
Setelah keluar dari tempat kakek itu, Qin Yan bergegas kembali ke rumah sakit. Hari sudah menjelang malam, dan ia singgah ke beberapa penjual untuk membeli beberapa makanan.
Wajahnya kembali muram saat memasuki rumah sakit, teman temannya kini tengah dalam masa kritis, dan itu membuatnya kepikiran sampai saat ini.
Saat hampir sampai ke ruangan dimana teman temannya dirawat, ia mendapati seorang gadis berpakaian tabib berdiri didepan pintu dengan kedua tangan disilangkan didada. Tatapan gadis itu begitu angkuh dan mengandung kebencian saat mendapati Qin Yan hendak memasuki kamar.
"Oh, Huang er. Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Qin Yan dengan senyuman ramah. Dilihat dari tatapan gadis itu, tampaknya ia masih marah atas pertarungan beberapa hari yang lalu.
"Huh! Kau pikir apa yang aku lakukan disini? Kau seharusnya berterima kasih padaku. Aku membantu mengobati teman temanmu." Jawab Huang er dengan angkuh.
"Oh, begitukah. Terima kasih." Ucap Qin Yan dengan pelan, ia benar benar tulus mengatakannya. Tapi, entah kenapa. Huang er kurang puas atas tanggapan itu. Gadis itu langsung mencengkram baju Qin Yan dengan penuh kebencian. Ia menggertakan gigi dengan tatapannya yang tajam. Berbicara dengan nada tidak senang.
"Aku jijik dengan rasa terima kasihmu. Melihat wajahmu membuatku......" Huang er hendak mengatai Qin Yan lagi, namun ia langsung terkejut melihat wajah lelah anak itu. Sulit untuk mengakuinya, tapi Huang er cukup kasihan melihatnya yang nampak kelelahan. Sepertinya anak itu telah bekerja cukup keras beberapa hari ini.
Dengan enggan ia melepaskan kerah baju Qin Yan. Meskipun kasar, dan membuat Qin Yan terdorong kedinding. tapi ia tidak mempunyai keinginan untuk mengganggunya lagi disaat saat seperti ini.
"Ceklek" Tidak lama kemudian, keluarlah seorang pria paruh baya. Ia mempunyai beberapa kemiripan dengan Huang er, termasuk kedua matanya.
"Eh, Huang er. Siapa ini?" Tanya pria paruh baya itu.
"Hmph.... Ini dia anak yang kuceritakan ayah." Ucap gadis dengan menyilang tangannya didada sementara wajahnya menoleh kearah lain.
"Oh, ternyata Qin Yan. Kau temannya Huang er yang selalu dibicarakannya yah." Pria paruh baya itu tersenyum ramah melihat Qin Yan.
"Ayah!" Sementara Huang er meraung manja, ia tak senang ayahnya mengungkap curhatannya didepan anak ini. Tapi ayahnya hanya menanggapinya dengan tawa lucu. Ia berpikir sepertinya putrinya mempunyai hubungan cukup dekat dengan anak ini.
"Aku sudah banyak mendengar tentangmu dari Huang er. Dia selalu menyebut namamu setiap kali latihan."
Qin Yan tertegun mendengarnya. Selalu menyebut namanya setiap kali latihan? Dalam pikiran Qin Yan membayangkan, setiap kali Huang er meninju samsak, ia pasti membayangkan wajahnya. Di tinju seperti itu sampai babak belur.
'Si-sialan, gadis ini....' Qin Yan melirik gadis itu. Sementara Huang er menjulurkan lidahnya dengan nakal.
"Qin Yan." Panggil ayah Huang er sambil memegang bahu Qin Yan. Ia pun mendekatkan wajahnya, pupil matanya yang berwarna keperakan aktif dengan tajam.
"Aku juga mendengar kecabulanmu. Sepertinya putriku Huang er berteman dengan beberapa orang aneh."
