti biasanya, karakter Qing zhu itu dingin dan tenang. Ia juga tak mungkin memperhatikan orang lain. Tapi sekarang, ia menyadari kalau ada yang salah dengan gadis ini.
"Qing zhu, apa kau kenal dia?" Tanya Shue Bing er dengan lembut. Namun Qing zhu hanya menggeleng pelan.
"Aku tidak mengenalnya." Jawabnya dingin dan datar. berusaha menyembunyikan apa yang ia rasakan.
namun hal itulah yang membuat Shue Bing er makin penasaran. ia pun tersenyum tipis.
'baiklah, karna kau tak ingin menjawabnya. aku akan memeriksanya sendiri siapa pria itu.' terbesit sebuah rencana licik di pikiran gadis itu. dalam hati yang paling dalam, ia sebenarnya memendam rasa iri kepada Qing zhu. karena mereka berdua sama-sama cantik dan berbakat. namun, Qing zhu selalu berada selangkah di depannya. Hal itu membuat master selalu memperhatikannya.
namun kali ini ia menemukan sebuah jalan untuk menjatuhkan reputasi gadis ini. Karena sekte menara es suci sangat membenci laki-laki, maka ini akan menjadi kesempatan yang sangat langka. dengan bukti yang ada, Qing zhu akan tersingkirkan dan ia akan menjadi kepercayaan master nomor satu di sekte.
*********
"ketua." salah satu prajurit datang memberi hormat, kepada seorang pria paruh baya yang sedang memeriksa dokumen di atas meja. ia sangat serius memeriksa dokumen itu, hingga ia tak mendengar prajurit yang tengah memanggilnya. sampai akhirnya prajurit tersebut memanggil dua kali barulah pria itu menjawab.
"ada apa?" suara pria itu nampak tenang.
"ketua, batu prasasti yang digunakan sebagai pendeteksi kultivasi telah dihancurkan oleh seorang murid." ucap prajurit itu dengan sopan.
"Apa!! murid itu macam mana yang berani menghancurkan batu itu."
"dia kira siapa, dia kira dirinya hebat?" Pria tersebut langsung berdiri, menghantam tangannya kepermukaan meja dengan keras.
"Katakan dimana murid itu!" Bentaknya dengan marah.
Tidak lama kemudian, Qin Yan pun dibawa masuk. Anak itu menunduk seakan mengakui kesalahannya. Tentunya pria tersebut tetap menatap Qin Yan dengan dingin meskipun ia bersikap begitu lugu.
__ADS_1
"Siapa namamu nak?" Tanyanya mata melotot, ia ingin melihat apakah anak kurang ajar didepannya ini benar benar hebat atau tidak.
Seperti biasa Qin yan akan menjawabnya dengan sopan. Namun kali ini, entah kenapa ia tidak punya gairah apapun. Ia hanya menunduk dan menjawab seadanya saja.
"Qian Yan."
Alis pria itu terangkat sebelah. Senyum tipis terpancar dibibirnya.
"Kerajaan?"
"Sunmoon."
Tidak lama kemudian pria tersebut melipat tangannya didada sambil duduk diatas meja. Tatapannya tetap mengarah ke Qin Yan.
"Bagaimana caranya kau menghancurkan batunya?" Tanyanya lagi.
"Entahlah." Jawab Qin Yan seadanya.
"Brak." Pria paruh baya tersebut langsung menendang kursi.
"Apa maksudmu entahlah! Kau pikir sedang berbicara pada siapa, hah! Dengar yah, aku tak perduli kau itu berasal dari kerajaan mana. Karna kami juga punya aturan dan apapun yang terjadi padamu hari ini, kami tidak akan dikenai sangsi. Oleh karena itu, berhati hatilah jika menjawab. Kau mengerti?" Pria itu mendekatkan diri kewajah Qin Yan yang menunduk.
"Mengerti."
Namun ia sedikit tertegun karena Qin Yan menjawab dengan polos tanpa protes apapun. Karena seperti itu, kemarahan pria itu langsung mereda.
