Luka & Air Mata

Luka & Air Mata
Bab 32.


__ADS_3

Semenjak kejadian hari itu Iwan berusaha menghindari Sinta, Iwan tak juga menjawab pesan atau panggilan Sinta. Sinta menjadi geram. Dan Sinta mendesak orang tua Iwan agar membujuk Iwan untuk segera menikahi Sinta.


Pak Rudi dan Bu Ratih menuruti kemauan Sinta, Pak Rudi sering menelfon Iwan mendesak nya agar segera menikahi Sinta. Sedangkan Bu Ratih dia berencana akan menemui Rena dan mendesak Rena untuk meminta cerai pada Iwan.


Iwan terus mendapat tekanan dari orang tua nya, dia merasa tertekan dan menjadi sedikit kasar pada Rena. Seperti pagi itu, hp Iwan berdering ada panggilan dari Pak Rudi. Iwan sedang berada di kamar mandi dan Rena yang mendengar hp Iwan berdering mencoba memberanikan diri untuk menjawab nya.


"Ha halo..!" suara Rena sedikit takut.


"Dimana Iwan, kenapa kamu yang menjawab?" Bentak Pak Rudi.


Belum sempat Rena menjawab, Iwan terlebih dulu merebut hp itu dari tangan Rena. Iwan marah sekali.


"Berapa kali aku bilang, jangan sentuh hp ku!" teriak Iwan.


Rena terkejut kenapa Iwan sampai se marah itu.


"Ma maaf, mas."ucap Rena takut.


"Sudah aku katakan jangan pernah menjawab panggilan di hp ku atau membaca pesan di hp ku."Kata Iwan sambil mencengkeram tangan Rena.


"Aku ini tertekan Rena, menghadapi orang tuaku, tapi kenapa kamu tidak mengerti dan malah menambah bebanku. Bukan kah sepele yang aku minta jangan sentuh hp ku dan jangan campuri urusanku."Ucap Iwan sambil mendorong tubuh Rena dan berlalu meninggalkan Rena.

__ADS_1


Rena meneteskan air matanya kenapa Iwan berubah sekasar itu. Bukan kah sebelumnya sikap nya masih baik baik saja..


Iwan kembali menerima panggilan dari Pak Rudi, dan Pak Rudi menyuruh Iwan datang ke rumah nya ada hal penting yang akan di bicarakan.


Iwan meng iya kan dan segera berangkat menuju ke rumah orang tua nya, dia pergi tanpa pamit pada Rena.


Beberapa saat kemudian Iwan telah sampai di rumah orang tuanya dan segera masuk ke dalam rumah.


Di ruang keluarga ternyata telah berkumpul Pak Rudi, Bu Ratih dan Sinta disana. Pak Rudi menyuruh Iwan duduk.


"Iwan, kapan kamu menikahi Sinta, bukan kah kamu telah tidur dengan nya ?" pak Rudi bicara tanpa menoleh ke arah Iwan.


"Kalau kamu tetap tidak mau menikahi ku lebih baik aku mati Iwan. Biarkan aku bawa bayi dalam kandungan ku ini bersamaku."Ucap Sinta sambil menangis.


"Apa Sinta hamil ?"Tanya Iwan dalam hati.


Iwan mengusap wajah nya kasar. Kenapa se runyam ini.


Sinta terus berpura pura menangis dan bersedih. Iwan semakin bingung. Bu Ratih sibuk menenangkan Sinta yang terus mengeluarkan air mata palsunya.


"Kalau kamu tidak bisa menceraikan Rena aku terima dan lebih baik kamu menikahi ku secara siri." ucap Sinta lagi.

__ADS_1


Iwan terus diam, dia memijit pangkal hidungnya kepala nya terasa sakit. Dia bingung apa yang harus dia lakukan.


"Iwan jangan diam saja kamu. Mau tidak mau kamu harus menikahi Sinta."Bu Ratih ikut bicara.


"Bapak sudah putuskan besok lusa kalian harus menikah siri. Besok bapak akan memberi kabar pada orang tua Sinta agar mereka datang kesini."Pak Rudi memberi keputusan.


"Tapi pak..."ucapan Iwan menggantung saat Pak Rudi berlalu pergi.


"Tidak ada tapi tapi an Iwan, lusa kamu menikah dengan Sinta."Bu Ratih berkata sambil menatap tajam pada Iwan.


.


.


.


.


.


Happy Reading...!!

__ADS_1


__ADS_2