Qin Yan seketika jadi canggung ketika mendengar itu. Ia pun menggaruk belakang kepalanya sambil memaksakan tawanya.
"Ah, hahaha.... Huang er juga banyak bercerita dengan paman. Katanya paman baik dan ramah."
"Huh?" ayah Huang er seketika jadi malu. Ia terbatuk sejenak dengan wajah ceria.
"Oh, tidak kusangka Huang er juga bercerita tentangku padamu yah." Ia pun tersenyum pada Huang er. Sepertinya ucapan Qin Yan benar benar membuatnya cukup senang. Tampaknya dia adalah ayah yang baik.
Tapi Huang er malah melototi Qin Yan makin tajam akibat kebohongannya. Sepertinya Qin Yan malah memperdalam kebencian gadis ini.
"Yah, aku cukup terkesan dengan trikmu anak muda. Kalau begitu sampai disini saja. Aku akan pergi mengambil beberapa bahan obat untuk pasien." Setelah itu, ayah Huang er melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan Qin Yan sendiri dan Huang er.
Qin Yan juga tidak mempunyai banyak waktu, ia ingin cepat cepat menjenguk teman temannya. Namun seketika Huang er menghentikannya kembali.
"Apa sebenarnya maumu?" Kali ini Qin Yan juga hampir kehabisan kesabaran. Ia memandangi gadis itu dengan mata merahnya.
Mata Huang er juga menyala keperakan, ia sama sekali tidak terpengaruh dengan tekanan Qin Yan.
"Ingatlah, urusan kita belum selesai." Ucapnya dengan dingin. Setelah itu ia melepaskan Qin Yan dan pergi meninggalkannya.
Melihat itu, Qin Yan hanya menghela napas. Matanya kembali normal, ia hendak membuka pintu. Tapi, tiba tiba pintunya malah dibuka orang lain dari dalam.
Saat pintu terbuka, empat pasang mata saling bertatapan. Qin Yan tertegun sesaat, melihat gadis bercadar hitam berdiri dengan mata bergetar ketika melihatnya.
__ADS_1
"Oh, Qin Ruo Ying. Siapa itu?" Seseorang tiba tiba bertanya dibelakang. Qin Yan kemudian menengok, melihat Zhou Weisi berada di ruangan perawatan ini. Selain dia, ada Hulena yang tengah menyuapi Lin Fin. Lalu Qiu er juga duduk dibangku menemani mereka.
"Oh, Qin Yan kah? Darimana saja kau, kami mendengar kalau kalian mendapatkan beberapa masalah. Awalnya kami tidak percaya kalian masuk rumah sakit, tapi ketika kami datang. Kami kaget melihat keadaan kalian." Ucap Weisi disamping Lin Fin.
Qin Yan kemudian maju melewati Ruo Ying. Gadis itu hanya menunduk, tak berani menatap Qin Yan untuk kedua kalinya.
"Yah, kerajaan Lembah racun mencari masalah dengan kami." Qin Yan kemudian meletakan bingkisan makanannya diatas meja. Lalu duduk di tempat tidur milik Xiu Xiu.
"Oh, tidak heran kami juga mendapat informasi kalau seluruh anggota kerajaan Lembah Racun masuk rumah sakit dengan keadaan terluka parah. Apa kau yang menyebabkan itu semua?" Tanya Weisi lagi.
Lin Fin yang tadi menerima suapan Hulena akhirnya menjawab pertanyaan Weisi.
"Yah, kalau Qin Yan tidak datang tepat waktu. Mungkin tidak ada yang tau kondisi kami seperti apa."
Mendengar itu, Weisi hanya menggelengkan kepala mendengarnya. Ia pun menghela napas.
"Entah apa rencana mereka dengan mengganggumu. Tapi, kudengar dari ayahku. Master sekte Racun mengamuk karena tim Lembah racun adalah kerajaan yang berada dibawah sektenya."