"Baiklah, katakan padaku. Bagaimana batunya bisa hancur?"
Karena pria itu terus bertanya, akhirnya Qin Yan memilih membuka bajunya. Ia menghela napas, kemudian menunjukan segel yang ada didalam perutnya.
"Haaah?" Pria tersebut langsung melongo, ia tak mengerti apa yang dilakukan anak ini.
"Apa maksudnya ini?" Tanyanya dengan bingung.
"Pada saat aku menyentuh batunya, aku merasa seperti tersengat listrik dibagian perutku."
"Apa?" Alis pria tersebut langsung berkerut saat mendengarnya. Ia benar benar tidak habis pikir, apa yang dikatakan anak ini. Dan juga, ia sama sekali tidak memahami apapun tentang segel diperut Qin Yan. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya pria itu menggelengkan sambil menghela napas.
"Maaf nak, aku harus katakan ini padamu. Tidak bisa memprediksi kultivasimu berarti tidak bisa mengikuti kompetisi. Jangan salahkan kami, tapi salahkan orang yang telah menyegelmu."
Mendengar itu, Qin Yan juga hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala. ia pun berbalik ke belakang menuju pintu keluar.
"Yah, kau benar. aku harus menyalahkan 12 master yang telah menyegelku ini."
Tiba tiba pria paruh baya itu membeku, mendengar ketika Qin Yan menyebut 12 master.
"Apa! Kau bilang 12 master?" Dengan cepat ia berbalik menghentikan Qin yan.
"Hm....? Yah, memangnya kenapa?" Qin Yan bertanya polos, padahal dalam batinnya ia sedang tertawa keras. Akhirnya pria ini masuk kedalam sandiwaranya.
"Tu-tunggu." Pria itu berpikir sejenak sebelum memastikan.
'Dua belas master? Kenapa dia menyebut 12 master? Jangan jangan dialah anak itu?' Pria itu langsung menuju lacinya, mengambil sesuatu kertas didalamnya. Ternyata itu adalah gambar yang pernah di buat oleh master Zhou weiqing. Saat itu dia sedang menggambar kan wajah Qin Yan untuk diserahkan kepada tiga bersaudara Sangguan. Setelah itu mereka menyuruhnya untuk membuang kertas itu ketempat sampah. Tapi pria tersebut melakukan sebaliknya, dia menyimpan kertas itu karena putrinya sangat terobsesi dengan Qin Yan.
'Tidak mungkin!' Pria itu tercengang, gambar itu sangat identik dengan anak yang ada didepannya. Apalagi saat melihat tanda v didahinya, maka cocoklah sudah. Dia tidak tau harus bereaksi apa. Soalnya, kebanyakan isu yang ia dengar, Qin Yan sangat angkuh dan arogan. dia suka mencari masalah dengan orang lain. kelakuan dan tingkah lakunya sangat tidak sopan bahkan jika itu kepada orang yang lebih tua atau master master dari sekte. itulah mengapa dia dikenal sebagai anak yang suka membuat kekacauan.
namun apa yang ia lihat ini justru berbeda, anak yang ada di depannya sangat polos dan lugu. bahkan dia terlihat sopan dan tidak suka menyinggung orang lain. apakah benar mereka orang yang sama.
pria paruh baya itu cukup pusing memikirkannya. namun satu hal yang mengganjal pikirannya saat ini, segel yang ada di dalam tubuh anak itu, terlihat bukan segel biasa.
'aku harus membawanya ke master, dia mungkin tahu sesuatu.'
tidak lama kemudian, pria paruh baya itu membawa Qin Yan ke sebuah paviliun. Qin Yan dibawa sampai keruangan khusus yang boleh ditempati oleh tokoh-tokoh penting.
saat tiba di depan pintu, tiba-tiba seorang wanita menyapa mereka.
__ADS_1
"Hui shie. Mengapa kau datang kesini? Dan siapa anak yang kau bawa?"