"Ya, itu masuk akal. Siapa juga yang suruh pak tua itu untuk bertingkah." Jawab Qin Yan acuh tak acuh. Ia mengambil segelas minuman dan membantu Xiu Xiu meminumnya.
Semua orang yang mendengar itu, hanya terdiam dengan wajah ngeri. Mereka tahu seperti apa sifat Qin Yan sebenarnya.
Weisi menggeleng gelengan kepala lagi.
"Kau memang tidak tidak ada obat yah. Yang jelas, berita tentang kalian sudah menyebar. Entah siapa yang menyebarkannya tapi mungkin kalian akan kedatangan beberapa tamu lain."
"Oh, jadi begitu. Yah, tinggal dilayani saja kan." Tang Liu yang sedari tadi duduk ditempat tidurnya, akhirnya berdiri. Ia mengambil bingkisan yang dibawah oleh Qin Yan. Dan mulai membukanya, melihat ada beberapa makanan, ia kemudian langsung memakannya. Tapi, ia masih protes karena Qin Yan tidak membelikan makanan kesukaannya.
"Oh, Qiu er, Kakak. Kalian tidak ikut makan?" Qin Yan tidak tahan ketika melihat kedua gadis itu yang terus terdiam. Ia pun menawarkan beberapa makanan yang ia ambil dari bingkisannya. Tapi mereka berdua menolak dengan alasan kalau mereka sudah makan.
"Kakak?" Entah ketika mereka mendengar Qin Yan memanggil Qin ruo sebagai kakak, semua orang langsung terkejut. Mereka menatap gadis itu yang wajahnya sudah memerah.
"Kakak sepupu yah, itu berarti kau berasal dari keluarga Bulu biru." Gumam Weisi ketika mendengar fakta tersebut. Tapi tidak lama kemudian ekspresi wajahnya kembali kebingungan.
"Tapi bukannya kalian tinggal sendiri di kota Bintang?" Tanyanya lagi.
Qin Yan terdiam mendengar itu. Itu permasalahan antara ibunya dan keluarga, sampai mereka harus mengasingkan diri diatas bukit dan hidup sendiri.
"Keluarga kami mempunyai beberapa masalah. Jadi itulah mengapa mereka memilih hidup memisahkan diri." Jawab Qin ruo, Weisi dan lainnya hanya menganggu mengerti. Qin Yan juga melayangkan senyumnya pada Qiu er yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka dengan penuh penasaran.
"Baiklah, aku keluar sebentar. Masih beberapa hal yang harus ku urus" Qin Yan pun berdiri dan melangkah keluar. Meninggalkan mereka masih terdiam karena kepergiannya.
"Dia benar benar sibuk yah." Hulena yang menyuapi Lin Fin tidak tahan untuk berbicara.
"Yah, mungkin karena masalah ini. Ia jadi terbebani." Lin Fin pun mengangguk, teman temannya yang lain juga seperti itu. Mereka menganggap diri mereka tidak berguna.
"Ayolah, kenapa kalian kehilangan semangat seperti ini. Kalau Qin Yan melihat kalian seperti ini, dia pasti akan marah. Jangan mengecewakan dia dengan wajah putus asa itu. Dia bahkan membawakan kalian beberapa bingkisan, kenapa kalian tidak makan saja?" Ucap Weisi, ia kemudian membagikan beberapa makanan bawaan Qin yan yang masih tersisa.
Meskipun dalam hati, Weisi juga menyadari keletihan anak itu. Namun, karena ini didepan kelompok anak itu. Dia jadi harus menyembunyikannya.
Sementara Qiu er, dia sedari tadi duduk jadi ingin berdiri mengejar Qin Yan. Namun, ketika melihat Qin ruo mendahuluinya, ia jadi berhenti. Membatalkan niatnya, hanya menyaksikan gadis itu keluar dan mengejar Qin Yan keluar.
********
Qin Yan sendiri tengah duduk diatas pagar teras. Bersandar disamping tiang. Tidak lama kemudian, Qin ruo Ying pun datang. Qin Yan pun tersenyum melihat kedatangannya, ia memang sudah menunggunya.
Gadis itu duduk tidak jauh dari Qin Yan. Tatapannya tampak marah ketika melihatnya. Yah, Qin Yan juga mengerti. Gadis ini pasti kesal karena Qin Yan tak kunjung pulang kerumah.
"Bagaimana keadaan kakek?" Tanya Qin Yan.
__ADS_1
Gadis itu menunduk sejenak, kemudian menjawab pelan.
"Yah... Karena aku berhasil memasuki akademi pusat. Kakek akhirnya pensiun dari pekerjaannya sebagai patriak cabang. Ia kemudian menjadi tetua di keluarga Utama." Jawab Qin ruo sambil menoleh kesamping.
"Cukup lumayan juga. Berkatmu, kakekmu jadi bangga." Qin Yan pun memujinya, beberapa tahun yang lalu. Qin ruo hanyalah gadis biasa dari keluarga cabang. Gadis yang cukup ceroboh tepatnya. Tapi sekarang, ia sudah tumbuh lebih dewasa. Jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dan bahkan bisa berpastisipasi dalam turnamen ini. Hal ini pasti membanggakan keluarga.
Dibanding dengan Qin ruo dikehidupannya yang lalu. Qin Yan malah bersyukur bisa mengubah kehidupan gadis ini dikehidupan sekarang.
Pujian Qin Yan hanya membuat Qin ruo terdiam. Ia mengepalkan tangannya, seharusnya ia berterima kasih pada anak ini karena sudah membantunya. Tapi, disaat yang bersamaan ia juga begitu marah padanya. Ia sangat kesal karena Qin Yan waktu itu pergi dalam waktu yang lama bahkan tak kunjung pulang.
"Kakak, kau sudah berada ditingkat mana sekarang?" Tanya Qin Yan lagi.
Hal itu membuat hati Qin ruo jadi bergetar ketika Qin Yan memanggilnya sebagai kakak dengan nada sopan. Ia pun menggigit bibirnya yang merah di balik cadar.
"Aku sudah berada ditingkat Elder."
Qin Yan tersenyum mendengarnya.
"Benar benar pencapaian bagus. Kemungkinan kau akan menjadi pemimpin keluarga berikutnya."
Mendengar itu, wajah Qin ruo memerah. Ia jadi menyelipkan rambutnya di telinga.
"Kalau bukan karenamu, mana mungkin aku berada disini."
"Hmm....? Tidak tidak, itu karena kerja kerasmu. Kau sudah berlatih keras selama ini." Qin Yan hanya tertawa melihat reaksi gadis itu.
Setelah itu, suasana menjadi hening. Kecanggungan pun menyelimuti mereka berdua. Setelah beberapa saat terdiam, Qin ruo pun mulai bertanya.
"Qin Yan, kapan kau pulang ke rumah? Setelah mendengar cerita patriak utama, aku pun tahu. Kalau ibumu adalah anak ketiga dari patriak. Tahukah kau, seberapa menderitanya patriak selama ini? Dia selalu menunggu kalian pulang dengan penyesalan setelah mengusir kalian waktu itu. Dia ingin bertemu dengan cucunya apalagi ibumu yang merupakan putrinya satu satunya."
Qin Yan pun menunduk sejenak, wajahnya gelap.
"Entahlah, mengingat keluarga itu. Rasanya aku ingin mengamuk. Tapi, pasti ada saatnya dimana aku kembali ke keluarga itu. Saat itu, aku akan membersihkan harga diri ibuku yang begitu kotor dimata mereka. Aku akan membuat mereka menghormati ibuku sepenuhnya." Mata merah Qin Yan menyala, menunjukan kebencian luar biasa.
Tepatnya dikehidupan yang lalu, ibu Qin Yan mendapatkan cemoohan dan penghinaan yang luar biasa ketika kembali ke keluarga utama. Saat itu, kepala keluarga sudah meninggal dunia. Dan paman pertama Qin Yan lah yang menjadi patriak selanjutnya. Waktu itu, ibu Qin Yan menitip dia dan Yue er untuk berlatih di keluarga utama. Namun apa yang mereka dapatkan, sebuah penghinaan yang luar biasa. Yang mampu membuat Qin Yan gemetar karena kebencian ketika mengingatnya.
Qin ruo sendiri, sampai tidak percaya melihat kebencian yang terpancar di mata Qin Yan. Melihat tubuh Qin Yan sedikit gemetar, membuat Qin ruo agak cemas. Apa yang terjadi pada mereka selama ini, sehingga Qin Yan begitu membenci keluarga Bulu biru.
"Aku tau kau mungkin tidak terima dengan hukuman ibumu, hingga sebenci itu pada keluarga. Tapi, sesekali datanglah ke kediaman. Mereka pasti akan menyambutmu." Qin ruo kemudian memegang bahu Qin Yan dengan lembut. Tersenyum penuh kelembutan.
"Aku mendengar, kau membuat kekacauan saat dihutan Bintang. Kau membunuh anak buah keluarga Wang dan keluarga Shen."
Qin Yan tertegun mendengar itu, ia kemudian teringat saat ia menyelamatkan Yue er dari sergapan Shen Fei dan beberapa anggota keluarga lainnya dari keluarga Shen dan Wang. Saat itu Yue er hampir mati, jadi tidak harus berasa bersalah.
"Yah, aku akui itu. Tapi mereka telah membuat Yue er terluka parah. Jadi mereka pantas mendapatkannya." Ucap Qin Yan dengan tegas. Namun ia agak terkejut melihat gadis itu yang hanya terdiam mendengar alasannya.
"Ada apa?" Tanya Qin Yan.
"Akibat kejadian itu, dua keluarga itu jadi mengincar keluarga Bulu biru. katanya Yue er mempunyai hubungan dekat dengan kami, dan saat ini, masalah tersebut masih belum selesai." Jawab Qin ruo pelan.
Qin Yan terdiam kembali. Ia tidak kaget mendengar hal tersebut. Dua keluarga licik itu memang akan mencari orang yang berani berbuat macam macam dengan mereka. Bahkan mereka akan mencari siapa saja yang berkaitan dengan orang yang mereka incar. Lalu memusnahkan mereka. Hanya saja, sebuah keajaiban untuk keluarga menengah seperti Bulu biru belum hancur sampai saat ini .
Qin Yan mengangguk, ia memegang dagunya sendiri.
"Jadi begitu. Bagaimana keadaan keluarga sekarang?" Tanya Qin Yan lagi.
"Sekarang beberapa bisnis keluarga kita telah diambil alih. Meskipun cukup merugikan, tapi keluarga kita masih mempunyai beberapa aset yang bisa digunakan untuk bertahan hidup."
Keluarga Bulu biru hampir mencapai puncak krisisnya, namun, disaat mereka putus asa. Zhou weiqing membantu mereka dan membangun keluarga kembali. Saat ini, meskipun dua keluarga tersebut tidak lagi mencari masalah. Namun, tidak tau kapan mereka akan menyerang lagi. Yang bisa dilakukan keluarga saat ini hanyalah bertahan dan bergantung dibawah perlindungan ibukota.
__ADS_1
Qin ruo menceritakan semuanya yang terjadi pada keluarga dalam tiga tahun ini. Malam itu mereka habiskan untuk saling berbagi pengalaman. Sampai akhirnya sudah waktunya bagi Qin Yan untuk beristirahat, hari ini terlalu banyak yang terjadi dan ia sudah sangat lelah. Ia tak punya keinginan lagi untuk bertemu dengan siapapun.